
Di dalam kelas tak lama guru pun datang dan bersiap untuk memberikan pelajaran hari ini. Waktu berlalu, hingga tiba waktunya jam pulang sekolah, mereka bertiga membereskan buku-buku untuk dimasukkan ke dalam tas mereka masing-masing.
Tiba-tiba ada yang memanggil nama Gita.
"Maaf, bolehkah aku bertanya ?" Tanya Tian pada Gita dengan suara pelan ketika berada di dekat mereka.
Merasa ada yang memanggil dan bertanya padanya, Gita pun berbalik dan melihat sudah ada Tian di sampingnya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Ucap Gita bertanya kembali pada Tian
Di kelompok mereka Tian merasa, hanya Gita yang bisa diajak bicara dengan baik, tidak dengan ketiga temannya yang lain. Ryan dan rifal yang susah didekati dan irit bicara, sedangkan Seli yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
"Apakah kita hari ini juga akan ke taman kota untuk mengerjakan tugas biologi?" Tanya Tian balik.
"Oh iya, kemarin kamu izin pulang lebih awal setelah tugas bagianmu selesai jadi tidak mendapatkan informasi selanjutnya, kita tidak akan mengerjakan tugas lagi di taman kota, Karena penelitian telah selesai, kita akan melanjutkan membuat hasil laporannya di perpustakaan kota N." Ucap Gita menjelaskan
"Baiklah, terima kasih." Ucap Tian pada Gita dan berjalan keluar dari dalam kelas
Sesampainya di depan pintu Tian berhenti sejenak, dia berbalik melihat ke arah tiga sahabat itu lebih tepatnya kepada Mawar, hanya beberapa detik, setelah itu dia pun berbalik lagi melangkah keluar.
Tanpa diketahui siapapun di bagian belakang kelas, berdiri Raka yang masuk kembali untuk mengambil bukunya yang tertinggal di laci meja tempat duduknya.
Ketika Raka masuk dia melihat Tian yang berbicara kepada ketiga gadis itu, lebih tepatnya bertanya pada Gita dan setelah itu Tian pun berjalan dari hadapan Mereka.
Raka menunduk di bawah meja mencari bukunya, ketika menunduk dia melihat kaki Tian yang masih berdiri di depan pintu dan tidak bergerak. melihat kejadian itu membuat Raka yang penasaran pun mengangkat wajahnya menatap ke arah Tian, tetapi Tian yang ditatap oleh Raka memandang ke arah ketiga gadis tersebut.
Raka melihat ke arah Tian kemudian beralih menatap kearah pandangan Tian, Raka tau jika yang menjadi pusat perhatian Tian adalah wajah Mawar. Setelah Tian keluar, Raka yang sudah mendapatkan bukunya dia pun buru-buru keluar lewat pintu belakang kelas IX satu sebelum diketahui oleh ketiga gadis yang berada tak jauh di sebelah kirinya.
Ketiga gadis yang sedang sibuk merapikan buku itu tidak tahu dengan apa yang dilakukan kedua pria yang berbeda penampilan itu, mereka terlalu fokus dengan apa yang mereka lakukan, hingga tidak memperhatikan keadaan di sekitar mereka, lebih tepat mawar dan Gita yang lebih fokus kepada Lili yang cerewet tidak berhenti bicara yang sedang merapikan bukunya.
Mawar dan Gita telah selesai lebih dulu sebelum Tian datang bertanya pada Gita, mereka berdua sedang menunggu Lili untuk merapikan buku-bukunya, mereka berdua terlihat seperti anak-anak yang diceramahi oleh ibunya, yang hanya duduk diam dan mendengarkan.
Setelah itu mereka bertiga pun keluar dari dalam kelas dan merapatkan pintu kelas karena mereka bertiga yang terakhir keluar dari dalam kelas. Kelas akan dikunci oleh penjaga sekolah setelah semua murid telah keluar dari dalam kelas. Mereka bertiga berjalan turun ke lantai dasar.
Sesampainya di luar gedung mereka berjalan keluar menuju gerbang sekolah untuk menunggu jemputan yang akan menjemput mereka.
Di sisi lain. "kenapa kau lama sekali hanya untuk mengambil sebuah buku?" Tanya Rian pada Raka saat Raka sampai di mobilnya. Di dalam mobil Raka, sudah ada Rian dan rifal yang menunggunya
"Aku habis dari toilet setelah mengambil buku di kelas." Jawab Raka berbohong kepada kedua sahabat sekaligus saudara sepupunya itu.
Ryan adalah sepupu dari pihak ibunya Raka, sedangkan Rifal adalah sepupu Raka dari pihak ibu dari ayahnya atau bisa dikatakan Rifal adalah sepupu dari pihak neneknya Raka.
