
***
Devano terbangun karena suatu hal. Bau masakan yang sangat harum. Ia duduk di atas kasur lipat itu dan terdiam untuk mengumpulkan nyawanya.
Setelah lebih segar, ia beranjak dari kasur lipat itu dan pergi menuju sebuah tempat yang bernama dapur. Ia memperhatikan dapur itu, begitu sempit dan tidak ada meja makan di sana.
"Delima?"
"Eh, Kakak sudah bangun. Sana cuci muka dulu di sumur." Delima menunjuk sebuah pintu yang mengarah ke sebuah sumur. Devani langsung mengikuti arah jari Delima.
Glek
Pintu itu penuh lubang dan bagian bawahnya juga sudah habis dimakan rayap.
"Ba.. bagaimana kalau kelihatan?" Tanya Devano.
Delima mengeryitkan dahinya. Kemudian tertawa terbahak-bahak.
Ampun!
"Itu hanya sumur kak. Tempat untuk mengambil air. Dan kamar mandi ada di sebelah kanannya. Tenang saja, ada pintunya kok." Ucap Delima masih tertawa.
"Jangan menertawakanku!"
Devano kemudian membuka pintu reot itu dan menatap sebuah sumur. Ia memakai sendal lusuh disana dan mendekati sebuah lubang yang berisi air.
Di bawah ada ember yang sudah diikat tali. Devano menatapnya bingung.
"Bagaimana cara memakainya...." lirihnya.
'Jadi begini kehidupan Delima sejak kecil?' lanjutnya dalam hati.
"Kak, tidak bisa ya?" Delima mendekati Devano kemudian merebut ember bernama timba. Gadis itu dengan lihai mengambil air dan mengangkatnya ke permukaan.
"Sudah, cuci muka. Kemudian sarapan. Aku mau ke makam nenek mumpung cuaca belum terik. Kakak mau ikut?" Ucap Delima. Devano mengangguk sambil mengambil air dengan kedua tangannya.
Brrr
Airnya dingin, namun terasa segar. Selesai cuci muka ia melihat ke arah kanannya. Ada sebuah pintu, sepertinya itu kamar mandinya. Ia kemudian masuk ke dalamnya dan untuk buang air kecil.
"Ish. Sempit sekali sih." Gerutunya sambil keluar dari kamar mandi. Devano bergegas kembali ke tempat dimana ia tidur.
Disana Delima sudah menunggunya untuk sarapan. Menu masakan rumahan yang terlihat sedernaha namun mampu membangunkan cacing-cacing di perut Devano.
"Maaf kita lesehan, kak. Aku tidak punya meja makan." Ucap Delima sambil menunduk malu.
Devano hanya menganggukkan kepalanya.
.
Selesai sarapan, rencana Devano adalah mandi. Namun Delima melarangnya.
"Jangan mandi!" Seru Delima saat Devano mengambil handuk dari tasnya.
"Kenapa sih?! Jorok kalau tidak mandi tahu!" Jawab Devano.
"Jangan! Nanti saja di air terjun! Aku juga mau mandi disana. Hehe." Delima hanya nyengir.
Pikiran Devano melayang.
Mandi..
Mandi yang bagaimana maksudnya?
Devano menggelengkan kepalanya. Kenapa otaknya menjadi mesum sekarang?
.
Keduanya keluar dari rumah sederhana itu. Devano melotot ketika banyak ibu-ibu berdiri di depan rumah Delima. Delima juga sama, ia melotot karena tetangganya berdiri didepan rumahnya sambil menatap Devano dengan tatapan... Yah.. Kalian pasti paham. Pasti kalian juga begitu kan kalau melihat pria tampan?
"Eh, mbak Delima udah pulang ya?" Salah satu tetangga Delima mendekat ke arah Devano dan mengusap lengannya. Membuat Devano merinding dan hanya tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Ibu-ibu ma.. mau apa ya datang kemari?" Tanya Delima hati-hati.
"Ahahaha Maaf, Nak. Kami itu penasaran sama orang kota. Mobilnya bagus dan pemiliknya juga tampan ya ternyata." Ucao tetangga lain lebih genit.
Astaga.
"Bisa tolong lepaskan tangan anda, bu?" Ucap Devano dingin. Ia risih.
