
Seketika notifikasi Wattshap mengalihkan perhatian Jessy, bahkan penuturan papi yang cukup menyentuh itu sungguh menguasai fikiran gadis yang sangat tomboi.
"Sebentar pi.....Jessy balas pesan dulu" ungkap Jessy kearah Aris, bahkan gadis itu mengotak atik ponselnya, membuat Aris tersenyum manis untuk membiarkan putri kesayangan mereka membalas pesan tersebut.
Ternyata Leon mengadakan pertemuan malam ini yang di kabari memalui room chat, tentu Jessy tidak akan mungkin menghadirinya, bagaimanapun ia harus bersama papi sampai pulang nanti, namun sudah 2 minggu pertemuan dilakukan, tapi Jessy tidak pernah menghadiri acara itu.
"Leon, maaf, aku tidak bisa hadir. Aku sedang bersama papiku, sepertinya sangat berbahaya jika aku pergi sekarang" tulis Jessy pada Leon melalui jalur pribadi, tentu Jessy berharap Leon mengerti.
"Tidak apa-apa, aku akan mengendalikan semuanya" balas pria itu, membuat gadis itu tersenyum manis sebelum akirnya melepaskan ponsel untuk melanjutkan perbincangan dengan Aris, papinya.
*
Kelas siang ini berkaitan dengan Sasta, salah satu mata pelajaran yang membuat Jessy tidak terbebani dalam menjalaninya, lain dari itu, Sasta memiliki persamaan dengan minatnya untuk menjadi novelis terkenal, namun Jessy mengurungkan mimpi itu, sebab tidak konsisten dengan waktu keseharian.
Hingga seorang wanita sekitar 30 tahun memasuki ruang kelas, bahkan sikap tegas dan juga tenangnya membuat para murid terdiam, beliau memulai pelajaran dengan mengabses siapapun yang hadir ataupun tidak hadir.
Hingga ahkirnya, Ibu Sarah membentang buku Sastra yang cukup tebal, untuk membahas materi pada hari ini, beliau menulis bebedapa point penting di papan tulis agar menjawabarkan secara rinci, hingga Jessy cukup serius dalam mengamati pelajaran, bahkan gadis itu menyalin beberapa hal kedalam buku catatan sehingga membuatnya terkesan sebagai gadis rajin.
Disisi lain, Randika melirik gadis itu, ia mengulas senyum secerah mentari sere, ketika memperhatikan Jessy yang sangat patuh dan diam, tentu melihat gadis itu seperti ini. membuat Randika sadar jika Jessy lebih mengemaskan dari dirinya yang garang dan bertindak semena-mena.
Hingga pelajaran itu berlangsung dengan cukup menyenangkan, sebelum akirnya beliau meninggalkan kelas untuk keluar dari arah kelas.
Sedangkan Jessy tengah sibuk merapikan buku yang sedang tergeletak diatas mejanya, gadis itu melirik kearah jam yang melingkar di pergelangan tanganya, sebelum akirnya seorang pria berdiri disisi meja.
"Maaf, ada yang bisa aku bantu" tanya Jessy dengan sikap tenang, ketika menatap seorang pria yang tengah berdiri diam diposisi samping, bahkan pria itu memiliki bekas luka diwajahnya sehinggi mata Jessy memperhatikan dengan seksama.
"Apa kau yang bernama Jessyca Jane?" tanya pria asing itu sembari menatap Jessy dengan sikap sinis.
"Benar, ada apa?" saut gadis itu dengan menangtang, bahkan Leon berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Jessy, setidaknya Leon tengah bersiap-siap jika sewaktu-waktu pria itu berubah menjadi ancaman. "Apa-apaan orang ini" batin Jessy dengan tidak suka, namun ia berusaha tenang untuk mendengar tujuanya.
"Apa kau kenal aku?" tanya Alamsyah dengan tatapan dingin, pria itu adalah korban dari Doni yang merupakan budak dibawah geng Jabrik, namun akibat Jessy ikut campur, membuat segalanya menjadi berantakan, untuk itulah Alamsyah ingin mendatangi gadis ini.
