
"apa kau mengerti ca" seru wanita itu dari balik sana
"iya ma" balas nya dengan nada memelas
"mama tidak ingin kau melewatkan nya, jangan kecewakan mama. ok"
"ya ya ya" mendengar jawaban tersebut, membiat mereka saling mengakiri telepon,
"aku malas sekali, menyebalkan sekali" gerutu Eca sembari membanting tubuh ke ranjang nya
Sebab orang tua nya memberikan Eca titah untuk menghadiri suatu acara mereka di irlandia tentu saja dia datang harus bersama Brian, atas lounching fashion brand Daniell fenderick, yang bekerjasama dengan perusahaan papa sebagai investor utama, jadi malam ini mama menyiapkan pesawat jet untuk mereka kendarai, rasannya Eca sangat malas untuk menghadiri acara bisnis yang tidak dia sukai itu, karna orang terlalu memaksa berarti hal ini sangat penting untuk di hadiri
Sekarang jam 18.24 WIB mereka harus berangkat ke bandara, dan beberapa pengawal menjaga keselamatan mereka hingga ke bandara. terlihat empat mobil hitam mengikuti lalu mengawal perjalanan anak tuan Jaya, siatuasi yang membuat Eca tidak nyaman sama sekali, sesekali gadis itu memandang ke arah jendela dan melihat pohon yang seperti melewati nya, padahal dialah yang melewati mereka, suatu filosofi yang luar biasa, fikir gadis itu seraya menjalarkan fikiran nya tentang waktu, sebab banyak orang yang berangapan waktu sering kali berlalu meninggalkan masa lalu, padahal kita yang sering melalui nya tanpa berfikir hal itu telah lalu
Rasanya Eca sedikit bosan sebab brian hanya sibuk dengan buku-buku pelajaran yang dikerjakan nya, sementara gadis itu meraih ponsel seluler yang ada di saku celana sembari mengeluarkan aerphone dari tas punggung milik nya, Eca tidak tau bagimana rasanya hidup menjadi orang sederhana tapi dia ingin sekali menjadi mereka, perlahan gadis itu mencoba memejamkan mata tanpa menghiraukan perjalanan nya.
Brian yang selalu sibuk dengan buku miliknya membuat Eca semakin menyadari betapa pekerja kerasnya adik laki-laki nya itu. satu harapan nya " hidup normal" dia ingin sekali Brian seperti remaja biasa, namun keadaan telah membentuk mereka menjadi seperti sekarang.
Eca begitu ingin adik nya bermain bukan dengan buku pelajaran melainkan teman-teman nya, Eca ingin mama tidak mengurus politik dan membuat porlemik tapi membuatkan mereka sarapan yang menarik dipagi hari. Eca ingin ayah pergi kerja pagi hari sambil mengantar nya dan brian setelah itu beliau pulang sore hari.
__ADS_1
Tapi rasanya itu seperti mimpi untuk hidup Eca miliki, lantaran waktu telah berlalu dan semua hal sudah menjadi masa lalu, sebab dirinya sudag terlahir seperti ini sejak dia dan adik laki-laki nya lahir.
"Why can't you hold me in the street?
Why can't I kiss you on the dance floor?
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
'Cause I'm yours" 🎶🎶
Perjalanan yang sedikit jauh membuat Eca dan Brian harus megistirahatkan tubuh nya, Bri yang kala itu masih sibuk dengan buku nya membuat Eca sedikit jengkel. seketika gadis itu merampas buku adik laki-laki nya lalu menyembunyikan buku tersebut didalam hondie yang di kenakan Eca
"kakak. kemarinkan buku ku!" teriak Brian ke arah kakak nya
" apa kau tidak tau waktu untuk belajar? sekarang tidurlah! aku tidak mau kau jet leg saat mendarat nanti" bujuk nys untuk meyakin kan Bria, tentu saja Brian tidak semudah itu mengalah.
"pantas saja kakak tidak pintar, karna kakak hanya membutuhkan belajar di waktu ingin saja" celetuk nya sembari melingkarkan tangan di dada nya
__ADS_1
"anak ini!! aku kakak mu!! setidak nya aku tidak bodoh! " teriak Eca ke arah bocah yang menyandarkan tubuh nyw tersebut
"apakah peringkat 70 dari 100 siswa itu sebuah peringkat untuk mu"
"tentu saja, setidak nya aku mengalahkan tiga puluh orang di bawah ku" Cibir Eca ke arah adik nya
"logika macam apa itu" teriak Brian dengan kesal, sebab kakak nya itu sangat bodoh sekali, melihat kekesalah Brian tentu saja mengundang kekehan renyah dari wajah Eca, dia seperti memenangkan perdebatan.
Seketika Brian menatap Eca dengan penuh perhitungan, mata nya begitu tajam menatap ke arag nya "apa kay lihat, hah" tantang Eca dengan membesarkan mata nya kepada Brian
"kakak ku ini benar bodoh" gumam Brian sembari mengalah dengan keadaan.
" baik lah, aku akan tidur tapi kemarikan buku itu, ada beberapa bagian yang harus ku selesaikan kak" tutur nya dengan nada rendah, bahkan wajah manis nya itu membuat Eca sulit sekali menolak, tentu saja Eca dengan mudah memberikan nya, membuat Brian tak menyangka menghadapi kakak nya yang bodoh itu segampang itu
" bagaimana caraku mengatasi dirimu ini! ini kerjakan lah" Eca melemparkan buku itu kepada adik nya, membuat brian tersenyum menerima buku nya kembaki, rasanya Eca tak tega melihat adik nya yang selalu sibuk dengan buku-buku dan menghabiskan waktu untuk itu, jika dirinya memiliki kekuasaan seperti papa nya, igin sekali rasanya Eca membakar seluruh buku milik Brian, agar adik nya tidak selalu belajar
Dua belas jam gadis itu perjalanan, benar-benar waktu yang tidak terasa sebab di habiskan nya untuk tidur panjang, sesampainya di Dublin Airport ada dua mobil berwarna putih yang menunggu mereka berdua, beberapa pengawal mengarahkan Eca dan Brian masuk ke mobil tersebut sembari melaju ke hotel tempat acara nanti malam.
Eca benar-benar capek dan langsung merindukan Indonesia, dia membutuhkan nasi goreng pagi hari, ditambah dengan dua telur dadar yang tidak matang, lagi-lagi Eca hanya memperdulikan perut nya, sebab untuk masalah berat badan, ada coach yang mengatur olahraga dan bentuk tubuh Eca, karna bagi mama penampilan untuk seorang konglomerat adalah keharusan untuk terlihat menarik.
__ADS_1
Neskipun Eca tidak menyukai cara hidup seorang koglomerat, setidaknya untuk satu hal itu dia dapat menerimanya, lantaran bentuk tubuh juga menjadi hal yang penting bagi eca, sebab hal itu terkait dengan kesehatan.