CASANOVA SANG PENAKLUK

CASANOVA SANG PENAKLUK
SEBUAH JANJI


__ADS_3

Rendy tiba dirumah sekitar jam 22.00 malam, dia keluarkan


kunci cadangannya agar tidak membangunkan si mbok maupun Anisa, tapi ternyata


pintu tak terkunci dan dilihatnya lampu ruang tamu dan ruang keluarga masih


menyala. Dilihat nya Anita sedang duduk mematung di sofa ruang tamu , mata nya


terlihat sembab .


“Kamu kenapa Nit…? Kok belum tidur..?” ucap Rendy sambil


ikut duduk sambil melepas sepatunya.


Tiba-tiba Anita menutup wajahnya dengan telapak tangannya


dan terdengar isak tangisnya.


“Kamu jahat Ren…..aku pikir kamu perlahan sudah memaafkanku


dan membuka sedikit pintu hatimu…tapi ternyata kamu hanya ingin membalasku….”


Ujar Anita di sela isak tangisnya


“Maksud kata-kata kamu apa sih Nit…dari aku ajak kamu


kembali dari Surabaya, aku sudah memaafkanmu kok…?” Jawab Rendy dengan wajah


kebingungan


“Kenyataannya…kamu diam-diam telah menikahi Rika…..” lanjut


Anita lagi masih dengan sesunggukan disela isak tangisnya.


“Kamu tahu dari Retno….? “ balas Rendy seraya menghela nafas


panjang.


Anita tidak menjawab pertanyaan Rendy, ia hanya menurunkan


telapak tangannya dan menunduk menatap lantai. Bulir-bulir airmatanya mengalir


dari sudut matanya yang indah ke pipinya.


“Apa Retno juga cerita alasanku menikahi Rika…?” imbuh Rendy


lagi. Anita hanya menggeleng lemah, lidahnya terasa terlalu kelu untuk


berkata-kata lagi.


“Rika diperkosa teman dekatnya Nit….lalu dia hamil….dan aku


ga sengaja tahu saat aku sedang mampir ke rumahnya dan mendengar sendiri, waktu


itu dia sudah ga masuk kerja hampir 2 minggu, dan Mr.Albert juga yang minta aku


untuk lihat dan tanya apa alasannya..” jelas Rendy


“Tapi setelah itu kamu serumah kan dengan Rika…lalu….”


Ucapan Anita terhent karena terdengar suara dering handphone milik Rendy.


“Siapa hampir tengah malam gini nelpon sih…?” gumam Rendy.


“Ren….ini mama….Rika pendarahan…sekarang di RS BUNDA ….”


Terdengar nada panik diseberang sana.


“Baik ma…Rendy segera kesana….” Balas Rendy cepat, lalu dia


menatap kearah Anita


“Rika pendarahan…..aku harus ke rumah sakit Nit…..” ucap


Rendy.


“Aku ikut…..akan aku bangunkan Mbok Surti untuk temani


Nisa….” Balas Anita spontan lalu bergegas berdiri dan menuju kamar mbok Surti.


“Ganti kemejamu dengan ini…..” ucap Anita sambil memberikan


Rendy sebuah kaos berlengan panjang sambil dia mengenakan jaket jeans


ditubuhnya.


Mobil yang dikendarai Rendy melaju kencang membelah

__ADS_1


keheningan malam,jalan terlihat sepi karena waktu hampir menunjukkan pukul


24.00 WIB. Hanya butuh 30 menit untuk mereka tiba di Rumah Sakit.


Rendy sedikit berlari kecil menuju ruang Unit Gawat darurat


RS di ikuti dengan langkah cepat oleh Anita dibelakangnya.


Didepan pintu masuk UGD terlihat papa nya Rika dan adiknya,


sedangkan mamanya duduk disamping Rika yang tak sadarkan diri dan mengenggam


tanganya.


“Ma….” Ucap Rendy, dilihat mata wanita paruh baya itu


berkaca-kaca menahan airmatanya agar tidak deras keluar dari pulupuk matanya.


Sedangkan Anita hanya berdiri mematung dari kejauhan di sudut ruangan UGD yang


berisi beberapa tempat tidur pasien.


Seorang perawat berjalan cepat ke arah Rendy, “Bapak suami bu


Rika….?” Ucapnya sopan.


“Ya suster…” jawab Rendy diiringi anggukan kepalanya.


“Bisa ikut saya ke ruang Dokter Eko sebentar pak…..?” lanjut


perawat itu lagi.


Rendy hanya kembali mengangguk lalu mengikuti perawat itu


dibelakangnya.


“Dengan pak Rendy…suami dari Ibu Rika…? “ Ucap Dokter


berkacamata dihadapan Rendy, kira-kira berusia 60 tahunan , namun sorot matanya


terlihat bijak dan berwibawa.


