Cantiknya Mawar Yang Tak Berduri

Cantiknya Mawar Yang Tak Berduri
Satu Kelompok


__ADS_3

Masih di jam pelajaran pak Ricky, semua murid mendengarkan dengan saksama dan tenang apa yang dijelakasan oleh pak Ricky didepan kelas kepada mereka semua, karena tidak ingin melewatkan apapun yang di jelaskan. Waktu pun berlalu, hanya tinggal beberapa menit lagi waktu mengajar pak Ricky di kelas IX satu, kelasnya Mawar akan selesai. Sebelum waktunya selesai mengajar di kelas itu habis, pak Ricky memberikan tugas kepada mereka untuk dikerjakan, tugas yang diberikan adalah mereka harus mengerjakan setiap soal latihan yang ada di dalam buku paket matematika, dimulai dari bab 1 hingga bab 10 yang ada pada buku tersebut.


Pak Ricky memberikan mereka waktu untuk menyelesaikan semua soal matematika dalam jangka waktu seminggu per satu bab nya. Yang akan mereka mereka kumpulkan sebagai nilai tambah untuk mereka. Tugas itu akan mereka bahas kembali bersama sama di depan kelas pada pertemuan Minggu depan dan seterusnya untuk tiap bab yang sudah mereka selesaikan.


Karena waktu ujian kelulusan yang semakin dekat, pak Ricky tidak akan memberikan materi pelajaran untuk pertemuan mereka berikutnya dan pertemuan lainnya. Mereka hanya akan membahas hasil dari tugas rumah para murid saja. Untuk materi pelajaran yang belum sempat diberikan, pak Ricky hanya mengintruksikan kepada para muridnya untuk belajar mandiri di rumah.


Pak Ricky percaya murid-murid itu pasti akan belajar mandiri dengan baik di rumah dan juga tidak takut jika nilai mereka akan menurun karena tidak mendapatkan penjelasan semua materi darinya, mengingat semua muridnya yang berada di kelas IX satu itu di isi dengan siswa siswi yang cerdas dan berprestasi, bahkan ada beberapa siswa dan siswi di kelas itu merupakan siswa yang menerima beasiswa penuh untuk bersekolah di sekolah elit itu.


Mereka yang mendapatkan beasiswa juga harus mengikuti persyaratan yang di ajukan oleh pihak sekolah, syaratnya adalah mereka harus tetap mempertahankan nilai mereka di semua mata pelajaran. Hampir semua murid yang berada di kelas itu penerimaan beasiswa, seperti diantaranya ketua kelas (Raka), wakil ketua kelas (Sely), si ratu buli (Shafita), si cupu penakut tapi cerdas (Tian), Mawar dan Lili juga termasuk dalam daftar siswa yang menerima beasiswa penuh dari Kelas mereka.


Setelah selesai waktu pak Ricky mengajar kini telah digantikan dengan guru biologi yang akan mengisi jam pelajaran kedua di kelas Mawar. Pada pertengahan waktu berlajar mengajar di kelas, ibu Ida guru biologi membagi para siswa siswinya ke dalam beberapa kelompok untuk di berikan tugas kepada mereka.


Tugas yang diberikan oleh ibu Ida guru biologi itu adalah penelitian tentang bunga. Ketika semua telah dibagi dalam kelompok, Mawar dan Lili berada di dalam satu kelompok yang sama sedangkan Gita sahabat baik mereka berdua yang juga merupakan salah satu siswa penerima beasiswa seperti mereka berada di kelompok yang berbeda dengan kedua sahabatnya itu.


Setelah selesai membagi semua murid kelas itu ke dalam beberapa kelompok dan memberikan tugas apa yang harus siswanya itu lakukan kepada masing-masing kelompok, ibu Ida pun keluar dari kelas mereka. Ibu Ida sengaja keluar lebih awal dari waktu yang seharusnya agar dapat memberikan waktu yang tersisa untuk mereka bisa mendiskusikan tempat atau kapan mereka akan melakukan tugas penelitiannya. Karena batas waktu yang di berikan oleh guru mereka hanya seminggu dan minggu depan sudah harus dikumpulkan dan akan di presentasikan di minggu selanjutnya.


