CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 10


__ADS_3

Mohon maaf saya telat upload lagi.


Saya sibuk banget karena pekerjaan saya.


Terimakasih saya ucapkan kepada pare pembaca. Mohon dukungannya dengan like, comment, dan vote!


***


“Apa katamu?”


“Iya, Tuan. Nona sedang sakit. Dia ada di kontrakannya. Dijaga oleh Tuan Devano.”


“Syukurlah. Tetap pantau mereka. “


Pria itu melempar ponselnya ke atas tempat tidur kemudian menghela napasnya. Kepalanya mendongak menatap langit-langit kamar.


“Maafkan aku.” Ucapnya. “Aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu. Aku belum bisa membawamu kepada Ayah dan Ibu.” Lanjutnya lirih sambil menatap sebuah kalung di atas meja nakas.


***


“Kenapa belum tidur? Kau harus istirahat supaya cepat sehat.” Devano mengomeli gadis yang berbaring didepannya. Gadis itu masih terjaga setelah memakan bubur yang dipesankan Devano . Gadis itu juga sudah meminum obatnya.


“Kakak mau disini?”


“Tidak. Aku akan pulang nanti. Setelah kau tidur.”


“Aku baik-baik saja, Kak.”


“Jangan protes. Bisa tidak? Menurutlah padaku!”


Delima menghembuskan napasnya lemah.


“Kenapa disini panas sekali?” Devano berujar sambil membuka kancing kemeja kerjanya. Delima melotot melihatnya. Pria di depannya ini mau apa? Wajahnya memanas. Sudah merah karena sakit, makin merah karena kelakuan pria didepannya.


Kemeja  Devano sudah lepas dari tubuhnya. Sekarang ia bertelanjang dada. Delima memalingkan kepalanya ke arah tembok dengan kikuk.


“Kenapa melepas baju! Pakai lagi!” seru Delima, masih dengan suara yang cukup lemah.


“Disini panas. Aku berkeringat. Lebih enak seperti ini.”


Delima masih menatap tembok. Tidak mau menghadap Devano. Jantungnya berdebar melihat Devano yang tidak memakai baju.


“Kau baik baik saja?” Devano memajukan tubuhnya dan kepalanya mencoba melongok gadis didepannya yang bersikap aneh.


“Jangan dekat-dekat!” tangan Delima terangkat ke depan wajah Devano. “Pakai baju, Kak.”


“Kenapa sih? Disini sangat panas kau tahu. Besok aku akan belikan AC saja untukmu!”


“Untuk apa?”


“Supaya kau tidak kepanasan. Atau.. Kau tinggal di apartemenku saja?”


“Ha? Hahaha.. Kakak ini aneh sekali memangnya aku siapa harus tinggal di sana. Aku juga punya kontrakan.” Delima tertawa lemah.


“Kau kan ART di apartemenku. Bukankan mudah jika kau sudah tinggal di sana?”


“Aku kan sudah bilang….”


“Tidak baik laki-laki dan perempuan tinggal bersama satu atap. Ya ya ya. Kau pasti akan bilang seperti itu!”


“Nah itu tau!”


TOK TOK


Devano segera membukakan pintu yang diketuk dari luar.


“Tuan..”


“Apa sudah lengkap semuanya?” Devano bertanya pada pria didepannya.


“Tuan tidak pakai baju? Apa yang Tuan lakukan pada gadis itu?”


“Kau berisik, Roy. Aku hanya kepanasan saja. Mana pesananku!”


“Ini Tuan, Kalau tuan butuh sesuatu lagi tinggal telfon saja. Saya siap membantu 24 jam seperti biasanya.”


“Tidak usah berisik. Kau saja kalau sedang kubutuhkan sangat sulit dihubungi. Pulang sana!”


Setelah pria bernama Roy itu pulang, Devano kembali masuk ke kontrakan Delima sambil menenteng plastik besar di tangan kanan dan kantong berisi selimut di tangan kiri.


“Siapa, Kak? Dan apa yang kakak bawa?!”


Devano duduk di kursi, meletakkan barang itu di lantai, mengeluarkan isi kantong yang ada di tangan kanannya.  Bermacam-macam jenis buah-buahan ia keluarkan dari kantong itu, selain buah-buahan ternyata isi kantongnya juga ada susu, roti kemasan, selai, minyak angin, vitamin C dan banyak makanan ringan lainnya yang berisi biskuit. Setelah mengeluarkan seluruh isinya, gantian kantong yang satunya dia buka. Mengeluarkan selimut dari sana dan menyelimuti Delima dengan selimut baru tersebut.


