CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 15


__ADS_3

***


Tepat pukul 5 sore, Devano sampai di gang kontrakan Delima. Ia kemudian berjalan menuju kontrakan gadis itu. Sesampainya disana, dirinya melihat Delima yang sedang mengeluarkan sebuah tas gendong ukuran sedang. Sepertinya gadis itu sudah siap.


Devano tersenyum dan mendekati gadis yang sedang menguncir rambutnya.


"Ekhem... Sudah siap? Bawaanmu banyak sekali, Nona."


Delima memutar bola matanya malas.


"Itu isinya barang pribadiku. Yang harus aku bawa. Sisanya hanya beberapa kaos dan gaun... yang pernah Kak Devano belikan untukku."


Delima tersenyum malu.


"Hmm. Baiklah ayo kita berangkat."


"Lalu izin kerjaku bagaimana?"


"Kau pergi denganku. Aku bosmu. Untuk apa takut?"


Delima manggut-manggut mendengar jawaban Devano. Masuk akal.


Merekapun berangkat menggunakan mobil mewah milik Devano.


30 menit mereka masih dalam perjalanan. Delima mulai bosan. Ia membuka ponselnya dan memainkan game disana. Devano yang memperhatikan sejak tadi menyambar ponsel Delima.


"Ponselku!"


"Ponsel macam apa ini?" Devano membolak balikkan ponsel yang menurutnya yaaah tidak ada bagus-bagusnya.


"Tentu saja ponsel. Kakak kita itu apa? Remote?" Delima berkata sebal.


"Kau itu sedikit-sedikit marah" Devano melemparkan ponsel itu ke pangkuan Delima. Dan gadis itu kembali memainkan game di ponselnya.


10 menit kemudian mereka sudah sampai di bandara. Delima yang baru pertama kali menginjak bangunan bernama bandara itu terkagum-kagum dengan desainnya. Saat dirinya melihat ke arah langit, ia melihat pesawat yang sangat besar lalu lalang di udara. Iya. Pesawat yang sering ia lihat di televisi.


"Jangan bengong. Ayo jalan."


Delima tersentak. Ia segera mengikuti Devano dan beberapa orang yang ada di depan mereka.


"Kesini, Tuan."


Devano mengikuto arahan orang yang tadi menuntun.


"Tunggu!" Delima berhenti dan berseru membuat Devano ikut berhenti dan berbalik menatap gadis yang sedari tadi di belakangnya.


"Kak. Bukankah kita harus membeli tiket dahulu? Seperti kalau mau naik kereta atau bus jarak jauh.. maka..."


"Kita tidak perlu beli tiket."


"Hah?"


"Kita akan menaiki pesawat jet pribadi milikku."


"HAH?" Delima membulatkan matanya.


Jet pribadi katanya? Gila. Orang di depannya ini benar-benar orang kaya. Delima merasa semakin minder saja. Padahal dia menyukai pria itu. Eh? Eh? Loh?


Delima menggelengkan kepalanya.


"Kau kenapa?"


"Ti-tidak kenapa-kenapa, Kak. Hahaha." Delima tertawa kikuk.


Saat manik cokelatnya melihat sebuah pesawat, dirinya kembali terpana. Baru kali ini Delima melihat visual pesawat. Sangat besar ternyata.


"Jangan bengong terus, Delimaa..." Devano sangat gemas dengan kelakuan Delima sejak masuk ke bandara. Sepertinya gadis itu merasa takjub.

__ADS_1


"Hehe.." Delima hanya meringis.


Saat masuk ke dalam pesawat. Delima berdebar.


Jadi seperti ini rasanya berada di pesawat. Ia disambut oleh beberapa wanita cantik disana.


"Selamat siang Tuan dan Nona. Silahkan masuk. Untuk barang Tuan dan Nona akan kami bawakan."


Devano yang sejak awal tidak membawa barang apapun langsung masuk ke dalam pesawat. Sedangkan Delima melepaskan ranselnya dan memberikan kepada pramugari disana.


Lagi-lagi Delima dibuat takjub dengan isi pesawat disana.


"Pesawat atau hotel.".


"Kau jangan bengong terus. Cepat duduk. Pesawat akan segera lepas landas. Jika tak duduk kau akan terombang-ambing dan membentur semua barang disini."


Delima begidik. Ia segera duduk di samping Devano. Devano memasangkan sabuk pengaman. Sedangkan Delima merasakan kegugupan. Saat ini bukan gugup karena Devano tapi gugup karena takut. Baru pertama kalinya dia menaiki pesawat.


"Santai saja Delima."


Devano memutar bola matanya malas. Delima benar-benar. Ckckckckck.


Devano tak behenti tertawa. Dirinya sangat geli dengan tingkah gadis disampingnya saat pesawat take off tadi. Gadis itu berteriak dan berteriak 'takut'. Sampai pesawat sudah di udarapun gadis itu masih memejamkan matanya erat. Keringat bercucuran padahal didalam pesawat ada AC.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?!" Delima mulai mengomel.


"Tentu saja. Kau baru pertama kali naik pesawat ya?" Devano berhenti tertawa.


Astaga pria didepannya ini jenis makhluk apa? Tadi tertawa terbahak dan sekarang wajahnya datar.


Delima hanya diam. Sekarang dirinya merasa lapar.


