
Ketika mendengar rintihan kecil dari mulut orang tersebut, Mawar pun mengangkat kepalanya ketika orang tersebut melepaskan pelukannya pada tubuh Mawar. Mawar melihat Lili dan Bian sudah berdiri dengan terkejut di depannya, melihat tingkat keduanya membuat dia tidak ingin bertanya kepada mereka berdua apa yang terjadi hingga mereka diam seperti itu dan tidak segera datang dan menolongnya, karena yang terpenting sekarang adalah orang yang berada di belakangnya yang menolong dia dengan cara memeluknya, dia harus berterima kasih dan melihat keadaannya, ketika berbalik dia lebih terkejut dari yang dilakukan lily dan Bian, pasalnya dia tidak percaya kalau ini bisa terjadi ketika menatap seseorang yang berdiri di depannya.
"Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Raka
"Tidak apa-apa, terima kasih, telah menolongku." Ucap Mawar gugup dan masih terkejut
"Tidak masalah." Ucap Raka
"Apakah punggung kamu baik-baik saja?" Tanya Mawar dengan menunduk
"Hm, aku pergi." Ucap Raka sembari mengambil buku yang jatuh dan mengembalikan ke tempat semula, kemudian dia pergi dari hadapan mereka.
Mawar akhirnya merasa legah ketika Raka pergi meninggalkan mereka. Dia merasa sangat gugup ketika berbicara dengan Raka apalagi sempat Raka memeluknya dengan erat dan itu membuat jantungnya semakin berdetak dengan cepat dan membuatnya tidak bisa mengontrol dekat jantungnya begitu di depan Raka.
" Tenanglah, ada apa denganmu, bikin malu saja, semoga dia tidak mendengarnya." Ucap Mawar memukul dadanya pelan
Mungkin dia takut jika Raka kenapa-napa pasti dirinya yang akan disalahkan. "Dan kenapa dia bisa di sini bukannya dia sudah bersama kedua sahabatnya keluar lebih dulu dari kita semua?" Tanya mawar dalam hati
Dia mengingat kedua teman yang tadi bersamanya masih di sini akhirnya dia berbalik kepada dua orang itu yang masih berdiri mematung di tempat mereka berdiri tidak jauh darinya. Dia berjalan mendekat ke arah mereka dan mendengar apa yang dikatakan oleh Lili
"Ini bukan mimpi kan?" Tanya Lili masih tak percaya
"Aw!!, sakit." Ucap Lili kesakitan karena Mawar mencubit di tangannya
"Sakit kan?, berarti bukan mimpi." Ucap Mawar
Mendengar teriakan Lili, Bian pun tersadar dari lamunannya.
"Tapi aku masih tidak percaya kalau yang menolongmu itu Raka secara dia tidak pernah berdekatan dengan perempuan lain selain ibu dan saudaranya." Ucap Bian
"Iya, aku masih tak percaya, bukan hanya berdekatan, tetapi dia juga memelukmu sungguh suatu keajaiban. "Ucap Lili
"Sudahlah mungkin saja dia refleks ketika tak sengaja menolongku."Ucap Mawar
"Sebaiknya kita pulang, sudah semakin gelap, Gita pasti sudah lama menunggu kita di bawah." Ucapnya lagi dan melihat ke arah Lili
Mereka bertiga Keluar dan turun ke lantai dasar. perpustakaan sudah terasa renggang tidak seramai sebelumnya, sesampainya di depan perpustakaan sudah ada Gita yang menunggu mereka di samping mobil, mereka berdua berpisah dari Bian, mereka berjalan menuju mobil Gita sedangkan Bian ke parkiran mengambil motornya, Mereka pun masuk mobil dan meninggalkan tempat itu.
