Cantiknya Mawar Yang Tak Berduri

Cantiknya Mawar Yang Tak Berduri
Jatuh


__ADS_3

Setelah beberapa waktu berlalu Selly menutup buku yang dibacanya dan berkata pada teman-temannya, sebaiknya mereka pulang sekarang agar tidak mengganggu waktu istirahat orang yang sedang sakit.


Mereka semua juga menyetujuinya, dalam hati mereka berkata percuma juga berlama-lama di sini, hanya bisa duduk diam, menanyakan keadaan orang yang sakit pun tidak berani mereka lakukan.


Mereka semua berdiri dan mengikuti Selly yang berjalan ke arah tempat para Raka dan kedua sahabatnya. Selly mendekati rajag Raka dan mengatakan kalau mereka sudah harus pulang. Raka memandang mereka berada tetap jauh di belakang sana, dia ingin melihat Mawar sebelum mereka pulang tetapi tidak bisa karena tubuh Lili menghalangi Mawar yang berada di belakangnya.


Dia menatap ke arah Selly dan berkata terima kasih karena mereka telah datang menjenguknya, karena sudah agak terbiasa berbicara dengan Selly, Raka pun meminta maaf dia akan merepotkan dirinya untuk 3 hari ke depan karena tugasnya sebagai ketua kelas akan diberikan pada Selly sebagai wakilnya.


Mereka yang berada di belakang Selly tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan yang mereka lihat hanya Selly yang menganggukan kepalanya. Setelah itu Selly membawa mereka yang berada di belakangnya untuk keluar dari ruangan Raka.


"Kami juga akan pulang bersama mereka, besok kita berdua akan kemari lagi menemanimu di sini." Ucap rifal. Mereka pun meninggalkan Raka sendirian di ruangan besar itu


"Ah, malangnya nasibku ditinggal sendirian, kenapa juga dengan mereka datang menjenguk aku, tapi tidak menanyakan keadaanku sama sekali, malah dua si kutu yang mengajakku berbicara, bahkan mereka hanya bisik-bisik tetangga hingga pulang, apakah aku tidak tampan dan keren makanya mereka tidak mau berbicara denganku, atau apakah aku kelihatan seperti penjahat?, aku rasa tidak, aku kan anak yang baik makanya ibu sangat sayang padaku." Ucap Raka mengomel sendirian dengan ekspresi bermacam-macam setelah semua teman-temannya meninggalkan dia sendirian di kamar rawatnya.


Dia tidak sadar semua tingkah lakunya dilihat oleh Mawar yang sudah berada di ruangan bersamanya. Sebelum sampai di lobi rumah sakit Mawar meminta pada Gita dan Lili menunggunya sebentar saja di mobil karena dia akan ke toilet.


Ketika mereka pergi dari hadapannya dia berjalan cepat ke ruangan Raka sebelum sampai dia melihat Ryan dan rifal keluar, karena tidak ingin diketahui oleh mereka dia pun bersembunyi di balik dinding melihat keduanya tidak terlihat lagi dia pun pergi ke sana.


Ketika sampai di depan ruangan Raka, Mawar melihat Raka yang sedang berbicara sendiri dengan wajah cemberut seperti anak kecil, dan mengomel tak jelas di atas tempat tidurnya. Mawar tersenyum melihatnya.


"Dia hanya seperti anak-anak pada umumnya sama seperti kita, untungnya pintu lupa dikunci jadi aku bisa melihat sisi lain dari Raka." Ucap Mawar pelan


"Ah bodohnya aku kenapa tidak aku rekam tadi, biar ku jual pada Gita yang sangat suka pada si Raka pangeran esnya ini." Ucap Mawar pelan sembari menepuk jidatnya kuat dan sukses membuat Raka kaget


Raka memandang ke arah Mawar yang masih memegang jidatnya. "Sejak kapan kau di situ?" Tanya Raka dingin dan penuh curiga pada Mawar, dia takut jika Mawar melihat dan mendengar apa yang sempat dilakukannya.


