CASANOVA SANG PENAKLUK

CASANOVA SANG PENAKLUK
BERAKHIR SAMPAI DISINI


__ADS_3

Retno mengambil sebatang rokok dimejanya dan


menyalakannya, lalu berdiri menghadap jendela ruangannya, melihat gedung-gedung


tinggi menjulang di tengah kota metropolitan.


“Kamu merokok sekarang Ret…?” ucap Rendy memecah


keheningan .


“Ya…kalau kamu bisa…kenapa aku ngga..?” jawab Retno


dengan nada sinis


“Kekurangan aku apa Ren..? sehingga kamu memutuskan


menikahi wanita lain…???” uca Retno seraya mengepulkan asanya dan masih


menatapp keluar jendela ruang kerjanya.


“Kamu wanita yang nyaris sempurna Ret…kamu


cantik….berkecukupan dalam hal materi…smart dan penuh kharisma di hadapan orang


banyak, seringkali aku merasa tidak pantas ada disisimu…” ujar Rendy ,


kata-kata itu meluncur begitu saja spontan dari mulutnya.


“Jadi itu alasanmu menikahi Rika…? “ Balas Retno lagi


dengan nada sedikit tinggi


“Alasanku sudah aku jelaskan tadi…terserah kamu percaya


atau tidaknya, atau masuk akal bagimu atau ngga nya…” Jawab Rendy cepat


“Kamu tahu alasanku kuat dan mempercepat proses


perceraianku dengan Brian…? Karena …kamu…” terdengar Retno menghela nafas


panjang.


Rendy tertegun dan hanya memilih diam, baru kali ini dia


kehabisan kata kata di depan seorang wanita.


“Kenapa kamu ga bisa banyak bicara seperti biasanya?


Kehabisan kata kata kamu ya? “ Retno berbalik dan menatap tajam Rendy, seolah


wanita ini tahu apa isi kepala laki-laki itu.


“Lalu maumu aku harus bagaimana Ret..?” akhirnya kata


kata itu dipilih Rendy untuk keluar dari mulutnya.


“Aku bukan Anita yang akan menerima semua apa yang kamu


lakukan Ren….ceraikan Rika secepatnya atau…..” ucapan Retno terhenti sesaat


“Atau…?” ujar Rendy sambil menatap mata Retno menunggu


kalimat selanjutnya.


“Atau hubungan kita berakhir sampai disini….” lanjut


Retno.


Mendengarnya Rendy hanya bisa menghempaskan tubuhnya


disandaran kursi sambil menghela nafas panjang, lalu dia ikut mengeluarkan


sebatang rokok dari kantong celananya dan menyulutnya guna meredakan suasana


hatinya.


“Tapi aku harus menunggu anak yang dikandung Rika lahir


Ret…” Ucap Rendy


“Lalu seiring waktu perasaanmu dan dia semakin dalam,


dengan status kalian yang suami-istri ? dan kamu akan semakin sulit mengambil


keputusan, lalu pada akhirnya ego laki-laki ingin meraih semuanya ??? ….ngga


Ren…kalau kamu memang tidak bisa, gpp….I could run my life without


you….sekarang keluar dari ruangan ini…aku ga mau melihatmu lagi….kapanpun…dimanapun…!!!”


tiba tiba Retno bersuara tinggi dengan wajah penuh emosi dan menunjuk kearah


pintu ruangan.

__ADS_1


Rendy terlihat sedikit kaget dan tidak menyangka, seumur


hidupnya baru kali ini dia dibentak dan diusir seorang wanita. Namun Rendy


berusaha meredam emosi juga ego kelaki-lakiannya. Dia hanya diam, mematikan


rokok di asbak yang terletak dimeja kerja Retno lalu berdiri dan hanya menata


tajam kea rah Retno, lalu berbalik badan dan melangkah pergi keluar ruangan.


Seiring suara pintu tertutup, air mata Retno berurai ,


dikepalkan jemarinya dan memukul-mukul jendela kaca. Dia memang wanita  mandiri dan sudah terbiasa menghadapi situasi


apapun, namun dia tetaplah seorang wanita, yang jauh dilubuk harinya , penuh


kelembutan dan perasaan yang peka. Dia merasa ada sesuatu yang hilang saat


laki-laki tampan itu melangkah pergi, ada rasa sakit luar biasa yang dia tak


pernah rasakan sebelumnya.


Rendy memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, dia tahu


ngga akan bisa fokus sementara dipikirannya masih terngiang suara Retno belasan


menit yang lalu. Dia belokkan mobilnya kearah café tempat dia biasa meminum


secangkir kopi dan melepas penat seusai kerjaan yang menumpuk.


Café itu terletak dipinggiran kota Jakarta, dan tempatnya


tidak selalu ramai, hanya pelanggan-pelanggan tertentu termasuk Rendy yang


mampir dan habiskan waktu di café tersebut.


“Mau pesan apa Pak…? “ suara seorang wanita sambil


memegang daftar menu dan meletakkannya dimeja temat Rendy duduk.


“Black coffee tanpa gula…..” Jawab Rendy tanpa melihat


menu maupun wajah pelayan wanita itu, karena dia sudah hampir hafal menu yang


ada di café itu.