Sontak wanita paruh baya yang tadi mengelus lengannya melepas lengan itu seketika. Apalagi merasakan aura tidak menyenangkan dari Devano.
"Hehehe. Ibu-ibu, maaf. Kami mau pergi dulu. Ada keperluan." Delima menarik tangan Devano menjauhi kerumunan ibu-ibu tetangga yang masih didepan rumahnya.
"Aduh, Jeng. Mau aku kenalin sama anakku padahal." Begitulah kira-kira ucapan tetangga Delima kepada lainnya, yang tentunya masih terdengar oleh gadis itu.
"Kok jadi pada aneh begitu sih?" Gerutu Delima sambil menarik tangan Devano menjauh dari rumah.
Sesampainya di makam, Delima dan Devano berjongkok dan mencabut rumput di gundukan itu. Setelah selesai mereka menabur bunga dan mengirim doa.
Delima dan Devano tersenyum sambil menatap gundukan tanah yang sudah telihat kering. Keduanya berujar dalam hati,
"Nenek. Terimakasih sudah merawat Delima sampai dewasa. Nenek tahu tidak? Delima sudah bertemu dengan ayah, ibu, dan kakak. Mereka masih hidup dan mereka mencari Delima sejak dulu. Tuhan sangat menyayangi Delima, Nek. Delima sangat bahagia. Oh ya, Nek. Pria disamping Delima namanya Kak Devano. Tahu tidak, Nek? Dia sangat tampan. Dia yang menemani dan menjaga Delima saat kemari." -Delima
"Halo, neneknya Delima. Perkenalkan saya Devano. Saya kemari bersama Delima, cucu nenek. Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada nenek, karena sudah merawatnya hingga dewasa dan secantik ini. Saya akan menjaganya untuk nenek. Doakan ya, Nek. Semoga hubungan kami semakin dekat. Nenek yang tenang disana." -Devano
Setelah beberapa lama disana, mereka memutuskan keluar dari tempat pemakaman desa.
"Habis ini kemana?" Tanya Devano.
"Ikut saja! Dan lepaskan sepatu Kakak!"
"Apa?! Melepas sepatu? Tidak mau!" Devano berseru protes.
"Ish! Kalau kakak nanti terpeleset, aku tidak mau bertanggung jawab ya!" Jawab Delima sambil melepas sandalnya dan berlari menjauhi Devano.
"Dasar gadis itu!" Gerutu Devano. Namun akhirnya pria itu menuruti apa kata Delima. Ia melepas sepatunya dan berlari menyusul.
"Aw aw. Hei! Berhenti!" Teriak Devano ketika merasakan sakit di kakinya karena menginjak bebatuan.
"Payaaah!!" Teriak Delima sambil mendekati Devano.
"Jangan cepat-cepat jalannya. Ini sakit tahu!"
"Ya. Ya. Ya. Baik Bapak Devano. Mari kita segera menuju air terjun." Sindir gadis itu. Membuat Devano memelototkan matanya.
.
Setelah mendaki gunung dan lewati lembah, mereka sampai juga di tempat tujuan. Devano sudah terkesima sejak masuk ke kawasan air terjun. Suara gemuruh air yang turun dari atas menabrak genangan air dibawahnya membuatnya takjub. Ternyata di desa kecil seperti ini terdapat keindahan yang begitu nyata.
Mereka berdua turun melewati jalan setapak. "Hati-hati. Licin!" Ucap Delima mengingatkan Devano.
Sesampainya di bawah mereka meletakkan barang di atas batu. Delima langsung membuka pakaiannya membuat Devano melotot.
"Kau mau telanjang disini?!" Ucap Devano sambil mengalihkan tatapannya.
"Ha? Tidak lah!" Jawab Delima. "Aku pakai kaos kok!" Lanjutnya.
Dean bernapas lega. Ia kira gadis itu akan telanjang di depannya. Ia sudah membayangkan kulit putih itu dan.......
Eh? Eh?
"Ekhem.." Devano berdeham kemudian menatap Delima yang sudah masuk ke dalam air yang jernih. Gadis itu masih memakai celana pendek dan kaos hitam longgar tanpa lengan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan basah.
