
Rendy tiba dirumah sekitar jam 22.00 malam, dia keluarkan
kunci cadangannya agar tidak membangunkan si mbok maupun Anisa, tapi ternyata
pintu tak terkunci dan dilihatnya lampu ruang tamu dan ruang keluarga masih
menyala. Dilihat nya Anita sedang duduk mematung di sofa ruang tamu , mata nya
terlihat sembab .
“Kamu kenapa Nit…? Kok belum tidur..?” ucap Rendy sambil
ikut duduk sambil melepas sepatunya.
Tiba-tiba Anita menutup wajahnya dengan telapak tangannya
dan terdengar isak tangisnya.
“Kamu jahat Ren…..aku pikir kamu perlahan sudah memaafkanku
dan membuka sedikit pintu hatimu…tapi ternyata kamu hanya ingin membalasku….”
Ujar Anita di sela isak tangisnya
“Maksud kata-kata kamu apa sih Nit…dari aku ajak kamu
kembali dari Surabaya, aku sudah memaafkanmu kok…?” Jawab Rendy dengan wajah
kebingungan
“Kenyataannya…kamu diam-diam telah menikahi Rika…..” lanjut
Anita lagi masih dengan sesunggukan disela isak tangisnya.
“Kamu tahu dari Retno….? “ balas Rendy seraya menghela nafas
panjang.
Anita tidak menjawab pertanyaan Rendy, ia hanya menurunkan
telapak tangannya dan menunduk menatap lantai. Bulir-bulir airmatanya mengalir
dari sudut matanya yang indah ke pipinya.
“Apa Retno juga cerita alasanku menikahi Rika…?” imbuh Rendy
lagi. Anita hanya menggeleng lemah, lidahnya terasa terlalu kelu untuk
berkata-kata lagi.
“Rika diperkosa teman dekatnya Nit….lalu dia hamil….dan aku
ga sengaja tahu saat aku sedang mampir ke rumahnya dan mendengar sendiri, waktu
itu dia sudah ga masuk kerja hampir 2 minggu, dan Mr.Albert juga yang minta aku
untuk lihat dan tanya apa alasannya..” jelas Rendy
“Tapi setelah itu kamu serumah kan dengan Rika…lalu….”
Ucapan Anita terhent karena terdengar suara dering handphone milik Rendy.
“Siapa hampir tengah malam gini nelpon sih…?” gumam Rendy.
“Ren….ini mama….Rika pendarahan…sekarang di RS BUNDA ….”
Terdengar nada panik diseberang sana.
“Baik ma…Rendy segera kesana….” Balas Rendy cepat, lalu dia
menatap kearah Anita
“Rika pendarahan…..aku harus ke rumah sakit Nit…..” ucap
Rendy.
“Aku ikut…..akan aku bangunkan Mbok Surti untuk temani
Nisa….” Balas Anita spontan lalu bergegas berdiri dan menuju kamar mbok Surti.
“Ganti kemejamu dengan ini…..” ucap Anita sambil memberikan
Rendy sebuah kaos berlengan panjang sambil dia mengenakan jaket jeans
ditubuhnya.
Mobil yang dikendarai Rendy melaju kencang membelah
__ADS_1
keheningan malam,jalan terlihat sepi karena waktu hampir menunjukkan pukul
24.00 WIB. Hanya butuh 30 menit untuk mereka tiba di Rumah Sakit.
Rendy sedikit berlari kecil menuju ruang Unit Gawat darurat
RS di ikuti dengan langkah cepat oleh Anita dibelakangnya.
Didepan pintu masuk UGD terlihat papa nya Rika dan adiknya,
sedangkan mamanya duduk disamping Rika yang tak sadarkan diri dan mengenggam
tanganya.
“Ma….” Ucap Rendy, dilihat mata wanita paruh baya itu
berkaca-kaca menahan airmatanya agar tidak deras keluar dari pulupuk matanya.
Sedangkan Anita hanya berdiri mematung dari kejauhan di sudut ruangan UGD yang
berisi beberapa tempat tidur pasien.
Seorang perawat berjalan cepat ke arah Rendy, “Bapak suami bu
Rika….?” Ucapnya sopan.
“Ya suster…” jawab Rendy diiringi anggukan kepalanya.
“Bisa ikut saya ke ruang Dokter Eko sebentar pak…..?” lanjut
perawat itu lagi.
Rendy hanya kembali mengangguk lalu mengikuti perawat itu
dibelakangnya.
“Dengan pak Rendy…suami dari Ibu Rika…? “ Ucap Dokter
berkacamata dihadapan Rendy, kira-kira berusia 60 tahunan , namun sorot matanya
terlihat bijak dan berwibawa.
“Ya betul dok….” Ada sebersit rasa takut yang hinggap
dihatinya menunggu kalimat selanjutnya dari Dokter didepannya.