"Apa aku penting mengenalmu, memangnya siapa kau sehingga aku harus kenal" kesal gadis itu sembari berdiri sejajar dengan orang yang cukup kurang ajar, setidaknya sikap mengerikan dari Jessy menarik perhatian semua orang yang ada dikelas.
"Kau bahkan tidak ingat aku" hinanya dengan penuh geram, sampai akirnya melemparkan jus berwarna merah kearah baju Jessy, bahkan semua orang beteriak atas kejadian itu, hingga Jessy terpana diam diposisinya, untuk menyaksikan betapa berantakanya seragam yang ia gunakan.
"Apa kau gila!" bentak Leon dengan tidak terima. "Apa yang kau lakukan pada Jessy, napaknya kau memang mencari mati" bahkan ia mencengkram kerah baju Alamsyah untuk memberinya pelajaran.
"Leon, lepaskan dia" teriak Jessy yang berusaha mencegat sahabatnya, bahkan gadis itu terpental dari posisi ketika Leon menepiskan tubuhnya untuk menghajar pria itu.
__ADS_1
Tentu tindakan Leon membuat semua orang yang ada dikelas ricuh, bahkan lorong depan mulai dipenuhi oleh kerumunan siswa, membuat Randika berlalu kearah Jessy, untuk menyelamatkanya, jika tidak, Jessy akan ditimpa oleh buku yang ada diatas loker kelas.
"Jessy" terus Leon dengan tidak percaya, bahkan ia tidak menyangka dirinya akan membuat Jesst terluka, bahkan seorang pria yang paling ia benci malah menyelamatkan Jessy untuk melindungi tubuh gadis itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Randika dengan panik, bahkan ia menyingkirkan buku-buku yang menghalangi jalan mereka untuk membawa Jessy keluar dari sana.
Randika mendudukan Jessy di tempatnya, sebelum memeriksa apakah semua baik-baik saja, untunglah tak ada yang terluka dan semuanya aman terkendali, namun berbeda dengan Jessy, ia terpana melihat pria yang tengah mencemaskan dirinya, ketika tubuhnya ditimpa oleh buku yang menumpuk tinggi, tapi pria itu malah bersikap protektif kearah Jessy tanpa menghiraukan dirinya sendiri.
"Apa kau mengenal pria itu?" tanya Randika dengan penuh emosi, bahkan ia mengenggam bahu Jessy sebelum akirnya menerima gelengan kepala darinya, hal ini pertanda jika Jessy tidak mengenalnya.
"Duduklah disini, jangan kemana-mana" ungkap Randika dengan penuh serius, bahkan ia melangkah mendekati posisi Leon sambil merebut sang mangsa yang ingin di eksekusi.
"Apa masalahmu sebenarnya" kesal Randika saat berhasil menyingkirkan Leon yang terdiam di posisinya.
"Kau siapa! Apa pentingnya kau ikut campur! Apa kau kekasihnya" kesal pria itu dengan penuh kemurkaan, bahkan membuat darah segar yang ada disudut bibirnya mencuat kepermukaan, hingga pria itu tidak bisa mengendalikan ketenaganya.
"Apa-pun hubunganku dan Jessy, apa pedulimu! Katakan apa masalahmu, sampai berani menyiramnya dengan kurang ajar, kau fikir dirimu pantas melakukan itu, ha! Bahkan orang-orang sepertimu semakin membuatku ingin sekali menghancurkan kalian"
"Kenapa kau menghancurkan aku, saat aku sudah hancur" hina pria itu saat menyaut argumen Randika, bahkan membuat wajahnya mengelap secara sempurna, diatas kemurkaan hatinta. "Sampah-sampah seperti kalian adalah mahkluk yang tidak pantas hidup sebab sangat merepotkan, apa kau fikir dirimu mulia membelanya, apa kau fikir dirimu terlihat keren dimatanya, jangan harap. Bagi wanita berhati iblis itu, kau tak lebih dari sekedar budak yang ia manfaatkan untuk bersenang-senang, wanita hina itu sangat tidak pantas hidup didunia ini karna merepotkan. Dia yang ketanya ketua geng Jabrik, tak lebih dari binatang buas yang membabi buta kehidupan orang lain! Apa kalian sedang membuat kelompok sampah di masyarakat"
"Diam!!" teriak Leon dengan habis kesabaran, hingga tanganya menegepal untuk melayangkan tinju kewajah pria itu.
