
Hampir dua minggu Rendy berada di
Palangkaraya Kalimantan Tengah untuk pekerjaannya seperti yang sering dia
lakukan, hati ini ia kembali ke kantornya dan membawakan oleh-oleh untuk para
teman sekantornya, dan seperti biasa mereka berebut saat Rendy menaruh oleh
oleh diruang pantry kantor.
“Saya ngga lihat Rika, ga masuk
kerja dia…?” Ucap Rendy pada Fitri teman
sekantornya yang tempat duduknya bersebelahan dengan meja Rika.
“Sejak pak Rendy dinas ke luar
kota 2 minggu yang lalu…dia izin pak…ga
masuk….cieee…kangen ya pak?” ledek Fitri, Rendy tak membalas hanya tersenyum
tipis.
Rendy mencoba mengirimkan pesan
WA pada Rika, namun hanya ceklist satu , yang artinya pesannya tak terkirim dan
terbaca oleh Rika.
Sore itu sepulang kerja, dia
putuskan untuk menjenguknya ke area
Cikatang Bekasi rumah orang tua Rika.
Menjelang magrib Rendy tiba di
depan kediaman keluarga Rika, tak dilihatnya anggota keluarga diteras rumah,
seperti kebiasaan mereka duduk-duduk sambil minum the disore hari. Di bukanya
perlahan pintu pagar rumah dan Rendy melangkah masuk sampai didepan teras
rumah.
“Assalamualaikum….” Rendy mencoba
mnegucapkan salam namun tak ada jawaban, dicobanya lagi dan kali ini dengan
suara yang agak lebih keras, namun lagi lagi tak ada jawaban dari dalam rumah.
Rendy mencoba mendekati pintu rumah, namun tiba tiba saja dirinya kaget dan
mundur beberapa langkah….
“Pranngg!!!!” suara benda keramik
yang dibanting membuat dirinya kaget bukan kepalang, disusul suara laki-laki
berteriak dari dalam rumah.
“SUDAH PAPA BILANG JANGAN DEKAT
DENGAN LAKI-LAKI BRENGSEK ITU…DARI AWAL PAPA SUDAH TIDAK SUKA KEHADIRANNYA…!!!”
terdengar suara hardikan papanya Rika
Rendy hanya terpaku di depan
pintu rumah Rika, dia merasa waktunya tidak tepat dia datang sore itu, dia
membalikkan badannya berniat untuk pergi dari situ, namun sebuah suara menahan
langkah kakinya, “Jangan pergi nak Rendy….tolong Rika….” Suara seorang wanita
yang ternyata mama nya Rika terdengar memohon diselingi isak tangisnya.
Dengan langkah canggung Rendy
memasuki rumah Rika, mengikuti langkah wanita paruh baya didepannya.
Melihat kehadiran Rendy, amarah
__ADS_1
papa nya Rika sedikit mereda, terlihat dadanya kembang kempis menahan emosi
yang membludak dan mukanya yang merah setelah luapkan amarah.
Dilihatnya Rika tengah terduduk
lesu di sofa sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, air
matanya meleleh dipipi putihnya.
Rendy duduk disebelah Rika, ayah
Rika menghempaskan tubuhnya di kursi sofa diseberangnya.
“Pak…..bu….mohon maaf…kedatangan
saya mungkin tidak pada situasi dan waktu yang tepat, tapi ibu meminta saya
untuk masuk…..maksud saya kesini sebenarnya ingin menengok keadaan Rika, karena
menurut orang kantor Rika sudah tidak masuk selama dua minggu…..saya baru kembali dari tugas
luar kota di Kalimantan, makanya saya baru tahu kalo Rika tidak masuk….mmmmm
kalau boleh tahu….dan bapak ibu ga keberatan, boleh saya tahu ada apa ini pak?”
ucap Rendy lembut seraya memandang ekspresi wajah laki-laki setengah tua yang
terlihat masih menahan amarahnya, terlihat dari tangannya yang dikepal dan
urat-urat syaraf yang terlihat menegang di dahi nya.
Melihat ayah Rika yang masih
terdiam dan berusaha mengontrol emosinya, ibu Rika mencoba menjelaskan kepada
Rendy, “Begini nak Rendy….mungkin nak Rendy tahu….beberapa bulan terakhir ini
Rika dekat dengan seorang laki-laki …kalau ga salah namanya Satria…..sebenarnya
ibu dan bapak tidak terlalu suka dengannya, tapi kami tidak mau lagi mengekang
keinginan dan kemauan Rika,seperti waktu waktu yang dulu…tapi ternyata……dia
laki-laki yang tak bertanggung jawab…sekarang dia menghilang dan Rika……” Ibu
mulut wanita paruh baya itu.
