CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 9


__ADS_3

Mohon maaf jika up lama. Adik saya kemarin UTBK di Yogyakarta, dan saya yang menemani jadinya saya tidak up dari kemarin. Fokus muter-muter dengan adik saya. Dan tadi siang saya baru pulang dari Yogya setelah perjalanan sekitar 6 jam dengan kendaraan pribadi. Sekali lagi saya mohon maaf hehe.. Semoga cerita saya tidak membosankan. Sekali lagi saya jelaskan jika mungkin cerita ini tidak panjang, karena saya tidak ahli membuat novel.


HAPPY READING


***


“Engh..”


“Benar-benar kerbau…”


Gadis yang ada di atas kasur menggeliat pelan. Tubuhnya agak sedikit kaku. Dirinya tidur tidak begitu nyenyak.


Ia mengerjapkan matanya pelan. Matanya yang masih separuh terbuka melihat bayangan seseorang yang tinggi besar berdiri didepannya. Apakah itu hantu…?


Deg


Gadis itu tersentak kaget hingga seketika duduk dan membuka matanya penuh.


“Astaga. Kakak mengagetkanku saja. Aku kira hantu!”


“Ck. Kau itu tidur seperti kerbau. Cepat bergegas. Bukankah kau bekerja?”


“Jam berapa sekarang?”


“Jam delapan.”


“APA?????”


--


Delima berjalan keluar apartemen Devano dengan muka ditekuk. Bosnya berjalan santai didepannya menuju parkiran. Delima memegang ujung dress simple yang tadi diberikan oleh Devano. Sebenarnya ia ingin menolak karena bajunya terlihat mahal. Tapi pria itu memaksa sampai mengancam dirinya hingga membuatnya kesal.


“Kak. Aku akan berangkat sendiri saja!”


“Wah! Benarkah?”


Delima mengangguk.


“Padahal jika kau berangkat denganku kau tak akan dihukum oleh Viana.”


“Terimakasih. Tapi, Kak. Kan sudah pernah kubilang…..”


Delima menatap Devano ragu-ragu. “Tidak pantas seorang bos berangkat bersama karyawan rendah sepertiku.” Delima menunduk.


Devano menghela napasnya pelan. “Kau karyawanku. Maka terserah aku. Aku bisa melakukan apapun.” Devano berujar dengan arogan.


“Tapi, Kak. Anu…. Kemarin di depan kantor banyak yang melihat kita berjalan bersama. Dan mereka terlihat tidak suka. Aku…”


“Maka aku akan melarang mereka untuk tidak suka!”


“Kakak!” Delima menatap Devano dengan wajah tidak percaya. “Kenapa kakak seperti ini padaku?!”


Devano menatap Delima tajam hingga membuat Delima merinding. Ia menundukkan kepalanya. Takut.


“Kau karyawanku. Dan semua terserah aku!”


“Tidak bisa, Kak. Jika kakak seperti ini padaku, kakak juga harus melakukannya pada karyawan yang lain.” Delima diam sebentar. “Aku tidak mau imej kakak jelek karena bergaul denganku.”


Setelah mengatakan itu, Delima berjalan menjauh dari apartemen Devano menuju ke halte bus di dekat sana. Biarlah dirinya terlambat. Ia akan memikirkan alasannya terlambat kepada Viana.


“Sudah berani padaku ternyata…” Devano berdesis. Tangannya mengepal kencang. Ia sangat marah. Gadis itu menolak perhatian dari dirinya.


***


Delima duduk di bangku taman belakang tempat kerjanya. Dirinya belum makan siang tapi sudah kesini. Rasanya ia tidak nafsu makan. Ia mengambil ponsel dan men-dial seseorang.


“Halo bu Nisa!” Delima berseru ketika orang yang ia hubungi mengangkat telponnya.


“Nak Delima! Wah, bagaimana kabarmu nak?”


“Baik, Bu. Bu Nisa bagaimana?”


“Baik-baik saja nak! Oh iya! Rumah kamu udah ibu bersihin kemarin. Maaf ya, Nak. Ibu tidak bisa rajin-rajin membersihkan rumahmu.”


“Tidak apa, Bu. Nanti sore Delima kirimkan uang untuk bu Nisa ya. Terimakasih sudah membantu Delima membersihkan rumah.”


“Sama-sama nak! Pulangnya masih lama ya?”


“Delima baru berjalan tiga bulan disini, Bu. Belum bisa mengajukan cuti. Nanti jika sudah bisa, Delima akan pulang. Delima akan bawa oleh-oleh untuk bu Nisa dan Reva.”