"Jalan pak ." Minta Raka pada sopirnya setelah dia mendudukkan dirinya di dalam mobil, ketika mobil mereka keluar dari gerbang Star School, Raka tak sengaja melihat Mawar dan kedua sahabatnya masih berdiri tak jauh dari gerbang sekolah, dia memandangi mawar hingga mobil mereka berlalu di hadapan Mawar dan kedua sahabatnya hingga menjauh dari mereka.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Rifal
"Tidak ada." Jawab Raka
"Dia kembali lagi seperti semula, padahal waktu naik mobil tadi sudah lebih dari 3 kata dan itu kemajuan yang sangat bagus." Ucap Ryan dan diiyakan oleh Rifal
"Apa yang kalian berdua bicarakan?"Tanya Raka
__ADS_1
"Apakah kau tidak tahu jika selain dirimu dijuluki pangeran dingin yang irit bicara kau juga dijuluki pangeran tiga kata?" Tanya Rian. Dan dijawab tidak oleh Raka dengan tidak peduli pada julukannya itu
"Tapi ada apa denganmu?, setelah kembali dari mengambil buku, sepertinya suasana hatimu tidak terlalu baik, apakah terjadi sesuatu?"Tanya Rifal yang melihat suasana hati sahabatnya itu tidak terlalu baik.
"Tidak ada apapun yang terjadi." jawab Raka
"Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi padanya waktu mengambil buku di kelas, dan juga sepertinya dia tidak akan memberitahu kami apapun, mengingat sifatnya itu, Biarpun dipaksa maka kami tidak akan pernah diberitahu apapun." Ucap Rifal dan Ryan dalam hati, yang sangat mengenal sepupu mereka itu.
Sedangkan Raka hanya duduk dengan tenang di dalam mobil tanpa ikut berbicara kepada kedua sepupunya itu, dia terjerumus dalam pikirannya sendiri, memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya, suasana hatinya sangat buruk hari ini, kemarin juga seperti itu.
"Apakah ini berkaitan dengan gadis buruk rupa itu?" Dalam hati Raka bertanya
Raka menggelengkan kepalanya keras untuk membuang semua pikiran konyolnya itu. tidak mungkin karena gadis buruk rupa yang bahkan sama sekali tidak di pedulikan olehnya. Tetapi yang membuat iya bertanya-tanya, apa yang dimiliki gadis buruk rupa itu sehingga membuat orang lain ingin berdekatan dengan gadis itu.
"Tapi kenapa mereka berdua memandang si buruk rupa itu? Dan kalau tidak salah si cupu itu juga, yang nama Tian juga memandangnya entah dengan ekspresi apa, aku pun tidak dapat mengetahuinya, si Tian itu hanya menatapnya tanpa ekspresi apapun, bikin pusing saja dan kenapa juga aku harus memikirkan semua ini?" Ucapan Raka menghembuskan nafasnya seperti orang yang pasrah pada keadaan sembari menggeleng kepalanya untuk membuang semua pikiran yang membuatnya pusing sendiri.
Sedangkan kedua sepupu di belakang hanya saling pandang dan mengangkat kedua bahu mereka tanda tidak tahu apa yang terjadi pada orang yang duduk di depan mereka.
Kembali ke sisi Mawar dan para sahabatnya yang kini masih berdiri di tepi jalan, tidak lama mobil jemputan mereka pun tiba, ketiganya menaiki mobil menuju ke rumah Gita.
Di dalam perjalanan ponsel Mawar berbunyi, dia mengangkat dan melihat ponselnya, ternyata ayahnya yang menelpon, dan dia pun menjawabnya.
"Halo ayah." Jawab Mawar, ketika panggilan tersambung
"Apakah kau sudah pulang sekolah?" Tanya Julian ayah mawar
"Sudah yah, ada apa ayah menelponku?, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Mawar pada ayahnya
"Tidak ada ayah, aku hanya ingin ayah dan ibu kembali dengan selamat dan aku akan menjaga diriku dengan baik, juga Ellen dan Elleanor, nanti aku akan pulang ke rumah untuk melihat mereka berdua sesekali." Jawab Mawar pada ayahnya
"Berapa lama ayah dan ibu akan berada di sana?" Tanya mawar
"Seminggu, atau bisa lebih karena ayah dan ibu harus mengurus kerjaan dan mengunjungi nenek dan juga kakek, setelah itu baru kita akan kembali." Jawab Julian
"Baiklah, hati-hati di jalan ayah." Ucap mawar dan ponsel pun dia matikan
"Siapa?, Apakah telepon dari ayahmu?" Tanya Lili
"Iya, ayah pergi ke luar kota malam ini untuk urusan pekerjaan, aku disuruh menjaga diriku dan kedua adikku." Jawab mawar sedikit berbohong
"Apakah kau punya adik?" Tanya Lili dan Gita kaget secara bersamaan
"Kami tidak tahu sama sekali jika kau punya adik." Ucap keduanya lagi
Mawar yang sudah terlanjur memberitahu mereka kalau dia punya adik akhirnya hanya pasrah karena keceplosan berkata seperti itu pada mereka. Dia berjanji pada mereka berdua akan memperkenalkan mereka berdua dengan adiknya.