Setelah semuanya pergi muncul seseorang yang sempat memperhatikan Mawar di balik rak buku sebelumnya. Dia menatap ke arah jauh jalan mobil yang mengantar Mawar dan kedua sahabatnya pergi. "Masih ada kesempatan untuk melakukanya lain kali." Ucapnya dan kemudian pergi dari tempat itu dengan mobil yang menjemputnya
Di dalam mobil perjalanan pulang ke rumah kita. Mereka bertiga hanya diam dengan pikiran masing-masing, Mawar yang merasa lelah dengan kejadian hari ini menyadarkan kepalanya pada bahu Lili dengan nyaman, entah mengapa dia selalu merasa nyaman berada didekatnya dan merasa sangat disayang dan dilindungi jika dia bersama Lili. Mawar merasa seperti berada dekat dengan keluarganya sendiri. Perasaan nyaman yang tidak dia rasakan jika berada di keluarga kandungnya sendiri.
Dia pernah berpikir kalau dia bukan anak kandung keluarga Austin, tapi itu tidak mungkin karena foto ketika dia baru lahir hingga besar semua menunjukkan jika dia putri pertama Keluarga itu, kalaupun dia diadopsi itu juga tidak mungkin karena tidak dokumen yang menyatakan jika dia diadopsi. Dia pernah meretas komputer di ruang kerja ayahnya yang berada di rumah dan tanpa di ketahui oleh ayahnya itu, sebelum meretas data perusahaan ayahnya.
Setibanya di depan rumah Gita, mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke rumah. Sesampainya di dalam, Gita yang sudah tidak tahan dengan acara diam-diam ini pun membuka suaranya. "Ada apa dengan kalian berdua? Apa yang kalian berdua sembunyikan dariku?, Setelah kalian berdua keluar dari dalam perpustakaan, kalian berdua jadi aneh, apa yang sebenarnya terjadi?, kenapa kalian berdua lama sekali di dalam?" Tanya Gita bertubi-tubi
"Dan juga sebelum kalian berdua keluar, aku melihat Raka keluar lebih dulu dengan wajah aneh seperti sedang menahan sakit." Lanjut Gita
__ADS_1
Mawar yang mendengar ucapan terakhir Gita hanya diam menatap kedua sahabatnya. "Aku akan masuk ke kamar lebih dulu aku ingin tidur sebentar, saja perutku sangat sakit, kalian boleh mengerjakan tugas matematika tanpa diriku." Ucap Mawar memberitahu
"Maaf kalau boleh, tolong bangunkan aku ketika jam makan saja, maaf tidak bisa menemani kalian berdua mengerjakan tugas dan terima kasih." Ucap Mawar dan berlalu dari hadapan keduanya
"Ada apa dengannya?" Tanya Gita bingung
"Sudahlah nanti aku jelaskan semuanya sebaiknya kita ke kamar dulu nanti kita kumpul lagi di ruang tv." Ucap Lili
Di dalam kamar Mawar merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia malas bergerak, hanya sekedar untuk menggosok giginya pun dia tidak sanggup, memikirkan apa yang terjadi padanya hari ini, di mana Rasi yang baik padanya dan Raka yang menolongnya, ketika mengingatnya, dia mengingat kembali ucapan terakhir Gita, dia pun merasa bersalah, walaupun itu bukan salahnya dia ingin sekali mengatakan pada Raka untuk ikut saja bersamanya ke rumah sakit agar dokter dapat memeriksa punggungnya.
Akan tetapi dia tidak mempunyai keberanian yang cukup banyak untuk mengatakan hal itu, apalagi pada Raka, dia harus sadar diri dia itu siapa. Mawar takut jika terjadi sesuatu pada harapan maka itu menjadi bencana untuknya jika ada yang tahu kalau rakyat terluka karena menolongnya.
Setelah memikirkan semua hal kepala kecilnya, dia memilih tidur tanpa mandi atau menggosok Gigi, nanti dia akan lakukan ketika bangun saja, dia harus pulang ke rumah untuk melihat kedua adiknya karena sudah berjanji pada sang ayah. Beralih ke ruang tv rumah Gita. Gita dan Lili memilih bergosip daripada mengerjakan tugas mereka. Mereka akan mengerjakannya bersama dengan Mawar nantinya.
"Sekarang jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Pinta Gita Pada Lili
Lili menjelaskan semuanya kepada Gita. Setelah mendengar penjelasan Lili, raut keterkejutan dan rasa tidak percaya pada wajah Gita nampak terlihat jelas saat mendengar semu penjelasan itu.
