CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 11


__ADS_3

Sore hari menjelang malam.


Pulang kerja, Devano langsung menuju restoran langganannya untuk membeli bubur abalone yang diminta oleh Delima. Setelah mendapatkan buburnya, ia segera membayar dan pergi menuju kontrakan gadis pujaannya. Eh? Gadis pujaan? Ohohoho~


Sesampainya disana terlihat Delima sedang menjemur handuk di teras depan kamarnya. Dia terlihat memakai daster imut begambar kelinci. Sangat lucu.


"Kenapa kau malah mencuci? Sehausnya kau istirahat!", serunya sebal.


"Aku hanya mencuci handuk. Handunya sudah bau kemarin untuk mengompres dan mandi."


"Kan bisa laundry, Delimaa.." ucap Devano gemas


"Laundry bayar kak. Lagipula aku punya sabun sendiri. Ada urusan apa kakak kesini?"


Devano sangat gemas dengan gadis didepannya ini. Bagaimana dia bisa lupa jika dia yang menyuruh Devano datang?


"Grrrr.. Kau yang menyuruhku datang! Dan kau menyuruhku membawakan bubur ini lagi!"


Delima menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe. Maaf, Kak. Sini masuk."


Keduanya akhirnya masuk ke dalam kontrakan. Devano membuka bungkus bubur itu dan memberikannya pada Delima.


"Harganya berapa kak? Nanti aku ganti. Terimakasih ya sudah mau dititipi. Maaf merepotkan." Delima menatap Devano dengan mata sipit bulatnya.


"Hmm.. Tidak perlu. Itu untukmu."


"Jangan begitu kak. Aku akan tetap bayar. Sebutkan saja harganya."


"Lima ratus ribu.."


Delima menganga. Satu porsi bubur yang sedang ia pegang seharga lima ratus ribu? Semahal itu?


Delima menatap pria didepannya dengan wajah tak percaya. Ia meringis. Lima ratus ribu..


"Aku kan sudah bilang tidak usah. Itu untukmu. Makan saja. Mau kusuapi?"


"Tidak! Tidak! Aku bisa sendiri!"


Delima menyendokkan bubur abalone special itu ke dalam mulutnya. Ia menikmatinya pelan-pelan. Pantas saja enak. Harganya sangat mahal. Jarang-jarang dirinya makan makanan enak seperti ini. Devano yang melihat hanya tersenyum. Gadis ini sungguh membuatnya ingin memakannya! Eh?


"Kakak sudah makan?", tanya Delima


"Sudah. Tenang saja. Makan dan habiskan buburnya jangan berbicara terus!"


Delima mendelik ke arah Devani namun terus menyendokkan bubur ke mulutnya hingga habis.


"Kakak besok tidak usah kesini. Aku mau berangkat bekerja."


"Kau masih belum sehat tidak perlu bekerja!"


"Sudah dua hari aku tiduran di tempat tidur. Kakak kira aku tidak bosan?"


"Baik! Aku akan izin kepada Viana untuk meringankan pekerjaanmu!"


"Tidak perlu! Aku bisa bekerja normal kak. Aku bisa. Tidak perlu seperti itu!"


Devano menatap gadis didepannya pasrah. Dia tidak mau gadis didepannya protes terus menerus. Telinganya sungguh panas.


"Terserah kau saja!"


Delima tersenyum senang kemudian berjingkrak di atas tempat tidurnya.


"Awas nanti kau ja...."


KREK


"Aaaaaaaakkk~"


Kaki Delima keseleo. Tubuhnya limbung. Devano yang melihatnya reflek menangkap pinggang ramping Delima. Delima mencengkeram erat tangannya di bahu Devano.

__ADS_1


Wajah keduanya sangat dekat bahkan deru napas keduanya bisa dirasakan masing-masing. Rambut panjang Delima yang terurai menyentuh wajah Devano.


Devano masih setia menatap mata Delima yang sangat dekat. Delima juga sama. Jantung keduanya berdebar keras. Bersahut-sahutan.