Mereka harus bisa pintar membagi waktu untuk mengerjakan tugas-tugas yang sudah diberikan oleh guru, karena bukan hanya satu tetapi ada beberapa tugas yang harus mereka selesaikan dalam jangka waktu yang sama, karena sebagai siswa sekolahan itu sudah menjadi kewajiban bagi mereka, karena sebagai seorang siswa tugasnya adalah hanya belajar dan belajar, supaya kelak bisa menjadi anak yang cerdas dan sukses dimasa depan, yang bisa membanggakan orang tua dan juga untuk diri mereka sendiri.


Setelah selesai berdiskusi dengan anggota kelompoknya masing-masing, bel istirahat pun berbunyi, ketiga sekawan itu keluar untuk menuju kantin.


" Ayo, kita ke kantin, cacing di perutku sudah pada protes minta di beri makan." Ucap Lili menarik tangan kedua sahabatnya keluar kelas. Mawar dan Gita hanya pasrah di tarik oleh Lili bahkan mereka tidak sempat menaruh kembali buku kedalam tas dan hanya dimasukkan ke dalam laci meja secara sembarang


" Pelan-pelan saja Neneng, kantinnya tidak akan lari kemana-mana." Ucap Gita yang ditarik tangannya mengikuti Lili ke kantin dengan jalan cepat


" Betul sekali." Ucap Mawar membenarkan apa yang di ucap Gita


" Iya, kantin tidak akan lari, tapi makanan kesukaan ku akan lari ke perut orang lain kalu kita tidak cepat." Jawab Lili yang masih tidak memelankan laju jalannya

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua hanya bisa menyesuaikan langkah Lili, karena mereka berdua tau kalau mereka tidak akan pernah menang jika berdebat dengan sahabat mereka itu. Ditengah perjalanan menuju kantin tiba-tiba Mawar berhenti berjalan dan itu menyebabkan Lili pun berhenti karena tangannya masih digenggam oleh Lili.


" Eh, kenapa berhenti kan belum sampai kantin?" Tanya Lili bingung menatap Mawar di samping kanannya, Gita pun ikut melihat ke arah Mawar, menunggu jawaban dari Mawar kenapa tiba-tiba dia berhenti mendadak


Mawar yang masih diam itu merasakan perutnya sangat sakit seperti perutnya itu sedang diaduk dengan sangat keras juga dia merasakan mual yang tak tertahankan, dia merasa seperti ini perutnya minta dikeluarkan, tanpa banyak bicara dan menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya, Mawar melepas tangannya dari genggaman Lili dan berlari dari hadapan mereka berdua sembari menutup mulutnya menuju arah toilet tak jauh dari mereka berdiri, di ikuti Lili dan Gita dibelakangnya dengan perasaan bingung bercampur kekhawatiran di wajah mereka dengan keadaan sahabat mereka itu.


Didalam toilet Mawar berdiri di depan westafel sambil memegang perutnya yang sakit dia memaksa dirinya untuk memuntahkan isi perutnya tetapi tidak ada yang keluar sama sekali. " Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gita dan Lili yang baru saja masuk ke dalam toilet bersamaan dengan wajah cemas akan keadaan sahabat mereka. Tidak ada jawaban dari mulut Mawar yang masuk sibuk dengan urusan perut nya, jadi Lili dan Gita hanya memilih diam dan menemani Mawar di dalam toilet.


Setelah mereka keluar dari dalam toilet, Lili pun bertanya kembali kepada Mawar. "Ada dengan mu, apa kau baik-baik saja?" Tanya Lili


" Iya, aku baik-baik, cuman tiba-tiba saja perutku rasanya sakit sekali." Jawab Mawar


" Ya sudah sebaiknya kita ke kantin saja, kita bisa membeli teh hangat untuk menghangatkan perutmu, bisa saja kau cuman masuk angin." Ucap Gita


"Ayo kita pergi sekarang, cacing di perutku sudah kembali protes minta di beri makan segera, kalau tidak aku mereka akan pingsan berjamaah, karena perjalanan kita ke kantin sempat tertunda tadi." Ucap Lili merengek kepada mereka sembari mengandeng kedua tangan sahabatnya kiri dan kanan seperti anak kecil yang menggandeng kedua orang tuanya saat meminta dibeli mainan. Mereka bertiga akhirnya berjalan bergandengan ke kantin bersama.