“Tidak perlu repot-repot nak. Baik-baiklah disana ya. Jaga dirimu! Jangan sampai terjerumus sesuatu yang tidak baik. Ingat nasihat nenekmu.”


“Iya, bu. Sekali lagi terima kasih, bu Nisa baik banget sama Delima dan nenek. Dan maaf jika kami selalu merepotkan bu Nisa.” Delima berujar sedih. Ia selalu merepotkan tetangga samping rumahnya.


“Tidak masalah, nak. Kamu sudah kuanggap anak sendiri. Ah! Sudah dulu ya. Ibu ada tamu.”


“Iya, bu. Terimakasih.”


“Tutup ya..”

__ADS_1


TUUUT


Delima memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dirinya termenung. Bosnya terlihat sangat marah tadi pagi karena dirinya menolak ajakannya. Tapi kenapa sih bosnya itu harus marah? Bukankan dirinya benar? Tidak pantas jika karyawan rendahan berangkat bersama bosnya ke kantor. Kemarin saja banyak yang menatap aneh pada dirinya dan bosnya.


“Kak, Devano itu aneh sekali.”


“Huft… Aku harus membuatkannya kopi sekarang.”


Delima masuk kembali kedalam kantor. Menuju ruangan tempat ia biasa membuatkan kopi untuk bosnya. Ia melakukannya dengan lemas. Ia akan bertemu dengan Devano yang tadi pagi terlihat marah padanya. Setelah kopi yang dibuatnya selesai, ia meletakkan di atas nampang beserta setoples camilan. Ia berjalan pelan menuju ruangan bosnya. Setelah sampai ia masuk dan menemukan Deby yang sedang berkutat dengan setumpuk dokumen.


“Bu, Saya mau mengantar kopi.”


“Ya masuk saja.” Deby menjawab tanpa menatap Delima.


CKLEK


Delima masuk ke dalam ruangan dan melihat dua orang pria disana. Yang satu berdiri di depan meja sang bos sambil memegang tabletnya. Dan bosnya sendiri duduk di singgasananya.


“Se-selamat siang. Saya mengantar kopi untuk Bapak Devano.” Delima berkata lirih sambil menunduk. Ia tidak mau menatap kedua pria didepannya.


“Taruh disana. Dan segeralah keluar dari ruanganku.” Suara berat yang ia hafal, terdengar dingin. Tidak seperti biasanya. Delima bergeming. Devano sepertinya masih marah.


“TARUH DISANA!!!” Delima tersentak kaget. Ia segera meletakkan kopi dan camilan di meja sofa dengan gemetar. IA DIBENTAK!


Baru kali ini dirinya dibentak seperti itu. Dibentak seperti itu mebuatnya kaget dan hatinya berdenyut.


Beginikah bekerja di kota?


Matanya berkaca-kaca. Delima menyadari jika dirinya begitu lemah. Dirinya selalu disayangi oleh nenek dan tetangganya dulu. Tapi Delima sadar, ini bukanlah kampungnya. Ini kota besar, dan kehidupan di kota besar pasti lebih keras kan? Tapi Devano……. Kemarin-kemarin belum pernah membentaknya seperti itu. Hanya di awal bekerja, itu saja tidak sekeras tadi.


“Se-selamat me-nikmati, Pak. Saya permisi.” Delima berlari keluar dari ruangan yang ber-aura mengerikan itu. Di dinding koridor dirinya menyandarkan tubuhnya. Memegang jantungnya yang berdenyut.  Ia memejamkan matanya, meloloskan air mata yang sejak tadi ditahannya.


“Sakit banget..” ucapnya lirih.


***


“Kau.. Kau membentaknya, Dev? Dia sampai pucat begitu” Wira bertanya heran.


“Bukan urusanmu.” Devano menjawab dengan dingin.


“Kau kenapa? Tidak biasanya? Bukankah kau menyukai gadis itu?”


“Bukan urusanmu.”


“Haah! Aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian. Tapi kau sudah menyakitinya, Dev. Aku melihat mata gadis itu berkaca-kaca setelah kau membentaknya.”


Devano terlihat tidak peduli. Namun dalam hati, dirinya menyesal karena sudah membentak gadis itu. Ia marah dan kesal. Campur aduk karena gadis itu menolak perhatian dari dirinya. Devano menatap Wira yang masih berdiri didepannya sambil memegang tablet. Sepertinya mengecek jadwalnya.