Rendy mencoba melirik ke arah
Rika yang duduk disebelahnya, tiba-tiba Rika memeluknya sambil menangis
sejadi-jadinya…”aku hamil Ren….aku aib bagi keluarga.” ujar Rika disela-sela
tangisnya.
Hati Rendy terasa bagai
tersayat-sayat pisau belati, apalagi dipelukannya, dan di hadapannya dua wanita
ibu dan anak menangis pilu meratapi kejadian yang sama sekali mereka tidak
inginkan. Dilihatnya juga ayah nya Rika mengambil saputangan dari kantongnya
dan menghapus air matanya.
“Aku gam au menggugurkan
kandunganku Ren…seperti yang kulakukan di masa laluku….anak didalam rahimku
tidak berdosa…aku yang yang nista…aku yang penuh dosa Ren…..” Lanjut Rika lagi
masih dengan isak tangisnya.
“Tapi kamu ga bisa melahirkan dan
hidup dengan anak itu tanpa sosok seorang ayah Rika…apa kata orang nanti? Apa
kata keluarga besar kita?” suara Ayah Rika terdengar bergetar dan beberapakali
ia menarik nafasnya dalam-dalam.
Rendy menghela nafasnya sesaat,
__ADS_1
dia mencoba melepaskan pelukan Rika dari tubuhnya dan menatap wajahnya yang
basah karena air matanya.
“Aku akan menikahimu….sampai anak
itu lahir dan kamu bisa menata hidupmu kembali….tapi kamu tahu kehidupanku kan
Ka…? jadi aku ga bisa setiap hari bersamamu…..dan tidak bisa ceritakan ini
kepada keluarga besarku…” Ucap Rendy membuat papa dan mama Rika kaget dan
seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar, begitupun Rika.
“Ngga Ren..!!! aku ga pantas buat
kamu….aku juga terima kalo sekarang kamu jijik denganku setelah mengetahui
semuanya….” Bantah Rika.
“Pak…bu…bagaimana..? apa
bapak….ibu..setuju dengan usulan saya…?” Ucap Rendy lagi , sambil melihat
ekspersi kedua orang tua Rika.
“Kalo kami…gimana Rika aja nak
Rendy….walau jujur, kami berterima kasih dengan usulan nak Rendy…” Balas ibu
nya Rika pelan sambil melirik suaminya.
Rendy kembali menatap Rika,
sambil memberi isyarat…apa jawaban wanita mungil dan cantik ini.
Jujur saja, entah mengapa dalam
hati Rika terbesit rasa bahagia, saat mendengar ucapan Rendy akan menikahinya,
walaupun dia tahu persis itu hanya untuk menolongnya dan bersifat sementara,
agar kehormatannya juga kehormatan keluarganya terjaga. Tapi ia merasa dirinya
kotor dan malu, setelah rendy mengetahui semua jalan hidupnya.
“Tapi …aku malu Ren…aku merasa
kotor dan ga pantas mendapat kebaikanmu….” Ujar Rika pelan
“Lalu..? kamu mencintai laki-laki
itu? Siapa itu namanya..Satria…? dan kamu mau aku cari dia untuk minta
pertanggung jawabannya?” balas Rendy
Rika menggeleng,”Kalaupun dia mau
bertanggung jawab…aku juga ga sudi untuk dinikahinya….” Lalu dia terdiam
sebentar.
“Lalu kalau seperti itu…kenapa
kamu? “ ucap rendy sambil mengarahkan telapak tangannya kea rah perut Rika.
“Waktu itu…..saat dia menjemputku
di kantor dan bertemu kamu di area parkir…..sepanjang perjalanan kami
bertengkar ….dia terus menanyakan ada apa antara aku denganmu….dia tidak suka
bahkan marah jika setiapkali berkaitan denganmu…aku selalu membelamu
didepannya……akhirnya aku minta antarkan pulang dan batalkan acara nonton
kami…tapi dia minta kami mampir sebentar disebuah café untuk minum sebelum
pulang……entah kenapa…setelah itu kepalaku berat dan pusing sekali…saat
terbangun…aku sudah ada disebuah kamar hotel dan……” Rika kembali menutupi
wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan kembali menangis tersedu-sedu
__ADS_1
“Brengsek…….” Ucap Rendy pelan
nanun dengan suara bergetar menahan amarah.