CASANOVA SANG PENAKLUK

CASANOVA SANG PENAKLUK
I DONT BELIEVE WITH LOVE!


__ADS_3

Ditatapnya putri kecil nya yang


berusia 7 tahun melambaikan tangan sambil tertawa riang, dan duduk di jok motor


Mang Tata yang akan mengantarnya sekolah.


Di usianya yang masih belia, dia


harus belajar hidup tanpa kasih sayang mama nya, dan Rendy harus jalani


kehidupannya sebagai single parent, hatinya terasa tersayat jika harus


mengingat kejadian sekitar 3 tahun yang lalu, saat itu Anita istrinya


memutuskan meninggalkan Rendy dan si kecil Anisa karena faktor ekonomi, Anita


yang terbiasa degan kehidupan glamour dan bergelimang materi tidak tahan


menjalani kehidupan bersama Rendy, dan yang lebih melukai hati Rendy kala itu


adalah saat Anita memutuskan pergi dari rumah dia pergi bersama laki laki ,


masih teringat jelas tangis Anisa kecil memanggil mamanya,


Siang malam Rendy berusaha


bekerja keras dan bangkit dari keterpurukannya, hanya Anisa yang membuatnya


tetap bertahan dan tidak membuatnya tenggelam dan larut dalam luka yang


dialaminya, Cinta dan Janji suci indah yang pernah di ikrarkan berdua dengan Anita


hanya bagai selembar kertas tipis yang mudah terkoyak terkena angin.


Dan semua benar benar berakhir


ketika surat gugatan cerai dari pengadilan agama sampai ketangannya, Rendy tak


percaya lagi bahwa cinta itu ada, cinta baginya hanya sebuah kata khayalan yang


indah yang terucap disaat kedua insan dilanda asmara, namun seringkali hilang


dan musnah tak kala bertemu dengan realita.


“Rendy….you datang ke kantor hari


ini?” suara Mr.Albert di handphone Rendy


“Maybe not Sir…I have to rest


about 2 days….saya sakit bos….bisa Ronny atau Akbar datag kerumah untuk ambil


berkas dan PO dari para Distributor yang saya sudah temui di makasar..?” Jawab


Rendy yang masih berbaring di tempat tidurnya


“Oke…saya kirim orang kerumah


you….” Balas Mr.Albert


“Mau kemana Ron..?” tanya Rika


melihat Ronny rekan kerjanya sedang merapikan pekerjaannya dan terlihat bersiap


siap pergi.


“Ke rumah Pak Rendy ka…instruksi


Mr.Albert…..katanya Pak Rendy sakit….dia baru saja tiba dari Makasar


kemarin…..”


“Aku ikut ya Ron..? ada berkas


berkasku yang harus di tanda tangani Pak Rendy….” Lanjut Rika lagi


“Minta tanda tangan atau mau


hilangin penasaran dan rasa kangen…?” ledek Fitri teman satu ruangan Rika


sambil cekikikan.


“Apa sih Mbak Fitri….ini soal


kerjaan…kalau bukan kerjaan…malas juga aku ketemu sampai ke rumahnya segala…..”


ujar Rika dengan wajah cemberut

__ADS_1


“Kemana sih Rendy…? Di WA….di Tlp


ga jawab….dasar semua laki laki sama saja…bagi mereka wanita hanya pengisi


waktu luang dan kesenangan sesaat saja….setelah itu dengan mudahnya mereka


lupa…” wajah Retno terlihat gusar bercampur kesal.


“Mr.Albert…ini saya Retno dari


Makasar, apa pak Rendy sudah smapaikan pesan saya mengenai rencana pemesanan


untuk seluruh area Sulawesi dan PO-PO yang sudah saya berikan kepadanya..? dan


saya juga berencana akan ke Jakarta untuk bertemu anda juga melihat proses


kesiapan produksi produk…” Retno mencoba menghubungi Mr.Albert pemilik


perusahaan tempat Rendy bekerja


“Belum Mrs Retno….Rendy just come


back yesterday…tapi dia sakit…dan tadi izin untuk beristirahat selama dua hari,


but don’t worry…saya sedang kirim orang kerumah untuk mengambil berkas


berkasnya saat dia di Makasar kemarin….”


“Sakit….? Sakit apa dia…? Kok ga


bilang aku….? “ gumam Retno


“Oke Mr.Albert thank you for your


info….may be …tomorrow…I will go to Jakarta and arrange appointment between you


and me also Mr. Rendy…” Ujar Retno mengakhiri pembicaraannya di telpon


“Permisi…..Assalamualaikum…..”


ucap Ronny sedikit keras di depan pintu pagar rumah Rendy, Mbok surti berlari


kecil membuka pintu pagar …


“Cari siapa ya pak…?” ujar Mbok


Surti


Rendy…..diminta datang untuk mengambil berkas pekerjaan bi….bapaknya ada ?”


