
Jessy melintasi gerbang sekolah setelah turun dari mobil yang mengantarnya, bahkan gadis itu sangat kesal atas apa yang terjadi pada pagi ini, bukankah mami cukup keterlaluan untuk mengatur kehidupan Jessy, bagaimana bisa ia melakukan perjodohan dengan Didi, bahkan sudah beberapa tahun belakangan mereka tidak pernah bertemu dan mungkin sudah banyak hal yang berubah pada saat itu, mungkin pada Jessy sendiri, rasanya sangat aneh untuk Jessy menjadi istri dari seseorang diatas keinginanya yang begitu mengelora untuk berkelana menikmati kehidupan.
"Bukankah itu Jessy" bisik segerombolan wanita yang cukup asing melihat Jessy tidak melompati pagar pagi ini, bahkan gadis itu berjalan melintasi gerbang sekolah diantara banyaknya mulut yang membicarakan Jessy.
"Apa ada yang salah denganya, apakah karna Bu Luna"
"Apa maksudnya dengan bu Luna" tanya yang lainya dengan rasa ingin tahu tinggi.
"Apa kalian tidak tahu, jika Bu Luna akan memanggil orang tua Jessy jika dia tidak lulus ujian matematikan, apakah ancaman itu membuatnya melakukan perubahan"
Membuat langkah Jessy terhenti, bahkan ia bedecak kesal atas apa yang mereka utarakan, entah bagaimanapun, para badut itu terus saja menjengkelkan, bahkan mereka gemar bicara tanpa tahu akan faktanya, kenapa wanita terus menjadi mahkluk yang menyebalkan, seakan segala hal perlu dikomentari tanpa melewatkan apapun.
"Apa kalian sudah bosan hidup" geram Leon yang kala itu berdiri dibelakang para gadis, bahkan Jessy yang ingin mengumpat akirnya mengurungkan niatan tatkala sahabatnya mulai bersikap seperti pahlawan.
"Le-Leon" lirih mereka penuh takut, diantara langkah yang perlahan menghindar.
"Aku bahkan bingung, bagaimana bisa kalian membicarakan seseorang dengan nada yang begitu besar, seolah kalian semua paling benar tanpa ada salah satu titikpun" kesal pria itu, sungguh membuat Leon berkacak pingang sembari mengusungkan dada penuh sikap menantang.
"Leon, sepertinya ada yang salah paham, ka-kami pergi dulu, bye Leon" teriak mereka ketika lari terburu-buru meninggalkan pria itu, hingga Jessy mencebikan bibir sambil melangkah besar memasuki sekolah.
"Jessy, apa kau mengabaikan aku, bagaimana bisa kau mengabaikan orang yang membelamu" kejar Leon dengan tidak terima.
"Apa aku meminta mu untuk membelaku" dengus Jessy dengan segera.
"Setidaknya aku memiliki niatan baik untuk membantu"
"Sayangnya aku tidak akan mengucapkan terimakasih, karna kau menolongku sembari menebar pesona kearah mereka, jadi kita impas"
"Siapa yang menebar pesona, aku tidak menebar pesona, aku bersikap bijaksana"
"Leon bijaksana!" ungkap Jessy saat mengulang perkataanya. "Apa matahari sedang terbit dari sebelah barat" membuat mereka berlalu memasuki kelas sambil menempatkan kursi masing-masing, bahkan Jessy bercengkrama dengan hangat bersama sahabatnya, hingga Randika memasuki kelas dan bersirobok oleh tawa Jessy yang cukup menyegarkan.
Bahkan gadis itu terdiam saat Randika menatap dirinya, membuat Jessy menampilkan wajah juteknya sembari membawa Leon keluar dari arah kelas, bagaimanapun Leon tidak pernah menyukai Randika, bahkan sejak pertama ia muncul di kelas mereka sebagai anak pindahan baru.
*
Siang harinya, semua orang berkumpul di kantin sekolah, bahkan banyak sekali siswa yang memadati kantin dua lantai yang begitu mewah dan elegan, bahkan Jessy dan Leon berlalu memasukinya hingga beberapa antrian menyingkir untuk memberikan mereka jalan.
