CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 30


__ADS_3

***


Akhirnya libur hari besar. Delima sejak semalam sudah tidur di mansion rumahnya.


Saat ini dirinya sedang duduk menonton TV sambil memakan camilan yang disiapkan oleh para maid di meja itu.


"Hmm.. Lihatlah. Putri ibu ini semakin tembam saja." Almira datang kemudian mencubit kedua pipi putrinya gemas.


"Ibu. Jangan seperti itu. Aku sudah besar."


Sang ibu hanya tertawa. "Liburan satu minggu mau kemana?" Tanyanya


"Ibu... emmm... anu.. boleh tidak.."


"Hm? Boleh apa sayang?"


"Ibu. Aku ingin pulang ke kampung halaman. Ingin mengunjungi makam nenek."


Sang ibu kemudian mengusap kepala anaknya dengan sayang. "Boleh. Dengan kakak?"


"Em.. sebenarnya.... tadinya sih begitu. Tapi.. Kak Devano tahu. Akhirnya dia mau ikut." Suara Delima semakin lirih di akhir kalimat.


"Tidak apa-apa sih. Tapi kakakmu.. apakah sudah setuju?"


Delima mengangguk. "Aku menyuruhnya untuk tidak membawa pengawal."


"Kenapa, nak. Ibu tidak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya."


"Kak Devano pasti menjagaku, Ibu. Percayalah padaku."


Dengan berat hati, sang Ibu mengangguk. "Ibu juga punya permintaan."


"Permintaan apa, Bu?"


"Kamu kuliah ya, Nak. Kamu lulusan SMA kan?"


Delima mengangguk. Menatap sang Ibu. "Iya ibu. Tapi pekerjaanku..."


"Keluar saja, Nak. Kau bekerja di apartemen Devano saja. Beri dia alasan jika kamu akan kuliah. Dia pasti mengerti."


Delima menganggukkan kepalanya untuk kesekian kalinya.


***


Hari masih pagi, dan Devano sudah menunggu Delima di depan kontrakannya.


"Kak. Maaf lama.."


Delima keluar dari kontrakan dengan baju Casual. Terlihat sangat manis di mata Devano. Devano tersenyum lebar.


Delima yang melihat Devank tersenyum lebar sambil menatapnya seketika membuat wajahnya memerah.


"Wajahmu merah. Kau baik-baik saja?" Tanya Devano kawatir.


"Eum.. Ti-tidak apa-apa ayo berangkat sekarang. Hehe."


.


Perjalanan sudah dilalui selama 2 jam. Butuh waktu sekitar 3 jam lagi untuk sampai. Suasana di dalam mobil Devano begitu sunyi. Delima bingung sejak tadi mau bercerita apa. Sebenarnya dirinya mengantuk, tapi dia harus tetap terjaga untuk memberitahu rute perjalanan mereka.


"Kau mengantuk?" Tanya Devano

__ADS_1


"Sedikit."


"Tidur saja. Aku sudah tau kotanya. Nanti jika sudah dekat, kau akan kubangunkan."


Devano menepikan mobilnya sebentar. Ia mengatur tempat duduk yang diduduki Delima supaya merebah(?). Sehingga nyaman untuk tidur. Tidak lupa Devano mengambil selimut di jok belakang dan menyelimuti Delima.


"Tidurlah." Devano tersenyum tampan.


Delima mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Sedangkan Devano mulai melajukan mobilnya lagi.


Selama perjalanan, Devano terus melirik Delima yang tidurnya sangat nyenyak. Ia terus tersenyum dan sesekali tertawa seusai melihat gadis yang sedang tertidur di sampingnya itu.


3 jam perjalanan tidak terasa karena Devano menjalaninya dengan tenang dan bahagia.


"Ima. Bangun." Devano mengguncang bahu Delima yang masih nyenyak. Membuat gadis itu terusik.


"Eung.. Dimana.."


Delima melihat sekitar. Ia kenal tempat ini. "Sebentar lagi sampai kak. Kita belok kiri diperempatan depan. Tinggal ikuti jalan. 30 menit kita sampai."


Devano mengangguk. Menjalankan mobil mewahnya melewati jalan yang tak terlalu lebar.


"Apa tidak capek, Kak?" Tanya Delima.


"Capek. Tapi sebentar lagi juga sampai. Aku akan langsung beristirahat nanti." Jawab Devano santai supaya tidak membuat Delima kawatir.


.


Mobil Devano sangat mencolok di desa membuatnya menjadi pusat perhatian setiap kali berpapasan dengan orang-orang sana.


