
Setelah ketiganya mengerjakan bagian dari tugas mereka masing-masing. Mereka bertiga kembali ke tempat awal mereka semua berkumpul. Melihat situasi di kelompoknya yang terasa sunyi dan tidak ada yang berbicara, akhirnya Bian berinisiatif untuk mulai berbicara kepada mereka berempat yang berdiri didepannya dengan acuh.
" Karena hari ini kita telah selesai semua dengan tugas penelitian kita, dan kita juga telah mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi untuk laporan yang akan kita susun nanti, bagaimana jika untuk hari selanjutnya kita kerjakan laporannya di perpustakaan kota N saja, kita juga bisa menggunakan buku-buku yang berada di sana sebagai referensi untuk menyusun laporan yang kita kerjakan nanti." Ucap Bian menjelaskan kepada mereka
" Juga perpustakaan disana suasananya lebih tenang, jadi kita bisa lebih fokus untuk mengerjakan tugas kita, jika kita di sini takutnya kita akan mengganggu pengunjung restoran ini yang akan datang kemari." Lanjut Bian memberi saran
Mereka semua hanya menganggukan kepala mengiakan apa yang disarankan oleh Bian. Dia tau bahwa empat orang di depannya ini tidak saling menyukai.
Raka yang tidak suka berdekatan dengan perempuan selain ibu juga saudaranya. Shafita yang tidak suka dengan Mawar dan Lili, terutama Mawar yang berwajah buruk rupa tetapi lebih pintar darinya, dan selalu lebih tinggi nilainya di bandingkan dengan Shafita.
Shafita merasa bahwa Mawar tidak pantas sekolah di sekolah yang sama dengannya. Bahkan Mawar lebih baik dibidang akademik dibandingkan dengan dirinya. Dia tidak terima di kalahkan oleh anak-anak miskin yang hanya mengandalkan beasiswa untuk sekolah, walaupun dia juga penerima beasiswa, tetapi dia juga berasal dari keluarga kaya. Dia tidak ingin gadis buruk rupa dan miskin itu selalu berada di atasnya dalam hal apapun.
Begitu pun dengan Lili yang sangat tidak menyukai Shafita yang selalu saja menghina dan membuli sahabatnya itu setiap ada kesempatan. Juga dia tidak menyukai Shafita yang selalu menghina dan merendahkan orang miskin. Shafita dan Lili seperti air dan api yang tidak akan pernah bisa bersama.
Bian tidak menyarankan kepada mereka untuk mengerjakan laporan di perpustakaan Star School, karena itu bisa mengemparkan satu Star School jika mereka melihat pangeran tampan kebanggaan mereka duduk satu meja dengan gadis buruk rupa seperti Mawar, itu akan menyebabkan Mawar akan menjadi bahan bulian dari siswi-siswi yang menjadi pengagum dari pangeran dingin itu.
" Aku heran, kenapa mereka selalu membuli dan menghinanya hanya karena wajah yang ad bekas luka itu. Padahal terlepas dari bekas luka itu, dia adalah gadis yang baik, juga pintar, dan tidak pernah menyakiti ataupun membalas mereka yang telah membuli dan menghinanya." Ucap Bian dalam hati menatap Mawar
" Tapi jika diperhatikan lagi wajahnya pasti sangat cantik kalau tidak ada bekas luka di wajah nya, dan juga kaca mata tebal dan besar itu." Lanjut Bian dalam hati sembari fokus memperhatikan wajah Mawar yang berhadapan dengannya
" Kalau begitu kita akan pulang lebih dulu karena hari sudah mulai gelap." Ucap Lili mengeraskan suaranya disamping Bian, yang sukses membuat Bian melonjak kaget karena terlalu fokus pada Mawar
" Kau tidak apa-apa?" Tanya Mawar
__ADS_1
" Aku tidak apa-apa." Jawab Bian dengan gugup dan tersenyum canggung
Bian tau kalau Lili sengaja berkata begitu di samping dia untuk mengagetkannya yang memperhatikan Mawar dan itu semua tidak lepas dari perhatian Raka. Bukan hanya sengaja Lili mengatakan itu untuk mengagetkan Bian, tetapi memang mereka sudah harus pulang karena hari sudah mulai gelap dan mereka berdua harus pulang dengan jalan kaki menuju rumah Gita yang tidak jauh dari restoran bintang.
Gita sempat menelpon keduanya untuk menjemput mereka pulang bersama karena dia selesai lebih awal dari mereka berdua. Tetapi Mawar menyuruhnya pulang lebih dulu tidak perlu menjemput mereka. Karena ketika ditelpon oleh Gita mereka berdua masih belum selesai dengan tugas mereka.
