
Ditatapnya putri kecil nya yang
berusia 7 tahun melambaikan tangan sambil tertawa riang, dan duduk di jok motor
Mang Tata yang akan mengantarnya sekolah.
Di usianya yang masih belia, dia
harus belajar hidup tanpa kasih sayang mama nya, dan Rendy harus jalani
kehidupannya sebagai single parent, hatinya terasa tersayat jika harus
mengingat kejadian sekitar 3 tahun yang lalu, saat itu Anita istrinya
memutuskan meninggalkan Rendy dan si kecil Anisa karena faktor ekonomi, Anita
yang terbiasa degan kehidupan glamour dan bergelimang materi tidak tahan
menjalani kehidupan bersama Rendy, dan yang lebih melukai hati Rendy kala itu
adalah saat Anita memutuskan pergi dari rumah dia pergi bersama laki laki ,
masih teringat jelas tangis Anisa kecil memanggil mamanya,
Siang malam Rendy berusaha
bekerja keras dan bangkit dari keterpurukannya, hanya Anisa yang membuatnya
tetap bertahan dan tidak membuatnya tenggelam dan larut dalam luka yang
dialaminya, Cinta dan Janji suci indah yang pernah di ikrarkan berdua dengan Anita
hanya bagai selembar kertas tipis yang mudah terkoyak terkena angin.
Dan semua benar benar berakhir
ketika surat gugatan cerai dari pengadilan agama sampai ketangannya, Rendy tak
percaya lagi bahwa cinta itu ada, cinta baginya hanya sebuah kata khayalan yang
indah yang terucap disaat kedua insan dilanda asmara, namun seringkali hilang
dan musnah tak kala bertemu dengan realita.
“Rendy….you datang ke kantor hari
ini?” suara Mr.Albert di handphone Rendy
“Maybe not Sir…I have to rest
about 2 days….saya sakit bos….bisa Ronny atau Akbar datag kerumah untuk ambil
berkas dan PO dari para Distributor yang saya sudah temui di makasar..?” Jawab
Rendy yang masih berbaring di tempat tidurnya
“Oke…saya kirim orang kerumah
you….” Balas Mr.Albert
“Mau kemana Ron..?” tanya Rika
melihat Ronny rekan kerjanya sedang merapikan pekerjaannya dan terlihat bersiap
siap pergi.
“Ke rumah Pak Rendy ka…instruksi
Mr.Albert…..katanya Pak Rendy sakit….dia baru saja tiba dari Makasar
kemarin…..”
“Aku ikut ya Ron..? ada berkas
berkasku yang harus di tanda tangani Pak Rendy….” Lanjut Rika lagi
“Minta tanda tangan atau mau
hilangin penasaran dan rasa kangen…?” ledek Fitri teman satu ruangan Rika
sambil cekikikan.
“Apa sih Mbak Fitri….ini soal
kerjaan…kalau bukan kerjaan…malas juga aku ketemu sampai ke rumahnya segala…..”
ujar Rika dengan wajah cemberut
__ADS_1
“Kemana sih Rendy…? Di WA….di Tlp
ga jawab….dasar semua laki laki sama saja…bagi mereka wanita hanya pengisi
waktu luang dan kesenangan sesaat saja….setelah itu dengan mudahnya mereka
lupa…” wajah Retno terlihat gusar bercampur kesal.
“Mr.Albert…ini saya Retno dari
Makasar, apa pak Rendy sudah smapaikan pesan saya mengenai rencana pemesanan
untuk seluruh area Sulawesi dan PO-PO yang sudah saya berikan kepadanya..? dan
saya juga berencana akan ke Jakarta untuk bertemu anda juga melihat proses
kesiapan produksi produk…” Retno mencoba menghubungi Mr.Albert pemilik
perusahaan tempat Rendy bekerja
“Belum Mrs Retno….Rendy just come
back yesterday…tapi dia sakit…dan tadi izin untuk beristirahat selama dua hari,
but don’t worry…saya sedang kirim orang kerumah untuk mengambil berkas
berkasnya saat dia di Makasar kemarin….”
“Sakit….? Sakit apa dia…? Kok ga
bilang aku….? “ gumam Retno
“Oke Mr.Albert thank you for your
info….may be …tomorrow…I will go to Jakarta and arrange appointment between you
and me also Mr. Rendy…” Ujar Retno mengakhiri pembicaraannya di telpon
“Permisi…..Assalamualaikum…..”
ucap Ronny sedikit keras di depan pintu pagar rumah Rendy, Mbok surti berlari
kecil membuka pintu pagar …
“Cari siapa ya pak…?” ujar Mbok
Surti
Rendy…..diminta datang untuk mengambil berkas pekerjaan bi….bapaknya ada ?”
