
“Menjaga? Apa maksudmu, Marvel?” Devano bertanya dengan nada dingin.
Marvel tersenyum. “Menjaga. Yah, menjaganya. Memangnya aku harus menjelaskan secara detail?” Marvel menatap Devano tajam.
Wira melihat kedua sahabatnya saling menatap dengan tatapan tajam, tiba-tiba manjadi takut. Perasaannya tidak enak.
“Kalian ini kenapa sih? Jika ingin bersaing mendapatkan gadis kecil itu, maka bersainglah secara sehat!” Wira menasehati kedua pria jomblo didepannya. “Aku harap ini semua tidak mempengaruhi persahabatan kita.” lanjutnya.
“Tidak akan, Wir. Kau tenang saja. Percayalah padaku. Mau dia atau aku yang berhasil. Tidak akan mempengaruhi persahabatan kita bertiga.” Marvel menepuk pindak Wira yang duduk disampingnya.
“Benarkah?” Devano tersenyum miring.
Marvel tersenyum. “Itu benar. Kau bisa mempercayaiku.”
“Baiklah aku pamit dulu. Ayahku memintaku kembali ke kantor.” Marvel berdiri dari duduknya. Kemudian membetulkan jasnya yang kusut.
“Jika kau menyukai gadis itu, maka berusahalah, Dev. Aku harap kau tidak menyakiti gadis kecil itu….” Ia terdiam sebentar. “Atau kau akan mendapatkan akibatnya.”
Kemudian Marvel keluar dari ruangan Devano.
Devano terdiam dengan tatapan tajam menatap pintu. Wira yang melihat tatapan tajam bosnya itu hanya diam. Dia tidak ingin ikut campur. Tiba-tiba Devano menatap Wira.
“Apa kau juga mau ikut bersaing?” tanya Devano dingin.
“Ha? A-aku.. Aku tidak .. Haha.. Aku sudah dikenalkan dengan seseorang oleh orang tuaku.” Wira menjawab kikuk. “Lagi pula kemarin aku hanya sedang menggodamu saja.”
Terbongkarlah sudah rencana Wira. Sebenarnya dirinya masih ingin menggoda Devano, namun jika dipikir-pikir tidak perlu juga. Sudah cukup dan sudah jelas jika bosnya menyukai gadis itu.
“Kenapa kau tidak bilang jika kau dijodohkan?” Devano melunak. Ia menyeruput kopinya pelan.
“Huh. Aku masih ragu-ragu sebenarnya. Tapi kemarin aku melihatnya. Tidak buruk. Dia manis sekali. Haaahh.” Wira meletakkan kedua lengannya dibelakang kepala dan bersandar di sofa. Bibirnya tersenyum penuh arti.
“Cih. Kampret ini bisa jatuh cinta juga.” Guman Devano pelan.
“Aku mendengarnya. Dasar curut!”
***
Hari mulai petang. Delima baru menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini dia piket sehingga dirinya pulang paling akhir. Ia meletakkan alat kebersihan kembali ketempatnya.
Sepi. Itulah yang dia rasakan. Ini sudah mulai petang dan dirinya sendirian di ruangan itu. Ia meremang.
“Perasaanku tidak enak begini..” Delima bergumam lirih. Ia berjalan cepat ke ruangan OB/OG dengan kepala tertunduk. Sesekali menoleh kebelakang. Tidak ada siapa-siapa. Langkahnya semakin terburu-buru, hingga..
BRUKK
“Aaa! Hantu menyingkirlah. Pergi! Pergi!!!” Delima memukul sesuatu yang ditabraknya.
“Hei! Kau kenapa! Jangan memukulku!”
Delima berhenti memukul benda didepannya. Ia mendongak cepat. Matanya membulat.
“Hehe.. Ma-maaf, Pak!”
“Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu!”
“Tapi ini di kantor Bapak Devano yang terhormat!”
Devano menghebuskan napasnya pelan. Gadis didepannya berkata benar. Tapi kan ini sudah jam pulang kantor. Jadi panggilan ‘bapak’ sudah tidak berlaku lagi kan? Ck. Kenapa menjadi membahas panggilan!
