
Ketika bus yang akan mereka naiki berhenti di halte tempat mereka berada, Mawar dan Lili naik dan memilih tempat duduk di bagian paling belakang bus. Mawar mengeluarkan ponsel dari dalam tas sekolahnya untuk menelepon ayahnya memberitahu kalau dia akan pulang sedikit terlambat, karena ada yang harus dia dan Lili beli untuk tugas sekolah mereka berdua.
Julian hanya mengiyakan apa yang diberitahukan oleh Mawar dan menyuruhnya agar hati-hati saat dijalan juga saat akan nanti kembali ke rumah. Lili yang berada disamping Mawar hanya tersenyum melihat bagaimana cara Mawar berbicara dengan ayahnya, Lili berpikir Mawar pasti sangat menyayangi ayahnya, dan begitu pun sebaliknya.
Beberapa waktu berlalu bus pun berhenti, Mawar dan Lili turun dari dan melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki ke mall yang tidak jauh dari tempat bus berhenti. Sesampainya di dalam mall mereka berdua segera mencari toko alat tulis, mereka berdua akan membeli kertas untuk mengerjakan tugas matematika dari pak Ricky.
Setelah itu mereka berdua akan membeli makanan ringan untuk di bawah ke rumah Gita, mereka berdua akan menginap di rumah Gita selama seminggu, karena kedua orang tua Gita sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan dan Gita minta ditemani kedua sahabatnya itu.
Pada awalnya Mawar menolak menolak menginap di rumah Gita karena ayahnya pasti tidak akan mengijinkan dia menginap dirumah orang lain selama seminggu, walaupun orang itu adalah sahabat baiknya sendiri. Karena kedua sahabatnya itu terus saja merayunya, apalagi Lili yang sudah mendapatkan ijin dari orang tuanya, sehingga mereka berdua merasa tidak lengkap kalau tanpa Mawar, jadi bagaimana manapun caranya mereka harus membuat Mawar mau menginap dengan mereka berdua.
Akhirnya Mawar akan mencoba untuk meminta ijin kepada ayahnya untuk bisa menginap bersama dengan mereka berdua dengan alasan mengerjakan tugas tugas penelitian sepulang dari sekolah, yang tempatnya tidak jauh dari rumah Gita, jika kembali pulang kerumahnya setelah selesai mengerjakan tugas pasti akan kemalaman dan dia harus kembali sendiri, jadi dengan alasan itu dia akan ijin ke ayahnya agar mengijinkan dia menginap bersama kedua sahabatnya itu. Sekalian untuk menemani Gita yang sendirian berada di rumah.
Didalam toko alat tulis kedua gadis itu berjalan ke bagian rak yang terdapat kertas. Saat berjalan ke bagian yang ingin mereka berdua tuju, tiba-tiba ada yang menabrak tubuh Mawar dari arah samping tubuhnya.
" Kau tidak punya mata?, Oh lupa! Mata kamu sudah ada empat kan yah, tapi kenapa masih tidak bisa melihat, kau sengaja kan tiba-tiba berhenti di depan ku?, Dasar buruk rupa." Ucap Shafita dengan nada marah, bukan hanya bertanya dengan marah-marah, Shafita juga menghina Mawar dengan suara yang dia buat sangat keras hingga mereka pun menjadi pusat perhatian banyak orang, apalagi ada yang memperhatikan wajah Mawar, dan itu membuat dirinya jadi bahan pembicaraan mereka yang berada di dalam toko itu.
Ada yang merasa kasihan, ada yang juga melihatnya dengan pandangan jijik, karena hampir setengah wajah sebelahnya terdapat bekas luka bakar, Yang membuat sisi kiri wajahnya itu tidak terlihat seperti sisi kanannya.
__ADS_1
" Bagus, inilah tujuan ku, untuk membuat dia malu." Ucap Shafita dalam hati sambil tersenyum
Lili yang melihat sahabatnya dihina pun sangat marah, dia pun maju ke depan Shafita untuk menampar mulutnya yang kotor itu, tapi sebelum itu terjadi Mawar menahan tangannya yang hendak menampar Shafita yang berdiri di depan Mawar.
"Ayo pergi". Ucap Mawar menarik tangan Lili pergi dari hadapan Shafita, mereka berdua berjalan menuju kasir untuk membayar kertas yang sudah diambil oleh Lili. Setelah membayar, Mawar kembali menarik tangan Lili yang masih marah itu untuk keluar dari dari toko alat tulis untuk mencari minuman dingin agar mendinginkan amarah sahabatnya itu.
