Cantiknya Mawar Yang Tak Berduri

Cantiknya Mawar Yang Tak Berduri
Tuduhan


__ADS_3

Dia pun meninggalkan mereka semua untuk mengurus biaya rumah sakitnya Mawar. Sebelum pergi dia sempat melihat ke arah Shafita, sedangkan Shafita yang ditetapkan hanya diam dia tahu dengan pasti kalau Lili mencurigai dirinya mendorong Mawar dari tangga karena hanya dia yang berada di belakang Mawar pada saat Mawar terjatuh dari tangga.


Sampai di bagian administrasi Lili bertanya kepada pegawai yang bertugas


"Maaf Bu, aku mau membayar biaya rumah sakit atas nama Mawar." Ucap Lili pada ibu di depannya


"Maaf adik kecil, temanmu sepertinya belum selesai diperiksa jadi belum ada datanya di sini masih kosong, jadi belum tahu berapa biaya pengobatannya."Ucap ibu yang berjaga


"Oh, tapi maaf Bu aku bukan adik kecil namaku Lili berusia 15 tahun jadi bukan anak kecil lagi." Ucap Lily agak kesal karena dikatakan adik kecil


"Oh iya, soal biaya akan aku bayar sekarang anggaplah ini pembayaran awal, jika biaya kurang dari yang aku bayar Ibu bisa menghubungiku untuk melunasi kekurangannya, jika yang kubayar ada kelebihannya tidak perlu menghubungiku, Ibu boleh mengambilnya untuk ibu dan keluarga, dn ini nomor HP, dan juga gunakan kartu ini untuk biayanya." Ucap Lili lagi dan menyerahkan kartunya yang berwarna hitam


"Berapa nominal yang mau dibayarkan nona?" Tanya ibu itu


"25, ditambah nolnya 7 dan tolong siapkan kamar VVIP untuk sahabat saya." Jawab Lili setelah itu pergi dari sana saat kartunya sudah dikembalikan


"Anak kecil zaman sekarang, tak tanggung-tanggung jika menghabiskan uang orang tuanya." Ucap ibu itu menggelengkan kepalanya sembari melihat Lili yang pergi dari hadapannya


Saat berjalan Lili tidak langsung kembali ke tempat teman-teman berada tetapi dia berjalan keluar rumah sakit, karena sudah ada Gita yang menjaga Mawar, jadi dia bisa keluar sebentar, sesampainya di luar dia hanya berdiri dan melamun, dia bingung bagaimana caranya memberitahu orang tua Mawar, kalau dia mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit.


Sedangkan dia sendiri tidak mempunyai nomor telepon orang tua Mawar maupun nomor telepon rumahnya, kalaupun ada itu juga tidak bisa membuat orang tuanya langsung datang ke sini karena mereka sedang berada di luar kota. Sedangkan di rumahnya hanya 2 adiknya yang masih kecil apa yang bisa dilakukan kedua anak kecil itu.


Lili mengira adik dari Mawar masih kecil karena Mawar tidak memberitahu mereka usia adiknya ketika menceritakan keluarganya pada Lili dan Gita.


Ponsel Mawar juga tidak bisa digunakan karena telah hancur ketika dia jatuh, dan tidak bisa dipakai untuk menghubungi keluarganya yang lain karena tidak ada pilihan lain, Lili pun menelpon ayahnya dan meminta izin untuk tidak pulang malam ini karena ingin menjaga Mawar di rumah sakit, beruntung besok hari Minggu, jadi dia bisa menemani Mawar lebih lama.


Setelah selesai menelpon ayahnya Lili memilih kembali masuk ke dalam rumah sakit menuju teman-temannya berada.

__ADS_1


Setelah sampai di depan mereka, tanpa aba-aba Lili berdiri di depan Shafita dan langsung menamparnya dengan keras.