“Ngomong-ngomong sedang apa Bapak disini?” Delima bertanya.
“Mengantarmu pulang.”
“O-oh?” Delima membulat lucu. “Tapi saya mau ke pusat kuliner dulu, Pak.”
“Jangan panggil aku seperti itu. Ini sudah di luar jam kantor!”
“Baiklah baiklah!” Delima mengerucutkan bibirnya kesal.
“Ngomong-ngomong untuk apa kau ke pusat kuliner? Bersama siapa?” Kedua tangannya masuk ke saku celananya.”
“Kepo sekali, Kak.”
“Tinggal menjawab apa susahnya!” Devano gemas dengan gadis didepannya yang jawabannya kemana-mana.
“Sendiri!” Delima menjawab dengan kesal kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan ganti. Meninggalkan Devano yang terkaget-kaget.
Lima menit kemudian Delima keluar dari ruang ganti.
“Kakak! Kenapa masih disini!”
“Kau ingat! Kau juga harus bekerja dirumahku kan?! Jadi sekalian saja.”
“Aku mau ke pusat kuliner dulu, Kak. Aku ingin membeli nasi goreng. Kakak duluan saja ya..” Delima berkata dengan nada memelas. Ia ingin sendirian kesana membeli jajanan kesukaannya selain nasi goreng. Ia malu jika Devano melihat dirinya kalap ketika memakan jajanannya.
“Tidak. Aku akan ikut.”
Tak terbantahkan.
Devano menarik lengan Delima menuju tempat parkir.
“Bukannya mobil ini ditinggalkan didepan kontrakanku?” tanya Delima ketika sudah didepan mobil Devano.
__ADS_1
“Aku menyuruh orang membawanya kesini. Cepat masuk! Tunjukkan jalan ke pusat kuliner itu!”
***
Delima menatap tempat berisi penjual jajanan dengan mata berbinar. Sedangkan Devano berdiri canggung. Dirinya tidak pernah ke tempat seperti ini. Matanya mengedar pada penjual-penjual kecil. Entah apa yang mereka jual. Yang jelas asap-asap mengepul dari sana. Seperti makanan yang dibakar.
“Kenapa, Kak? Tidak suka tempatnya ya? Yasudah pulang saja! Nanti aku ke apartemen naik ojek.” Delima menatap Devano sebentar.
“Ka-kata siapa? Cepat jalan! Kau mau membeli apa?”
“Baiklah! Ayo!”
Delima tanpa sadar menggandeng tangan Devano, menariknya masuk ke penjual-penjual disana. Setelah beberapa lama berjalan, Delima menghentikan langkahnya di depan penjual nasi goreng.
“Bang. Saya mau nasi gorengnya satu ya. Pedas, jangan pakai micin. Sayurnya banyakin ya, Bang!”
“Siap, Neng! Akan Abang siapkan dengan sepenuh hati untuk eneng yang cantik ini! Hup!!”
Devano menggertakkan giginya. Berani-beraninya penjual itu berkata Delima cantik! Dengan hati yang dongkol, Devano menatap penjual itutajam.
“Ini neng, dua puluh ribu ya. Wah. Apakah ini pacarnya eneng? Ganteng banget neng.”
“O-oh! Bukan, Bang. Hanya orang nyasar yang mengikutiku!”
“Aduh, hati-hati ya, neng. Sekarang sedang musim penculikan anak.”
“Kalian ini bicara apa! Aku ini bosnya. Dia bekerja di apartemenku!” Devano berkata kesal. Enak saja dia dikira penculik. Memangnya wajahnya cocok menjadi penculik?
“Oh? Hehe.. Maaf.”
“Buatkan aku satu.”
“Eh?” Delima dan penjual nasi goreng itu menatap Devano
kaget.
“Apa?! Buatkan aku satu lagi! Sama seperti gadis ini! Ini!” Devano mengeluarkan uang saratus ribuan dari dompetnya. “Sisanya untukmu!”
“Waah! Baik-baik Pak. Akan saya buatkan. Semoga langgeng ya, Pak.”