Selama hampir 3 Tahun mereka berteman tidak ada satupun diantara mereka yang mengetahui keluarga masing-masing, baik Mawar maupun Lili, begitu juga dengan Gita.
Dari awal mereka bersahabat mereka tidak saling bertanya tentang keluarga mereka. Persahabatan mereka bertiga mengalir begitu saja tanpa memandang status dan tampilan sahabatnya.
"Sepertinya, kita terlalu saling menyayangi, dan hanya peduli satu sama lain antara kita bertiga saja." Ucap Gita
__ADS_1
"Iya, sepertinya begitu, hingga keluarga masing-masing dan tempat tinggal pun kita tidak tahu." Ucap Lili
"Yah, dan untungnya kita mendapatkan tugas penelitian ini hingga bisa menginap di rumah Gita, kalau tidak, sampai kita bertiga lulus pun, kita tidak akan tahu tempat tinggal salah satu diantara kita." Ucap Mawar dan Lili
Pembicaraan pun terus berlanjut di dalam mobil yang mengantar mereka, dimana masing-masing dari mereka bercerita tentang keluarganya dan tempat tinggal mereka. Dimulai dengan Lili yang bercerita kalau dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya, sedangkan ibu nya telah meninggal setelah dia dilahirkan, ayahnya membawa dia pindah ke kota N setelah ibunya meninggal, dan dia tidak pernah tahu di mana makam ibunya, juga tempat dia dilahirkan.
Ketika dia bertanya kepada ayahnya, dia akan selalu mendapat jawaban yang sama setiap kali dia bertanya, ayahnya selalu menjawab jika dia sudah besar nanti, ayahnya akan membawa dia untuk melihat makam ibunya dan tanah kelahirannya. Padahal dia sudah sebesar ini, usianya pun sudah 15 Tahun, Lebih tua beberapa bulan dari Gita dan Mawar.
Tunggu sampai dia sebesar apalagi untuk ayahnya mengajak dia melihat makam sang ibu. Ayahnya bekerja sebagai pegawai bagian keuangan di perusahan Austin group, rumahnya berada di sebelah barat kota N. Rumah sederhana yang nyaman dengan banyak ditumbuhi bunga lili seperti namanya.
Dia lupa untuk memberitahu sahabatnya Gita jika di depan rumahnya banyak ditumbuhi bunga, bunga Lili yang ditanam sendiri oleh ayahnya, karena ayahnya itu sangat menyukai bunga lili. Karena hal itu Lili berpikir mungkin saja karena itu juga ayahnya menamai dirinya dengan nama bunga yang di tanamnya. Begitulah cerita Lily tentang keluarganya.
Berlanjut dengan Gita. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya, dia juga mempunyai seorang kakak laki-laki yang usianya berbeda 3 Tahun dari dirinya. Sekarang ini sedang melanjutkan pendidikannya di Star university yang ada di pusat kota, dan hanya akan pulang ketika libur, karena kakaknya masih semester awal di jurusan manajemen bisnis di Star university.
Kakaknya tidak tinggal di rumah mereka karena pihak university menyediakan asrama bagi setiap mahasiswa-mahasiswinya dan setiap fakultasnya memiliki asrama masing-masing, kakaknya memilih tinggal di asrama agar tidak membuang banyak waktu dalam perjalanan menuju Star university dari rumahnya.
Sedangkan orang tuanya sibuk dengan bisnis mereka hingga jarang berada di rumah, karena orang tuanya menjalankan bisnis bersama, sehingga ayah maupun ibunya selalu berpergian bersama, ibunya merambat menjadi sekretaris ayahnya, sehingga mereka akan selalu bersama kemanapun mereka pergi untuk urusan kerjaan.
Gita juga bercerita kalau dia sangat senang bersahabat dengan mereka berdua sehingga dia tidak akan sendirian lagi. karena mereka berdua mau bersahabat dengannya, menjaga dan juga menyayangi dirinya, dia merasa memiliki kakak perempuan yang selalu mengomel padanya dan menasehatinya juga adik perempuan yang perlu dia jaga dan juga dia sayangi dan itu tidak membuat dia merasa kesepian ketika ada mereka berdua.