“Siapa tadi kak? Dan kenapa kakak melakukan ini? Aku tidak bisa memakan seluruh makanannya kak. Kenapa kakak membawa makanan banyak sekali?”

__ADS_1


“Tadi itu Roy, dia pelayan di rumahku.”


“Kau harus makan buah-buahan supaya cepat pulih. Aku sudah menelpon Viana jika besok kau tidak masuk kantor.”


Delima yang sudah pusing karena sakit, semakin pusing dengan kelakuan Devano. Delima memegang kepalanya.


“Kenapa?! Ada yang sakit? Kenapa kau memegang kepalamu?! Pusing? KATAKAN!”


Delima menghembuskan napasnya. Ia mengubah posisi tidur membelakangi pria didepannya.


“Tidak kenapa-kenapa. Lebih baik kakak pulang. Ini sudah malam. Tidak baik jika kakak disini. Nanti kalau ada orang, kakak dikira ngapa-ngapain aku!”


Setelah beberapa menit keduanya diam. Devano mendengar dengkuran halus dari gadis di depannya. Sudah tidurkah? Tangannya terangkat ke arah kening Delima. Masih hangat namun sudah tidak panas. Dirinya menatap jam yang terpasang di dinding kontrakan. Jam sudah menunjukkan pukul 23.45. Ia memutuskan untuk pulang. Ia memakan kemejanya asal dan keluar dari kontrakan itu.


Sesaat setelah keluar, dua orang pria mendekat. “Kontrakannya tidak dikunci. Jadi kalian harus menjaga orang yang ada di dalam sana. Jangan sampai ada sesuatu yang membahayakannya.”


“Baik, Tuan.”


Setelah mengobrol dengan pengawalnya, Devano keluar dari gang dan masuk ke mobilnya, melajukan mobilnya membelah jalanan yang sudah cukup sepi menuju apartemennya. Sebenarnya dirinya tidak tega jika meninggalkan gadis itu sendirian. Namun benar kata-kata Delima, jika tidak pergi dari sana dan ketahuan maka habislah.


***


Pagi hari, Devano kembali ke kontrakan Delima. Ia berjalan sambil tersenyum dan menatap sebuah kotak makanan yang ia bawa. Sesampainya disana ia mendapati sebuah sepatu sudah terparkir didepan pintu kontrakan Delima. Pintunya sudah terbuka. Dirinya segera masuk dan memeriksa. Dia takut Delima kenapa-kenapa!


“Marvel?”


“Oh. Hai, Dev!”


“Kak Devano?”


“Sedang apa kau disini?” Devano menatap Marvel curiga. Matanya menatap Marvel dari atas sampai bawah. Pakaian rapi khas kantoran. Syukurlah artinya dia tidak melakukan apa-apa pada Delima.


“Aaa~ Tadinya aku mau menjemput Delima. Tapi ternyata dia sakit ya. Jadi aku menemaninya.”


Devano menatap Delima yang sedang menunduk.


“Kau sudah baik?” Devano bertanya datar namun perhatian. Nahloh gimana tuh.


“I-iya kak. Sudah baik. Terimaksih sudah merawatku semalam.” Jawabnya pelan sambil tersenyum.


“Ini buah-buahan darimu, kan? Sudah aku kupaskan beberapa untuknya tadi.” Ucap Marvel kepada Devano.


“Hm…”


“Terimakasih kak. Hati-hati.”


Marvel menepuk bahu Devano dan pergi dari sana.


“Kakak kenapa kemari lagi? Bukannya kakak bekerja?”


“Aku membawakan bubur untukmu. Kau harus makan.”


“Aku sudah makan tadi. Kak Marvel membelikan bubur ayam untukku.”


Tangan Devano yang sedang membuka kotak makanan berhenti bergerak.


“Oh.”


Devano kemudian mengambil obat. “Aku juga sudah minum obat.”


Lagi-lagi gerakan tangan Devano berhenti. Delima menatap pria didepannya. Raut mukanya datar. Tatapannya kosong.


Delima menatap kotak makanan yang dibawa Devano. “Aku akan memakan itu.”


“Huh?”


“Kemarikan buburnya. Aku mau makan itu.”


Devano tersadar dan segera mengambil kotak dan sendok.


Devano mengambil satu sendok bubur dan menyodorkannya.