“Ya betul dok….” Ada sebersit rasa takut yang hinggap


dihatinya menunggu kalimat selanjutnya dari Dokter didepannya.


“Ibu Rika mengalami pendarahan hebat, dan ketubannya juga


untuk operasi dengan kondisi seperti bu Rika.. peluangnya fifty-fifty….antara


bayi atau ibu nya yang bisa selamat….” Ujar Dokter menjelaskan


“Dan kami butuh surat pernyataan dari Bapak untuk


melanjutkan operasi pada bu Rika…” lanjut Dokter itu lagi.


Ruangan disekliling Rendy terasa berputar, detak jantungnya


berpacu makin cepat, ia menghela nafas panjang agar lebih dapat mengontrol


suasana hatinya


“Saya boleh bicara dulu dengan orang tua istri saya Dok…?”


Ujar Rendy dengan suara bergetar.


“Silahkan pak….nanti jika sudah ada keputusan, silahkan


ambil form surat pernyataan dengan perawat yang ada di meja ruang UGD ya pak?”


Balas Dokter paruh baya itu


Rendy hanya mengangguk lemah lalu berdiri dan membalikkan


badanya untuk keluar dari ruang Dokter.


“Pa…Ma….boleh Rendy bicara sebentar…?” ucap Rendy sambil


menghampiri Papa dan Mama Rika, kemudian mereka bertiga menuju sudut ruangan


yang sedikit sepi, tak jauh dari tempat Anita berdiri melihat semua yang


terjadi.


Rendy menjelaskan semua yang dikatan Dokter padanya, Papanya


Rika terlihat menatap langit-langit ruangan menguatkan hatinya, sedangkan

__ADS_1


mamanya Rika tak mampu menahan linangan air matanya.


“Mbak…..” ada suara lirih terdengar seraya melambaikan


tangan kearah Anita, Anita berjalan cepat menghampiri Rika yang terbaring lemah


dan dibantu alat pernafasan.


Anita menggenggam jemari Rika, “Kenapa Ka…? tenang aja…kamu


akan baik-baik saja…”


“Mbak…tolong sampaikan pada Rendy dan Papa Mamaku….aku ga


mau lagi menggugurkan bayi ini atau kehilangan bayi ini…apapun resikonya…..”


ucap Rika lirih


“Baik Rika…akan aku sampaikan….” Balas Anita cepat sambil


membalikkan badan, namun langkahnya tertahan karena Rika dengan sisa tenaganya


menarik tangannya.


“Ya Ka…?” ucap Anita lembut sambil kembali menatap wajah


pucat Rika.


“Mbak….aku sudah bersalah dengan mbak dan Nisa….jika terjadi


apa-apa denganku…aku mau Mbak berjanji mau menjaga dan merawat anak ini….” Ucap


Rika sambil mengelus perut besarnya seiring air mata yang bergulir dari kedua


sudut mata indahnya.


“Kamu akan baik-baik aja Ka….tugas kamu sekarang hanya


berdoa dan optimis…” balas Anita berusaha menenangkan Rika.


Rika hanya tersenyum, “ Aku mau Mbak berjanji….please


Mbak….” Imbuh Rika lagi dengan suara lirih.


“Baik…aku janji…tapi kamu juga harus berjanji…untuk berjuang


sekuat tenagamu untuk anak ini …dan Rendy….” Ucap Anita pelan dan suara


bergetar.


Sisi hitam dalam dirinya ingin Rika pergi, agar dia dapat


kesempatan kedua bersama Rendy lagi, namun sebagian dirinya juga melihat Rika


sebagai seorang wanita dan juga seorang ibu, dan dia tahu persis apa isi hati


dan perasaan Rika.


Dengan langkah pelan Anita menghampiri Rendy dan kedua orang


tua Rika yang tengah berbicara.


“Mmmm..maaf saya ikut campur,…..barusan Rika berbicara


dengan saya….dia tidak ingin menggugurkan atau kehilangan bayinya…apapun


resikonya…” Ujar Anita.


“Baiklah Nak Rendy….kami setuju kita melanjutkan operasi…”


Ucap Papanya rika, lalu mereka menghampiri Rika dan membelai penuh kasih putri


mereka. Sementara Rendy menuju meja para perawat untuk menandatangani surat


pernyataan yang diminta pihak Rumah Sakit.


Proses persiapan operasi segera diakukan oleh para perawat.


Dan satu jam kemudian Rika sudah masuk kedalam ruang operasi, lampu diatas


pintu menyala tanda operasi sudah mulai berlangsung.


Dikursi ruang tunggu, terlihat papanya Rika mengusap-usap


punggung istrinya ,berusaha menenangkan walau dalam hati pria paruh baya itu


pun, berkecamuk segala perasaan emosional dan gelisah. Dia seperti bebek

__ADS_1


dikolam, dipermukaan terlihat tenang, padahal di dalam air, kakinya berpacu


dalam setiap detiknya.


__ADS_2