
“Mbak….Pak Rendy itu sudah
berkeluarga atau belum sih….?” Ucap Rika saat itu sambil menyusun draft
pekerjaan promosi prooduk nya
“Setahu saya sih belum….” Jawab
Fitri teman satu ruang kerjanya seraya tersenyum kecil
“Kalo….pacar…?” tanya Rika lagi
Fitri tak bisa menahan tawanya “
Wah….kayaknya sebentar lagi ada yang bakalan traktir saya Pizza nih…”
“Ihhh…enak aja…ngga akan terjadi
mbak….saya Cuma penasaran aja…karena pak Rendy terkesan misterius…ga mau bicara
hal hal pribadi….”
“Lah lagian kamu….katanya mau
bicara sama pak Rendy soal pekerjaan….kenapa jadi tanya soal pribadi..?”
Kembali Fitri tertawa dan buat wajah Rika sedikit merona merah karena malu
“Kan Cuma penasaran aja mbak….pak
Rendy bukan type saya…pacar saya jauh lebih keren kok mbak…” balas Rika
“Iya deh iya….yang punya pacar
keren….sejak saya kerja disini…setahu saya memang pak Rendy tidak pernah
membawa keluarganya setiap ada acara perusahaan…juga datang dengan teman
wanitanya…tapi kalau dengar gossip sih…pak Rendy playboy lho Rika….hati hati
deh kamu….” Fitri masih saja cekikikan disela sela ucapannya
Malam itu Rika tak bisa tidur,
laki laki misterius dan sedikit angkuh itu playboy? Apa iya…? Masa sih? Segala
pertanyaan dan rasa penasaran bergaung di benaknya malam itu. Ih kok aku jadi
mikirin dia sih…lebih baik aku bayangin Anton yang jelas kekasihhku, batin
Rika…tapi saat matanya terpejam yang hadir lagi lagi wajah Rendy , Laki laki
tampan, misterius dan dingin dalam sikapnya.
Ah lebih baik aku WA Anton, pasti
dia belum tidur…dari pada mikirin laki laki ga jelas seperti Rendy, teriak Rika
dalam hati seraya mengambil handphonenya dari meja rias kamarnya.
Malam itu Rendy sibuk mempelajari
berkas berkas yang akan dibawanya besok ke makasar, pakaian yang akan dibawanya
sudah dia masukan kedalam travel bag nya.
“Ayah belum tidur…? Besok ayah
berangkat jam berapa…?’ suara seorang anak berusia 11 tahun menghampiri Rendy
dimeja kerjanya.
“Besok pagi jam 6.00 ayah sudah
berangkat ke bandara, kamu tunggu nenek datang ya? Nanti berangkat sekolah seperti
biasa diantar mang Tata ya..?” ucap Rendy sambil mengelus lembut rambut anak
perempuan itu.
“Baik ayah…” jawab anak perempuan
yang cantik itu
“Sekarang Anisa tidur ya? Sudah
malam…” anak perempuan yang dipanggil Anisa itu mengangguk dan berlalu menuju
kamarnya.
Cuaca pagi itu cukup
dingin….ditambah AC ruang tunggu boarding bandara soekarno hatta.membuat Rendy
merapatkan jaketnya. Setengah jam kemudian terdengar dipengeras suara bahwa
pesawat yang akan ditumpangi Rendy sudah siap berangkat dan Rendy bergegas
masuk kedalam antrian untuk mulai masuk kedalam pesawat.
Rika berjalan menyusuri koridor
gedung perkantorannya, dia berhenti sejenak di depan ruangan Rendy, agak kaget
tiba tiba pintu ruangan rendy terbuka, tapi ternyata hanya office boy yang baru
saja selesai merapikan ruangan Rendy.
“Pak Rendy nya belum datang ya
mas…?” tanya Rika
“Kan hari ini Pak Rendy keluar
kota mbak….dengar dengar sih seminggu disana…” balas office boy tadi sambil
ngeloyor menuju ruang pantry.
Oh iya…laki laki msiterius ini dinas
keluar kota, kok aku jadi nyariin dia sih…ah perduli amat….mau seminggu
kek….sebulan…bukan urusanku…gumam Rika
“Halo Pak Rendy….?bapak sudah
tiba di bandara sultan hasanudin…?” suara wanita diseberang sana terdengar
melalui handphone Rendy
“Ini Bu Retno ya..? iya
bu….pesawat saya baru saja landing dan baru bisa menyalakan HP….”
“Oke Pak Rendy…nanti supir kantor
__ADS_1
saya jemput bapak dan langsung antar ke hotel …” lanjut wanita itu lagi
“Baik bu Retno….terima kasih
sebelumnya…” ucap Rendy sambil menuruni tangga pesawat
Kira kira lima belas menit Rendy
duduk dibangku tunggu di pintu keluar kedatangan domestik.
