
Diliriknya Rika Yang tengah duduk
termangu di sofa ruang tamu sehabis bercerita, dengan lelehan air mata
membasahi pipinya. Rendi mengehla nafas panjang lalu mengeluarkan rokok untuk
dihisapnya agar dirinya menjadi sedikit lebih tenang dan tidak emosional.
Dilihat jam tangannya, pukul
18.20, lalu Rendy berdiri dan memandang wajah kedua orang tua Rika,
“Pak…Bu….kalau tidak keberatan, dua hari lagi saya akan kesini lagi dan
mengajak Rika untuk menikah di KUA sampai anak yang dikandung Rika lahir, tapi
itu semua juga saya serahkan pada Bapak dan IBu, juga Rika….hanya itu yang bisa
saya lakukan, dan saya mohon kepada Bapak…jangan lagi marah dengan Rika, dia ga
salah….yang kurang ajar dan brengsek itu Satria….bukan Rika,…”
Entah apa yang merasuki Rendy hingga
dia berani mengatakan dan mengambil keputusan yang baru saja keluar dari
mulutnya.
Rika menatap kaget dan tak
percaya dengan apa yang didengarnya barusan, “Ren…dy….ka..mu serius…?” ucap
Rika masih dengan nada tak percaya.
“Kamu tahu aku Ka…di kantor
maupun dikehidupan keseharianku, aku ga pernah bercanda kan? Dalam mengambil
suatu keputusan….” Balas Rendy cepat
“Kalo bapak…ibu…bagaimana Rika
nya saja nak Rendy….tapi apa ga sebaiknya nak Rendy pikirkan kembali
matang-matang keputusan nak Rendy?” ujar Mama nya Rika lembut.
“Rika tidak mau menggugurkan
kandungannya seperti masa lalu yang telah dialaminya…lalu keluarga juga pasti
ga akan sanggup menanggung beban seperti ini dalam kehidupan keseharian dan
juga keluarga besar, sayapun kenal Rika juga sudah lama bu…bukan baru….dan
status saya sementara ini adalah duda…jadi hanya dengan cara ini saya bisa
menolong Rika….” Jawab Rendy dengan ucapan yang penuh kepastian.
“Lalu kamu Rika….gimana?” ucap
papa nya Rika dengan nada yang sudah melunak dari emosi sebelumnya.
“ya Rika mau pa…..Terima kasih
Ren…kamu sudah mau menyelamatkan nama baik keluarga kami….entah bagaimana aku
membalas kebaikan dan keputusanmu ini….” Ujar Rika seraya menatap sendu ke arah
Rendy
Pagi itu cuaca mendung dan hujan
gerimis tak henti membasahi muka bumi sedari subuh, mobil Rendy sudah meluncur
ditengah aspal basah disepanjang jalan menuju kediaman Rika.
Rendy mengenakan kemaja putih
polos dengan celana bahan berwarna biru gelap, senada dengan jas yang
ditaruhnya di jok belakang mobil.
Setibanya di rumah Rika, terlihat
sudah terparkir 2 mobil didepan rumahnya, mungkin sebagian kerbata dekat
keluarga Rika yang di beritahu mengenai pernikahan Rika yang terkesan mendadak
ini. Melihat kedatangan Rendy, adik Rika menghampiri dengan payung yang dibawanya.
Rendy sempat terpesona sesaat,
__ADS_1
melihatt Rika yang mengenakan kebaya bermotif modern dan rambut di sanggul
kecil, begitu cantik dan pasti membuat semua laki-laki ternganga melihatnya.
Adik Rika dan salah seorang
kerabatnya langsung memayungi mereka berdua ke mobil Rendy, diikuti oleh papa
mama nya Rika dan anggota keluarga yang lain ke dua mobil didepannya.
“Cantik juga kamu….pakai baju
kebaya…eh pengantin…” ujar Rendy sambil tersenyum dan menyalakan mobilnya. Rika
tersipu malu dan hanya membalas ucapan Rendy dengan cubitan kecil dilengannya.
“ Kamu itu nekat dan gila…tau ga
Ren…?” ucap Rika ditengah perjalanan
“Yaaa…minimal nekat dan gilanya
sebanding lah….buat wanita yang cantiknya seperti kamu….” Balas Rendy sambil
tertawa kecil.
“Gombaaaaal bangettttt….!!!” Ujar
Rika di iringi derai tawa mereka bersama.
“Ren….aku sudah bicara sama papa
mama…setelah menikah ini…aku mau kembali ke rumah kontrakan ku yang dulu…kebetulan
aku belum putuskan berhenti sewanya dan sebagian barang-barangku masih disana…sampai
anak ini lahir…dan kamu…ga perlu setiap hari datang atau menginap disitu…karena
aku tahu kondisimu….kamu sudah berkorban banyak buatku…” Ucap Rika sambil
mengelus perutnya.
“Oke….kalau itu keinginanmu….”