Ucap Ronny ramah, Rika hanya berdiri terpaku disebelahnya
“Oh Silahkah pak…bu…Bapak ada
dikamarnya…”
“Katanya Bapak sakit bi..?” Rika
mencoba ikut bicara
“Iya bu…semalam bapak pulang
dengan taksi , tapi dipapah supir taksi…kalau kata supir taksi sih dipukuli
beberaoa orang…walau bapak bilang nya terjatuh saat hujan….” Mbok Surti ngoceh
dengan polosnya
“Dipukuli…? Oleh siapa…? “ Rika
bertanya tanya dalam hatinya sambil melihat sekeliling isi rumah Rendy yang
sepi.
“Mbok…ada orang kantor saya ya?
Suruh ke kamar aja…..” suara Rendy terdengar dari dalam kamar, Mbok Surti
langsung memberi isyrata kepada Ronny dan Rika untuk mengikutinya ke kamar
Rendy.
Sambil mengikuti langkah Mbok
Surti dan Ronny di depannya, pandangan Rika sekilas tertumpu pada sebuah kamar
anak anak berukuran sedang namun
__ADS_1
bernuansa pink dan rapih. “Kamar anak ?
berarti Pak Rendy sudah…..menikah?” kembali Rika bergumam dalam hati.
“Ini berkas berkas PO nya…tolong
diberikan ke Mr.Albert untuk dipelajari dan ditanda tangani ya Ron…?” Ujar
Rendy sambil menyerahkan setumpuk berkas yang terbungkus rapi dalam map
plastic.
“Baik pak….” Sahut Ronny
“Dan kamu Rika…? Ada perlu apa
kesini….?” Lanjut Rendy, melihat Rika yang pandangannya masih celingak celinguk
kesana kemari.
Melihat Rika yang tidak fokus,
Ronny menepuk pundak Rika…
“Eh….iya…itu….saya perlu tanda
tangan Pak Rendy…” ujar Rika gugup sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas
dari dalam map yang dibawanya,dan memberikannya pada Rendy
“Kalau hanya perlu tanda tangan
seperti ini…kan bisa dititip sama Ronny….saya rasa Ronny juga ga bodoh bodoh
amat….ya ga Ron?” Ucap Rendy dengan nada sinis dan tatapan dingin ke wajah
Rika.
Rika saat itu benar benar merasa
bodoh dan serba salah, dan tidak bisa membantah…dalam hatinya dia maki laki
laki didepannya dan dirinya sendiri
“Kurang ajar laki laki ini….wajah
sinis dan angkuhnya kembali terlihat…dan kata katanya benar benar bikin aku
mati kutu….dan ga bisa membalas kata katanya….” Maki Rika dalam hati, walau
hati kecilnya juga membenarkan apa yang dikatan Rendy, kalau hanya minta tanda
tangan …buat apa dia jauh jauh ikut dengan Ronny, bisa dia titipkan …selalu
saja dia terlihat bodoh dan menjadi wanita linglung di depan Rendy.
“Mbok….sediain minuman buat tamu
saya…..” Rendy sedikit berteriak dari tempat tidur.
“Ga usah Repot repot pak….kami
masih banyak pekerjaan di kantor….harus segera kembali dan berkas ini ditunggu
Mr.Albert….” Sahut Ronny
“Oh sibuk…? Saya pikir santai…tuh
buktinya Rika bisa ikut kamu jalan jalan kesini hanya untuk tanda tangan,
berarti lagi ga sibuk kan ka…?” Ucapan Rendy benar benar membuat wajah Rika
merah padam, dia juga menyesal kenapa hal semacam ini ga dipikirkannya terlebih
dahulu sebelum memutuskan ikut Ronny….”Sebenarnya ada apa denganku…?”
pertanyaan di hati Rika bekecamuk, dia tak mampu membalas ucapan Rendy hanya
tersenyum, tentu saja senyum yang dipaksakan….
”Huh…awas aja laki laki bernama
Rendy ini….pasti suatu hari aku balas ….belum tahu aja dia… kalau banyak laki
laki yang mengejarnya dan kecewa….” Rika masih bergumam dalam hati, sambil
mengikuti langkah Ronny kembali ke mobil untuk kembali ke kantor
__ADS_1