CASANOVA SANG PENAKLUK

CASANOVA SANG PENAKLUK
CAMAR


__ADS_3

“Begini Ren….oke kami coba


jelasin ke kamu….dari pada wajahmu kayak Mr.Bean yang lagi bingung gitu…” Ujar


Retno disusul tawa dua wanita cantik ini didepan Rendy.


“Ok…explain to me…” balas Rendy


sambil mencoba duduk lebih rileks sambil terus meminum kopi panasnya.


“Kamu tahu….aku bukan orang atau


wanita yang suka bertele-tele, so aku bicara sama Anita kalau aku sudah


bercerai dan inginkan kamu, tapi aku juga tahu sebagai wanita, Anita juga


inginkan kamu…..hanya kesalahan dia dimasa lalu tidak mampu meminta darimu….”


Retno berhenti sebentar dan melirik ke arah Rendy dan Anita


“Lalu….?” Ujar Rendy masih dengan


wajah yang masih bingung


“So….kami rela berbagi suami


yaitu kamu…as you know…aku juga ga bisa selalu ada dijakarta dan punya beberapa


perusahaan di Makasar sana, dan juga tidak bisa 100% ada untuk Nisa, karena di


Makasar juga ada anak –anaku, sedangkan Anita…bisa berikan waktunya 100% disini


untuk Nisa…win win solution ins’t it?” Ucap Retno serius .


“Hah…?? Gila kalian….kalian


berdua sudah bicara sampai ke arah sana..?” Setengah kaget Rendy mendengar


penjelasan Retno.


“Iya…kita bukan wanita remaja


yang sedang kasmaran Ren….kita berdua memang cinta sama kamu, tapi kita juga


harus logis dalam memandang dan melihat kehidupan kita  masing-masing..” sambung Retno lagi


Mungkin jika dalam keadaan


normal, Rendy akan tersenyum dan bernafas lega, karena dia tidak perlu


menyakiti Retno maupun Anita, bahkan bisa dapatkan semuanya, tapi dia baru saja


menikahi Rika, walaupun dengan niat awal menolongnya, dan entah berlangsung


sementara atau tidak.


“Udahlah…ga usah bingung gitu


Ren…..rileks aja…” tiba – tiba Anita berbisik ditelinganya sambil melingkarkan


lengannya dileher Rendy.


“Iya Ren….anggap aja ini juga


wild fantasy kita bertiga…..” giliran Retno mendekat dan mendaratkan bibirnya


di ibir Rendy yang masih belum hilang kagetnya.


“Mphhhh…ka…liaaan…nanti ada Nisa


dan Mbok Surti…” desis Rendy


“Mbok Surti sedang antar Nisa ke


rumah mama….” Ujar Anita pelan sambil mengelus tengkuk leher Rendy.


Dua wanita dewasa dan cantik itu


memberi rangsangan-rangsangan di bagian tubuh Rendy yang membuat Rendy melayang


dan akhirnya ikut hanyut bersama mereka.


Retno dengan penuh gairah *******


bibir Rendy sambil membuka kancing kemeja laki-laki itu satu persatu, sedangkan


Anita membantu sudah berlutut didepan Rendy dan perlahan membuka celana

__ADS_1


panjangnya.


Rendy merasa apa yang terjadi


saat ini seperti mimpi, dia tidak pernah menyangka akan mengalaminya, karena


kejadian semacam ini hanya dapat dia lihat di film-film orang dewasa yang


pernah di tontonnya.


Mereka bertiga pun akhirnya


hanyut dan larut dalam gairah liar dan fantasi mereka, tak hanya di sofa ruang


tamu, mereka juga lanjutkan gelora asmara mereka ke kamar tidur Rendy.


Nafas Rendy terengah-engah


setelah sekitar 1 jam bergumul dengan dua wanita itu, bak Raja


dikerajaan-kerajaan zaman dahulu, Rendy diapit dan dipeluk oleh dua wanita


sekaligus di sisi kanan dan kirinya. Namun Anita segera bangkit dan berpakaian


setelah mendengar suara Anisa diluar kamar.


Tak lama kemudian disusul Retno,


lalu sebelum keluar kamar, dia mengecup kening Rendy dan berbisik “ Aku pulang


ya Ren…? Thanks for everything…see you later honey….” Lalu Retno menghilang


dibalik pintu.


Rendy pun tak kuasa menahan rasa


lelah dan kantuknya, lalu dia terlelap hingga pagi menjelang.