Delima tersenyum kikuk. Sedangkan Devano tersenyum lebar.
Setelah drama nasi goreng tadi, mereka kemudian berjalan berkeliling. Kini mereka berhenti didepan penjual sosis bakar.
“Ibu, saya mau sosisnya lima!”
“Siap, Mbak!”
Sang penjual dengan senang hati membakar sosis itu, memberinya bumbu rahasia supaya semakin nikmat. Delima menatapnya dengan berbinar. Ia ingin segera memakannya!
“Terimakasih, Bu.”
Delima langsung mengambil satu tusuk dan memakannya. “Umm.. Surga duniaa~” ucapnya sambil mengunyah sosis bakar itu.
“Kakak mau? Ini! Ambil! Enak loh!” Delima menawarkan satu kantong plastik didepannya dan menyuruh Devano mengambil tusuk. Bukannya mengambil, Devano malah memegang tangan Delima yang memegang sosis miliknya yang tinggal separuh. Devano membungkuk dan menggigit sosis milik Delima.
Delima terdiam mentap Devano yang baru saja menggigit sosis miliknya.
“Enak. Benar katamu. Aku mau lagi.” Devano kembali mengarahkan tangan Delima ke arahnya. Mengigit sosis itu hingga tak bersisa.
“Ambil yang lain. Suapi aku.”
***
Delima dan Devano sampai di depan pintu apartemen. Devano segera memencet passwordnya. Setelah terbuka mereka berdua masuk ke dalamnya.
“Kenapa kau cemberut seperti itu?” Devano bertanya saat dirinya telah selesai melepas jasnya.
Delima menatap Devano sebal. Ia langsung berjalan ke dapur mengambil piring untuk memakan nasi gorengnya. Ia juga mengeluarkan Boba Milk Tea yang sempat dibelinya sebelum pulang ke apartemen. Ia masih kesal. Ia kesal karena bosnya tadi menghabiskan semua sosisnya padahal dia baru memakan satu gigit!
“Kakak mau makan apa?! Aku akan masakkan!” Delima berkata ketus.
“Tidak perlu. Nasi goreng saja.” Jawabnya. “Aku mau mandi dulu.”
Devano melangkah ke kamarnya. Delima menatap kepergian Devano ke kamarnya.
“Kenapa Kak Devano mau –mau saja diajak ke tempat seperti itu! Dia orang kaya. Pasti tidak pernah ketempat seperti itu kan?” Delima menggelengkan kepalanya.
Devano keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan, Sesampainya disana, Delima sedang menyedot Boba Milk Teanya. Nasi gorengnya sudah habis.
“Wah-ah, cepat sekali makanmu!” ujar Devano sambil menarik kursi di seberang gadis itu.
“Hm..mm…” Delima menjawab dengan gumaman karena sedang asyik menyedot minumannya.
“Aku mau itu.” Devano merebut Boba dari tangan Delima.
“Jangan! Itu kan be……kasku.” suara Delima melirih di akhir kalimat.
SLURRPP
Terlambat. Devano sudah meminumnya.
“Kenapa kakak sembarangan mengambil punyaku!” seru Delima sebal.
__ADS_1
“Hem.. Entah kenapa apapun yang kau makan, aku juga ingin memakannya.” Devano berkata cuek sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
“Hm.. Enak juga!” Devano kembali memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Memakannya dengan sangat lahap.
“Menyebalkan!” Delima beranjak dari meja makan. Dirinya langsung pergi memungut baju bosnya yang tergeletak di sofa. Bibirnya masih mengerucut.
“Kenapa ada orang seperti dia Ya Tuhan?” adunya pada Sang Pencipta.
Sedangkan yang diadukan sedang menikmati Boba Milk Tea yang tadi direbutnya dari Delima.
‘Ciuman tidak langsung, huh?’ Devano tersenyum lebar kemudian menyedot minuman itu hingga habis.
***
SRASHHH
Hujan turun tepat ketika nasi goreng di piring Devano habis. Ia meletakkan piring ke wastafel, kemudian berjalan menuju jendela apartemennya dan membuka tirainya.
“Hujan ya..” gumamnya.
