
Retno mengambil sebatang rokok dimejanya dan
menyalakannya, lalu berdiri menghadap jendela ruangannya, melihat gedung-gedung
tinggi menjulang di tengah kota metropolitan.
“Kamu merokok sekarang Ret…?” ucap Rendy memecah
keheningan .
“Ya…kalau kamu bisa…kenapa aku ngga..?” jawab Retno
dengan nada sinis
“Kekurangan aku apa Ren..? sehingga kamu memutuskan
menikahi wanita lain…???” uca Retno seraya mengepulkan asanya dan masih
menatapp keluar jendela ruang kerjanya.
“Kamu wanita yang nyaris sempurna Ret…kamu
cantik….berkecukupan dalam hal materi…smart dan penuh kharisma di hadapan orang
banyak, seringkali aku merasa tidak pantas ada disisimu…” ujar Rendy ,
kata-kata itu meluncur begitu saja spontan dari mulutnya.
“Jadi itu alasanmu menikahi Rika…? “ Balas Retno lagi
dengan nada sedikit tinggi
“Alasanku sudah aku jelaskan tadi…terserah kamu percaya
atau tidaknya, atau masuk akal bagimu atau ngga nya…” Jawab Rendy cepat
“Kamu tahu alasanku kuat dan mempercepat proses
perceraianku dengan Brian…? Karena …kamu…” terdengar Retno menghela nafas
panjang.
Rendy tertegun dan hanya memilih diam, baru kali ini dia
kehabisan kata kata di depan seorang wanita.
“Kenapa kamu ga bisa banyak bicara seperti biasanya?
Kehabisan kata kata kamu ya? “ Retno berbalik dan menatap tajam Rendy, seolah
wanita ini tahu apa isi kepala laki-laki itu.
“Lalu maumu aku harus bagaimana Ret..?” akhirnya kata
kata itu dipilih Rendy untuk keluar dari mulutnya.
“Aku bukan Anita yang akan menerima semua apa yang kamu
lakukan Ren….ceraikan Rika secepatnya atau…..” ucapan Retno terhenti sesaat
“Atau…?” ujar Rendy sambil menatap mata Retno menunggu
kalimat selanjutnya.
“Atau hubungan kita berakhir sampai disini….” lanjut
Retno.
Mendengarnya Rendy hanya bisa menghempaskan tubuhnya
disandaran kursi sambil menghela nafas panjang, lalu dia ikut mengeluarkan
sebatang rokok dari kantong celananya dan menyulutnya guna meredakan suasana
hatinya.
“Tapi aku harus menunggu anak yang dikandung Rika lahir
Ret…” Ucap Rendy
“Lalu seiring waktu perasaanmu dan dia semakin dalam,
dengan status kalian yang suami-istri ? dan kamu akan semakin sulit mengambil
keputusan, lalu pada akhirnya ego laki-laki ingin meraih semuanya ??? ….ngga
Ren…kalau kamu memang tidak bisa, gpp….I could run my life without
you….sekarang keluar dari ruangan ini…aku ga mau melihatmu lagi….kapanpun…dimanapun…!!!”
tiba tiba Retno bersuara tinggi dengan wajah penuh emosi dan menunjuk kearah
pintu ruangan.
__ADS_1
Rendy terlihat sedikit kaget dan tidak menyangka, seumur
hidupnya baru kali ini dia dibentak dan diusir seorang wanita. Namun Rendy
berusaha meredam emosi juga ego kelaki-lakiannya. Dia hanya diam, mematikan
rokok di asbak yang terletak dimeja kerja Retno lalu berdiri dan hanya menata
tajam kea rah Retno, lalu berbalik badan dan melangkah pergi keluar ruangan.
Seiring suara pintu tertutup, air mata Retno berurai ,
dikepalkan jemarinya dan memukul-mukul jendela kaca. Dia memang wanita mandiri dan sudah terbiasa menghadapi situasi
apapun, namun dia tetaplah seorang wanita, yang jauh dilubuk harinya , penuh
kelembutan dan perasaan yang peka. Dia merasa ada sesuatu yang hilang saat
laki-laki tampan itu melangkah pergi, ada rasa sakit luar biasa yang dia tak
pernah rasakan sebelumnya.
Rendy memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, dia tahu
ngga akan bisa fokus sementara dipikirannya masih terngiang suara Retno belasan
menit yang lalu. Dia belokkan mobilnya kearah café tempat dia biasa meminum
secangkir kopi dan melepas penat seusai kerjaan yang menumpuk.
Café itu terletak dipinggiran kota Jakarta, dan tempatnya
tidak selalu ramai, hanya pelanggan-pelanggan tertentu termasuk Rendy yang
mampir dan habiskan waktu di café tersebut.
“Mau pesan apa Pak…? “ suara seorang wanita sambil
memegang daftar menu dan meletakkannya dimeja temat Rendy duduk.
“Black coffee tanpa gula…..” Jawab Rendy tanpa melihat
menu maupun wajah pelayan wanita itu, karena dia sudah hampir hafal menu yang
ada di café itu.