__ADS_1
Melihat hal itu tentu saja Randika tersenyum sungging, bagaimanapun Randika tidak menyangka jika Jessy benar-benar ditakuti, seolah ia sang ratu yang dijunjung tinggi disekolah ini.
"Kan Dika" tegur Syifa yang ada dihadapanya, bahkan gadis itu merupakan kembang sekolah yang terkenal dengan dirinya yang sempurna.
"Ada apa?"
"Kakak lihat siapa? Apakah lihat Jessy?" tanys gadis itu saat sadar akan pandangan Randika.
"Ya, aku sangat penasaran kenapa dia begitu ditakuti oleh murid disekolah ini"
"Apa kakak belum tahu jika Jessy ketua Geng disekolah ini"
"Ketua geng?" tanya Randika dengan ingin tahu tinggi.
"Iya, dia ketuw Geng Jabrik yang cukup meresahkan, bahkan Jessy memiliki image yang buruk dimata guru dan siswa, tapi berkat orang tuanya, tak ada yang berani menegur Jessy. Untuk itulah, banyak anak-anak mengalah dan membiarkan saja, sebab semakin dipedulikan semakin banyak tingkah. Bagaimanapun gadis meresahkan seperti Jessy hanya menjadi aib keluarga besarnya, dan ia tidak akan mungkin memiliki masa depan" hingga kening Randika berkerut dalam, bahkan segelintir penolakan semakin terasa getir, bahkan Randika menghempas sumpit besi yang ada ditanganya, membuat semua perhatian mereka teralihkan.
"Apa hakmu mengutuk dan mengatakan hidup seseorang berantakan, sebaik apa kau menjadi wanita hingga bisa menilai bagaimana ia dimasa depan. Bahkan kau bicara seolah-olah paling mengenalnya saja, astaga..... menjengkelkan" ketus pria itu, membuat Syifa terpana diam atas sikap Randika, bahkan beberapa orang melihat dirinya begitupun dengan Jessy.
Sedangkan Randika pergi dari tempat duduknya sebelum akirnya meninggalkan gadis itu, Jessy yang memperhatikan keributan itu menatap wajah kesal Randika yang begitu mudah dibaca.
"Arogan sekali" kesal Leon, bahkan membuat pria itu ingin bertindak untuk ikut campur, tapi Jessy menghalangi.
*
Sepulang sekolah Jessy mengantarkan makan malam untuk papinya di kantor, bagaimanapun papi selalu menyukai makanan mami meskipun sibuk bekerja, bahkan Jessy menunggu diruangan beliau sembari memainkan ponsel untuk mengisi kekosongan, gadis itu merasa bosan setelah sekian lama berada disana, sebab pria itu tengah memimpin sebuah rapat yang begitu penting.
Hingga laki-laki dengan kemeja dongker yang saat ini berpakaian casual menampilkan nuansa elegan memasuki kantor Direktur, bahkan Jessy terpana dengan diam saat tubuhnya bangkit dari kursi yang di duduki.
"Kau!" teriak keduanya dengan tidak percaya, bagaimana bisa pria menyebalkan itu ada dikantor papi, apa yang Randika lakukan sehingga ia bisa mengangsek ruangan ini.
"Apa yang kau lakukan disini" kesal Jessy dengan penolakan tinggi, seolah ia tidak sudi berada satu tempat dengan pria menyebalkan itu.
"Aku yang harusnya bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini"
"Tentu saja ini perusahaan papiku, apalagi yang harus aku lakukan selain bertemu denganya" dengus gadis itu.
"Oh begitu" sahut Randika dengan segera. "Yasudah, aku hanya mengantarkan beberapa dokumen pada papamu, aku pamit dulu" ucap pria itu dengan tergesa-gesa, bahkan membuat Jessy menyelisik tajam memandangi Randika.
__ADS_1
Pria itu meletakan dokumen yang cukup tebal dihadapan Jessy, sembari berlalu kearah luar untuk menginggalkanya, bagaimanapun Randika tidak boleh memberitahu Jessy jika ia adalah Didi, sebab Randika masih ingin menyelidiki tentang Jessy setelah 10 tahun tidak bertemu.
Aris menarik handle pintu kantornya, bahkan pria itu terpaku melihat putri semata wayangnya yang ada di dalam.
"Sayang" sapa Aris kehadapan Jessy, membuat gadis itu memeluk tubuh papanya sebelum akirnya melepaskan pelukan mereka.