"Leon, apa yang kau lakukan, cepat hentikan mereka" teriak Jessy yang hampir bergetar tak karuan, bahkan ia tidak berani berdiri atas hinaan yang cukup menyakitkan.
Tentu Leon memisahkan mereka, bahkan Leon menarik Randika dan yang lainya menarik pria gila itu, namun Randika masih tidak rela, ia menepiskan tangan Leon sembari menghampri pria yang sudah menyulut emosinya, hingga mendesaknya dengan penuh tatapan mengerikan.
"Kau mengatakan Jessy sebagai wanita hina, mengerikan, sampah dan iblis! Apa hakmu mengatakan Jessy seperti itu!" bentak Randika dengan penun tuntutan, kali ini ia perlu mengendalikan emosinya untuk mendengar perkataan pria menyedihkan tersebut.
"Dia memang pantas dengan semua hinaan itu, karna dia ayahku meninggal. Ayahku hanyalah sopir pribadi dari keluarga Doni, aku bahkan sudah menerima apapun yang terjadi namun dia malah mempersulit Doni dan mengakibatkan Doni melampiaskan emosinya pada keluarga kami, ayahku berhenti bekerja, ibuku meninggalkanya, hingga ia bunuh diri, sekarang apa lagi yang aku punya, selain kehilangan segalanya!" teriak Alamsyah dengan kepedihan hati yang begitu menyembilu, bahkan ia menatap tajam kearah Jessy yang kala itu duduk diposisi dengan penuh ketakuta. "Apa aku pernah memintamu untuk ikut campur dengan masalahku, kenapa kau ikut campur dan merusak semuanya!" bentaknya dengan tatapan menuntut, membuat Jessy membulatkan mata dengan penuh kaget, atas apa yang ia dengar.
Ternyata dia adalag anak yang masuk rumah sakit ulah Doni, yang saat ini memandatangani kontrak dengan Geng Jabrik akibat tingkahnya yang cukup meresahkan, tapi Jessy tidak tahu apapun tentang ini, ia fikir memberikan Doni pelajaran sudah menjadi sebuah hal yang cukup benar, tapi ternyata.... ia malah menghancurkan segalanya.
Sungguh Jessy tidak percaya dirinya penyebab seseorang bunuh diri, bahkan Jessy tidak bisa mengendalikan dirinya saat kedua tanganya bergetar tak karuan hingga bibirnya memucat, bahkan gadis itu hanya bisa menakukan kepala penuh rasa bersalah, sampai akirnya Leon terpana diam menatap Jessy, tentu Randika tidak percaya semuanya akan separah ini akibat Jessy, tapi tidak sepenuhnya ini salah gadis itu.
"Jessy.... " lirih Leon dengan rasa bersalah yang sama.
Membuat Randika melepaskan cengkraman tanganya, Randika menarik nafas dalam-dalam sebelum akirnya dikeluarkan secara perlahan, matanta melirik tajam pada pria yang menangis sejadi-jadinya dihadapan Randika.
Sungguh Randika tidak menyangka jika masalah yang Jessy hadapi seberat ini, bahkan rasa bersalah ini pasti menyiksa dirinya, jangankan Jessy, Randika saja cukup sesak melihatnya terpojoknya, jika Randika tahu semuanya sangat rumit, ingin rasanya pria itu menarik kembali ucapanya, ingin rasanya ia tidak mempertanyakan apapun pada pria bodoh ini.