"Hati-hati.." Devano berkata sangat lirih. Bau mint terhirup oleh Delima saat Devano mengucapkan perkataannya.


Wajahnya merah padam. Ia segera melepaskan diri.


"Te-terimakasih kak." Delima langsung duduk kikuk di atas tempat tidurnya.


Tangannya tertaut gelisah. Rambutnya yang lurus menutupi seluruh wajahnya yang merah. Delima sungguh sangat malu.


Devano kemudian duduk kembali di kursi dekat tempat tidur Delima. Menatap gadis didepannya intens. Ia tersenyum. Kemudian tangannya bergerak menyibakkan rambit Delima ke kedua sisi telinganya.


Devano sungguh ingin terbahak melihat wajah Delima yabg sangat merah. Namun ia menahan. Ia hanya tersenyum geli.


Matanya memutar ke seluruh kontrakan. Di meja rias Delima, ia menemukan ikat rambut. Ia mengambilnya kemudian mulai mengumpulkan rambut Delima yang cukup panjang dari depan. Lagi-lagi menbuat jarak antara keduanya sangat dekat.


"Aku bisa sendiri kak." Ucap Delima lirih.


"Diamlah. Rambutmu ini sangat panjang. Apa kau tidak merasa panas?"


Delima menggeleng. "Tidak. Aku suka rambutku. Sudah 3 tahun tidak aku potong. Aku sangat menyukai rambut panjangku."


"Hmm.." Devano telah selesai mengikat rambut Delima. Ia menjauhkan tubuhnya dari gadis itu. "Aku ingin bertanya suatu hal padamu."


Delima menatap Devano kemudian bertanya, "Apa kak?"


"Sebenarnya siapa yang sedang kau cari?"


"Eum.. itu.."


"Aku bisa membantumu mencarinya."


Delima membulatkan matanya. "Euh?"


"Tapi tidak gratis!"


Delima cemberut dibuatnya.


"Ck. Aku serius." Devano menghela napas kemudian perlahan melepas jasnya. Ruangan ini sungguh membuatnya gerah. Ia harus memasang AC disini.


Delima naik ke atas tempat tidur dan menyilangkan kedua kakinya. Ia menarus bantal di atas kedua pahanya.


"Kenapa kakak menawarkan itu padaku?" Delima menyipitkan matanya curiga.


Devano gelagapan dibuatnya. "A-aku kan bosmu. Aku atasanmu. Tidak aneh kan jika atasan membantu bawahannya."


"Benarkah?"


"Cepatlah ceritakan orang yang ingin kau cari. Cerewet."


Delima menghela napas sebentar. Kemudian mulai bercerita tentang dirinya yang ditemukan oleh neneknya di kampung.


"Sebenarny aku mencari orang bernama Eric itu untuk bertanya apakah dia orang tuaku atau bukan."


"Eric Stephenson itu adalah musuh bebuyutan keluarga Marvel." Devano memberitahu Delima tentang Eric. "Eric itu sudah mati 17 tahun lalu. Dan keluarganya pindah ke luar negeri."


"Jadi Eric itu orang jahat ya..." Delima berkata lirih.


"Ah!" Delima memekik membuat Devano sedikit tersentak. "Saat nenek memungutku, aku menggunakan sebuah kalung." Delima mengambil tas kecilnya di atas meja rias. Kemudian mengubek-ubeknya. Mencari sebuah benda bernama kalung.


"Dimana? Dimana kalungku?" Delima mulai panik.


"Kalung peninggalan?"


"Iya! Itu satu-satunya petunjuk untuk mencari orang tuaku. Tapi dimana?!"


Delima mengingat-ingat kembali dimana ia meletakkan kalung berharganya itu. Namun ia tidak ingat. Gawat.


Matanya mulai memanas. Kalung itu adalah satu-satunya benda yang bisa digunakan untuk mencari orang tuanya. Tapi sekarang tidak ada. Delima kemudian mengeluarkan seluruh isi tasnya di atas tempat tidur. Namun nihil. Kalung itu tidak disana.

