CASANOVA SANG PENAKLUK

CASANOVA SANG PENAKLUK
THANKS FOR THIS NIGHT


__ADS_3

Retno kembali berjalan ke arah


Rendy yang masih termangu di depan ruang VIP tempat makan malam nya bersama


Retno tadi, dilihatnya raut wajah Retno yang merah padam menahan sejuta amarah.


“Maaf Pak Rendy…makan malam dan


meeting kita terganggu dan Pak Rendy harus melihat pemandangan yang kurang


bagus….” Ucap Retno dengan nada pelan dan berusaha mengontrol emosinya.


“Jika meetingnya mau dilanjutkan


besok ga apa Ret….biar besok saya ke kantor mu saja…” Ujar Rendy merasa tidak


tega melihat kondisi emosi Retno saat ini


“It’s ok Pak Rendy…..besok saya


sudah harus terbang ke Menado untuk suatu urusan….” Balas Retno seraya duduk di


kursinya dan meneguk minumannya agar kembali tenang.


“Tapi Ret….” Ucapan Rendy


terhenti


“Tapi sepertinya sudah tidak


nyaman lagi bicara bisnis setelah apa yang terjadi tadi ya?” wanita ini benar


benar cerdas dan entah bagaimana seolah selalu tahu apa yang ada di benak Rendy


dan apa yang akan Rendy ucapkan


Rendy hanya menangguk pelan…”Tapi


jika kamu bersikeras ingin lanjutkan…ga apa apa …”


“Pak Rendy pasti belum pernah ke


pantai Losari ya…?”


“Belum Ret…seperti yang kamu


tahu…saya baru kali ini menginjak kota makasar…” jawab Rendy


“Oke…kita kesana ya? Biar emosi


saya sedikit reda dan kembali bisa fokus bicara urusan bisnis…” lanjut wanita


itu


“Baik Ret….good idea…” ucap Rendy


Setelah memanggil pelayan


restoran untuk membayar bill, Rendy dan Retno menuju sebuah mobil sedan  mewah ,Pak Anwar sudah berdiri dan siap


membukakan pintu utnuk kami..” Pak Rendy dibelakang saja dengan saya ya?”


“Oh baik Ret…” baru saja Rendy


ingin membuka pintu depan mobil untuk duudk dikursi depan disamping Pak Anwar


Dalam waktu kurang lebih 30


menit  mereka tiba di pantai Losari, bagi


penduduk kota Makasar, pantai ini adalah juga ikon kota makasar, hampir sama


dengan pantai Ancol di Jakarta, hanya saja Pantai Losari terlihat lebih indah


karena tertata rapi dan juga masih terdapat pulau pulau kecil di seberang sana


tak jauh dari pantai . Gemerlapnya lampu lampu kota makasar di saat malam ,


menambah indah nya suasana pantai Loasari malam itu..


Mereka duduk di sebuah bangku


menghadap ke laut, angin meniup rambut panjang Retno,  Rendy sekilas melirik ke arahnya, sungguh


cantik wanita ini….gumam Rendy dalam hatinya


“Maaf Pak Rendy…harus melihat


kejadian tadi….” Ucap Retno lirih


“It’s ok Ret….semua orang punya


masalah dan jalan hidupnya masing-masing…saya maklum akan hal itu…walau baru


bertemu kamu….dan melihat kejadian tadi…saya hanya  tahu satu hal….”


“Apa itu Pak Rendy…?” lanjut


wanita itu

__ADS_1


“Laki laki itu….yang saya dengar kamu


panggil dengan Brian….adalah laki laki bodoh….maaf saya bicara seperti ini


Ret….” Imbuh Rendy


“Ngga Pak Rendy…..saya lah yang


bodoh….sudah memilih dia dulu sebagai pasangan hidup…” mata Retno mulai berkaca


kaca menahan bulir air mata yang akan keluar dari sudut matanya.


Rendy merasa iba melihat


kerapuhan wanita disampingnya ini, rasa sakit …kecewa….terluka…..jelas terlihat


di raut wajahnya, diraihnya jemari Retno…digenggamnya erat agar Retno sedikit


merasa tenang dan kesedihannya berkurang saat itu.


Retno merebahkan kepalanya di


dada Rendy, “Perduli setan dengan Brian….dia sudah menghianatiku, dan aku sudah


putuskan akan berpisah dengannya…jadi ga ada masalah aku bersama dan memeluk


laki laki lain saat ini…” ucap wanita itu dalam hati.


Rendy pun tahu, Retno saat ini


butuh sandaran dan teman dalam sakit dan luka hatinya, Ia membelai lembut


rambut panjang wanita itu berusaha menenangkan sejuta galau di hatinya.


“Maafkan saya seperti ini Pak


Rendy……” Ucap Retno lirih sambil menyandarkan kepalanya dan memeluk pinggang


Rendy.


“Gpp Ret….saya mengerti….dan


panggil saja saya Rendy….” Balas Rendy masih tetap membelai lembut rambut


wanita cantik itu


“Ren….saya takut sendirian lewati


malam ini dengan sakit yang kurasa saat ini….kamu ga keberatan temaniku agar


aku bisa lewati sakitku? Malam ini saja…..” Ujar Retno lirih


anakmu ga cari dan tunggu kamu? Dan Pak Anwar? Kasihan dia….”