"Baru saja sampai, aku langsung masuk karena pintunya terbuka." Jawab Mawar menyembunyikan kegugupannya, takut kalau Raka tidak percaya ucapannya


"Oh, kenapa kembali lagi ke sini?" Tanya Raka lagi


Keetika Mawar akan menjawab pertanyaannya Raka pun berkata, "Mendekatlah ke sini aku tidak akan mendengar suaramu yang kecil itu jika kau akan berbicara dari sana." Ucap Raka lagi


Mawar pun berjalan dengan pelan ke arah Raka melihat Mawar yang berjalan pelan seperti siput membuat Raka kesal sendiri.


"Apakah kau siput, kenapa jalanmu pelan sekali?" Tanya Raka dengan kesal


Entah kenapa Raka merasa ada yang aneh dengan dirinya, dia jadi banyak bicara dan kadang merasa kesal sendiri kepada gadis buruk rupa di depannya ini.


"Sabar Mawar, anggaplah Dia anak kecil seperti yang dia lakukan sebelumnya." Ucap Mawar dalam hati


Mawar sudah tidak terlalu takut pada remaja di depannya ini, dia dengan sabar berjalan mendekat ke arah Raka


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Raka


"Terima kasih sudah menolongku sebelumnya dan maaf atas kesalahan aku sehingga kau berakhir dirawat di sini." Ucap Mawar

__ADS_1


"Sama-sama, tidak perlu meminta maaf, bukan salahmu, aku di sini hanya karena dipaksa oleh ibuku, padahal punggungku hanya sedikit memar, diolesi salep juga langsung hilang, hanya ibuku saja yang memaksa menginap 3 hari di sini, jika aku tidak mengikuti keinginan ibuku maka sebulan aku tidak di izinkan keluar dari rumah." Ucap Raka tanpa sadar mengeluh di depan Mawar


"Kalau begitu aku permisi pulang." Ucap Mawar setelah selesai apa yang memang ingin di katakan nya pada Raka


"Iya, hati-hati di jalan dan sampai jumpa 3 hari lagi." Ucap Raka yang masih belum sadar


Mawar keluar dari ruangan Raka untuk menemui kedua sahabat yang sudah menunggunya di depan rumah sakit. Selepas kepergian Mawar dari ruangannya Raka baru menyadari apa yang telah dilakukannya.


"Ada apa dengan diriku, dasar Raka bodoh, kenapa malah banyak bicara dan mengeluh di depan gadis buruk rupa itu?" Tanya Raka pada diri sendiri merasa frustasi sambil mengacak rambutnya kasar


🌹 🌹 🌹 🌹🌹


Tak terasa waktu 3 hari pun berlalu begitu saja, hari ini menjadi hari terakhir untuk Mereka menyelesaikan laporan hasil penelitian mereka, mereka Tengah berada di perpustakaan kota N. Saat ini ada kelompok kita, kelompok Mawar yang sudah lengkap karena Raka sudah keluar dari rumah sakit. Karena 3 hari lalu Raka tidak bersama mereka untuk mengerjakan tugas bersama.


Kelompok itu masih duduk bersama di meja yang sama seperti hari pertama mereka datang ke perpustakaan, selama tiga hari tanpa Raka di kelompok mereka Mawar sering mengalami kecelakaan-kecelakaan kecil pada saat mereka di perpustakaan dan selalu dibantu oleh Bian hingga mereka berdua sudah mulai akrab selama tiga hari itu, begitu juga dengan yang lainnya kecuali Ryan Rifal dan si ratu bully Shafita.


Beberapa waktu berlalu tugas yang mereka kerjakan telah selesai Mawar dibantu oleh Bian dan Lili untuk mengembalikan buku yang mereka gunakan ke tempatnya. Mereka bersama-sama dengan Mawar dan mereka berdua selalu berada di samping kiri dan kanannya mereka berdua takut jika kejadian beberapa hari ini akan terjadi lagi mereka merasa jika ada yang berencana mencelakai Mawar, tapi sampai saat ini mereka tidak mengetahui siapa yang mempunyai niat jahat pada sahabat mereka itu. Hingga Lili tidak pernah mau meninggalkan sisi Mawar sedikitpun jika mereka berada di luar.