Balas Rendy , sambil memarkirkan mobilnya di pelataran parkir Kantor
Urusan Agama.
Agama tidak berlangsung lama, ada sinar wajah lega pada kedua orang tua Rika.
Terutama papanya Rika, dia memeluk erat tubuh Rendy sambil membisikkan
kata-kata ditelinganya “ Terima kasih nak Rendy…terima kasih….” Mata lelaki tua
itu tampak berkaca-kaca menahan haru hatinya.
Setelah dari KUA, mereka
lanjutkan dengan ngobrol-ngobrol dengan hidangan seadanya, kini sudah terdengar
tawa-tawa lepas dari Rika , papa mama nya dan juga anggota keluarga lainnya.
Rika melirik jam dinding diruang
tamu nya lalu memberi isyarat ke arah Rendy, untuk pergi dari situ ke rumah
kontrakan Rika.
“Pak…bu…mmmm sudah sore…kata
Rika….kami mulai hari ini tinggal dirumah Rika yang selama ini ditinggalinya ya
pak..bu?” Ujar Rendy pada kedua orang tua Rika
“Oh iya nak Rendy…kemarin Rika
sudah bicarakan itu sama kami…..Mbok…tolong tas barang barangnya Rika dikamar
dibawa ke mobil ya..?” Jawab mama nya Rika
“Oh iya…kan bulan madu ya?”
celetuk salah seorang kerabat keluarga diiringi tawa oleh yang lain.
“Nisa…..malam ini ayah ga
pulang…kamu bobo sama mama atau mbok Surti ya sayang…?” ucap Rendy di telpon
genggam nya didalam mobil, sesaat setelah meninggalkan rumah keluarga Rika.
“Iya ayah…okay…” terdengar suara anak kecil menggemaskan disebrang sana.
__ADS_1
“Kamu…..?” Ujar Rika sambil
menatap ke arah Rendy.
“Iya….” Jawab Rendy santai,
seolah dia tahu pertanyaan apa yang ada dibenak Rika.
Rumah sewaan Rika, terlihat teduh
dan nyaman, dihalaman nya terdapat beberapa pepohonan rimbun dan dari teras ,
ruang tamu ,kamar , dapur terlihat bersih dan terawatt rapi, Rika ternyata
memang piawai dalam menata rumah dan juga soal kebersihannya.
“Wahhh….nice place….” Ucap Rendy
sambil melihat sekeliling dan menaruh tas –tas barang Rika di dalam kamar.
“Lumayan kan? Ga malu-maluin bawa
pengantin pria kesini..?” ujar Rika sambil tertawa lepas, kesedihan dan
kegalauannya seolah siudah musnah dan sirna.
Rendy ikut tertawa sambil
menggantung jas nya di dalam lemari Rika.
“Aku mau mandi ah Ka…gerah…kamu
ada handuk lagi ga?” Ucap Rendy sambil membuka kancing kemejanya.
“Ada….sebentar….” balas Rika
sambil mencari cari di lemari sebelahnya.
Rendy merasa tubuhnya segar
kembali, setelah mandi, dia menuju sofa ruang tamu yang terdapat televise
sambil menggosok-gosokan handuk di rambutnya yang masih basah. Terdengar suara
air dikamar mandi, rupanya Rikapun ikut mandi setelah Rendy, setelah penat
seharian memakai kebaya dan riasan di wajah dan kepalanya.
“Nih kaosku Ren….nanti kamu masuk
angin ga pake baju gitu….” Ujar Rika sambil menyodorkan kaos miliknya, Rendy
memang tidak membawa kaos miliknya, hanya celana pendek yang ia kenakan didalam
celana panjangnya.
“Oh…oe…makasih….bau cewek ya?”
balas Rendy seraya tertawa kecil.
“ya iyalah….masa bau mas-mas
sih…?” Ujar Rika sewot sambil mencubit pinggang Rendy.
“Ren…..boleh aku bicara jujur…?”
Tiba tiba Rika berbicara dengan mimic wajah serius sambil menatap ke arah Rendy
“apa…?” balas Rendy santai sambil
memindah-mindah kan channel saluran televisi.
“Awal kenal kamu….kesanku kamu
adalah pria sombong….angkuh….egois….ga suka….tapi sejak kamu membelaku sampai
berkelahi dengan Anton…aku mulai kagum sama kamu….malah diam diam rindu sama
kamu….tapi aku tahu….semua itu hanya mimpi bagiku….dan aku
sadar…sesadarnya..bahkan saat kita bersama di Jogja dulu…..dan karena aku
membelamu juga jadi pemicu pertengkaran terakhirku dengan Satria
…..sekarangpun…aku sadar…kamu lakukan semua ini karena kasihan dan karena hati
nuranimu yang baik…..aku ga perduli….ga masalah aku bermimpi saat ini walau
sesaat…walau sebentar….akan aku nikmati mimpiku Ren…..” Ucap Rika lembut lalu
merebahkan kepalanya di dada Rendy.
__ADS_1