“Anak saya sudah besar


Ren….mereka sudah bisa mengurus diri mereka sendiri dan ada bibi dirumah yang


siapkan kebutuhan mereka, dan Anwar…kamu bisa stir mobilku kan? Kalau ya…biar


aku suruh pulang dengan taksi….dan berikan kunci mobil ke kamu….” Jelas Retno


“Baiklah kalau seperti itu Ret…tapi


hapus air matamu sebelum pak Anwar kesini antarkan kunci..”balas Rendy


Retno menghapus air matanya dan


menelpon Anwar supirnya


“Besok bapak langsung ke kantor


saja ya?” Ucap Retno kepada Pak Anwar ,sambil mengambil kunci mobil dari


tangannya


“Baik Bu…kalau begitu saya pamit….mari


pak…?” ucap Anwar pada Retno dan juga Rendy


Malam semakin larut, Rendy


melihat kearah jam tangannya, pukul 23.00 WITA…angin bertiup makin kencang


malam itu.


“Ret…kamu mau sepanjang malam


disini? aku ga keberatan….tapi angin makin kencang dan kamu juga ga pakai


jaket….nanti kamu bisa sakit atau masuk angin…” Bisik Rendy ditelinga wanita


cantik itu


“Oke Ren…kita balik ke hotel


tempat kamu ya?....”


“Baik Ret…tapi kasih tahu aku

__ADS_1


rute jalannya ya? Aku ga faham jalan kota makasar apalagi ini malam hari…kamu


jadi google mapsnya ya?” Ucap Rendy sambil tertawa


“Siap Pak Bos….aku tunjukin


arahnya sampai depan pintu kamar hotelmu…” balas Retno ikut tertawa


“Wah kalau sudah sampai


Hotel…saya ga perlu petunjuk Ret…sambil tutup mata …aku juga bisa sampai…”


Rendy dan Retno tertawa bersama sama sambil berjalan menuju area parkir.


“Nah gitu Ret….kamu itu sudah


cantik…tambah sempurna kalau tersenyum atau tertawa….jangan sedih lagi….aku


suka mules kalau lihat perempuan nangis…” Ucap Rendy sambil menyetir dan keluar


area parkir pantai Losari.


Retno tertawa lepas …” Hahahaha…ternyata


Rendy Putra Alamsyah….seorang General Manager perusahaan terkenal…adalah


seorang perayu dan tukang gombal…tapi sayang…gombalannya…norak…”


Mereka berdua tertawa bersama,


bahkan sampai saat mereka tiba di Hotel tempat Rendy menginap, mereka saling


bertukar cerita dan pengalaman lucu, untuk sesaat kesedihan dan luka di wajah


Retno sirna dan berganti ceria.


Didalam kamarpun mereka masih


berbincang bincang dan saling tertawa, tanpa terasa waktu menunjukkan pukul


3.00 pagi.


“Sudah jam 3 pagi Ret…..aku lihat


kamu sudah mengantuk….bukannya besok kata kamu …kamu akan berangkat ke


Menado…..?” ucap Rendy setelah tawa mereka berdua berhenti.


“Oh iya…tapi ga apalah…aku bisa


atur keberangkatanku dengan pesawat sore atau lusa….yang pasti….thanks for this


night Rendy…..you make me happy and forgot my sadness…” Jawab Retno sambil


menatap Rendy.


“You’re welcome…..lebih baik kamu


tertawa….cantik…daripada aku mules…” ucap rendy kembali tertawa


“Gombalannya noraaaaaak….tau


ga..?’ sahut Retno sambil memukul wajah Rendy dengan bantal, Rendy mencoba


menangkis pukulan bantal Retno dengan tangannya, tapi yang terjadi tangannya


menjadi menggenggam jemari Retno.


Untuk beberapa saat Rendy tak


melepaskan genggamannya, malah dia menatap wajah cantik Retno…Retno pun


sama…..dia tak melepaskan tatapan matanya pada laki laki didepannya ini, seolah


dia ingin selami lebih dalam dan lebih jauh lagi


“Rendy….aku ga tahu apa yang


terjadi….aku tak perduli apa yang kurasa…..aku juga tak perduli di Jakarta sana


ada seseorang yang menantimu atau menjadi pasanganmu…..yang aku tahu…aku ingin


bersamamu malam ini…..” Retno menatap lekat lekat Rendy dan mendekatkan


bibirnya ke bibir Rendy….


Semenit kemudian mereka saling


bercumbu…..


“Kamu akan tahu aku lebih jauh


nanti…yang jelas…saat ini tak ada yang menantiku…dan tak ada teman atau


pasangan hidupku…” bisik Rendy ditelinga Retno…lalu ia kembali mencumbu dan


memeluk wanita cantik itu, melewati sunyinya dini hari kala itu, melepas segala


hasrat yang datang dan hinggap pada dua insan….yang tak pernah mereka pikirkan

__ADS_1


selama ini….yang tak pernnah mereka rencanakan sebelumnya..


__ADS_2