Calon Istriku Ketua Geng Jabrik

Calon Istriku Ketua Geng Jabrik
Episode 4 : Jessy, si calon menantu.


__ADS_3

Leon tidak bisa menerima hal ini, bagaimana bisa ada pria yang mampu membuat Jessy begitu gugup, bahkan Jessy yang penuh intimidasi dan terus ditakuti, kali ini bisa terdiam diposisi dengan sorot mata yang tidak Leon kenali lagi.


"Apa yang kau lakukan pada Jessy!" bentak Leon saat mencengkram kedua kerah baju Randika, bahkan Aiden yang ada disana mencoba memisahkan mereka.


"Aku? Tentu saja sedang mengodanya" hingga amarah Leon memuncak sampai akirnya Jessy menghentikan pria itu.


"Cukup Leon!" tegas Jessy dengan penuh perhitungan, bahkan ia sudah berusaha tenang sambil mengendalikan diri, pria itu pasti bukan orang sembarang, bahkan ia dengan jelas mengatakan jika Jessy akan mengenali dirinya lagi, tapi dimana mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan Jessy, aku bisa menghajar cecunguk ini, bahkan ia berani menggodamu"


"Lalu apa hubunganya denganmu!" bentak gadis itu, bahakn matanya menajam sampai Leon kehabisan kata-kata untuk membantah. "Jangan kekana-kanakan, dan pergilan dari sini" pinta Jessy dengan segera, bahkan ia berlalu meninggalkan mereka sampai Leon mengikuti langkah kaki sahabatnya. "Aiden, kembalilah ke kelasmu, kau tidak perlu hadir" ungkapnya sambil lalu, hingga membuat Aiden terdiam tanpa mengikuti mereka.


Melihat kedua orang itu pergi, bahkan Randika menyaksikan Jessy melompati pagar dengan penuh keberanian bahkan sikapnya membuat Randika terkekeh, apakah ini calon istrinya, sungguh mengagumkan dan sangat mencengangkan, bagaimana bisa Mami Winona menipu Randika, ia bahkan mengatakan putrinya sangat manis dan menyukai warna merah muda serta coklat dan bunga, tapi jika ini sosok Jessy, sungguh jauh sekali dari ekspektasi Randika.


"Ran, kenapa kau bisa disekolah ini?" tanya Aiden kearah pria itu.


"Aku akan segera bertunagan, jadi aku harus kembali"


"Benarkah, apakah calon istrimu cantik?" tanya Aiden dengan ingin tahu tinggi.


"Tentu saja, tapi dia cukup istimewa" terusnya lagi, hingga pria itu mengajak Aiden untuk pergi dari sana, bahkan Aiden menceritakan tantang geng Jabrik dan jugw Jessy, membuat Randika tidak bisa mempercayai jika karakter calon istrinya cukup mencengangkan.


*


Sedari tadi Jessy hanya sibuk dengan lamunanya, bahkan gadis itu tidak terlalu semangat membahal perkara yang di perdebatkan oleh para anggota, ia sibuk memainkan sebuah ponsel disudut ruangan sembari mengusapkan layar home dan juga aplkasi.


"Jessy, apa yang yang fikirkan?" tanya Leon saat mendudukan diri disisi Jessy.


"Tidak ada, memangnya apa yang harusnaku fikirkan, ungkap gadis itu, hingga ia mematikan ponsel layar untuk dikantongi salam jaketnya. "Hari ini aku harus pulas cepat, karna aku ingin menemani mami belanja, jadi kau urus sjaa masalah Base Camp, aku pergi dulu" terus Jessy dengan sikap santainya, hingga membuat pria itu melirik kepergian Jessy yang tengah menangkap tas ranselnya yang saat itu dibawakan oleh seseorang.


"Bye" teriaknya hingga menuruni tangga, bahkan Jessy mengkancingkan seragamnya seraya mengikat rambut secara sempurna, hingga gadis itu memasuki mobil yang tengah menantinya di depan gerbang sekolah, melihat Jessy yang begitu terburu-buru membuat Randika tersenyum getir di gurat wajahnya, sebelum akirnya memasuki kendaraan untuk pulang dari sekolah.

__ADS_1


*


Matahari semakin terik, jalanan di penuhi hiruk pikuk kendaraan yang memekakan gendang telinga, suhu siang yang tidak bersahabat itu membuat Jessy cukup jengkel diluar ruangan, untung saja Cafe Redvelvet yang mama kirimkan lokasi tidak terlalu jauh dari tempatnya memarkirkan kendaraan, membuat Jessy berlalu kearah dalam untuk mencari mami winona.


"Mami" teriak Jessy ketika mendudukan diri di depan Winona, bahkan ia terpaku melihat pirinh bekas yang ada dihadapanya, apakah Mami bersama seseroang sebelum Jessy menyusulnya. "Apakah mami bertemu seseorang"


"Benar, mami bertemu teman lama" terusnya dengan cukup bahagia, bahkan membuat Jessy mengkerutkan kening atas sikap wanita itu.


"Siapa yang mami temui? Bahkan mami cukup bahagia setelah bertemu denganya"


"Apa kau masing ingit dengan Tante Utami?" tanya Wanita itu pada putrinya, membuat Jessy mengkerutkan kening saat memikirkan seseorang yang tengah ia sebutkan. "Astaga, bagaimana bisa kau lupa" dengus Winona ketika berdecak lesal kearah Jessy. "Tante utama adalah tetangga kita saat di Australia, dia ibunya teman kecilmu....astaga siapa namamya, mami lupa"


"Didi" terus Jessy dengan santai.