Saat Delima sedang berpikir bagaimana caranya meminta makan, tiba-tiba pramugari datang membawa beberapa hidangan. Meletakkan didepan Delima.


"Makan. Aku tau kau pasti belum makan kan?" Devano membantu memotongkan steak yang ada di depan Delima.


Delima yang memang lapar tanpa ba bi bu langsung menyantap makanan didepannya itu dengan lahap.


"Enaaaaaaakkk~~" Delima memejamkan matanya menikmati surga dunianya.


Sedangkan Devano hanya terkikik geli.


Setelah menghabiskan makanannya Delima mengantuk. Devano yang peka dengan perilaku gadis didepannya langsung mengatakannya.


"Ngantuk ya."


Delima mengangguk pelan. "Berapa lama.."


"Masih 6 jam lagi. Mau tidur? Pusing?" Devano melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkar di pinggang Delima.


Delima mengangguk lagi. "Iya. Pusing."


Dirinya menyandarkan kepalamya di kursi.


"Jangan disini. Berdiri dan ikuti aku."


Delima hanya menurut. Ia berjalan mengikuti Devano dan masuk ke sebuah ruangan yang dibatasi oleh pintu.


Lagi-lagi Delima menganga. Pesawat macam apa ini? Ada kamar di dalam pesawat.


"Masuk dan tidur."


Devano menarik tangan Delima. Membawanya ke tempat tidur yang ada disana.


"Kakak tidak tidur?"


"Hanya ada satu ranjang disini. Kau mau aku juga tidur disana?" Devano menyeringai.

__ADS_1


Delima mendelik dan mengelengkan kepalanya kuat.


"Hahahaha. Santai saja. Aku akan tidur di kursi."


"Tapi.."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau sedikit pucat. Lebih baik kau tidur. Aku akan menyuruh pramugari membawakan obat supaya tidak pusing lagi."


Devano keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Delima disana. Delima langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu. Dan dalam sekejap ia tertidur pulas.


3 jam kemudian pesawat masih berada di atas udara. 3 jam lagi barulah pesawat itu akan mendarat.


Devano ingin ke kamar kecil. Ia kemudian masuk kedalam kamar pesawat karena kamar kecil ada disana.


Devano melirik pada Delima yang tertidur pulas.


Ia mengurungkan tujuannya ke kamar kecil, dan berjalan menuju gadis yang masih bermimpi indah. Ia berjongkok di samping ranjang.


Tersenyum saat melihat wajah damai gadis didepannya.


"Kau semakin galak dan cerewet!"


Devano menyentil pelan kening Delima membuat pemilik kening itu mengeryitkan keningnya.


Setelah puas menatap gadis itu. Devani kembali pada tujuannya yaitu kamar kecil.


***


"Bangun.."


Seseorang mengguncang tubuh Delima yang masih nyaman dalam mimpi.


Guncangan itu membuat tidur nyenyaknya terusik.


Saat dirinya membuka matanya, ia melihat wajah seseorag didepannya.


Matanya membulat. Karena wajah itu sangat dekat.


"Kak Dev." Ucapnya lirih.


"Sudah sampai. Mau tidur sampai kapan, hm?"


"Kakak minggir."


Devano kemudian berdiri dan merapikan bajunya.


Delima menunduk malu. Dirinya tidur seperti kerbau. Bosnya bilang 6 jam pesawat baru sampai. Dan sekarang bosnya bilang jika sudah sampai. Artinya dia tidur 6 jam? Delima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rambutnya yang sudah acak-acakan semakin acak-acakan.


***


Turun dari pesawat, Devano dan Delima sudah dijemput oleh sebuah mobil. Mereka kemudian langsung masuk dan melakukan perjalanan.


"Kita ke hotel dulu. Lusa malam baru ke rumah orang tuaku."


"Kenapa tidak langsung saja, kak?"


"Aku ingin jalan-jalan. Dan sebaiknya kau istirahat. Kau terlihat sedikit pucat. Masih pusing?"


Delima menggeleng. Devano kawatir karena sepertinya Delima mengalami jetlag. Maka dari itu dia memilih ke hotel miliknya di negara itu untuk beristirahat sebentar sebelum datang ke rumah orang tuanya.


Karena perbedaan waktu. Saat ini negara H masih sore. Jadi mereka masih ada waktu untuk jalan-jalan keesokan harinya. Barulah lusa mengunjungi orang tuanya dan menginap disana selama beberapa hari.


Sesampainya di hotel. Pengawal membawa Delima dan Devano ke kamar masing-masing. Merekapun beristirahat dengan tenang. Devano langsung mandi dan memesan makan malam untuk dirinya dan Delima sekaligus. Sedangkan Delima menonton TV.


Devano memesan kamar terpisah karena tidak mungkin jika dia sekamar dengan Gadis yang bukan istrinya. Tapi jika keadaan mendesak, kenapa tidak? Eh?


***

__ADS_1


Mohon maaf soal pembagian waktu. Paham lah ya maksud saya soal perbedaan waktu. Karena biasanya bagian timur waku lebih cepat. Maaf penulis agak oleng 🙏😂😭 karena kurang paham dengan waktu mewaktu. Maaf jika salah. Penulis cuma manusia biasa. Hahaha.


__ADS_2