Ucap Ronny ramah, Rika hanya berdiri terpaku disebelahnya


“Oh Silahkah pak…bu…Bapak ada


dikamarnya…”


“Katanya Bapak sakit bi..?” Rika


mencoba ikut bicara


“Iya bu…semalam bapak pulang


dengan taksi , tapi dipapah supir taksi…kalau kata supir taksi sih dipukuli


beberaoa orang…walau bapak bilang nya terjatuh saat hujan….” Mbok Surti ngoceh


dengan polosnya


“Dipukuli…? Oleh siapa…? “ Rika


bertanya tanya dalam hatinya sambil melihat sekeliling isi rumah Rendy yang


sepi.


“Mbok…ada orang kantor saya ya?


Suruh ke kamar aja…..” suara Rendy terdengar dari dalam kamar, Mbok Surti


langsung memberi isyrata kepada Ronny dan Rika untuk mengikutinya ke kamar


Rendy.


Sambil mengikuti langkah Mbok


Surti dan Ronny di depannya, pandangan Rika sekilas tertumpu pada sebuah kamar


anak anak  berukuran sedang namun

__ADS_1


bernuansa pink dan  rapih. “Kamar anak ?


berarti Pak Rendy sudah…..menikah?” kembali Rika bergumam dalam hati.


“Ini berkas berkas PO nya…tolong


diberikan ke Mr.Albert untuk dipelajari dan ditanda tangani ya Ron…?” Ujar


Rendy sambil menyerahkan setumpuk berkas yang terbungkus rapi dalam map


plastic.


“Baik pak….” Sahut Ronny


“Dan kamu Rika…? Ada perlu apa


kesini….?” Lanjut Rendy, melihat Rika yang pandangannya masih celingak celinguk


kesana kemari.


Melihat Rika yang tidak fokus,


Ronny menepuk pundak Rika…


“Eh….iya…itu….saya perlu tanda


tangan Pak Rendy…” ujar Rika gugup sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas


dari dalam map yang dibawanya,dan memberikannya pada Rendy


“Kalau hanya perlu tanda tangan


seperti ini…kan bisa dititip sama Ronny….saya rasa Ronny juga ga bodoh bodoh


amat….ya ga Ron?” Ucap Rendy dengan nada sinis dan tatapan dingin ke wajah


Rika.


Rika saat itu benar benar merasa


bodoh dan serba salah, dan tidak bisa membantah…dalam hatinya dia maki laki


laki didepannya dan dirinya sendiri


“Kurang ajar laki laki ini….wajah


sinis dan angkuhnya kembali terlihat…dan kata katanya benar benar bikin aku


mati kutu….dan ga bisa membalas kata katanya….” Maki Rika dalam hati, walau


hati kecilnya juga membenarkan apa yang dikatan Rendy, kalau hanya minta tanda


tangan …buat apa dia jauh jauh ikut dengan Ronny, bisa dia titipkan …selalu


saja dia terlihat bodoh dan menjadi wanita linglung di depan Rendy.


“Mbok….sediain minuman buat tamu


saya…..” Rendy sedikit berteriak dari tempat tidur.


“Ga usah Repot repot pak….kami


masih banyak pekerjaan di kantor….harus segera kembali dan berkas ini ditunggu


Mr.Albert….” Sahut Ronny


“Oh sibuk…? Saya pikir santai…tuh


buktinya Rika bisa ikut kamu jalan jalan kesini hanya untuk tanda tangan,


berarti lagi ga sibuk kan ka…?” Ucapan Rendy benar benar membuat wajah Rika


merah padam, dia juga menyesal kenapa hal semacam ini ga dipikirkannya terlebih


dahulu sebelum memutuskan ikut Ronny….”Sebenarnya ada apa denganku…?”


pertanyaan di hati Rika bekecamuk, dia tak mampu membalas ucapan Rendy hanya


tersenyum, tentu saja senyum yang dipaksakan….


”Huh…awas aja laki laki bernama


Rendy ini….pasti suatu hari aku balas ….belum tahu aja dia… kalau banyak laki


laki yang mengejarnya dan kecewa….” Rika masih bergumam dalam hati, sambil


mengikuti langkah Ronny kembali ke mobil untuk kembali ke kantor

__ADS_1


__ADS_2