"Pi, ada yang datang memberikan dokumen, apakah kau mengenalnya, aku fikir tidak lama semenjak ia pergi, kau juga datang, apakah kalian bertemu diluar"
"Ah anak itu.... " seketika Aris terdiam, bahkan ia mengurungkan penjelasanya sebelum akirnya tersenyum naif kearah Jessy. "Iya papi mengenalnya. Namanya Randika anak rekan kerja papi, selain itu dia baru pindah kenegara ini, mungkin kalian satu sekolah, apa kau mengenalnya?" tanya Aris pada Jessy.
"Tidak!" saut gadis itu dangan segera, bahkan membuat Aris terpana oleh sikap putrinya. "Maksudku, aku tidak mengenalnya secara dekat, cuman aku tahu dia anak baru di sekolah kami"
"Begitukah.... berteman baiklah degan Randika, dia anak yang pintar dan bertangung jawab, selain itu dia sangat tampan" goda Aris kearah Jessy, membuat Jessy dilanda geram sebelum akirnya menampilkan gurat kesal.
"Papi hanya bercanda sayang, sudah.... ayo kita makan" hingga mereka berdua menikmati makan malam disela perbincangan yang cukup hangat antara putrinya dan seorang ayah.
"Bagaimana sekolahmu, apa kau sudah menentukan masuk Universitas mana?"
"Belum, aku belum memikirkanya" terus Jessy dengan sikap dingin.
"Lalu bagaimana? Apa kau mau menikah saja Nak?"
"Papi, apa yang kau katakan, Jessy masih 17 tahun" kesal gadis itu.
"Tapi di zaman papi, itu usia yang cukup untuk menikah, apa salahnya menikah muda, pada akirnya juga bakalan sama, lihat mami yang terus mengejar cita-citanya, dia selalu ingin memenuhi masa muda dan menikah dengan papi diusia 38 tahun, tapi semenjak ada dirimu, mami benar-benar melepaskan semuanya, seolah apa yang dulu ia perjuangkan dengan banyak pengorbanan pada akirnya akan ia buang, karna tujuan utama dalam kehidupan, mencintai dirimu sendiri dan juga menerima seseorang yang siap mencintaimu nak"
Membuat Jessy teridam ketika makanan yang ia aduk-aduk dengan sendok begitu berat untuk ia telan dan sodorkan, kenapa papi membicarakan kehidupan, seolah Jessy malah diragukan oleh pilihanya, bagaimanapun Jessy sangat paham cerita mami, bahkan salah satu alasan mami bersikeras menjadikan Jessy sebagai wanita tulen dan juga menikah diusia muda, sebab berkaca dari pengalamanya sendiri, ia melihat Jessy seperti cerminan dari hidupnya, yang akan mengejar kehidupan sampai usia paling matang dan akirnya menikah namun terpaksa melepaskan semuanya yang ia dapatkan dan perjuangkan.
"Lalu kenapa papi menikahi mami?" tanya Jessy dengan ingin tahu tinggi.
"Karna cinta" ungkap Aris dengan penuh hangat, bahkan membuat Jessy menyungingkan senyum dengan kecut saat mendengar ungkapan itu.
"Apakah cinta itu benar-benar ada untuk selamanya atau sesaat saja"
"Cinta itu tidak pernah abadi, tapi sejati" terus Aris kehadapan putrinya.
"Apa maksudmu, apa bedanya sejati dan abadi"
__ADS_1
"Tentu saja beda sayang" lirih pria itu dengan penuh ketenangan. "Abadi hanya bisa di sandingkan dengan dengan sebuah benda, entah itu hidup ataupun mati, namun sejati bisa kau sandingkan dengan rasa. Saat kau mengatakan cintamu abadi, itu hanya akan terasa bohong, lantaran tidak ada manusia yang abadi di dunia ini, pada akirnya 70 ataupun 80 tahun, sudah menjadi jangka hidup yang paling lama untuk kita merasakan cinta, tapi jika kau menemukan cinta sejati, maka itu akan bertahan sampai kapanpun, bahkan saat dua raga tidak bersama lagi, kalian akan tetap mengukir sejarah jika kalian akan terus mencintai, hingga di kehidupan berikutnya"