
“Len…abang ada di sekitar Jakarta
timur…kamu shareloc rumahmu ya..?” ucap Rendy sambil menyetir mobilnya
“Ihhh…bener abang mau
kesini..????” ujar Leni dengan nada senang diseberang sana
“Ya udah…Leni shareloc ya bang…?”
ujarnya lagi
Rendy memarkir kendaraan nya di
jalan sepi di tepian kali, yang mereka sering sebut BKT [Banjir Kanal Timur] ,
sebuah sodetan kali yang sengaja dibuat untuk mengurangi dampak banjir
dijakarta. Di mulut jalan kecil, Leni sudah menunggu seraya melambaikan
tangannya, saat Rendy turun dari mobil. Wajahnya terlihat ceria, dan matanya
berbinar melihat kedatangan Rendy, dia ga pernah menyangka kalau selama hampir
3 tahun mereka saling bercerita lewat media sosial, kini akan bertemu langsung
di kehidupan nyata.
Rendy berjalan disamping Leni
sambil membawa sebuah kantong plastik besar, tadi diperjalanan dia mampir
membeli pizza untuk anak anak Leni. Leni tak henti hentinya tersenyum dan
sesekali melirik ke arah Rendy. “Ah
tampannya laki-laki ini…” ucapnya dalam hati
“Syam…duta…fauzi….ini Om Rendy…yang
suka kalian ajak ngobrol di telpon…ayo salim….” Ucap Leni sambil
mempersilahkanku untuk masuk ke rumah kontrakan kecilnya. “Maaf ya bang…keadaan
rumah Leni seperti ini….” Ujar Leni sambil memungut beberepa pakaian dan mainan
yang tergeletak disana sini. Rumah itu itu hanya berupa satu ruangan berukuran
kira-kira 3 x 3 meter dan dihubungkan satu lorong kecil untuk dapur dan kamar
mandi. Rendy sedikit terharu membayangkan Reni..ibunya dan ketiga anaknya harus
tidur disatu ruangan bersama, dengan kasur kasur lipat yang mereka gelar pada
saat mau tidur.
“Oh ya…syam…duta…fauzi…ini om
bawa makanan…pizza…suka ngga?” ucap Rendy sambil tersenyum dan memberikan
bungkusan makanan kepada Syam anak laki laki tertua Leni.
“Waahhh…sukaaaa oooom…..kita
jarang banget makan pizza…” ucap duta dan fauzi polos sambil berhamburan ke
syam untuk berebut mengambil makanan ditangan kakaknya Syam.
“Ehh…Duta…Fauzi….jangan berebut
gitu ah…malu tuh sama om nya….” Ucap Leni
“Mmmmm…maaf ya abang? Anak anak
seperti ini….” Ujarnya lagi sambil tersipu malu
“Ga apa Len…namanya juga
anak-anak….suka malah litany…berarti mereka suka sama yang abang bawa…” balas
Rendy
“Oh iya Len…mamamu mana..?” ucap
Rendy setelah menyadari tidak ada kehadiran ibunya Leni yang sering Leni
ceritakan di chat.
“Oh mama ke pasar bang….mama suka
jualan bumbu-bumbu dapur …dia ambil dari juragan tanaman untuk dijual lagi….” Balas
Leni
“Oh…mamamu masih kuat ya? Berjalan
sana sini…diusianya yg hampir 70?” ujar Rendy lagi
“Iya abang…mama mah ga bisa diem orangnya…katanya
sudah terbiasa sejak muda dulu, kalo diem aja…katanya badannya malah pada sakit…”
lanjut Leni
“Oh….wah hebat mamamu…” timpal
Rendy
“Oh ya….abang mau minum apa?”
ucap Leni lembut
__ADS_1
“Aapa aja Len….” Balas Rendy
Leni berjalan menuju dapur, Rendy
menatap sosok Leni, wanita sederhana ini masih terlihat cantik dan postur tubuh
yang tak kalah dengan para wanita wanita modern zaman sekarang, dan Rendy yakin
jika dia berdandan, ga akan yang menyangka kalau dia sudah memiliki 3 orang
anak.
Tak lama kemudian Leni kembali
dengan secangkir the manis hangat ditangannya, “Cuma the manis aja ya bang…?”
ujar Leni ramah
“Wah tau aja kamu…kalo sore-sore
abang sukanya minum the manis…” Balas Rendy sambil tertawa kecil, membuat Leni
tersenyum dan menunduk malu.
“Abang Leni tinggal sebentar ya?”
ujar Leni karena mendengar seseorang memanggil namanya didepan etalase counter
pulsa miliknya, mungkin orang yang mau membeli pulsa atau kuota.
“Om…om pacarnya mama ya?” ucap
Fauzi anak Leni yang paling kecil dengan polosnya, membuat Rendy tertawa
mendengarnya
“Kok Fauzi bisa ngomong gitu…?”
Balas Rendy lembut sambil menahan tawanya melihat kepolosan anak kecil ini
“Soalnya mama….kalo habis chat
atau telponan sama om…suka senyum senyum sendiri…terus HP nya mama ciumin
sendiri….itu kan pacaran ya namanya om?” Rendy langsung kontan tertawa
terbahak-bahak mendengar penjelasan si kecil Fauzi.
“Fauziiiii…..apaan siiiih…ngarang
aja …..bohong bang….fauzi suka ngarang dan berhalusinasi…” Ucap Leni sambil
duduk dilantai disebelah Rendy
Tawa Rendy masih belum berhenti….”tapi
kata orang…ucapan anak kecil itu jujur Len…” ucap Rendy disela tawanya.
pinggang Rendy
“Awww…nah berarti bener…” lanjut
Rendy dengan gelak tawanya….