“Oke …baik pak….Cuma kalau bisa wajahnya juga jangan


pahit seperti raut mukanya ya Pak Rendy…” balas pelayan wanita itu sambil


wanita tersebut, lalu sedikit mengeryitkan dahinya , seolah dia pernah melihat


wajah pelayan wanita ini.


“Gue Emy …teman SMA lu dulu…..ya udah gue siapin pesanan


kopinya dulu….” Balas wanita yang ternyata adalah teman Rendy semasa sekolah


dulu.


Rendy mencoba mengingat-ingat wanita yang barusan


menyapanya itu. Belum selesai dia mencoba mengingatnya, wanita tadi sudah


kembali datang sambil membawa secangkir kopi hitam kegemarannya. “Udah…ga usah


bingung dan dipikirin….saat SMA …kita berbeda jurusan, tapi siapa sih yang ga


kenal Rendy Putra Alamsyah..? cowok idola seantero sekolah?” Ucap wanita itu


lagi sambil cekikikan.


“Mmmm…no…gue inget….lu Emy yang pinter nyanyi dan suka nyanyi


kalau di sekolah ada acara pentas kan? Denger dari temen-temen bukannya lu


tinggal di Sleman Jogja My..?” ingatan Rendy mulai jelas.


“iya….hijrah cari seember nasi…..gue juga baru sebulan


kerja disini” jawab Emy lagi dengan mimik muka yang lucu.


“Oh pantes…gue sering kesini kalau waktu luang atau kalo


lagi penat my…tapi ga pernah liat lu soalnya…”


Sore itu mereka lewati dengan cerita-cerita masa lalu


saat mereka masih duduk dibangku sekolah dan sesekali terdengar tawa keras


mereka berdua. Tak terasa hari sudah berganti malam, lampu-lampu remang café


menambah keindahan suasana café malam itu.

__ADS_1


“Eh sorry nih Ren….bukannya bosen atau ga mau nemenin


ngobrol, tapi si bos sudah kasih kode kalau sekarang saatnya ganti profesi dari


waitress ke singer….” Ucap Emy sambil tertawa kecil lalu menuju panggung kecil


di sudut café. Seorang gitaris sudah siap disana.


Suara Emy memang merdu dank has, sejak SMA Rendy selalu


terpukau jika dia tampil di pentas dan menikmati suara Emy saat bernyanyi.


Untuk sesaat Rendy lupa akan segala kegalauan hatinya


hari ini, dia merasa terhibur dengan cerita-cerita nostalgia sekolah dimasa


lalu dan sekarang menikmati suara merdu Emy yang dia suka sejak duduk dibangku


sekolah dulu. Rendy memanggil pelayan lain rekan kerja emy, dia kembali memesan


makanan dan minuman, karena perutnya mulai terasa lapar. Setelah melantunkan


beberapa lagu, Emy berisitrahat dan menghampiri kembali Rendy yang baru saja


selesai menyantap makan malamnya.


“Wah sorry nih My…gue ga nawarin makan…abis laper…dan lu


lagi nyanyi….” Ujar Rendy


:Santai aja Ren…gue udah makan kok di belakang


tadi….masih kenyang” jawab Emy


“Suara lu tambah keren aja MY…dari dulu gue suka


dengernya…” imbuh Rendy


“Wah….terima kasih banget…tersanjung banget denger pujian


dari seorang Rendy Putra Alamsyah…” balas Emy sambil tertawa lebar.


“Oh ya My…sekarang tinggal di daerah mana…?” sambung


Rendy


“Ngontrak di daerah Lebak Bulus Ren…biar ga terlalu jauh


ke sini…”


“Oh…searah dong…gue di tangerang selatan…kalau pulang


emang jam berapa..?” lanjut Rendy


“Hari ini gue mulai dari pagi…jadi sebentar lagi sudah


jam nya pulang, kalau masuk sore…nah abru deh tuh PR pulangnya bisa jam 11


malam…” balas Emy


“Lalu pulangnya dijemput suami My…?” Ujar Rendy


“Suami gue di Sleman Ren….dia kerja sama Bu de nya, gue hijrah


buat nambah income….gue pergi-pulang naik ojek online…” jelas Emy


‘Oh…kalau memang pulangnya sebentar lagi…bareng gue aja


mau ga?...mumpung searah…” Rendy menawarkan diri.


“Wah boleh juga tuh….oke…gue rapih-rapih dulu ya?” Ucap


Emy dan dibalas dengan anggukan Rendy


Sepanjang perjalanan , mereka didalam mobil kembali


saling bercerita mengenai masa sekolah maupun perjalanan hidup masing-masing.


“Kita udah sampai Ren…..kontrakan gue masuk ke gang yang


itu, samping rumah yang cat hijau….thanks ya? Udah dikasih tebengan…” Ucap Emy


sambil tersenyum manis sebelum keluar dari mobil.


“Sama-sama My…oh ya My…boleh minta no WA ga? Kapan waktu


kalau lagi luang dan suntuk mana tahu bisa ketemu dan ngobrol-ngobrol lagi sama


lu….” Ujar Rendy sebelum Emy membuka pintu mobil. Emy menyebutkan sederet nomor


dan Rendy menyimpan di telpon genggamnya.


“Sekali lagi thanks ya Ren…” Ucap Emy lagi

__ADS_1


“Sama-sama My…”


__ADS_2