"Itulah yang terjadi sebenarnya." Ucap Lili mengakhiri penjelasannya
"Sekarang aku mengerti kenapa dia seperti itu, dia pasti takut jika ini tersebar di sekolah maka dia akan menjadi incaran para gadis-gadis centil itu." Ucap Gita
"Aku sudah meminta Bian merahasiakannya, dan semoga saja Raka juga baik-baik saja." Ucap Lili
Beberapa waktu berlalu kini tiba waktunya makan malam, Gita meminta tolong pada Lily membangunkan Mawar untuk makan malam bersama mereka berdua, di meja makan kini duduk Mawar dan kedua sahabatnya itu yang sedang menyantap makan malam dalam diam, tanpa ada yang bersuara, hanya anda bunyi sendok dan piring ketika bertemu.
" Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya balik Gita sedikit bingung
"Apakah motor yang berada di samping rumah bisa aku pakai?" Tanya Mawar pada Gita yang saat ini mereka sedang berada di ruang tv setelah mereka makan malam bersama.
"Apa kau bisa menaiki motor? "Tanya Gita tanpa menjawab pertanyaan Mawar
"Bisa, apakah aku bisa meminjamnya sebentar saja?" Tanya Mawar lagi
"Kau bisa memakainya, itu motor kakakku, tapi mau ke mana kamu malam-malam begini?" Tanya Gita
"Aku akan pulang ke rumahku sebentar saja, aku sudah janji pada ayahku untuk melihat kedua adikku hari ini, karena mereka sendirian di rumah hanya sebentar aku akan kembali lagi ke sini." Jawab Mawar
"Jika benar begitu aku akan menemanimu, aku tidak mau kau kenapa-napa di jalan sendirian, apalagi sudah malam begini." Putus Lili yang merasa khawatir membiarkan Mawar pulang sendirian.
Akan tetapi Mawar menolaknya, Dia meyakinkan keduanya bahwa dia akan baik-baik saja dan cepat kembali ke sini. Akhirnya Gita dan Lili mengiyakan kemauan Mawar yang sudah tidak bisa diubah, tapi sebelum itu mereka berpesan padanya untuk hati-hati dan menghubungi mereka berdua ketika sudah sampai di rumahnya nanti.
Bukan Mawar tidak ingin di temani oleh Lili, lebih tepatnya dia belum siap memberitahu kedua sahabatnya itu dimana tempat tinggalnya, karena pasti akan sangat banyak muncul pertanyaan dari mereka berdua tentang keluarganya, dia belum sanggup untuk cerita yang sebenarnya, dia tidak ingin di jauhi oleh keduanya jika mereka tahu jati dirinya.
Mereka mengantar mawar ke samping rumah kita di mana motor kakaknya diparkir. Setelah mendapatkan kunci dari Gita, Mawar menaiki motor dan berpamitan kepada kedua sahabatnya dan melaju keluar meninggalkan mereka berdua.
"Ternyata benar, dia bisa menaiki motor." ucap Gita
__ADS_1
"Hm aku juga baru tahu, jika dia bisa menaiki motor, kenapa dia tidak menggunakan motor saja ke sekolah, secara ayahnya juga bekerja di perusahaan Austin yang gaji pegawainya sangat besar?" Tanya Lili
"Mungkin saja ayahnya hanya pegawai kecil dan juga dia masih memiliki dua adik, jadi kemungkinan besar dia tidak mau merepotkan orang tuanya, kau tahu sendiri bukan sahabat kita itu seperti apa?"Jawab Gita dibarengi pertanyaan pada Lili
"Iya, aku tahu, Dia anak yang sangat baik."Jawab Lili
Di rumah Mawar, kini dia sedang berada di dalam kamarnya mengambil beberapa pakaian untuk dibawa ke rumah Gita, setelah menaruhnya di dalam tas yang dibawanya dia pun keluar dari kamar. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kedua adiknya yang tidak dia lihat dari awal dia masuk ke dalam rumah.