Kini Mawar dan Lili sedang duduk di halte menunggu bus yang akan mereka berdua naiki untuk kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.
" Kenapa tadi kau menahan tanganku dan tidak membiarkan aku untuk menamparnya?" Tanya Lili dengan kesal mengingat kejadia yang mereka alami tadi di dalam toko alat tulis, lebih tepatnya yang di alami sahabatnya itu
Bukannya dijawab pertanyaan yang di ajukan oleh Lili, Mawar malah bertanya balik padanya, apakah dia tidak melihat kalau mereka dilihat oleh banyak orang yang berada di dalam maupun di luar toko itu, Mawar tidak mau sampai kejadian itu akan menjadi besar dan akan menarik lebih banyak perhatian orang-orang yang berada di mall tersebut.
" Sebenarnya kamu itu terlalu baik, dan bisa juga disebut bodoh dan penakut hanya untuk membalas perbuatannya yang sering menghina membuli dirimu, jika itu sampai terjadi padaku mungkin sudah kucakar wajahnya itu." Ucap Lili dengan sedikit kesal dengan sahabatnya itu karena selalu saja menghalangi dirinya yang akan membalas Shafita
" Bukan seperti itu, kita ini adalah anak yang berpendidikan, tidak baik jika kita buat keributan di tempat umum seperti itu, apalagi kita masih menggunakan seragam sekolah, apa kata orang-orang nanti jika kita yang berasal dari sekolah yang taat akan peraturan malah membuat keributan diluar bahkan masih dengan menggunakan seragam sekolah, jika ada yang melapor ke sekolah, kita bisa terkena masalah besar, bahkan bisa saja beasiswa kita akan di hapus nanti, dan aku tidak mau sampai hal itu terjadi hanya cuma gara-gara masalah sepele." Ucap Mawar menasehati
" Cih! Sangat menyebalkan, semoga dia tidak akan macam-macam nanti ketika kita mengerjakan tugas bersama." Ucap Lili
__ADS_1
Mawar hanya menanggapi dengan tersenyum ocehan Lili yang sudah seperti bunyi petasan. " Bukan tidak ingin membalas hanya saja tidak terlalu penting meladeni orang seperti itu, tidak akan ada manfaatnya, tapi bagus juga jika dia sedikit dikasih pelajaran agar tidak selalu menghina orang lain." Ucap Mawar dalam hat
Tak lama bus pun datang, dan mereka berdua naik ke dalam bus untuk pulang, setelah beberapa waktu, mereka berdua turun di halte bus yang lainnya, tempat biasa Mawar di turunkan oleh kedua adiknya ketika akan berangkat ke sekolah, mereka berdua turun dari bus dan melihat sudah ada dua bus yang menunggu mereka, Mawar dan Lili memilih menaiki dua bus itu, mereka berdua berpisah arah karena arah rumah mereka berbeda. Jadi mereka tidak berada dalam satu bus yang sama.
Di jalan yang sudah terlihat mulai sepi Mawar sedang berjalan sendirian menuju ke arah rumahnya setelah turun dari bus yang ditumpanginya. Mawar memilih jalan kaki karena tidak terlalu jauh dari tempatnya turun, juga tidak ada kendaraan umum yang melewati kawasan rumahnya itu. Karena rumahnya berada di kawasan perumahan mewah dan elit, yang cuma terdapat lima buah rumah megah yang jaraknya berjauhan, dan yang paling luas adalah kawasan rumah orang tuanya.
Sesampainya di depan gerbang rumahnya, Mawar dibukakan gerbang oleh pak Benny. Mawar masuk dan berjalan menuju rumahnya. Didalam rumah terlihat kedua tua dan adiknya sedang duduk di ruang keluarga menunggu makan malam yang sedang ditata di meja oleh bibi May.
"Apakah kau sudah membeli keperluan untuk tugas sekolah mu?" Tanya Julian denga wajah datar, tapi dalam hati dia bersyukur putrinya pulang dengan keadaan baik-baik saja
" Iya, sudah semua..." Jawab Mawar
" Segera pergi dan ganti seragam mu, kita akan makan bersama." Suruh Julian pada Mawar
Mawar pun menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari hadapan mereka, sebelum mendengar kata-kata sakti yang akan di keluarkan kedua adik kembarnya itu.
Oke bersambung...
__ADS_1
Sampai jumpa lagi 😊😊😊