"Ah segarnyaaa. Cepat turun, Kak!" Ajak Delima.
Devano mengangguk. Ia melepaskan kaosnya kemudian celana trainingnya, menyisakan celana boxernya.
Lagi-lagi Delima berdebar melihat tubuh pria itu. Gadis itu membalikkan badannya. Malu.
"Hah. Segarnya." Guman Devano. Ia mulai menyelam dan berenang menuju Delima.
"BAAA"
__ADS_1
"AAARGH! KAKAK MENGANGETKANKU! KENAPA MUNCUL TIBA-TIBA?!" Sembur Delima hingga air muncrat kemana-mana.
Devano tertawa keras. Mereka bermain dengan diiringi tawa dan teriakan keduanya.
Devano menggendong Delima dan menjatuhkannya ke air. Delima membalas menenggelamkan Devano dengan menaiki punggungnya.
Setelah lelah bermain mereka berdua bersandar di batu besar. Setengah tubuhnya masih terendam air.
"Aku senang sekali. Biasanya aku akan mandi sendirian disini." Ucap Delima sambil tersenyum memejamkan matanya.
Saat gadis itu membuka matanya, ia terkejut karena Devano sudah mengungkungnya. Kedua tangan Devano menahan di samping kanan kiri tubuh Delima. Pria itu menatap Delima dengan tatapan.... sulit diartikan. Jantung Delima berdebar kencang.
Kepala Devano semakin mendekat. Dengan suara air terjun dan kicauan burung kedua manusia berbeda jenis kelamin itu menyatukan bibir.
.
.
Delima berjalan cepat sambil menunduk. Devano yang di belakangnya tersenyum sumringah. Sejak pergi meninggalkan air terjun mereka tidak saling berbicara.
Delima terlalu malu sedangkan Devano terlampau senang.
Sesampainya di rumah, Delima langsung masuk ke dalam kamarnya san berguling kesana kemari.
Devano menjatuhkan bokongnya di kursi bambu ruang tamu rumah Delima. Sambil terus tersenyum seperti orang gila membayangkan kejadian tadi di air terjun. Delima terlihat pasrah-pasrah saja membuat Devano semakin semangat melakukan tugasnya. Haha.
.
.
.
Shera keluar dari gedung rumah sakit tempatnya di rawat bersama Riko.
"Langsung ke apartemen, Nona?" Tanya Riko
"Iya, Pak. Tapi mempir dulu di toko kue depan kampus. Aku ingin membeli kue." Jawab Shera.
"Baik, Nona. Siap meluncur!" Ucap Riko semangat. Dirinya bahagia, Nonanya yang anggap seperti anaknya sendiri sudah bisa keluar dari rumah sakit.
Sesampainya di toko kue, Shera turun bersama Riko dan memasuki toko. Gadis itu memilih kue-kue yang terlihat menggiurkan disana.
"Pak Riko mau yang mana?" Tanya Shera.
"Nona saja. Saya sudah makan." Jawabnya.
"Tidak-tidak. Pak Riko harus memilih satu!" Paksa gadis itu.
Riko menghela napas. Apasih yang tidak untuk Nonanya?
"Iya, baiklah. Saya mau yang itu!" Tunjuknya.
Shera yang sudah menentukan pilihannya langsung memesan.
Gadis itu tidak sadar jika sejak tadi dirinya menjadi perhatian seseorang di ujung ruangan.
"Dia sudah keluar dari rumah sakit?" Gumamnya.
***
Jeng Jeng...
Halo.
Apa kabar para pembaca!
Setelah memutuskan hiatus. Saya merasa mungkin Novel ini baiknya ditamatkan saja segera. Sebenarnya saya belum siap kembali. Tapi ada yang memaksa saya lewat Chat WhatsApp setiap hari 😂
Akhirnya saya nulis juga. Tapi sepertinya akan Slow Update karena saya juga sibuk di Real Life.
Saya ucapkan terimakasih kepada para pembaca. Saya juga mohon maaf. Mungkin Novel saya ini terlalu pasaran dan konflik terlalu ringan. Tapi saya memang tipe yang malas menulis Novel dengan konflik yang kompleks.
__ADS_1
Terimakasih juga untuk dukungannya. Semoga saya masih bisa Update walaupun Slow Update.