"Ahhh benar, didi" timpal Winona dengan penuh semangat. "Kata tante Utama, Didi sangat semangat kembali karna ingin bertemu denganmu, apa kau sudah bertemu dengan Didi?"


"Tentu saja tidak" saut Jessy dengan sikap malas, bagaimabapun itu hanyalah teman semasa kecil, bahkan Jessy memiliki banyak teman selain Didi, jadi tidak ada hubungan apapun untuk mereka harus bertemu. "Ah" teriak gadis itu dengan penuh kegat. "Tidak mungkin" timpalnya ketika menghempaskan tangan kearah meja, bahkan membuat Winona tersentak kaget melihat tingkah putrinya. "Tidak mungkin dia, jauh sekali!" heboh gadis itu hingga membuat mata Winona membulat secara sempurna, bahkan ia cukup malu sebab Jessy menganggu ketentraman Cafe.


"Jessy apa kau gila" cegat Winona pada putrinya, bahkan ia menghentikan tangan Jessy yang ingin menghampaskan permukaan meja dengan penuh kekuatan. "Kenapa kau berlebihan sekali, orang-orang sedang melihatmu" ketus Winona saat menarik putrinya untuk keluar dari sana, bahkan Jessy masih larut dalam fikiranya sendiri.


"Apa yang kau lakukan, sampai memalukan sekali" dengus Winona saat memasuki mobil yang ada dihalaman parkiran.


"Tidak ada, aku hanya sedang berfikir"


"Apa yang kau fikirkan memangnya, sejak kapan hidupmu memiliki perhitungan" ketus Winona pada putrinya.


"Meskipun begitu, apakah pantas seorang ibu megejek putrinya" kesal Jessy kearah Winona.


"Astaga, lihat cara bicaramu yang meninggi itu, apakah pantas seorang anak berteriak pada ibunya" sungguh bantahan dari Winona tidak bisa membuat Jessy berkutik, entah bagaimanapun akirnya, Jessy selalu saja salah, untuk itulah diam adalah jalan keluar, saat hatinya sedang mengerutu kesal.


*

__ADS_1


Pagi menjemput, mentari menyinari bahkan sang surya hadir untuk merenggut mimpi indah dalam tidur nyenyak Jessy, gadis itu bangkit dari kasurnya hingga Winona terpana melihat ranjang itu sudah kosong, bagaimana bisa Jessy bangun pagi ini tanpa Winona menghebohkan rumah, bahkan ia berlari kearah pintu kamar mandi untuk menempelkan telinganya disana, bahkan Winona mendengar gemericik air pertanda Jessy sedang mandi.


"Terimakasih gusti Allah, akirnya gadis pemalas itu sadar juga, ternyata benar kata Utami, anak wanita akan dewasa dengan sendirinya, nampaknya Jessy sedang mengalaminya, jika begini apakah Winona harus menjodohkan putrinya dan putri Utami, bagaimanapun mereka juga saling kenal, jadi pasti sangat cocok untuk di sandingkan, bahkan Winona sudah melihat foto putra Utami yang sangat tampan, dan rasanya sangat rugi jika Winona mengabaikan ini.


"Hallo, Utami.... selamat pagi"


"Selamat pagi Winona, ada apa kau menelfonku pagi-pagi?" tanya Utami dari balik ponselnya.


"Terkait tawaranmu, apakah masih berlaku?" tanya Winona dengan penuh semangat.


"Tawaran?" hingga pertantaan itu membuat matanya terbelalak secara sempurna. "Apakan tawaran perjodohan itu?"


"Benar, bagaimana jika putriku menjadi calon menantumu, sungguh aku sangat bahagia sekali"


"Benarkah kau mau Winona, aku sungguh berterimakasih, aku sangat mengharapkanya" ungkap Utami dengan bahagia, bahkan perbincangan mereka terputus ketika kedua anaknya sama-sama menghadiri meja sarapan di rumah masing-masing.


*


"Ma..... apa yang membuat mu bahagia?" tanya Randika pada mamanya yang saat itu mematikan ponsel genggam miliknya.


"Apa kau tahu, Winona menerima tawaran perjodohan itu" hingga Randika terpaku diam sampai akirnya ia menatap nanar pada mamanya.


*


"Kenapa mami bahagia sekali?" celetuk Jessy dengan sikap malas.


"Tidak ada, tente Utami akan berkunjung dalam wkatu dekat ini" terus Winona saat mendekati putrinya.


"Ada acara apa?" tanya Jessy ketika mengigit roti yang sudah di olesi topping oleh Mami.


"Lamaran mu"

__ADS_1


"Apa!" teriak Gadis itu dengan tidak percaya, bahkan ia tersedak ketika membulatkan mata dengan sempurna, sungguh Jessy tidak percaya jika akirnya hal mengerikan ini akan tiba, tapi apakah mamanya tengah sakit jiwa, menjodohkan Jessy ketika mengunakan seragam sekolah, bukankah ini namanya pelecehan anak dibawah umur.


"Mama!" demi apapun, Winona menutup kedua telinganya, sebab teriakan Jessy tidak sehat untuk pendengaran, bahkan membuat Winona cukup tertekan, saat menampilkan senyum polos di hadapan putri semata wayangnya.


__ADS_2