“Ibu Rika mengalami pendarahan hebat, dan ketubannya juga
untuk operasi dengan kondisi seperti bu Rika.. peluangnya fifty-fifty….antara
bayi atau ibu nya yang bisa selamat….” Ujar Dokter menjelaskan
“Dan kami butuh surat pernyataan dari Bapak untuk
melanjutkan operasi pada bu Rika…” lanjut Dokter itu lagi.
Ruangan disekliling Rendy terasa berputar, detak jantungnya
berpacu makin cepat, ia menghela nafas panjang agar lebih dapat mengontrol
suasana hatinya
“Saya boleh bicara dulu dengan orang tua istri saya Dok…?”
Ujar Rendy dengan suara bergetar.
“Silahkan pak….nanti jika sudah ada keputusan, silahkan
ambil form surat pernyataan dengan perawat yang ada di meja ruang UGD ya pak?”
Balas Dokter paruh baya itu
Rendy hanya mengangguk lemah lalu berdiri dan membalikkan
badanya untuk keluar dari ruang Dokter.
“Pa…Ma….boleh Rendy bicara sebentar…?” ucap Rendy sambil
menghampiri Papa dan Mama Rika, kemudian mereka bertiga menuju sudut ruangan
yang sedikit sepi, tak jauh dari tempat Anita berdiri melihat semua yang
terjadi.
Rendy menjelaskan semua yang dikatan Dokter padanya, Papanya
Rika terlihat menatap langit-langit ruangan menguatkan hatinya, sedangkan
__ADS_1
mamanya Rika tak mampu menahan linangan air matanya.
“Mbak…..” ada suara lirih terdengar seraya melambaikan
tangan kearah Anita, Anita berjalan cepat menghampiri Rika yang terbaring lemah
dan dibantu alat pernafasan.
Anita menggenggam jemari Rika, “Kenapa Ka…? tenang aja…kamu
akan baik-baik saja…”
“Mbak…tolong sampaikan pada Rendy dan Papa Mamaku….aku ga
mau lagi menggugurkan bayi ini atau kehilangan bayi ini…apapun resikonya…..”
ucap Rika lirih
“Baik Rika…akan aku sampaikan….” Balas Anita cepat sambil
membalikkan badan, namun langkahnya tertahan karena Rika dengan sisa tenaganya
menarik tangannya.
“Ya Ka…?” ucap Anita lembut sambil kembali menatap wajah
pucat Rika.
“Mbak….aku sudah bersalah dengan mbak dan Nisa….jika terjadi
apa-apa denganku…aku mau Mbak berjanji mau menjaga dan merawat anak ini….” Ucap
Rika sambil mengelus perut besarnya seiring air mata yang bergulir dari kedua
sudut mata indahnya.
“Kamu akan baik-baik aja Ka….tugas kamu sekarang hanya
berdoa dan optimis…” balas Anita berusaha menenangkan Rika.
Rika hanya tersenyum, “ Aku mau Mbak berjanji….please
Mbak….” Imbuh Rika lagi dengan suara lirih.
“Baik…aku janji…tapi kamu juga harus berjanji…untuk berjuang
sekuat tenagamu untuk anak ini …dan Rendy….” Ucap Anita pelan dan suara
bergetar.
Sisi hitam dalam dirinya ingin Rika pergi, agar dia dapat
kesempatan kedua bersama Rendy lagi, namun sebagian dirinya juga melihat Rika
sebagai seorang wanita dan juga seorang ibu, dan dia tahu persis apa isi hati
dan perasaan Rika.
Dengan langkah pelan Anita menghampiri Rendy dan kedua orang
tua Rika yang tengah berbicara.
“Mmmm..maaf saya ikut campur,…..barusan Rika berbicara
dengan saya….dia tidak ingin menggugurkan atau kehilangan bayinya…apapun
resikonya…” Ujar Anita.
“Baiklah Nak Rendy….kami setuju kita melanjutkan operasi…”
Ucap Papanya rika, lalu mereka menghampiri Rika dan membelai penuh kasih putri
mereka. Sementara Rendy menuju meja para perawat untuk menandatangani surat
pernyataan yang diminta pihak Rumah Sakit.
Proses persiapan operasi segera diakukan oleh para perawat.
Dan satu jam kemudian Rika sudah masuk kedalam ruang operasi, lampu diatas
pintu menyala tanda operasi sudah mulai berlangsung.
Dikursi ruang tunggu, terlihat papanya Rika mengusap-usap
punggung istrinya ,berusaha menenangkan walau dalam hati pria paruh baya itu
pun, berkecamuk segala perasaan emosional dan gelisah. Dia seperti bebek
__ADS_1
dikolam, dipermukaan terlihat tenang, padahal di dalam air, kakinya berpacu
dalam setiap detiknya.