"Semua ini pasti perbuatan kamu kan?" Tanya Lili dengan marah


" Apa maksudmu, jangan menuduh aku sembarangan." Ucap Shafita memegang pipinya


" Kamu pasti yang telah mendorongnya dari tangga karena hanya ada kamu di belakang Mawar pada saat itu." Tuduh Lili


"Aku tidak melakukannya, dan bukan perbuatanku hingga dia seperti itu." Ucap Shafita tidak terima sambil menatap tajam pada Lili yang sudah menuduhnya dengan masih memegang pipinya yang memerah karena tamparan Lili


"Kalau bukan kamu siapa lagi hanya ada kamu yang berdiri di belakangnya saat itu, pasti kamu yang mendorong dia, karena kamu sangat tidak menyukai dia, benarkan?" Tanya Lili semakin marah karena Shafita tidak mengakui perbuatannya


"Harus berapa kali aku katakan, jika aku tidak mendorongnya dari tangga." Jawab Shafita marah karena dituduh oleh Lily untuk apa yang tidak dilakukannya


"Aku memang tidak menyukainya, tapi aku tidak seberani itu mendorongnya dari tangga yang begitu tinggi, yang bisa saja menyebabkan kematian aku tidak sebodoh itu untuk melakukan sesuatu yang merugikan diriku dan juga keluargaku, jika aku mendorongnya maka aku tidak perlu repot-repot berada di sini untuk melihatnya." Ucap Shafita lagi


"Jika sampai dia terbukti bersalah, maka aku tidak akan pernah melepaskannya, walaupun keluarganya kaya aku tidak akan pernah takut pada mereka." Ucap Lili


Gita melihat Lili yang masih marah menarik tangan sahabatnya itu untuk duduk di sampingnya dengan tenang karena saat ini yang terpenting adalah mengetahui keadaan Mawar yang tengah diperiksa.


"Sudahlah rendahkan emosimu, saat ini kita tidak perlu mengurusnya, kita harus tenang, karena saat ini Mawar sangat membutuhkan dukungan dan doa dari kita." Ucap Gita


"Apakah kamu sudah menghubungi keluarganya?" Tanya Gita


"Belum, aku tidak memiliki nomor telepon rumahnya, dan hp-nya juga sudah hancur sehingga tidak bisa digunakan untuk menghubungi orang tuanya." Jawab Lily yang sudah tenang di samping Gita


"Apakah kamu juga sudah menghubungi ayahmu, bukankah kamu sudah memberitahu ayahmu kalau selesai mengerjakan tugas hari ini kamu langsung akan pulang?" Tanya Gita

__ADS_1


"Aku sudah menghubungi ayahku jika aku tak jadi pulang malam ini, bagaimana aku akan pulang jika orang yang akan mengantarkan aku pulang sekarang berada dalam keadaan seperti ini, aku sudah meminta izin pada ayah untuk menemani Mawar di rumah sakit."Jawab Lili


Saat mereka berdua berbicara, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dokter keluar dan dari dalam ruangan untuk memberikan kabar pada teman-teman Mawar yang masih setia menunggunya. Sebelum dokter membuka mulutnya Lili sudah lebih dulu mengajukan berbagai macam pertanyaan pada dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan sahabat saya tanda tanya, apakah dia baik-baik saja tanda tanya, apakah kepalanya baik-baik saja tanda tanya, dia tidak mengalami luka yang serius kan?"tanya Lili pada dokter yang baru saja keluar


"Dok, kenapa diam saja? , Jawab pertanyaanku, bagaimana keadaan sahabatku?" Tanya Lili tak sabaran melihat dokter tak menjawab pertanyaannya


"Bagaimana mau dijawab jika kamu saja tak memberikan kesempatan saya untuk berbicara." Ucap dokter dalam hati, pusing dengan remaja perempuan yang tidak berhenti bertanya di depannya dan tidak memberikan kesempatan padanya untuk menjawab, dokter hanya menatap Lily heran karena Lili lebih cerewet daripada istrinya kalau lagi marah.


Gita yang melihat wajah heran dokter pun segera menutup mulut Lili dengan tangannya.


"Berhenti bertanya, kapan dokter akan menjawab jika kamu bertanya tanpa jeda sedikitpun." Ucap Gita pada Lili yang berdiri di sampingnya


"Sekarang diam dan biarkan dokter yang berbicara." Ucap Gita lagi sambil melepas tangannya dari mulut Lily dan hanya menganggukan kepala tanda mengerti


"Maafkan sahabat saya dokter dia memang sangat cerewet, ketika berbicara ." Ucap Gita meminta maaf pada dokter di depannya


"Tidak apa-apa." Jawab dokter


"Jadi bagaimana keadaan teman kami dokter?" Tanya Bian ikut bertanya kepada dokter


Bersambung............


sampai jumpa lagi di episode berikutnya 😊


terima kasih semuanya yang sudah membaca cerita ini 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2