Mawar yang berdiri di tengah-tengah antara Bian dan Lili hanya bisa pasrah dia hanya bingung dengan Bian, kenapa juga Bian bersikap protektif padanya seperti yang dilakukan Lily.


"Aku merasa seperti berdiri diantara ayah dan ibu, mereka berdua sepertinya cocok, yang satu cantik, yang satunya tampan, sepertinya akan bagus jika aku mendekatkan mereka berdua, siapa tahu mereka berjodoh kelak. "Ucap Mawar dalam hati sambil tertawa kecil.


"Ada apa denganmu tertawa seperti itu?" Tanya Lili keheranan bahkan Bian yang berada di sisinya juga bingung dengan Mawar yang tiba-tiba tertawa


"Dia lagi, sebenarnya apa yang diinginkannya?, Dia yang memperhatikan Mawar beberapa hari yang lalu kenapa sekarang juga dia memperhatikannya seperti itu?" Tanya Raka berbicara sendiri, ketika memperhatikan mereka yang berdiri jauh di depannya dan tak sengaja melihat orang yang berada tidak jauh di belakang Mawar dan sedang memperhatikan Mawar juga.


Setelah selesai menaruh semua buku ke tempatnya, Mawar dan keduanya berjalan menuju ke teman-temannya. "Ini kesempatan terakhirku untuk membuktikannya karena hanya di sini aku bisa mengetahuinya." Ucap orang yang memperhatikan Mawar dari awal hingga berjalan kembali ke teman-temannya


Setelah semuanya selesai membersihkan barang bawaan mereka, Mawar dan teman-temannya berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai dasar untuk keluar dari perpustakaan kota N dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Saat baru menginjak 2 anak tangga Mawar tersandung sesuatu dan membuatnya kehilangan keseimbangan, dia pun terjatuh dari atas tangga hingga ke dasar lantai, dia sempat mencari pegangan tapi tak menggapai apapun untuk mencegahnya jatuh, karena dia berada di tengah tangga jauh dari pegangan kiri dan kanan tangga sehingga tak bisa menggapai apapun.


Sedangkan Lili yang biasanya berjalan sambil menggandeng tangannya, dan tidak pernah jauh dari sampingnya berada di sebelah kiri berbeda lima anak tangga di bagian depan, sehingga tak melihat Mawar tersandung di belakangnya. Shafita yang berada di belakang Mawar berteriak dengan sangat kencang saat melihat Mawar terjatuh dan berguling di depannya.


Dia sempat ingin menolongnya tapi tak sempat karena pada saat dia sampai di depan tangga tepat saat itu juga Mawar terjatuh.


Ketika mendengar teriakan Shafita, refleks Lili kita dan Selly pun berbalik mereka kaget melihat tubuh Mawar yang sudah berguling melewati mereka hingga ke dasar lantai


"Sia!!! " Teriak Lili dan Gita


"Mawar!!!" Teriak Selly


Mereka berlari menuruni tangga, diikuti Shafita berjalan di belakang mereka dia juga takut jika dia akan disalahkan karena dia berdiri tepat di belakang Mawar saat dia terjatuh terjatuh dari tangga, sedangkan lima teman laki-laki mereka yang berada tak jauh di belakang juga berlari menuruni tangga ketika mendengar teriakan Shafita dan lainnya.


Walaupun mereka berada di bagian belakang tak jauh dari tangga, mereka tidak melihat Mawar terjatuh karena tubuh Mawar dihalangi oleh tubuh Shafita.


Lili sampai lebih dulu di bawah, Dia berlari sangat cepat seperti dikejar setan bahkan dia terlihat tidak menampakan kakinya di lantai, seperti berlari di atas angin, dia tidak peduli jika nanti dia juga jatuh, yang terpenting baginya bisa sampai di bawah tangga untuk melihat keadaan sahabatnya.

__ADS_1


Ketika berada di samping tubuh Mawar, Lili Dan Gita pun tak bisa menahan air mata mereka, mereka berdua mulai menangis melihat Mawar di pangkuan seorang ibu yang memangku kepalanya yang sudah berlumuran darah. Seluruh wajahnya juga penuh luka dan ada luka sobek yang sedikit panjang di pipi kanannya kacamata Mawar pun sudah terlepas dan hancur pada saat dia terjatuh.