Sesampainya mereka di kantin, Gita yang bertugas memesan makanan untuk mereka bertiga sedangkan Lili dan Mawar akan menunggu Gita di meja kantin, tak berselang lama Gita datang membawah segelas teh hangat untuk diminum Mawar terlebih dahulu, setelah diminum olehnya Gita pun kembali mengambil pesanan makanan mereka yang dimintanya untuk dibungkus saja, rencananya mereka bertiga akan makan ditaman sekolah, jadi makananya dibungkus dan cukup Gita saja yang pergi memesan makan mereka dan Lili akan menemani Mawar agar tidak duduk menunggu sendirian karena pasti akan ada yang datang mengganggunya lagi.


" Bukannya itu si buruk rupa dan temannya yang cerewet dan kekanak-kanakan!, Mereka menjadi anggota kelompok kamu kan Rak?" Tanya Rian pada Raka, setelah sempat melihat kemana Raka memandang. Dijawab oleh Raka dengan hanya menganggukan kepalanya


" Apakah kau tidak risih dengan wajah buruk rupanya?" Tanya Rifal teman Raka yang lain


" Iya, kalau yang satunya sih tidak apa-apa, masih cantik walaupun mulutnya tak bisa rem kalau sedang bicara, masih enak untuk di pandang mata, tapi kalau yang si buruk rupa, aku bahkan tak ingin memandang wajahnya, untung bukan aku yang sekelompok dengannya." tambah Rian


" Hati-hati kalau bicara, jangan sampai besok atau nanti kau yang akan terus memandang ke arahnya dan mengemis menjadi sahabatnya nanti, Jangan selalu menilai seseorang hanya dari wajah dan penampilannya saja, kalau kau tidak benar-benar mengenal orang itu dengan baik." Ucap Rifal menasehati


" Yah malah dia yang sok menasehati, terus kenapa kau bertanya seperti itu kepada Raka?" Tanya Rian tidak terima dengan ucapan Rifal

__ADS_1


" Itu karena aku tau, jika kalian berdua tidak akan mau berdekatan dengan teman perempuan yang ada di sekolah ini dan selalu menilai mereka dari wajah dan penampilan mereka, walaupun aku juga tidak terlalu suka berdekatan dengan mereka tetapi setidaknya aku tidak menilai mereka seperti kalian berdua lakukan.


" Tidak masalah, karena kita akan mengerjakan tugas sekolah, jadi tidak apa-apa selama dia tidak menganggu dan mendekati diriku, dan tidak akan membuat masalah nantinya ketika akan mengerjakan tugas." Jawab Raka santai


" Aku yakin dia tidak akan berani mendekati dirimu, karena dia pasti sadar wajahnya itu tidak bisa digunakan untuk berdekatan denganmu." Ucap Rian tersenyum meremehkan


" Semoga saja kalian berdua tidak akan berubah dan tetap seperti itu, jika sampai kalian berdua berubah pikiran maka aku orang pertama yang akan menertawai kalian berdua, kalian yang selalu saja terlihat meremehkannya, padahal Mawar adalah gadis yang baik dan juga pintar, hanya saja dia mempunyai sedikit kekurangan, bukannya manusia itu tidak ada yang sempurna?, Tapi kenapa aku merasa kalian berdua yang akan mendekatinya duluan, semoga saja pemikiranku ini salah," ucap Rifal dalam hati pajang lebar


Tiga serangkai itu adalah Raka, Rian dan Rifal, yang tengah makan sembari membicarakan Mawar yang menjadi anggota kelompok Raka. Ketiga remaja laki-laki tampan itu dikenal oleh siswa siswi di sekolah sebagai para pangeran tampan yang berwajah dingin dan susah didekati di Star School.