“Halo Pak Rendy…saya Anwar supir
bu Retno yang diminta jemput bapak…saya ada dipintu keluar kedatangan didekat
layar monitor jadwal penerbangan pak….” Ucap seorang pria melalui telponnya
Rendy melihat seorang laki laki
paruh baya tengah berdiri sambil memegang handphone di pintu keluar tempat para
penjemput, dia hampiri dan menepuk pelan laki laki tersebut, “Saya Rendy pak…”
“Oh …baik pak…biar travel bagnya
saya bawa….”ucap laki laki itu sopan, Rendy mengikuti laki laki itu sampai ke
area parkir.
“Oh iya pak…bu Retno pesan…saya
antar bapak ke hotel untuk beristirahat, nanti kira kira jam 7 malam saya
diminta menjemput bapak lagi untuk makan malam…..” lanjut laki laki itu smabil
memasukan travel bag Rendy kedalam mobil.
“Baik pak Anwar…terima kasih
sebelumnya…” balas Rendy seraya duduk dikursi depan disebelah laki laki yang
bernama Anwar itu.
Rendy merebahkan tubuhnya di
ranjang hotel yang empuk, ahhh nikmatnya…lumayan lama juga aku punya waktu
untuk beristirahat sampai nanti jam 7 malam pak Anwar akan menjemputnya untuk
undangan makan malam Bu Retno. Diambilnya handphone miliknya untuk menelpon
Anisa putri kesayangannya.
Tujuan kedatangannya ke Makasar
adalah untuk menemui beberapa Distributor produk perusahaan tempat Rendy
bekerja, menanyakan kendala dilapangan juga membicarakan market strategy agar
penjualan lebih meningkat dan juga mencari solusi bagaimana pendistribusian
dari Jakarta berjalan lancar ke para Distributor lalu ke tangan para konsumen.
Dan salah satunya adalah bu Retno, dia adalah Distributor terbesar di Makasar
yang memasarkan produk perusahaan Rendy, menurut informasi yang Rendy terima,
Bu Retno juga memiliki beberapa perusahaan di Makasar.
Selepas Magrib, Rendy sudah mandi
dan bersiap siap lebih awal, dia tidak mau memberi kesan buruk dan tidak tepat
“Selamat malam pak Rendy, saya
Anwar pak…saya sudah di lobi hotel untuk menjemput bapak…” tepat jam 7 pak
Anwar laki lai yang mnejemput Rendy tadi siang dibandara menelponnya.
“Baik Pak Anwar…saya segera
turun….”
Selama dalam perjalanan Rendy melihat
suasana kota Makasar disaat malam, hampir sama dengan Jakarta, kerlap kerlip
lampu gedung dan juga lalu lalang kendaraan setelah beraktivitas disiang hari
atau memang keluar untuk menikmati suasana malam. Anwar menghentikan mobilnya
di depan restoran mewah, dalam bayangan Rendy, bu Retno pasti seperti ibu ibu
pengusaha atau istri pejabat pada umumnya, wanita paruh baya dengan dandanan
menor dan perhiasan disana sini.
Kedatangan Rendy disambut seorang
wanita kira kira berusia 4 tahun dibawah usia Rendy, perkiraan Rendy wanita itu
berusia 25-26 tahun, sangat cantik…rambut panjang nya dibiar kan tergerai,
Blouse terusan berwarna biru gelap menambah kesan anggun, pasti ini staff bu
Retno atau mungkin sekretarisnya pikir Rendy sambil melangkah masuk restoran
mengikuti wanita itu dari belakang. Wanita cantik itu mempersilahkan Redny
untuk duduk diruang VIP yang sudah dipesannya, Rendy melempar pandangan
keseluruh ruangan, tak dilihatnya sosok wanita kliennya, mungkinkah dia
terlambat datang atau berhalangan datang lalu diwakilkan sekretaris atau
staffnya? Pikir Rendy
“Maaf mbak…Bu Retno nya belum
datang….?” Tanya Rendy sambil menggeser kursi tempatnya duduk.
Wanita cantik itu tersenyum lalu
tertawa kecil, “ Saya Retno ..Pak Rendy….”
Wajah Rendy bersemu merah menahan
malu, dia ikut tertawa untuk menghilangkan rasa terkejut sekaligus rasa malunya
“Aduh…maaf mbak..eh bu Retno…saya
ga sangka kalau…..” Rendy tak melanjutkan ucapannya
“Kalau apa Pak Rendy…? Kalau saya
masih muda dan bayangan pak Rendy saya adalah wanita pengusaha yang sudah tua
__ADS_1
ya?” Wanita yang ternyata ibu Retno ini berkata sambil tertawa dan ucapannya
yang to the point membuat Rendy benar benar mati kutu dan salah tingkah, tidak
pernah Rendy dibuat sampai salah tingkah didepan wanita seperti ini, biasanya
dia yang memegang kendali para wanita yang ditemuinya dan juga dalam hal berbicara,
tapi kali ini Rendy dibuat tak berdaya dan menjadi grogi serta salah tingkah.