Gita terduduk lemas sambil menangis melihat Mawar yang wajahnya sudah tidak bisa dilihat karena penuh luka bukan hanya bekas luka bakarnya tetapi luka yang baru didapatnya, dan hanya darah yang terus mengalir dari kepala dan wajahnya


"Pangkulah kepala teman kalian, ibu akan menelpon ambulans ke sini, untuk membawanya ke rumah sakit." Ucap ibu yang menolong Mawar, sambil memindahkan kepala Mawar yang berada di pangkuannya ke pangkuan Lili.


Sedangkan Lili hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil terus menangis.


"Ini semua salahku jika saja aku berada di sampingmu dan menggandeng tanganmu seperti biasa, kau tidak mungkin terjatuh dan menjadi seperti ini." Ucap Lili dengan menangis


Gita yang berada di sampingnya juga hanya bisa menangis dan menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga sahabatnya itu padahal dia sudah berjanji akan selalu menjaga kedua sahabatnya.


Tapi coba lihat sekarang ini, salah satu sahabat yang disayanginya sedang bermandikan darah di depannya dia merasa telah gagal memenuhi janjinya pada sahabat yang sudah dianggap adik itu.


Sedangkan teman-teman yang lainnya hanya berdiri dan melihat Mawar dengan khawatir.


"Kenapa Ambulance-nya lama sekali datangnya." Tanya Raka dalam hati tak sabar karena sangat khawatir melihat Mawar yang sudah mengeluarkan banyak darah


"Ambulance nya sudah datang, biarkan aku menggendongnya keluar." Ucap Bian dengan khawatir ketika sudah mendengar sirine ambulance berhenti di depan perpustakaan


Namun sebelum Bian menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sudah ada yang mengangkat tubuh Mawar dari pangkuan Lili dan berlari keluar menuju ambulans yang terparkir di depan perpustakaan sambil menggendong tubuh Mawar, mereka semua sempat bingung tubuh Mawar diangkat tiba-tiba.


"Tidak ada waktu untuk bingung nyawa Mawar lebih penting." Ucap Selly cepat ketika melihat mereka diam saja dan tidak bergerak


Dia berlari mengikuti Mawar yang sudah dibawa keluar. Mawar dimasukkan ke dalam ambulans ditemani oleh Lili dan Gita menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan Lili tak henti-hentinya menangis dia seperti bisa merasakan apa yang Mawar rasakan saat ini, sedangkan Gita hanya memeluk Lili dari samping sambil menangis dalam diam.


Gita berpikir dia harus kuat dan tenang agar bisa membantu menenangkan Lili di sampingnya, Gita tahu bagaimana perasaan Lily sekarang ini, diantara dia dan Lili yang paling dekat dengan Mawar adalah Lili, karena Lili Yang pertama menjadi sahabat Mawar. Mereka selalu bersama, di mana ada Mawar pasti ada Lili disampingnya.


Lili selalu menjaga Mawar seperti menjaga dirinya sendiri jadi pasti Lili sangat terpukul melihat keadaan Mawar di depan mereka saat ini, dengan kondisi saat ini Gita harus selalu berada di samping sahabatnya itu. pertama kali Gita bersahabat dengan mereka, Gita mengira kalau Lili dan Mawar adalah saudara karena kedekatan mereka.


Beberapa waktu berlalu ambulans sampai di salah satu rumah sakit di kota N. Para perawatan mengeluarkan tubuh Mawar dan membawanya ke IGD untuk segera ditangani dan diperiksa.


"Dit, tolong tunggu Mawar di sini aku akan menguras biaya rumah sakit dulu dan ruangannya." Ucap Lili pada Gita yang menunggu dengan teman-teman yang lain dan iyakan oleh Gita


"Apakah aku bisa membantu?" Tanya Raka


"Terima kasih, dan maaf aku bisa mengurusnya sendiri." Ucap Lili walaupun sedikit heran, karena ini kedua kalinya Raka berinisiatif untuk membantu Mawar.


Bersambung.........


sampai jumpa lagi di episode berikutnya 😊


terima kasih semuanya yang sudah membaca cerita ini 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2