CASANOVA SANG PENAKLUK

CASANOVA SANG PENAKLUK
LENI


__ADS_3

“Len…abang ada di sekitar Jakarta


timur…kamu shareloc rumahmu ya..?” ucap Rendy sambil menyetir mobilnya


“Ihhh…bener abang mau


kesini..????” ujar Leni dengan nada senang diseberang sana


“Ya udah…Leni shareloc ya bang…?”


ujarnya lagi


Rendy memarkir kendaraan nya di


jalan sepi di tepian kali, yang mereka sering sebut BKT [Banjir Kanal Timur] ,


sebuah sodetan kali yang sengaja dibuat untuk mengurangi dampak banjir


dijakarta. Di mulut jalan kecil, Leni sudah menunggu seraya melambaikan


tangannya, saat Rendy turun dari mobil. Wajahnya terlihat ceria, dan matanya


berbinar melihat kedatangan Rendy, dia ga pernah menyangka kalau selama hampir


3 tahun mereka saling bercerita lewat media sosial, kini akan bertemu langsung


di kehidupan nyata.


Rendy berjalan disamping Leni


sambil membawa sebuah kantong plastik besar, tadi diperjalanan dia mampir


membeli pizza untuk anak anak Leni. Leni tak henti hentinya tersenyum dan


sesekali melirik   ke arah Rendy. “Ah


tampannya laki-laki ini…” ucapnya dalam hati


“Syam…duta…fauzi….ini Om Rendy…yang


suka kalian ajak ngobrol di telpon…ayo salim….” Ucap Leni sambil


mempersilahkanku untuk masuk ke rumah kontrakan kecilnya. “Maaf ya bang…keadaan


rumah Leni seperti ini….” Ujar Leni sambil memungut beberepa pakaian dan mainan


yang tergeletak disana sini. Rumah itu itu hanya berupa satu ruangan berukuran


kira-kira 3 x 3 meter dan dihubungkan satu lorong kecil untuk dapur dan kamar


mandi. Rendy sedikit terharu membayangkan Reni..ibunya dan ketiga anaknya harus


tidur disatu ruangan bersama, dengan kasur kasur lipat yang mereka gelar pada


saat mau tidur.


“Oh ya…syam…duta…fauzi…ini om


bawa makanan…pizza…suka ngga?” ucap Rendy sambil tersenyum dan memberikan


bungkusan makanan kepada Syam anak laki laki tertua Leni.


“Waahhh…sukaaaa oooom…..kita


jarang banget makan pizza…” ucap duta dan fauzi polos sambil berhamburan ke


syam untuk berebut mengambil makanan ditangan kakaknya Syam.


“Ehh…Duta…Fauzi….jangan berebut


gitu ah…malu tuh sama om nya….” Ucap Leni


“Mmmmm…maaf ya abang? Anak anak


seperti ini….” Ujarnya lagi sambil tersipu malu


“Ga apa Len…namanya juga


anak-anak….suka malah litany…berarti mereka suka sama yang abang bawa…” balas


Rendy


“Oh iya Len…mamamu mana..?” ucap


Rendy setelah menyadari tidak ada kehadiran ibunya Leni yang sering Leni


ceritakan di chat.


“Oh mama ke pasar bang….mama suka


jualan bumbu-bumbu dapur …dia ambil dari juragan tanaman untuk dijual lagi….” Balas


Leni


“Oh…mamamu masih kuat ya? Berjalan


sana sini…diusianya yg hampir 70?” ujar Rendy lagi


“Iya abang…mama mah ga bisa diem orangnya…katanya


sudah terbiasa sejak muda dulu, kalo diem aja…katanya badannya malah pada sakit…”


lanjut Leni


“Oh….wah hebat mamamu…” timpal


Rendy


“Oh ya….abang mau minum apa?”


ucap Leni lembut

__ADS_1


“Aapa aja Len….” Balas Rendy


Leni berjalan menuju dapur, Rendy


menatap sosok Leni, wanita sederhana ini masih terlihat cantik dan postur tubuh


yang tak kalah dengan para wanita wanita modern zaman sekarang, dan Rendy yakin


jika dia berdandan, ga akan yang menyangka kalau dia sudah memiliki 3 orang


anak.


Tak lama kemudian Leni kembali


dengan secangkir the manis hangat ditangannya, “Cuma the manis aja ya bang…?”


ujar Leni ramah


“Wah tau aja kamu…kalo sore-sore


abang sukanya minum the manis…” Balas Rendy sambil tertawa kecil, membuat Leni


tersenyum dan menunduk malu.


“Abang Leni tinggal sebentar ya?”


ujar Leni karena mendengar seseorang memanggil namanya didepan etalase counter


pulsa miliknya, mungkin orang yang mau membeli pulsa atau kuota.


“Om…om pacarnya mama ya?” ucap


Fauzi anak Leni yang paling kecil dengan polosnya, membuat Rendy tertawa


mendengarnya


“Kok Fauzi bisa ngomong gitu…?”


Balas Rendy lembut sambil menahan tawanya melihat kepolosan anak kecil ini


“Soalnya mama….kalo habis chat


atau telponan sama om…suka senyum senyum sendiri…terus HP nya mama ciumin


sendiri….itu kan pacaran ya namanya om?” Rendy langsung kontan tertawa


terbahak-bahak mendengar penjelasan si kecil Fauzi.


“Fauziiiii…..apaan siiiih…ngarang


aja …..bohong bang….fauzi suka ngarang dan berhalusinasi…” Ucap Leni sambil


duduk dilantai disebelah Rendy


Tawa Rendy masih belum berhenti….”tapi


kata orang…ucapan anak kecil itu jujur Len…” ucap Rendy disela tawanya.


pinggang Rendy


“Awww…nah berarti bener…” lanjut


Rendy dengan gelak tawanya….


