Calon Istriku Ketua Geng Jabrik

Calon Istriku Ketua Geng Jabrik
[MASIH TAHAP REVISI]


__ADS_3

Eca yang masih kesal dengan hal yang barusan terjadi, hanya terdiam di tengah perjalanan meskipun Eca bisa saja melampiaskan emosinya kepada ajudan yang memaksanya pergi, namun dia tidak akan melakukan hal itu. Sebab Eca mengerti dirinya bukanlah apa-apa jika bukan anak dari Tuan Jaya, dan dia tidak ingin menerima hormat hanya karna anak dari bos.


Eca ingin dihormati karna dia merasa pantas untuk itu, tapi untuk seorang anak dari Tuan Jaya Eca tidak merasa pantas jika mendapatkan hormat seperti papa nya, sebab Eca tidak ingin membanggakan hal yang bukan karna diirnya sendiri.


Hal inilah yang membuat dia tidak seperti anak koglomerat yang suka menyiksa anak buah mereka dan membentak-bentak mereka seakan bukan manusia, Eca begitu sederhana di tengah keluarga kaya raya yang ternama bukah kah itu sesuatu yang mustahil?


Mobil itu berhenti halaman rumah nya, Eca tidak mengerti apa yang akan dihadapi nya, namun gadis itu berjalan memasuki rumah, hingga bersirobok langsung dengan Tuan Jaya, membuat Eca melebarkan senyum dan berlari mendekati papa nya, tentu saja pria itu dengan senang hati menerima putri nya sembari memeluk Eca dengan penuh sayang


“Papa, tumben sekali papa pulang ke rumah” seru nya saat menegadah melihat ke arah papa nya


"Tumben? apakah aku jarang sekali pulang?” tanya Jsya ke arah anak nya

__ADS_1


“Tentu saja, selama satu tahun belakangan baru kali ini papa pulang, bahkan jika papa ke Indonesia hanya menginap di hotel saja” jelas Eca dengan nada sedih nya, mendengar hal itu tentu saja Jaya hanya mendiami nya, dia menatap mata anak nya yang dipenuhi banyak kesedihan, bahkan Jaya mengerti apa yang dirasakan Eca, namun dibalik semua sikap tersebut ada sesuatu hal yang dipertimbangkan nya


“Eca, rumah bukanlah segala nya sayang. Meskipun rumah tempat penting untuk keluarga, namun bukan hal itu poin utama nya, melainkan keluarga itu sendiri, dimana ada keluaarga disana lah rumah nya, sebab keluarga adalah rumah, jangan menjadikan rumah adalah keluarga. kadang kita tidak bisa menandai suatu hubungan dengam benda” tutur nya, membuat kening Eca mengkerut mendengar penjelasan papa nya


“slSayang, meskipun papa pulang ke indonesia dan menginap di hotel, bukan kah kita sama-sama tinggal di sana? Itu lah yang papa maksud berusan, meskipun kita tidak di rumah ini, kita tetap menjadi tempat berpulang saat keluarga berkumpul, rumah hanya bangunan yang tidak ada arti nya, namun hubungan tak akan berakir sampai mana pun ujung nya. Jadi jangan berkecil hati hanya karna papa tidak pulang kesini, karna harta berharga adalah keluarga, Eca lebih penting dari apapun” tutur nya, membuat kilauan mata berlinang di pelupuk mata Eca, bahkan melihat hal itu, membuat Jaya memeluk anak nya


“Papa” rintih Eca saat tubuh nya jatuh ke tubuh pria paruh baya itu, tentu saja papa nya bel tua sekali meskipum sudah berumur, sebab Jaya masih sekitar 40 tahun


“Tidak apa-apa sayang, ada kala nya kamu harus mengerti hal sederhana yang selalu membuat kita keliru” tutur nya sembari menenangkan tangisan putri nya, mendengar hal itu dari papa nya, membuat Eca mempertanyakan banyak hal, apa dirinya telah salah selama ini?


"Apa eca salah pa?” tanya gadis itu dengan isakan yang tidak berhenti di relung suara nya, bahkan mata nya begitu basah mengenai kemeja Jaya

__ADS_1


“Tidak sayang, Eca tidak salah. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang menyalahkan Eca, karna untuk papa hanya ada sedikit kekurangan, jadi Eca harus memperbaiki nya” balas Jaya dengan nada lembut sembari mengusap kepala anak nya


“Apa beda nya kekurangan itu dengan kesalahan, sama saja” celetuk nya ke arah papa nya yang rupawan, membuat Jaya terkekeh mendegarkan ketus anak nya


“Tentu saja beda sayang. Kalau salah, berarti apa yang Eca lakukan selama ini memang tidak ada benar nya, namun jika kekurangan berarti apa yang Eca usahakan sudah benar, hanya ada ada sedikit hal yang kurang dan harus Eca perbaiki” jelas jaya


“Penjelasan macam apa itu, apa papa mengangap Eca anak kecil. tapi penjelasan papa licik sekali” balas gadis itu saat bangkit dari pelukan papa nya, bahkan mata nya saja masih sembab, membuat Jaya tak kuasa meandangi putri nya, dia meraih wajah eeca sembari meraih pipi anak nya dengan jemari nya


“Tentu saja papa harus licik, jika tidak kita tidak akan bisa bertahan di hidup yang pahit. Sebesar apapun Aca, bagi papa Eca hanya gadis kecil yang tidak pernah dewasa” tutur nya saat menatap kedua putri nya dengan hangat, bahkan Jaya teringat bagaimana kecil nya jemari Eca saat menyentuh telunjuk nya yang tak mampu di genggam


“Papa” Eca kembali memeluk papa nya dengan penuh sayang bahkan air mata haru menetes di mata nya, selama ini dirinya tidak pernah berbicara panjang lebar dengan laki-laki yang menjadi cinta pertama nya, bahkan sekalipun Eca selalu menghindari nya, entah kenapa sekarang ada rasa lega yang membelengu dada nya, membuat Eca melepaskan semua sesak di pelukan papa nya.

__ADS_1


__ADS_2