Bian memberikan kertas yang telah dia kumpulkan dari Mawar dan Lili ke tangan Raka. Sedangkan Shafita memilih memberikan sendiri kertasnya ke Raka walaupun pada akhirnya dia terpaksa menyerahkan kembali kertas hasil kerja kepada Bian karena tidak di terima oleh Raka. Raka menerima pekerjaan anggota kelompoknya dan berjalan pergi dari hadapan mereka semua.
" Kalau ada yang mau kamu katakan dan bertanya tentang tugas kita kau bisa menghubungi aku." Teriak Bian pada Raka yang sudah menjauh dari mereka
" Tsk, sebaiknya aku juga pergi, tidak mungkin aku akan berlama-lama di sini dengan orang miskin seperti kalian." Ucap Shafita meninggalkan mereka
" Tidak ada juga yang menahanmu disini, sana pergi saja kau jauh-jauh dari kita." Usir Lili padanya
Sepanjang perjalanan mereka berdua, dibarengi dengan Lili yang berbicara tanpa henti dan sesekali mereka tertawa bersama ketika Lili mengatakan sesuatu yang membuat tawa mereka pecah.
Tidak terasa sejam berlalu mereka berdua pun sampai di depan pagar rumah Gita. Pintu pagar di buka oleh penjaga rumah dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam. Penjaga itu sudah mengenal mereka berdua sebagai teman dari nona nya.
Sesampainya mereka di depan pintu rumah sudah ada Gita yang menunggu mereka berdua. Gita duduk santai di depan rumah dengan ditemani segelas jus.
" Kenapa kau berada di luar?" Tanya Mawar
" Menunggu kalian berdua." Jawab Gita
__ADS_1
" Aku takut kalian berdua hilang dan tidak tau jalan ke rumah ini." Ucap Gita lagi
" Kau pikir kita anak kecil, bisa hilang dan tak tau jalan pulang?, Anak kecil jaman sekarang ini pada pintar, tidak bisa hilang sembarangan. Jika tidak tau jalan pulang, tinggal tanyakan sama sama uncle google maps saja alamat rumah kamu." Ucap Lili
" Aku hanya takut kalian berdua kenapa-kenapa dan tidak diijinkan lagi menginap dirumahku jika orang tua kalian berdua tau, terjadi sesuatu kepada anak mereka, yah sudah, ayo masuk." Ucap Gita mendorong keduanya masuk ke dalam rumah dengan sebelah tangannya, sembari mengambil jus dengan tangan lainnya
Sampai di dalam rumah, mereka memilih masuk ke dalam kamar masing-masing untuk mandi dan mengambil buku-buku yang di perlukan. Setelah selesai mereka akan berkumpul di ruang keluarga untuk menyicil tugas matematika dari pak Ricky sambil menunggu waktu makan malam tiba.
Di dalam kamar Mawar melihat sekeliling kamar yang akan di tempatinya, kamar mewah bernuansa putih bersih dengan barang-barang yang di dalamnya, dan terdapat kasur king size. Ini untuk pertama kalinya bagi Mawar bisa tidur lagi di kasur yang luas setelah menginjak usia 7 Tahun hingga sekarang.
Dia berkeliling kamar itu untuk melihat keseluruhan isi dari kamar, dia baru bisa melakukannya sekarang karena pertama kali dia masuk, dia tidak bisa melakukannya, karena hanya masuk untuk mandi dan keluar lagi, jadi tidak sempat dia keliling kamar yang akan ditempati olehnya.
Setelah puas berkeliling kamar, Mawar mengambil laptop di dalam tas dan membawanya ke tempat tidur. Sambil duduk disisi kasur Mawar membuka dan menyalakan laptopnya untuk melakukan sesuatu.
Setelah selesai dia pun mematikan laptopnya dan membiarkannya dia atas kasur begitu saja. Mawar berdiri menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamar itu untuk membersihkan tubuhnya. Tidak seperti di rumahnya, Mawar harus menggunakan kamar mandi di luar kamar.
Di rumah Gita, dia merasa sangat terbantu karena tidak perlu berjalan dimalam hari yang gelap jika ingin ke toilet, mengingat penglihatan pada matanya akan berkurang banyak ketika berada dalam keadaan gelap.
Setelah selesai urusannya di kamar. Mawar keluar menemui Gita dan Lili yang sudah menunggunya di ruang keluarga. Mawar menghampiri kedua sahabatnya yang sudah duduk mengerjakan tugas matematika dari pak Ricky. Diapun duduk bergabung bersama mereka.
Mereka bertiga mengerjakan tugas dengan tenang dan sesekali mereka saling bertanya jika dia antara mereka ada yang tidak tau atau ada yang tidak dimengerti.
Bersambung.....
__ADS_1
Sampai jumpa lagi dan terimah kasih semuanya yang sudah membaca cerita ini 😊🙏