Semenit kemudian Leni menatap


sendu ke arah Rendy, Rendy menghentikan tawanya dan sempat dibuat grogi oleh


tatapannya.


“Isshhh…liatin apa sih kamu?”


ujar Rendy untuk mengurangi rasa grogi nya


“Liatin abang…..ganteng….” balas


Leni pelan dan lembut…namun cukup buat Rendy gee r dan salah tingkah


“Hahahaha kamu….gombal….yang


harus nge gombal itu cowok tauuu….bukan cewek….” Ujar Rendy lagi sambil tertawa


kecil agar dirinya tidak terlihat salah tingkah didepan wanita ini.


“Udah ah…..abang mau ke kamar


mandi dulu Len….” Lanjut Rendy sambil berjalan melewati lorong kecil dapur dan


menuju kamar mandi, Leni mengikutinya dari belakang dan menyiapakan makanan


untuk makan ketiga anaknya didapur.


Langkah Rendy terhenti karena


terhalang tubuh Leni ditengah lorong kecil ,namun tiba tiba Leni memeluknya dan


membuat tubuh Rendy tersandar di tembok lorong sempit itu.


“Terima kasih sudah mau datang


bang….Leni kangen abang…” bisiik Leni pelan seraya memeluk tubuh Rendy dan


menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu.


Rendy yang tidak siap dengan


situasi yang tiba tiba tersebut, hanya bisa diam mematung, gerakan refleknya


hanya membelai rambut sebahu Leni tanpa ucapkan sepatah katapun.


Sedetik kemudian, Leni

__ADS_1


menengadahkan wajahnya menatap Rendy penuh arti, lalu tak disangka Leni


mendaratkan bibirnya di bibir laki laki itu, Rendy membalasnya walau sedikit


kaget dengan apa yang dilakukan Leni, namun cumbuan Leni begitu lembut dan


terasa dengan sepenuh hati, beberapa menit mereka larut dalam cumbuan mesra,


sampai mereka tersadar oleh suara Fauzi yang sedikit berteriak..”Mamaaaa…!!


nasi ozi mana???”


Leni melepaskan pelukannya dan


sekilas menatap lembut ke arah Rendy,lalu membawa pirin makanan untuk anak


anaknya…


Rendy masih berdiri mematung, apa


yang kulakukan? Batinnya, tapi sungguh berbeda dengan yang telah dilakukannya


dengan Retno saat dimakasar dulu, cumbuan mereka begitu berapi-api dan


menggebu, namun dengan Leni barusan, begitu lembut dan sepenuh hati, seolah


rasa kasih sayang dan kelembutan wanita itu di tumpahkan dalam cumbuannya….pelukannya


Rendy kembali ke tempat semula


dia duduk dan menyandarkan tubuhnya ke tembok rumah, namun dilihat jam


ditangannya hampir menunjukkan pukul 9 malam.


“Len…abang harus pulang ya? Takut


Nisa nyariin abang….” Ucap Rendy sambil berdiri


“Iya abang….” Balas Leni sambil


memberi isyarat kepada ketiga anaknya untuk mencium tangan Rendy.


“Lho ada tamu…..kok sudah mau


pulang?” ucap seorang wanita lanjut usia di pintu rumah, ini pasti mamanya Leni


…gumam Rendy dalam hati.


“Ini Rendy yang Leni suka


ceritain ke mama….” Jelas Leni kepada mamanya


Rendy mencium tangan wanita tua


itu sebagai rasa hormat, “Iya ma….saya Rendy….udah dari tadi…sekarang sudah


malam…takut putri saya dirumah nyariin…nanti kapan kapan mampir lagi ya ma?”


ujar Rendy sambil tersenyum ramah padanya


“Oh iya Nak Rendy…hati hati ya


dijalan?” balas wanita tua itu lembut


Rendy berjalan disamping Leni


yang mengantarnya ke tempat ia memarkirkan mobilnya, tanpa canggung digamitnya


lengan Rendy ,dia tak perduli lingkungan rumahnya yang terletak di pemukiman


padat, dia hanya tersenyum jika ada celoteh tetangga tetangganya yang


menggodanya.


Tempat parkir mobil Rendy


ternyata lumayan gelap disaat malam, karena terlindung rindang pepohonan yang


ditanam disepanjang kali pengendali banjir tersebut. Saat Rendy masuk kedalam


mobilnya, Lenipun ikut masuk dan duduk disebelahnya, lalu diraih tangan Rendy


dan wanita itu mencium tangannya, Rendy terkesiap….sudah lama tidak ada wanita


yang melakukan itu padanya setelah bertahun tahun lalu Anita mantan istrinya


yang mencium tangannya disaat dia akan berangkat kerja dulu.


Ditatap nya wajah Leni


dikeremangan malam, entah bagaimana awalnya, beberepa detik kemudian mereka


sudah kembali bercumbu mesra.


“Mphhh abaaaaang…..” lenguh Leni


sambil merengkuh tubuh Rendy dan untuk beberapa saat mereka larut dengan


kemesraan diselingi kerlap kerlip bintang malam.


“Apa yang aku lakukan…? …” gumam


Rendy saat menyusuri jalan kota Jakarta malam itu….”Retno….” tiba tiba dirinya


ingat wanita cantik penuh pesona yang pernah meleburkan asmara mereka di


makasar beberapa waktu lalu.


“Ah….gpp…toh aku belum ada ikatan


resmi dengan Retno….” Gumam Rendy lagi mencoba membenarkan dirinya dengan apa

__ADS_1


yang sudah dilakukannya


__ADS_2