“Oke …baik pak….Cuma kalau bisa wajahnya juga jangan
pahit seperti raut mukanya ya Pak Rendy…” balas pelayan wanita itu sambil
wanita tersebut, lalu sedikit mengeryitkan dahinya , seolah dia pernah melihat
wajah pelayan wanita ini.
“Gue Emy …teman SMA lu dulu…..ya udah gue siapin pesanan
kopinya dulu….” Balas wanita yang ternyata adalah teman Rendy semasa sekolah
dulu.
Rendy mencoba mengingat-ingat wanita yang barusan
menyapanya itu. Belum selesai dia mencoba mengingatnya, wanita tadi sudah
kembali datang sambil membawa secangkir kopi hitam kegemarannya. “Udah…ga usah
bingung dan dipikirin….saat SMA …kita berbeda jurusan, tapi siapa sih yang ga
kenal Rendy Putra Alamsyah..? cowok idola seantero sekolah?” Ucap wanita itu
lagi sambil cekikikan.
“Mmmm…no…gue inget….lu Emy yang pinter nyanyi dan suka nyanyi
kalau di sekolah ada acara pentas kan? Denger dari temen-temen bukannya lu
tinggal di Sleman Jogja My..?” ingatan Rendy mulai jelas.
“iya….hijrah cari seember nasi…..gue juga baru sebulan
kerja disini” jawab Emy lagi dengan mimik muka yang lucu.
“Oh pantes…gue sering kesini kalau waktu luang atau kalo
lagi penat my…tapi ga pernah liat lu soalnya…”
Sore itu mereka lewati dengan cerita-cerita masa lalu
saat mereka masih duduk dibangku sekolah dan sesekali terdengar tawa keras
mereka berdua. Tak terasa hari sudah berganti malam, lampu-lampu remang café
menambah keindahan suasana café malam itu.
__ADS_1
“Eh sorry nih Ren….bukannya bosen atau ga mau nemenin
ngobrol, tapi si bos sudah kasih kode kalau sekarang saatnya ganti profesi dari
waitress ke singer….” Ucap Emy sambil tertawa kecil lalu menuju panggung kecil
di sudut café. Seorang gitaris sudah siap disana.
Suara Emy memang merdu dank has, sejak SMA Rendy selalu
terpukau jika dia tampil di pentas dan menikmati suara Emy saat bernyanyi.
Untuk sesaat Rendy lupa akan segala kegalauan hatinya
hari ini, dia merasa terhibur dengan cerita-cerita nostalgia sekolah dimasa
lalu dan sekarang menikmati suara merdu Emy yang dia suka sejak duduk dibangku
sekolah dulu. Rendy memanggil pelayan lain rekan kerja emy, dia kembali memesan
makanan dan minuman, karena perutnya mulai terasa lapar. Setelah melantunkan
beberapa lagu, Emy berisitrahat dan menghampiri kembali Rendy yang baru saja
selesai menyantap makan malamnya.
“Wah sorry nih My…gue ga nawarin makan…abis laper…dan lu
lagi nyanyi….” Ujar Rendy
:Santai aja Ren…gue udah makan kok di belakang
tadi….masih kenyang” jawab Emy
“Suara lu tambah keren aja MY…dari dulu gue suka
dengernya…” imbuh Rendy
“Wah….terima kasih banget…tersanjung banget denger pujian
dari seorang Rendy Putra Alamsyah…” balas Emy sambil tertawa lebar.
“Oh ya My…sekarang tinggal di daerah mana…?” sambung
Rendy
“Ngontrak di daerah Lebak Bulus Ren…biar ga terlalu jauh
ke sini…”
“Oh…searah dong…gue di tangerang selatan…kalau pulang
emang jam berapa..?” lanjut Rendy
“Hari ini gue mulai dari pagi…jadi sebentar lagi sudah
jam nya pulang, kalau masuk sore…nah abru deh tuh PR pulangnya bisa jam 11
malam…” balas Emy
“Lalu pulangnya dijemput suami My…?” Ujar Rendy
“Suami gue di Sleman Ren….dia kerja sama Bu de nya, gue hijrah
buat nambah income….gue pergi-pulang naik ojek online…” jelas Emy
‘Oh…kalau memang pulangnya sebentar lagi…bareng gue aja
mau ga?...mumpung searah…” Rendy menawarkan diri.
“Wah boleh juga tuh….oke…gue rapih-rapih dulu ya?” Ucap
Emy dan dibalas dengan anggukan Rendy
Sepanjang perjalanan , mereka didalam mobil kembali
saling bercerita mengenai masa sekolah maupun perjalanan hidup masing-masing.
“Kita udah sampai Ren…..kontrakan gue masuk ke gang yang
itu, samping rumah yang cat hijau….thanks ya? Udah dikasih tebengan…” Ucap Emy
sambil tersenyum manis sebelum keluar dari mobil.
“Sama-sama My…oh ya My…boleh minta no WA ga? Kapan waktu
kalau lagi luang dan suntuk mana tahu bisa ketemu dan ngobrol-ngobrol lagi sama
lu….” Ujar Rendy sebelum Emy membuka pintu mobil. Emy menyebutkan sederet nomor
dan Rendy menyimpan di telpon genggamnya.
“Sekali lagi thanks ya Ren…” Ucap Emy lagi
__ADS_1
“Sama-sama My…”