“Apakah kak Devano punya payung?” Delima bertanya.
Devano terperanjat mendengar suara Delima di belakangnya.
“Tidak!”
“Masa sih tidak punya?”
“Hmm..”
“Aneh sekali. Aku harus pulang!” Delima berkata jengkel. Hari ini bosnya sungguh sangat menyebalkan.
“Kau tidur disini saja malam ini.”
“Apa? Tidak mau!”
“Kenapa?”
“Aku tidak bawa baju ganti, Kak! Dan tidak baik laki-laki dan perempuan tidur satu atap!”
“Memangnya kenapa? Di luar hujan deras dan kau ingin tersambar petir? Lagipula mana mungkin aku tertarik padamu?”
“Tapi kan….”
“Di lemariku ada banyak baju. Kau pilih saja disana.” Devano menunjuk sebuah ruangan.
“Tapi, Kak… Aku..”
“Ck.” Devano menarik lengan Delima memasuki sebuah ruangan disamping kamar. Ada satu pintu yang menghadap ruang tamu dan pintu lain yang langsung terhubung dengan kamarnya. Mereka masuk melewati pintu yang menghadap ke ruang tamu.
Setelah masuk, Devano memilih-milih sebuah kaos.
“Ini kaosnya kebesaran semua, kak!”
“Tentu saja besar, apa kau tidak lihat ukuran tubuhku? Tidak ada pakaian berukuran kecil disini!” Devano masih mencari-cari pakaian di lemari. Bukan lemari sebenarnya, tetapi ruangan seperti kamar, namun berisi pakaian kerja dan pakaian casual lain.
“Bajunya banyak sekali." Delima mengelengkan kepalanya takjub. Baru kali ini dirinya melihat pakaian yang disimpan dalam ruangan seperti ini.
“Ini saja!” Devano memberikan sebuah hoodie. “Pakai ini! Kau bisa mandi di kamar mandi sebelah sana.”
“Hu-um..” Delima langsung pergi ke kamar mandi.
“Ahh~ Segarnya.. Ck. Pakaian ini besar sekali sih!” gumamnya setelah keluar dari kamar mandi. Dirinya masih mengenakan celana yang sama, namun atasannya memakai hoodie yang tadi diberikan oleh Devano. Ia kemudian berjalan menuju ke ruang TV dan Devano ada disana sedang menonton sebuah acara.
“Kak. Aku tidur dimana?”
“Kau tidur di kamar sebelah sana.”
“Oh.”
“Atau mau tidur dikamarku?” Devano menyeringai.
“TIDAK AKAN!” Delima berseru sambil begidik. Kemudian duduk di bawah sofa.
“Hahaha. Kau lucu sekali.” Devano mendekat ke arah Delima dan mengusap kepala Delima yang ada dibawah sofa.
“Lepaskan aku!”
“Ck. Kau ini jadi perempuan galak sekali. Nanti tidak dapat pacar!”
“Biarkan saja!”
Mereka berdua terlarut pada tontonan di depannya. Delima mulai terkantuk-kantuk sampai akhirnya dirinya tidak kuat menahannya.
Devano menatap Delima yang telah memejamkan matanya. Devano tersenyum geli melihat gadis didepannya. Kepalanya bersandar di sofa. Dan mulutnya sedikit terbuka. Gadis didepannya ini terlihat lelah. Tebukti saat Devano mulai mengangkatnya, gadis itu tidak bergerak sama sekali.
'Anak ini, ringan sekali. Padahal makannya banyak.'
Devano masuk ke dalam kamar tamu dan membaringkan Delima di ranjang yang cukup besar itu. Ia menyelimutinya hingga batas dada. Dirinya berjongkok di sisi tempat tidur. Menatap gadis didepannya dengan lembut sembari mengusap kepalanya.
Hujan masih turun di luar sana. Suaranya begitu menenangkan seolah-olah mendukung kegiatan Devano yang sedang menatap gadis didepannya.
Devano mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, mengecup keningnya lembut. “Selamat tidur gadis kecil.” Setelah berkata demikian, Devano keluar dari kamar itu dan kembali ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
**