“Iya bu…sekali lagi maaf…saya
benar benar tidak tahu…selama ini kita hanya berkomunikasi lewat telpon…” Ucap
Rendy sambil memandangi wajah cantik yang dipanggilnya bu Retno ini.
“It’s ok Pak Rendy…dan kalau
tidak keberatan , jangan panggil saya ibu ah…saya kira usia pak Rendy diatas
saya…panggil saya Retno saja ya?” Ujar wanita itu lagi
“Oh…Baik bu….eh Retno…” Balas
Rendy , rasa grogi nya belum sepenuhnya hilang, dalam hatinya ia mengumpat
ketololan dirinya, selama ini tidak pernah mencari tahu seperti apa sosok Bu
Retno klien terbesarnya di makasar ini.
“Ini pertama kalinya Pak Rendy ke
Makasar ya…?”
“Iya Ret….kalau Retno ke Jakarta
sih sudah sering ya?” jawab Rendy
“Lumayan sering….saya juga ada
bisnis atau perusahaan yang bergerak di bidang lain di Jakarta, saya juga punya
apartemen di sana untuk tempat saya beristirahat jika saya sedang ke Jakarta,
awalnya saya seperti pak Rendy, menginap di hotel tapi karena sudah seringkali,
lebih baik saya beli saja apartemen yang lokasinya juga ga jauh dari tempat
perusahaanku…” jelas Retno
Rendy benar benar dibuat terpana
dan terkagum kagum oleh wanita ini, masih muda, cantik, kaya raya memiliki
banyak bisnis dan perusahaan, pasti suaminya juga dari kalangan kelas atas atau
mungkin pejabat tinggi.
“Retno jalani bisnis atau
perusahaan bersama sama suami atau jalankan sendiri sendiri?” ucap Rendy, tak
lama kemudian para pelayan datang membawa makanan dan menyusunnya diatas meja .
“kami jalankan sendiri
sendiri…suami saya lebih sering di Amerika ketimbang di Indo…untuk mengelola
bisnisnya disana…”
“Wah hebat….semua bisnis dijalankan seorang diri olehmu Ret…” ucapku
kagum
“Oh Ya Pak Rendy…mengenai produk
produk perusahaan pak Rendy, saya berencana memesan dalam jumlah lumayan besar
di dua bulan yang akan datang, karena saya mendapat pesanan untuk seluruh
wilayah Sulawesi dan tidak hanya dalam kota makasar, kira kira dua bulan cukup
bagi Pak rendy untuk proses produksinya?” Ujar Retno sambil mengambil sebagian makanan yang tersedia di meja
“Nanti PO nya di email ke saya
aja Ret…biar saya hubungi kepala produksi di Jakarta, agar dihitung berapa lama
waktu yang diperlukan dengan PO atau pesanan Retno….” Jawab Rendy
“Ok Pak Rendy…” Retno langsung
mengambil handphone nya dan menelpon staffnya mengenai PO yang Rendy minta,
memang wanita ini cekatan dan tidak mau mengulur atau menunda waktu, saat itu
juga staffnya diminta mengirim email kepada Rendy
“Kalau soal tanda tangan kontrak
penjualannya nanti saja saat saya ke Jakarta ya Pak Rendy…? Sekalian saya mau
lihat pabrik perusahaan pak Rendy dan saya juga mau kenal Mr. Albert…” ujarnya
lagi
“Oh baik Ret….nanti info saya aja
kapan mau ke Jakarta…saya akan siapkan semua disana…” balas Rendy
Tiba tiba wajah Retno berubah tegang, seolah baru saja
melihat hantu…
“Pak Rendy…tunggu sebentar ya…?”
Ucap retno
“Baik Ret..” walau Rendy
sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi
Samar samar Rendy mendengar suara
Retno yang sedikit keras bahkan setengah berteriak
“DAMN YOU BRIAN!!!….SINCE WHEN
AMERICA MOVE INTO THIS CITY…? ALL YOUR LIES ONLY FOR THIS WOMAN..? OK…TOMMOROW
I WILL CALL MY LAWYER TO HANDLE OUR DIVORCE PROCCESS…”
Dengan rasa penasaran ku lihat
Retno berdiri dihadapan laki laki bule dan seorang wanita Indonesia, beberapa
__ADS_1
kali Retno menunjuk nunjuk jarinya kea rah muka laki laki bule dan wanita
disampingnya