“Ya?”


“Apakah salah jika seorang CEO berangkat bekerja bersama dengan seorang karyawan biasa?”


“Hmm. Tentu saja. Pasti akan ada berita panas nantinya.”


“Maksudmu?”


“Ya. Berita HOT. Pasti akan cepat menyebar, dan yang paling dirugikan…..” Wira memajukan badannya. “Karyawan biasa itu..” lanjutnya setengah berbisik. Wira kembali menegakkan badannya. Melirik Devano yang terlihat melamun. Wira menyeringai.


“Baiklah! Jadwal hari ini kosong. Rapatnya diundur besok karena CEO Perusahaan L sedang sakit. Dan mereka meminta untuk diganti hari. Apakah kau mengijnkannya?”


“Ya…” Pria itu menjawab sambil melamun. Sebenarnya ia tidak mendengarkan penjelasan asistennya tadi.


“Ahsiaaap~~~”


***


“Kamu kenapa, Del? Sakit? Kok pucet.”


“Gak kenapa-kenapa, Nin. Tadi cuma kepanasan aja di taman. Aku belum minum.”


“Oh. Nih minum.” Nina menyodorkan air mineral yang kebetulan dibawanya.


“Gak usah, Nin. Itu kan punyamu. Nanti aku ambil sendiri aja.”


“Oke. Baik-baik, Del. Kalau sakit, ke dokter oke? Nanti aku temenin. Panggil aja.”


“Iya. Makasih ya..”


Nina pergi dari ruang OG/OB meninggalkan Delima yang melamun. Dirinya merasa pusing.


“Kayaknya gara-gara kepanasan..” gumamnya. Ia mengambil gelas dan menuangkan air putih dari galon. Meminumnya cepat. Ini sudah sore dan pekerjaannya telah selesai. Saat ini dirinya merasa lemas dan tubuhya terasa tidak enak. Sendi-sendinya mulai terasa pegal dan kepalanya lumayan pusing.


“Kayaknya emang kelamaan panasan.. iya panasan..”


Ia memutuskan untuk tidak bekerja di apartemen Devano hari ini. Ia mengambil ponselnya di dalam saku. Mengetikkan sebuah pesan pada bosnya.


To : Pak Bos


Maaf, Kak. Aku izin hari ini. Aku ingin beristirahat di kontrakan.

__ADS_1


***


“Apa-apaan dia? Berani sekali? Apa dia menghindariku?” gumam Devano setelah membaca sebuah pesan dari Delima.


Dirinya menghela nafas. Devano memikirkan sesuatu.


Apakah gadis itu tadi menangis?


Apakah dia baik-baik saja?


Kenapa gadis itu tidak suka dengan bentuk perhatian darinya selama ini?


Apakah benar jika masalahnya adalah kedudukan?


Tapi bahkan dia tidak memikirkan soal kedudukan itu! Untuk apa?


Devano menghela napasnya untuk kesekian kalinya. Ia mengaku salah. Ia mengaku! Ia sudah membentak gadis itu. Tidak seharusnya ia membentaknya tadi! Iya kan? Seharusnya dia memahami gadis itu!


Dirinya kembali mengambil berkas yang masih cukup menumpuk. Berkas-berkas sialan itu menunggu goresan indah dari tangannya. Tanda tangan.


Devano selesai dua jam kemudian. Ia melihat ke arah jendela ruangannya. Sudah petang ternyata. Dan hujan.


Apakah gadis itu sudah pulang?


Gadis itu hari ini izin tidak ke apartemennya.


Devano mengemasi laptop dan beberapa dokumen yang belum ditandatangani. Kemudian keluar dari ruangannya menuju parkiran. Ia masuk ke dalam mobil mewahnya, menyalakannya kemudian mobil tersebut berjalan meninggalkan perusahaan miliknya.


Hujan lumayan deras malam ini. Devano membanting stir ke kanan. Bukan arah ke apartemennya! Dia ingin ke kontrakan Delima. Menanyakan kenapa hari ini gadis itu izin.


Sesampainya di lokasi, Devano memarkirkan mobilnya di depan gang karena mobilnya tidak bisa masuk. Ia keluar dan membuka payungnya kemudian berjalan ke arah kontrakan Delima. Jasnya sudah ia buka dan ia tinggalkan di mobil, begitu juga dengan tasnya. Sesampainya disana, dirinya melihat salah satu jendela kontrakan itu tersinari lampu. Artinya gadis itu sudah pulang dan dia ada di dalam kamarnya. Ia melihat sekeliling. Sepertinya kontrakan ini semuanya kosong dan hanya gadis ini penghuninya. Tidak ada gerbang dan pagar. Dirinya sudah beberapa kali kesini, namun tidak tahu jika hanya Delima yang menempati salah satu kamar disini. Ketika mengantar Delima malam itu, ia tidak memperhatikan. Dan ketika menjemputnya di pagi hari dia tidak tahu jika kamarnya yang lain ternyata kosong.