Dan terakhir mawar bercerita tentang keluarganya. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya beserta kedua adik perempuannya, ayahnya juga bekerja di perusahaan dan ibunya bekerja di sebuah butik di kota ini. Dia merupakan anak pertama tidak memiliki Kakak dan hanya memiliki dua adik perempuan. Dia juga sangat senang bersahabat dengan mereka berdua karena merasa memiliki dua kakak perempuan yang sangat menjaga dan menyayangi dirinya.
Mau bersahabat dengannya yang mempunyai bekas luka yang buruk pada wajah sebelah kirinya. sehingga dia dipanggil dengan gadis buruk rupa yang sudah menjadi panggilannya sehari-hari, hingga mereka tidak pernah memanggil dia dengan namanya sendiri. Mereka seakan lupa dengan namanya, hanya teman-teman sekelasnya yang mengetahui nama asli dari si buruk rupa itu.
Namun mereka tetap memanggilnya dengan si buruk rupa, hanya beberapa orang saja yang memanggil dia dengan Mawar, diantaranya ketiga gadis cantik yang duduk di samping dan depannya waktu di kelas, mereka adalah Gita, Lili dan Selly yang selalu baik padanya, walaupun Selly terlihat tidak terlalu peduli pada sekitarnya dan hanya fokus pada kegiatannya sendiri, tapi dia sangat baik pada mawar dan sesekali membantu mawar ketika tidak ada Lili atau Gita bersamanya saat dia di ganggu orang lain.
Selly selalu melakukannya tanpa diketahui oleh Mawar kalau dia sedang membantu dirinya Karena sikapnya yang seperti itu. tapi yang tidak diketahui olehnya bahwa mawar mengetahui semua perbuatan Selly yang selalu diam-diam membantunya itu. Dengan otaknya yang cerdas, dia bisa melihat kalau Selly selalu membantunya walau dengan wajah biasa tidak peduli apapun.
Mawar merasa memiliki satu lagi kakak perempuan tersembunyi yang selalu melindunginya walau dengan cara yang berbeda dan dia telah berjanji pada dirinya akan melindungi ketiga gadis cantik yang sudah dianggap sebagai kakak itu. Cara Selly melindunginya sedikit berbeda, jika ada yang mau mengganggu Mawar, dia akan mencari alasan untuk menyuruh Mawar melakukan apa saja asal jangan berada di tempat itu.
Seperti ketika ratu buli Shafita yang sengaja menaruh kakinya di jalan akan dilewati menuju tempatnya duduk. Selly melihat itu dia pun menarik tangan Mawar untuk ikut bersamanya ke perpustakaan untuk mengambil buku yang diperintahkan oleh guru, dengan alasan kalau guru itu menyuruh mereka berdua, padahal tidak demikian, itu hanya alasannya supaya Mawar tidak jatuh karena perbuatan Shafita.
Pembicaraan selama perjalanan pun terhenti ketika mobil sampai di depan rumah Gita. mereka bertiga pun turun kemudian masuk, sebelum sampai ke dalam Gita berhenti sejenak di depan pintu dan memberitahu pada supirnya untuk beristirahat dahulu, karena mereka akan keluar lagi setelah mengganti seragam sekolah.
Dia pun masuk mengikuti kedua sahabatnya yang sudah masuk sebelum dirinya, sesampainya di dalam rumah Gita tidak melihat lagi batang hidung kedua sahabatnya itu. "Mereka cepat sekali bergeraknya." ucap Gita menggelengkan kepalanya mengingat kedua sahabatnya berjalan dengan cepat ke arah kamar mereka masing-masing.
Dia pun memilih masuk ke kamar seperti kedua sahabatnya, tak berselang lama mereka bertiga keluar dengan gayanya masing-masing.
Mawar seperti biasanya memakai celana jens, baju panjang bertopi dan sepatu kets, sedangkan kedua sahabatnya tampak cantik dengan rok selutut dan baju berlengan pendek, yang berbeda dari keduanya hanya warna pakaiannya. Lili yang menambah blazer untuk menutupi baju putih polos yang dipakainya, sedangkan Gita yang memakai baju dengan motif bunga.
Mereka keluar menuju mobil di depan rumah dengan pak supir yang sudah membuka pintu mobil untuk ketiganya masuk. Sudah tidak ada lagi yang duduk di depan, mereka bertiga memilih duduk bersama di belakang pak supir.
"Kalian mau aku turunkan di mana?" tanya Gita pada dua orang di sampingnya
"Bukannya kita mempunyai tempat tujuan yang sama?" Tanya balik Lili
"Iya kah?, Kenapa aku tidak tahu tentang itu?"Tanya Gita lagi
"Tidak sengaja dengar waktu Tian bertanya tentang tugas waktu di kelas." Ucap Lili
"Baiklah kalau begitu kita bisa pulang bersama juga hari ini." Ucap Gita semangat
__ADS_1