Dia berjalan ke arah tangga menuju lantai atas, Mawar naik hingga ke lantai 3 rumahnya
"Sudah lama aku tidak pernah ke sini." Ucap Mawar pelan
Dia masih berdiri di depan tangga lantai 3, dia merasa ragu apakah harus melihat adik-adiknya atau kembali saja.
Akhirnya dengan menghela nafas berat dia memilih melihat keadaan kedua adiknya, dia pun berjalan ke arah pintu kamar yang hanya satu kamar di lantai teratas rumahnya, kamar yang pada awalnya adalah miliknya dan kedua adiknya sekarang hanya ditempati kedua adiknya itu.
Sebelum masuk Mawar berdiri di depan pintu kamar sejenak, dia mendekatkan telinganya di pintu kamar untuk memastikan keadaan di dalam, setelah merasa keadaan di dalam tidak ada pergerakan dan suara, dia pun membuka pelan pintu kamar mereka sambil berdoa dalam hati semoga keduanya telah tidur dan doanya terkabul ketika pintu itu dibuka kedua adiknya itu telah tidur di dalam kamar besar dan luas itu terdapat 3 tempat tidur dengan ukuran masing-masing hanya bisa ditempati satu orang.
Mawar melihat tempat tidur yang masih kosong dengan pandangan sedih, tempat tidur itu adalah miliknya tapi sekarang tidak lagi. Dia berjalan ke arah tempat tidur Ellen dan Eleanor yang berdekatan, dipandangi kedua wajah adiknya dengan sayang tidak ada rasa benci sedikitpun pada mereka berdua, walaupun sering dijahati oleh mereka, mawar selalu sayang pada mereka dia berpikir walau bagaimanapun mereka adalah adiknya yang harus dia jaga dan sayangi.
"Syukurlah kalian baik-baik saja ." Ucap Mawar pelan sambil mengusap kepala keduanya
Ketika dia melihat jam yang berada di dalam kamar dia pun memilih kembali. Dia tidak mau membuat kedua temannya itu khawatir dan keluar mencarinya lagi. Sebelum Mawar keluar dari kamar dia membenarkan selimut kedua adiknya dan mencium kening keduanya dengan sayang.
"Kakak akan datang lagi melihat kalian, selama ayah dan Ibu pergi kakak yang akan menjaga kalian."Ucapnya pelan sambil mengusap pelan kepala Eleanor.
Pada saat Mawar telah keluar dari kamar, salah satu dari mereka membuka mata dan tersenyum kecil ke arah pintu kemudian kembali tidur lagi.
Sesampainya Mawar di depan gerbang pak Beny membuka gerbang untuk Mawar keluar. "Tidak menginap non?, Biarkan saya mengantar Nona ke rumah temannya Nona." Ucap pak Beny dan menawarkan diri mengantar Nona nya itu.
"Tidak perlu pak, ada teman saya yang menjemput di luar." Ucap Mawar mawar keluar dan berjalan tidak jauh dari rumahnya untuk mengambil motor yang dia parkir sebelumnya, dan pulang menuju rumah Gita
Pagi hari di Star School mawar dan kedua sahabatnya sedang berjalan menuju ke kelas mereka. Di sepanjang perjalanan mereka ke kelas, Mawar selalu menatap ke segala arah seperti sedang mencari sesuatu.
"Apa yang kau cari?" Tanya Gita melihat apa yang dilakukan ole Mawar.
"Tidak mencari apapun." Jawab Mawar
Sesampainya di depan kelas, Mawar membiarkan Gita dan Lili masuk lebih dahulu karena dia akan ke toilet. Kemudian Mawar pergi dari depan kelas. Sebenarnya Mawar tidak ke toilet tetapi turun lagi ke lantai bawah untuk mencari seseorang.
"Sebelum jam pelajaran dimulai aku harus bertemu dengannya." Ucap Mawar, karena tidak juga menemukan orang yang dicarinya akhirnya dia kembali ke kelas setelah bel tanda masuk berbunyi.
Bersambung.......
sampai jumpa lagi di episode berikutnya 😊
terima kasih semuanya yang telah membaca cerita ini 😊🙏
__ADS_1