__ADS_1
"Meskipun begitu...... " lirih Randika diantara keheningan kelas, bahkan semuanya melihat kearah pria itu. "Apa-pun kesialan yang terjadi dengan hidupmu, kenapa menyalahkan orang lain atas semua itu, apa kau tidak sadar, jika apa yang terjadi adalah kesalahan dirimu sendiri dan pilihan dari orang tuamu, Jessy hanya sebatas sebab tanpa bisa kau jadikan alasan, jadi berhenti menyalahkan orang lain saat kau terlahir dengan keadaan yang malang ataupun menyedihkan. Apakah Jessy yang membuat orang tuamu kehilangan pekerjaan, apakah Jessy yang memecat Ayahmu, apakah Jessy yang membuat orang tuamu bercerai, apakah Jessy yang melakukan semua itu. Tidak, yang memecat ayahmu adalah orang Tua Doni, ayahmu kehilangan pekerjaan, karna Doni ingin melampiaskan emosi dan kekesalanya padamu, setelah itu yang bercerai adalah ibumu, yang meningalkan kalian adalah ibumu, serta yang memilih mengakiri hidup adalah ayahmu sendiri. Bagaimana bisa kau menyalahkan Jessy yang merupakan orang luar, bagaimana bisa kau menyerang seorang wanita, apakah kau takut dengan Doni sehingga kau tidak berani melawanya, karna itulah kau pergi melampiaskan segalanya pada Jessy! Jika begini siapa yang lebih sampah sebenarnya, kau bahkan sama sampahnya dengan Doni. Melampiaskan kekewecaan dan emosi kepada seorang wanita, bahkan kau memperlakukan dirinya tanpa etika, apakah kau belum sadar bagaimana hina dan menyedihkanya dirimu" hingga pria itu tediam oleh perkataan Randika, bahkan Jessy tidak percaya pria itu membela dirinya tanpa mengetahui tentang semuanya.
"Astaga, apa yang terjadi" teriak Bu Luna selaku wali kelas, bahkan ia terkesiap tak menyangka, jika seorang siswa pintar dan Randika si anak baru tengah berkengkar, bahkan Alamsyah sampai terluka parah akibat kekacauan ini.
"Ya Tuhan, Randika! Apa yang membuat kalian bisa melakukan hal seperti ini" bentak beliau saat menyingsing lengan baju untuk membawa keduanya pergi.
Randika menatap kearah Jessy, bahkan ia mengatakan untuk tenang dan semuanya akan baik-baik saja, hingga Jessy tidak percaya pria itu mengorbankan diri untuk menyelamatkan masalah ini, tapi kenapa Randika melakukannya.
*
Randika dan seorang siswa bernama Alamsyah berada di ruang kepala sekolah, bahkan Randika hanya mampu menakukan wajah dengan bersalah seoah ia cukup menyesal atas apa yang terjadi, namun jika terkait Jessy, pria itu memang sulit mengendalikan diri, dan tidak akan menyesali apapun.
"Jadi kalian mau bagaimana?" tanya beliau dengan sikap tenang, membuat Randika menatap kearah musuhnya dengan penuh tuntutan, setidaknya Randika sudah menawarkan apa yang sepantasnya dilakukan, tapi jka pria itu malah bodoh dan mengabaikan tawaranya, tentu Randika tidak bisa membantu apa-pun lagi.
"Aku.... " lirih Alamsyah dengan keberanian diri, bagaimanapun semuanya sudah hancur, ia hanya bisa membalas dendam, dan pria itu menawarkan semuanya, jadi kenapa Alamsyah ragu lagi. "Aku akan mengundurkan diri...." terusnya dengan penuh keyakinan, membuat Randika menyunggingkan senyum dengan bangga, jika akirnya pria itu tidak akan menjadi sampah sebenarnya.
"Kenapa? Apa yang membuatmu berfirik kau akan dikeluarakan?" tanya kepala sekolah pada Alamsyah.