“Aku bisa makan sendiri. Kak. Aku sudah besar!”


Delima merebut kotak makanan yang dipegang Devano berserta sendoknya. Kemudian memakan bubur itu dalam diam.


“Enak kak. Terimakasih ya.” Deliam tersenyum manis membuat jantung Devano berdebar. Dirinya menatap gadis yang sedang melahap bubur yang ia bawa.


Hatinya menghangat. Gadis didepannya sudah makan, namun masih mau menghormati apa yang dirinya bawakan.


***


Delima duduk gelisah di tempat tidurnya. Sudah jam 10 pagi sekarang. Dan bosnya masih berada di kontrakannya. Diam dan menatapnya.


“Kak, jangan menatapku terus.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”


“Ini sudah siang. Kakak harus bekerja.”


“Wira yang akan mengurus semua urusan kantor.”


Delima menutup bibirnya. Dia sudah bingung. Bagaimana caranya supaya bosnya ini pergi dari kontrakannya? Delima beranjak dari tempat tidur.


“Mau kemana?!” Devano bertanya kawatir.


“Mau ke kamar mandi kak. Mau pipis.”


“Sini aku antar!”


“Astaga! Tidak usah! Aku bisa jalan!”


Delima berjalan ke kamar mandi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Menggemaskan. Devano  hanya terkekeh.


Setelah keluar dari kamar mandi, Delima kembali ke tempat tidur. Ia berniat tidur karena sejak minum obat sebenarnya ia mengantuk, namun terganggu karena bosnya terus memperhatikannya. Entah memperhatikan apa.


“Kau mau tidur?”


“Iya. Kakak kembalilah ke kantor. Aku baik-baik saja.”


“Baiklah baiklah. Aku akan pergi setelah kau tidur.”


“Heumm..”


Beberapa menit setelahnya akhirnya Delima tertidur pulas. Devano berdiri merapikan jasnya dan keluar dari kontrakan Delima.


“Jaga orang yang ada didalam sana. Jika Marvel datang, awasi dia. Jangan sampai dia melakukan hal macam-macam.”


“Baik,Tuan.”


Devano memasuki mobilnya. Hari ini dirinya diantar oleh supir. Ia sedang malas menggunakan mobil sendiri. Di perjalanan dirinya melamun sambil menatap ke luar jendela. Ia memikirkan sesuatu.


Soal Marvel.


Pria itu juga memberikan perhatian pada Delima. Delima juga menerima perhatian pria itu. Devano sudah sadar sejak awal. Jika dengan Marvel, maka Delima terlihat tenang. Sedangkan ketika bersama dirinya, Delima akan sangat cerewet dan lebih sering marah-marah. Perbedaan yang sangat kontras.


Ia takut jika Delima lebih memilih Marvel. Dirinya sudah berusaha bersikap baik pada Delima, namun gadis itu masih saja selalu marah-marah dengan perhatiannya. Dirinya ingin mengungkapkan sesuatu, namun dirinya bukanlah orang yang blak-blakan. Dirinya lebih senang menunjukkan dengan sikap. Namun sepertinya gadis itu tidak peka dengan segala perhatianya selama ini.


Ponsel Devano berbunyi. Ia mengambil dari saku jasnya dan melihat pemanggil.


Delima Calling


Dirinya tersenyum dan segera mengangkat telpon.


“Aku baru saja pergi dan kau sudah bangun? Tidur macam apa?”


“Eum tidak apa-apa kak. Tadi ada telpon dari teman kantor makannya bangun.” Delima menjawab dengan suara serak. Sepertinya gadis itu memang terbangun karena sesuatu mengganggunya.


“Ada apa? Tumben menelponku. Aku senang sekali.”


Delima memerah di seberang sana. Namun tek terlihat oleh Devano.


“Em.. Apakah.. Apakah kakak ke kontrakanku lagi nanti?”


“Memangnya kenapa?”


“Em.. Datang lagi ya kak. Aku mau titip sesuatu.”


“Hmm.. Apa imbalannya?” goda Devano


“Jika tidak mau ya sudah!”


TUUUT


Devano menganga sambil menatap ponselnya. “Apa-apaan dia?”


Devano langsung menelpon kembali.


“Kenapa dimatikan!”


“Kakak menyebalkan!”


“Katakan apa yang kau inginkan!”


“Aku mau bubur lagi yang seperti tadi!”


TUUUT


“Astaga..”


***

__ADS_1


__ADS_2