__ADS_1


Devano masih memperhatikan Delima yang terlihat panik. Delima kemudian beranjak dan mencari kalung di laci-laci yang ada di kamarnya. Tidak ada!


Napasnya tersengal. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya siap terjatuh kapan saja.


Ia memegang kepalanya.


Pupus sudah harapannya.


Ia kembali duduk di hadapan Devano. Menatap pria itu dengan berlinang air mata.


"Delima..."


"Kalung itu! Satu-satunya petunjuk untuk mencari orang tuaku. Tapi sekarang sudah hilang. Sudah hilang! Tidak ada dimana-mana! Aku haru bagaimana?!" Tangis gadis itu pecah.


"Tenanglah. Aku akan membantumu mencari orang tuamu. Aku akan membantumu." Devano menangkupkan tangan besarnya ke wajah mungil Delima.


"Bagaimana caranya kak. Aku saja tidak tau hiks apa-apa hiks tentang mereka hiks."


Devano menatap gadis didepannya iba. Gadis didepannya sebatang kara. Gadis ini sedang berusaha mencari keluarganya. Devano bertekad membantu mencarinya. Tapi bagaimana caranya? Satu-satunya petunjuk yang gadis itu punya sudah hilang.


Devano merengkuh tubuh Delima yang bergetar karena menangis. Ia mengusap punggungnya menenangkan.


Devano menerawang, haruskah ia menanyai setiap keluarga di kota ini? Mungkinkah?


Ia jadi teringat Ariana. Adik Marvel yang hilang diculik saat masih bayi. Dirinya juga sedang berusaha membantu mencarinya. Sudah 5 tahun dirinya membantu pencarian adik Marvel. Namun masih nihil. Belum ada hasil.


"Aku harus bagaimana.. huhu hiks."


"Tenanglah. Aku akan membantumu. Kau pasti akan bertemu keluargamu. Nanti cari lagi kalungmu ya. Sekarang istirahat saja dulu." Devano sedikit menghibur Delima supaya gadis itu sedikit tenang.


"Kak. Aku yakin ayah dan ibu masih hidup. Aku yakin."


"Iya. Jangan menangis lagi." Devano kembali merengkuh tubuh mungil itu. Hidungnya menghirup aroma buah yang menguar dari rambut gadis yang sedang ia dekap.


"Aku haus." Devano segera melepas pelukannya dan mengambil botol berisi air mineral kemudian memberikannya pada Delima.


Delima meminum air dalam botol itu dengan rakus. Ia sangat haus.


"Sudah?"


"Eum.."


"Kemarikan botolnya."


"Ini.."


"Sudah jangan bersedih. Wajahmu jadi jelek."


Delima mengerucutkan bibirnya. Matanya masih sembab. Hidungnya merah.


"Lihat. Bibirmu sudah seperti bebek!"


"Kak Devanooo~~!!"


Delima memukul biseps Devano berulang kali sedangkan pria itu hanya beracting memohon ampun sambil tertawa.


"MENYEBALKAAAN!!"


Diluar kontrakan, seorang pria menatap kedua insan yang sedang bercanda di dalamnya. Ia bisa melihat itu semua karena pintunya terbuka lebar.


"Devano sangat bisa dipercaya.", gumamnya sambil tersenyum. "Delima terlihat bahagia bersamanya."


"Aku harap kau memang adikku, Delima. Putri keluarga Jung. Adik seorang Marvel Jung."


Setelah mengatakan itu. Marvel pergi menjauh dari kontrakan sang adik. Dua orang pengawal mendekatinya.


"Tuan Muda..."


"Awasi adikku dengan baik. Jangan sampai dia mengalami hal-hal berbahaya. Apapun!"


"Kenapa Tuan Muda tidak mengatakannya jika Nona Delima adalah adik anda?"

__ADS_1


"Belum saatnya..." Marvel menerawang. "Aku harus memastikannya dulu."


***


__ADS_2