"Karna aku sudah membuat keributan dan menganggu Jessy, aku sungguh menyesal atas apa yang terjadi" ungkapnya ketika menakukan kepala penuh hormat. "Aku marah karna aku menyukainya, aku marah karna dia tidak menerima perasaanku, selain itu aku tidak memiliki biaya untuk masuk sekolah ini lagi, meskipun selama ini aku bisa masuk kesini tapi itu bantuan dari orang tua wali murid yang kaya, selaki majikan ayahku. Tapi sekarang aku tidak memiliki apapun lagi, dia berhenti berdonasi, ayahku meninggal, dan ibuku pergi dengan suami barunya. Untuk itulah, bersekolah disini tidak akan cocok untuk ku" terusnya, membuat senyum Randika semakin mengambang.
"Lalu bagaimana jika aku membiayai uang sekolahmu" tanya beliau kehadapan Alamsyah, membuat pria itu mengangkat kepala dengan sempurna sambil melirik kearah Randika, tentu Alamsyah menuntut jawaban, namun ia mendapati jawaban terserah sehingga pria itu harus memutuskan sendirian.
"Aku tetap akan keluar" terusnya dengan yakin. Hingga kepala sekolah tersenyum getir menyaksikan sikap pria itu.
Bahkan kepala sekolah menatap kearah keponakanya yang saat ini sedang tersenyum licik, tentu saja ia tidak menyangka Randika sangat menyebalkan untuk menjadi murid di sekolah ini. "Baiklah, keluarlah Alamsyah......aku ingin bicara dengan Randika" terusnya, membuat Alamsyah menganggukan kepala untuk undur diri dari sana.
Ia meninggalkan kepala sekolah yang duduk dikursinya, bersama dengan Randika yang berdiri dengan posisi tenang, setelah murid yang ingin mengundurkan diri sari sekolah itu pergi, tentu wanita dewasa itu berdiri kearah depan untuk menatap lekat kearah keponakanya, bahkan ia menyilangkan tangan ke belakang sebelum akirnya menarik telinga Randika dengan geram.
"Apa yang kau lakukan pada anak itu, apa kau sedang menutupi kasus Jessy untuk melindungi cinta monyetmu"
"Ahh....." pekik Randika dengan meringis kesakitan. "Lepaskan aku" terusnya lagi saat wanita itu melepaskan Randikan dengan segera. "Aku tidak melindungi Jessy, karna ia tidak salah apapun. Sata ini aku hanya memberikan pria itu kesempatan untuk membalas dendam"
"Randika Pratama, apa kau gila!"
"Tidak, aku hanya ingin memberikan keadilan saat dunia tidak adil pada mereka. Lagian kau pasti sudah paham tentang masalah ini bukan, apalagi berkaitan dengan Jessy. Hanya saja, aku cukup panasaran, kenapa kepala sekolah yang bijaksana tidak membubarkan Geng Jabrik, jika mereka terus meresahkan" tanya Randika ketika menyelisik tajam pada tantenya.
Membuat wanita itu menyunggingkan senyum sebelum akirnya mendudukan diri diposisi, melihat sikap kritis Randika tentu ia bukan anak kecil lagi yang bisa dibujuk dengan permen ataupun coklat.
"Sederhananya......karna Jessy tidaklah merepotkan. Selain itu geng Jabrik memiliki pengendalian terkuat yang cukup mengerakan banyak bisnis orang tua mereka dibawah kekuasaan Jessy, apa kau masih belum sadar seberapa berpengaruhnya Geng itu, jadi kenapa aku harus membubarkanya, saat sekolah bisa mengendalikan kekuasaan para orang tua, dengan adanya Geng Jabrik, tidak akan ada yang namanya penekanan ataupun penyuapan yang terjadi"
__ADS_1
"Benarkah begitu?" saut Randika dengan antusias. "Tapi tante.... tidak.....tidak.....ibu guru. Jika hal ini membuatmu menyelipkan balas dendam untuk menyakiti Jessy, aku tidak akan bisa membiarkanya, aku akan menjadi garda terdepan untuk melindungi calon istriku" hingga Randika keluar dari sana, bahkan ia meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan penuh sikap pongah, membuat wanita dewasa yang duduk diposisnya semakin tidak menyangka, jika akirnya Randika akan dewasa tanpa ia duga.