Semenit kemudian Leni menatap
sendu ke arah Rendy, Rendy menghentikan tawanya dan sempat dibuat grogi oleh
tatapannya.
“Isshhh…liatin apa sih kamu?”
ujar Rendy untuk mengurangi rasa grogi nya
“Liatin abang…..ganteng….” balas
Leni pelan dan lembut…namun cukup buat Rendy gee r dan salah tingkah
“Hahahaha kamu….gombal….yang
harus nge gombal itu cowok tauuu….bukan cewek….” Ujar Rendy lagi sambil tertawa
kecil agar dirinya tidak terlihat salah tingkah didepan wanita ini.
“Udah ah…..abang mau ke kamar
mandi dulu Len….” Lanjut Rendy sambil berjalan melewati lorong kecil dapur dan
menuju kamar mandi, Leni mengikutinya dari belakang dan menyiapakan makanan
untuk makan ketiga anaknya didapur.
Langkah Rendy terhenti karena
terhalang tubuh Leni ditengah lorong kecil ,namun tiba tiba Leni memeluknya dan
membuat tubuh Rendy tersandar di tembok lorong sempit itu.
“Terima kasih sudah mau datang
bang….Leni kangen abang…” bisiik Leni pelan seraya memeluk tubuh Rendy dan
menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu.
Rendy yang tidak siap dengan
situasi yang tiba tiba tersebut, hanya bisa diam mematung, gerakan refleknya
hanya membelai rambut sebahu Leni tanpa ucapkan sepatah katapun.
Sedetik kemudian, Leni
__ADS_1
menengadahkan wajahnya menatap Rendy penuh arti, lalu tak disangka Leni
mendaratkan bibirnya di bibir laki laki itu, Rendy membalasnya walau sedikit
kaget dengan apa yang dilakukan Leni, namun cumbuan Leni begitu lembut dan
terasa dengan sepenuh hati, beberapa menit mereka larut dalam cumbuan mesra,
sampai mereka tersadar oleh suara Fauzi yang sedikit berteriak..”Mamaaaa…!!
nasi ozi mana???”
Leni melepaskan pelukannya dan
sekilas menatap lembut ke arah Rendy,lalu membawa pirin makanan untuk anak
anaknya…
Rendy masih berdiri mematung, apa
yang kulakukan? Batinnya, tapi sungguh berbeda dengan yang telah dilakukannya
dengan Retno saat dimakasar dulu, cumbuan mereka begitu berapi-api dan
menggebu, namun dengan Leni barusan, begitu lembut dan sepenuh hati, seolah
rasa kasih sayang dan kelembutan wanita itu di tumpahkan dalam cumbuannya….pelukannya
Rendy kembali ke tempat semula
dia duduk dan menyandarkan tubuhnya ke tembok rumah, namun dilihat jam
ditangannya hampir menunjukkan pukul 9 malam.
“Len…abang harus pulang ya? Takut
Nisa nyariin abang….” Ucap Rendy sambil berdiri
“Iya abang….” Balas Leni sambil
memberi isyarat kepada ketiga anaknya untuk mencium tangan Rendy.
“Lho ada tamu…..kok sudah mau
pulang?” ucap seorang wanita lanjut usia di pintu rumah, ini pasti mamanya Leni
…gumam Rendy dalam hati.
“Ini Rendy yang Leni suka
ceritain ke mama….” Jelas Leni kepada mamanya
Rendy mencium tangan wanita tua
itu sebagai rasa hormat, “Iya ma….saya Rendy….udah dari tadi…sekarang sudah
malam…takut putri saya dirumah nyariin…nanti kapan kapan mampir lagi ya ma?”
ujar Rendy sambil tersenyum ramah padanya
“Oh iya Nak Rendy…hati hati ya
dijalan?” balas wanita tua itu lembut
Rendy berjalan disamping Leni
yang mengantarnya ke tempat ia memarkirkan mobilnya, tanpa canggung digamitnya
lengan Rendy ,dia tak perduli lingkungan rumahnya yang terletak di pemukiman
padat, dia hanya tersenyum jika ada celoteh tetangga tetangganya yang
menggodanya.
Tempat parkir mobil Rendy
ternyata lumayan gelap disaat malam, karena terlindung rindang pepohonan yang
ditanam disepanjang kali pengendali banjir tersebut. Saat Rendy masuk kedalam
mobilnya, Lenipun ikut masuk dan duduk disebelahnya, lalu diraih tangan Rendy
dan wanita itu mencium tangannya, Rendy terkesiap….sudah lama tidak ada wanita
yang melakukan itu padanya setelah bertahun tahun lalu Anita mantan istrinya
yang mencium tangannya disaat dia akan berangkat kerja dulu.
Ditatap nya wajah Leni
dikeremangan malam, entah bagaimana awalnya, beberepa detik kemudian mereka
sudah kembali bercumbu mesra.
“Mphhh abaaaaang…..” lenguh Leni
sambil merengkuh tubuh Rendy dan untuk beberapa saat mereka larut dengan
kemesraan diselingi kerlap kerlip bintang malam.
“Apa yang aku lakukan…? …” gumam
Rendy saat menyusuri jalan kota Jakarta malam itu….”Retno….” tiba tiba dirinya
ingat wanita cantik penuh pesona yang pernah meleburkan asmara mereka di
makasar beberapa waktu lalu.
“Ah….gpp…toh aku belum ada ikatan
resmi dengan Retno….” Gumam Rendy lagi mencoba membenarkan dirinya dengan apa
__ADS_1
yang sudah dilakukannya