Siapa gerangan, orang yany membawa mobil mewah? Pikir mereka.


Mobil mewah itu berhenti di sebuah rumah petak. Halamannya bersih. Sepertinya rajin dibersihkan.


Bu Nisa membulatkan matanya ketika dirinya menangkap sosok gadis yang selama ini merantau keluar kota.


"Yaampun! Delima. Apa kabar?" Bu Nisa langsung memeluk Delima. Para tetangga yang melihatnya langsung mendekati Delima.


"Aduh, nak Delima pulang juga. Kami pikir tidak pulang lagi."


Delima hanya tersenyum mendengarnya.


"Eh aduh Cakep. Siapa ini?" Celetuk ibu-ibu yang melihat Devano keluar dari mobil. Ibu-ibu yang tadinya mengerubungi Delima langsung berpindah mengerubungi bule tampan yang merasa risih disana.


"Aduuh. Nak. Ganteng banget. Pacarnya Delima ya?"


Devano menatap Delima dengan tatapan minta tolong. Namun Delima cuek saja sambil terkikik.


"Dia siapa?" Tanya Bu Nisa.


"Em anu.. Dia bosku, Bu. Katanya sekalian liburan."


"Benar?" Goda Bu Nisa


"Iyaaaa." Jawab Delima sambil menghentakkan kakinya didepan bu Nisa.


"Haha. Yasudah yasudah. Ayo keumah ibu dulu. Rumahmu belum dibersihkan."


"Gak papa bu. Nanti aku yang bersihkan. Aku boleh meminjam kasur lantainya bu?"


"Boleh boleh. Nanti ibu ambilkan."

__ADS_1


.


.


.


"Kakak mau tidur di ranjang atau di kasur lipat?" Tanya Delima. Siang sudah berganti malam. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk tidur.


"Kenapa kasur lipat ini diletakkan di ruang tamu?" Devano menjawab sambil melihat sekeliling. Rumah ini mungil. Hanya ada satu kamar. Temboknya sudah luntur. Lantainya semen.


"Em. Karena kamarnya cuma satu. Maaf ya Kak. Pasti kak Devano tidak nyaman dengan rumahku." Delima menunduk merasa malu dengan keadaan rumahnya. Tadi ia sudah membersihkannya dibantu bu Nisa, namun tetap saja namanya juga rumah tua dan alakadarnya.


"Apa yang kau bicarakan?"


Delima masih menunduk. "Maaf. Rumahku jelek."


"Siapa yang mengejek rumahmu?"


"Oh?"


"Kau saja yang tidur di ranjang. Biar aku disini." Devano merebahkan tubuhnya di kasur lipat itu.


"Mana bantal dan selimutnya!"


Delima langsung masuk ke kamarnya dan mengambil bantal serta selimut yang dimilikinya.


'Jangan sampai kak Devano tidak nyaman. Aku tidak tidur dengan bantal juga tidak masalah.' Batin Delima. Dirinya hanya ada satu bantal karena bantal yang dulu sudah sobek dan setelah neneknya meninggal, bantal itu dia buang.


"Ini kak."


"Sini duduk."


"Mau apa kak?"


"Hei. Aku sudah menyetir lama dari pagi. Kepalaku sakit. Bisa kau pijat aku?"


"Oh? Iya tentu!"


Delima langsung duduk di atas kepala Devano. Memijat kepala pria itu pelan.


"Hmm.. nyaman sekali." Gumam Devano. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari pria itu.


Sadar, Delima menghentikan pijatannya kemudian menyelimuti Devano sampai ke leher. Tidak lupa ia juga menyalakan obat nyamuk bakar dan diletakkan di ujung ruangan.


Karena juga sudah mengantuk, dirinya masuk ke kamar, mengambil beberapa baju yang dilipat dari tasnya dan menjadikannya bantal.


"Huuh. Semoga kak Devano betah disini." Gumamnya pelan kemudian mulai berangkat ke alam mimpi.


***


To Be Conrinued


***


Sebenarnya kemarin penulis mau up beberapa episode. Tapi berhubung penulis ada ide lain jadi dituangkan dulu ke novel sebelah yang baru terbit 4 episode. Supaya ide tidak hilang begitu saja.


Mohon Maaf. Haha.


Jujur, Penulis bingung dengan alur cerita ini. Karena menurut penulis, cerita seperti ini sudah sangat pasaran. Dan aslinya di FF sudah end di episode 15 😂😂 Tapi Penulis panjang-panjangin ngeditnya.


Tapi yasudahlah haha.

__ADS_1


Selamat menikmati.


__ADS_2