Pagi itu saat keluar kamar dan


bersiap kerja, Rendy duduk untuk menyantap sarapan dan secangkir kopi yang


sudah disiapkan Anita sejak tadi. Dirinya merasa sedikit kikuk saat melihat


Anita, jika mengingat kejadian kemarin.


Anita hanya tersenyum melihat


dan berbisik diteliganya “ Kamu hebat….wild …dan sanggup layani aku dan


Retno….” Seraya tersungging senyuman di sudut bibirnya yang indah.


Rendy melirik kea rah Anita, dia membalas


senyuman wanita itu dan mencubit pelan lengannya sambil balas berbisik..”Nakal


kamu…….”


Siang itu, Rendy kurang dapat


berkosentrasi ke pekerjaannya, masih saja terbayang kejadian kemarin antara dia


, Retno dan Anita, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.


Karena hal semacam itu biasanya hanya menjadi imajinasi dan khayalan-khayalan


liar lelaki normal dan  biasa seperti


dirinya.


Lamunannya dikejutkan suara pesan


masuk di handphonenya, “BANG…APA KABAR? UDAH LAMA ABANG GA KONTAK LENI


..APALAGI MAIN KERUMAH LENI LAGI…LENI KANGEN…”dibacanya pesan yang ternyata lagi-lagi


dari seorang wanita, Leni…sosok wanita sederhana dan selalu tegar dalam


menghadapi kerasnya hidup di Jakarta.


“IYA..MAAF YA? ABANG SEDIKIT


SIBUK…NANTI JIKA ABANG SENGGANG, ABANG MAMPIR KE RUMAHMU..” Rendy membalas


singkat pesan Leni.


“BAIK BANG…LENI TUNGGU LHO….” Tak

__ADS_1


lama pesan dari Rendy langsung mendapat balasan.


Rendy memutuskan untuk keluar


kantor, daripada otaknya tak mampu fokus kepekerjaan saat ini, dia ingin menyendiri


sesaat, dan yang terbesit di kepalanya saat ini adalah ke pantai Ancol Jakarta.


Sore itu Rendy memesan segelas


kopi sambil melepaskan pandangannya ke laut lepas, dan diiringi ombak-ombak


kecil yang seakan berlomba menuju bibir pantai dan terpecah menjadi buih-buih


bersama pasir dan karang.


Dihelanya nafas panjang sambil


menghisap rokoknya, entah ini kutukan ataukah anugrah, Rendy merasa selalu saja


dikelilingi oleh para wanita, padahal dia tidak pernah berniat sekalipun dalam


hidupnya untuk sengaja mencari apalagi bergonta ganti pasangan. Dikala dia akan


fokus padan pekerjaan dan kehidupan pribadinya dengan kesendirian, pasti selalu


saja akan hadir sosok seorang wanita di jalur kehidupannya, bahkan jika sedikit


saja dia membuka hati ataupun ruang, maka sosok-sosok lainnya akan bermunculan


tanpa pernah dia duga dan bisa dia hindari.


Hati kecilnya pun mengakui bahwa


dia memang bukan laki-laki baik, dan tidak bisa tegas dalam berprinsip , juga


bukan tipikal laki-laki setia. Kembali di hisapnya rokok kegemarannya, asap


putih mengepul di depan wajahnya dan sedeyik kemudian tersapu angin pantai.


Ditatapnya perahu perahu yang


tertambat di dermaga tua dikejauhan, mereka terombang-ambing deburan ombak yang


datang silih berganti, mereka hanya tergantung pada seutas tambang, andai saja


tak terikat, pasti perahu-perahu itu sudah jauh terbawa ombak dan terdampar


dilautan luas.


Rendy merasa dirinya bagaikan


perahu-perahu kecil dikejauhan sana, terombang-ambing dan dia hanya bertahan


dengan seutas tali tipis yang ia coba genggam erat-erat, dirinya mencoba


bertahan sekuat tenaga dengan segala akal sehatnya dan sisa-sisa tenaga yang


dia punya, agar tali digenggamannya tak putus dan membuat dirinya terlempar


lalu terdampar di tengah luasnya samudera kehidupan.


CAMAR


Celotehmu riuh ditengah deburan


ombak


Paruh-paruh kecilmu mampu


menghujam tajam dan mengelak


Kepakan sayapmu terbang dengan


bebas


Arungi lat biru sampai kau puas


Tiada yang tahu kapan kau pulang


ke rumah


Mereka hanya tahu kapan dan


dimana kau singgah


Aku mungkin layaknya camar….

__ADS_1


Hanya singgah di mana kau merasa


nyaman dan bersandar


__ADS_2