Selain tampan dan berwajah dingin, mereka bertiga sangat cerdas dan berasal dari keluarga kaya, apalagi Raka yang bisa dikatakan sebagai pangeran dari keluarga nya. Raka Damian Alexander merupakan putra dari keluarga Alexander, keluarga terkaya yang berada di urutan pertama dikota tempat tinggalnya, Star School merupakan salah satu sekolah milik keluarga Raka. Semua itu membuat mereka bertiga menjadi incaran para siswi perempuan untuk didekati, bahkan para orang tua dari siswi-siswi itu mendorong anak mereka untuk mendekati ketiga remaja laki-laki tampan itu.


Bukan hanya Raka saja tetapi kedua temannya juga berasal dari lingkaran keluarga yang sama dengan Raka, selain mereka berdua berasal dari salah satu keluarga terkaya di kota N namun sediki dibawah keluarga Austin, karena keluarga Austin berda di urutan kedua. Mereka berdua juga merupakan siswa yang cerdas dan berprestasi, Bahakan mereka berdua juga berada dalam daftar siswa yang menerima beasiswa penuh di Star School.


Ketika mereka bertiga selesai makan, Rian berdiri dan berjalan meninggalkan mereka berdua untuk membayar makanan yang mereka makan. Sepeninggalan Rian, tak lama tiba-tiba muncul si ratu buli bersama antek-anteknya yaitu Shafita dan kedua sahabatnya Kornelia dan Vanilla ke tempat mereka berada untuk mencari perhatian ketiga orang tersebut


" Hai, apakah kita boleh bergabung dengan kalian?" Tanya Shafita dengan suara dibuat selembut mungkin sambil tersenyum menatap Raka yang masih duduk di depannya


Sedangkan kedua orang yang berada didepannya itu tidak menanggapi atau menggubris pertanyaan dari gadis di depan mereka. Mereka malah memilih berdiri dan meninggalkan tempat duduk mereka untuk mengikuti sahabat mereka Rian yang sedang membayar makanan yang mereka makan.


" Eh! Kenapa kalian berdua disini?" Kaget Rian dengan kemunculan tiba-tiba mereka berdua disampingnya dan bertanya kepada mereka berdua dengan wajah bingung


" Kita kabur, karena takut di ganggu keong racun, aku takut mati keracunan." Jawab Rifal dengan wajah takut yang dibuat-buat


Rian yang dibuat bingung dengan jawaban tidakk jelas dari Rifal pun berbalik dan melihat ke arah tempat mereka duduk waktu makan sebelumnya, barulah dia ketahui dengan maksud dari jawaban yang diucapkan sahabatnya itu. Rian berbalik melihat kedua sahabatnya, dan menatap ke arah Raka sambil memegangi pundaknya dan menepuknya beberapa kali dengan pelan


" Malang sekali nasibmu teman, harus sekolompok dengan si buruk rupa dan ditambah lagi dengan si keong racun yang selalu saja mengganggu dirimu, dan juga aku hampir lupa kalau ada lagi yang orang yang cerewet dan tidak bisa berhenti berbicara." Ucap Rian menatap Raka prihatin

__ADS_1


Sedangkan Raka hanya diam dan memasang ekspresi datarnya tanpa menanggapi ucapan Raka. " Suka sekali mengatai orang cerewet dan banyak bicara, sedangkan dia sendiri juga seperti itu, wajah dinginmu hanya casing luarnya saja, yang sebenarnya dia antara kita bertiga kaulah yang paling banyak bicara dan suka bergosip seperti perempuan" ucap rival dalam hati sembari menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Rian


" Aku sumpahi kau berjodoh dengan salah satu dari sahabatnya Mawar, karena kalian bertiga sepertinya cocok, karena kau percampuran dari kedua gadis itu, cerewet dan suka gosip." ucap Rifal lelah dengan tingkahnya kemudia dengan cepat meninggalkan mereka berdua, sebelum dapat amukan dari Rian


__ADS_2