Ia berjalan menuju pintu paling ujung disebelah kiri. Mengetuknya pelan.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam.


Apakah gadis ini benar-benar menghindarinya?


Devano kembali mengetuk pintu didepannya. Namun hasilnya sama. Tidak ada jawaban dari pemiliknya. Dirinya tidak sabar dan memegang knop pintu, memutarnya dan…


“Tidak dikunci. Bahaya sekali.”


Devano membuka pintu kontrakan Delima dengan pelan.


Matanya membulat ketika melihat Delima meringkuk di atas tempat tidurnya. Badannya menghadap ke arah pintu sehingga Devano melihat jelas keadaan gadis itu. Pucat. Mengigil. Dan seluruh tubuhnya basah karena keringat. Mata gadis itu terpejam dan dahinya mengkerut.


“Astaga!”


Devano langsung membuka sepatunya dan masuk ke dalam kamar yang ukurannya tidak terlalu besar itu. Ia menuju ke tempat tidur dimana Delima membaringkan tubuhnya. Meletakkan tangannya di kening gadis itu.


“Astaga panas sekali! Kau harus ke dokter!”


“Ka… Kakak…” Delima berkata dengan suara yang sangat kecil. Sadar tidak sadar.


“Diamlah.” Devano melihat sebuah lemari di seberang tempat tidur, dekat jendela. Ia membukanya dan mencari sesuatu. Ia menemukan beberapa kain lebar. Entah apa namanya yang jelas ia langsung mengambilnya dan langsung menyelimuti tubuh gadis itu dengan kain yang ia temukan.


Dengan tergesa ia mengambil ponsel di saku celananya. Mencari sebuah kontak disana.


“Lisa, datang ke alamat yang aku kirimkan. SEKARANG! Bawakan air hangat dan handuk kecil sekalian!”


***


Seorang wanita keluar dari kamar Delima. Kemudian menghampiri seorang pria yang menunggu di  teras kontrakan itu.


“Dia hanya demam. Aku sudah mengganti pakaiannya. Obatnya sudah aku taruh di meja. Kenapa kau tidak segera mengganti bajunya bodoh?!” cerocos wanita itu.


Lisa. Dia adalah dokter keluarga Devano. Ia adalah seorang dokter yang dipercaya oleh keluarga Devano sejak dulu. Devano juga menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.


“Kau gila? Aku pria, mana mungkin membuka baju seorang gadis!”


“Ck. Kau ini. Hm.. By the way…” Lisa menatap Devano dengan senyum menggoda. “Dia siapa? Baru kali ini aku memergokimu bersama perempuan loh!”


“Diamlah. Sebaiknya kau pulang, suamimu pasti sudah menunggumu.”


“Hahahaa. Baiklah-baiklah. Jaga dia. Suruh gadis itu meminum obatnya secara teratur. Aku pergi.”


Setelah mengantar Lisa sampai depan gang, Devano kembali ke kontrakan Delima, untung saja hujan sudah reda sehingga ia tidak perlu memakai payungnya.


Devano mengambil handuk di kening Delima, mencelupkan ke dalam baskom berisi air hangat kemudian memerasnya. Ia meletakkan handuk di kening gadis itu. Ia duduk di kursi yang tersedia didalam kamar Delima. Dirinya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kontrakan Delima. Jadi inikah kamar kost? Kontrakan? Ia baru tahu. Ternyata kontrakan lumayan sempit. Hanya muat satu single bed, meja, kursi dan lemari. Dan ada kamar mandi di dalam ruangan itu.


“Kakak..” Delima terbangun. “Kenapa kesini… Sempit..” ucapnya lirih.


“Tidur saja. Kau demam. Untung saja aku kesini.”


“Maaf ya, kak.”


“Untuk apa?”


“Tidak menuruti kakak. Jangan pecat aku ya.” Delima menatap Devano dengan mata sayunya. “Jangan membentakku. Sakit.”

__ADS_1


Jadi gadis ini sakit karena dirinya? Begitukah? Atau bagaimana?


***


__ADS_2