
**
Pagi ini Marvel siap menjenguk Shera. Delima telah siap dengan sweater berwarna putih, celana jeans dan sepatu kets putihnya.
Sedangkan Marvel seperti biasa memakai pakaian kerja karena ia akan langsung ke kantor setelah menjenguk Shera. Delima sudah menyiapkan buah-buahan yang akan di bawa.
Mereka berangkat jam 7 pagi dan sampai di rumah sakit 30 menit kemudian.
"Kak. Sepertinya di dalam ada banyak orang.", bisik Delima saat ia di depan pintu ruang perawatan.
Delima bisa mengatakan itu karena ia melihatnya dari kaca yang ada di pintu.
"Benar. Tapi tidak apa. Kita masuk saja.", ajak Marvel.
Marvel mengetuk pintu ruang rawat dan beberapa saat kemudian terbukalah pintu ruang rawat tersebut.
Pak Riko menyambut kedatangan Marvel dengan baik.
Marvel dan Delima masuk ke dalam ruang rawat VVIP yang cukup besar. Terdapat sofa di dalamnya.
Marvel menatap ke arah sofa. Ada seorang pria paruh baya dan wanita paruh baya. Marvel mengenal pria paruh baya yang tengah menatapnya.
"Tuan Marvel?"
Marvel tersenyum. Ia mendekati pria paruh baya itu.
"Selamat pagi Tuan Andrew.", sapa Marvel.
"Silahkan duduk. Ini istri saya Liana.", Andrew memperkenalkan istrinya.
Marvel dan Delima duduk di sofa yang kosong.
"Selamat pagi, Nyonya Liana. Saya Marvel. Rekan kerja Tuan Andrew."
"Selamat pagi, Tuan Marvel."
"Marvel saja nyonya." Marvel tersenyum. "Ah. Perkenalkan ini adik saya, namanya Delima."
"Selamat pagi, Nak. Apakah kau temannya Shera?"
Delima mengangguk, "Saya temannya. Walau belum lama hehe."
Liana tersenyum. Ia senang putrinya memiliki teman di negara ini.
"Bagaimana keadaan Shera, Tuan?", tanya Marvel.
Andrew menghela napas, "Ya seperti yang anda lihat. Dia belum sadar dari kemarin."
Marvel menunduk.
"Terimakasih, anda sudah membawa putri saya ke rumah sakit kemarin.", Andrew sangat berterimakasih.
"Sama-sama, Tuan.", jawab Marvel. "Saya sudah menyuruh anak buah saya untuk membantu mencarikan donor."
"Memangnya Shera sakit apa, Kak? Kok aku tidak tahu?", Delima tiba-tiba bertanya.
"Shera memiliki penyakit jantung.", jawab Liana.
Delima terkejut, "Ya ampun, Shera."
"Kami sudah dua tahun ini mencari donor, namun belum menemukannya. Semakin lama tubuh Shera semakin lemah. Dia adalah satu-satunya putri kami.", Liana bercerita sambil meneteskan air mata.
"Saya akan membantu anda. Saya usahakan supaya segera menemukan donor.", ucap Marvel.
"Terimakasih, Nak. Maaf merepotkan.", ucap Andrew.
Marvel menggeleng. Ia meminta izin untuk melihat Shera. Sedangkan Delima mengobrol dengan kedua orang tua Shera.
Marvel duduk di kursi di samping ranjang pasien. Menatap wajah pucat Shera yang tertutup alat bantu pernapasan.
Marvel menghela napas. Ia teringat saat Shera masuk rumah sakit sebelum ini. Ternyata karena penyakit jantungnya.
Marvel melamun hingga ia mendengar sebuah suara lemah.
"Papa.."
Marvel langsung menatap ke arah Shera. Mata itu terbuka dan menatapnya.
Marvel segera menekan tombol di atas ranjang pasien Shera untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian Grey masuk dan memeriksa Shera.
"Kondisi Nona Shera sudah stabil dan membaik. Tolong untuk selanjutnya jangan sampai Nona Shera stress dan kelelahan. Saya permisi."
Andrew dan Liana mengangguk. Marvel menatap Shera dari jauh. Sedangkan Delima menatap dari sofa.
__ADS_1
Grey dan tim keluar dari ruangan besar tersebut.
"Papa.. Mama.."
"Nak kamu sadar. Syukurlah.", Liana mengusap kepala Shera sambil menangis.
"Papa sudah bilang. Lebih baik kamu tetap di negara K dengan kami. Kenapa kamu keras kepala, nak?", tanya Andrew.
Marvel terus menunduk. Ia penyebab Shera ada di Kota J. Shera mengejarnya hingga kemari. Dan Marvel selalu mengabaikannya.
Delima menatap kakaknya yang menjadi pendiam sejak kemarin.
Ia bangkit dari sofa dan memeluk lengan kiri kakaknya.
"Kakak baik-baik saja kan?", tanya Delima lirih. Marvel mengangguk.
"Iya, Pa. Maaf. Aku tidak akan protes jika sekarang Papa memintaku kembali.", Shera mengatakannya dengan lirih karena masih lemah.
Deg
Shera akan kembali ke negara K?
"Kak Marvel?"
Suara lemah itu memanggil Marvel.
Marvel mendekati ranjang pasien. Dan berdiri di samping kanan.
Ia menatap Shera dengan tatapan sulit diartikan.
"Maafkan aku, Kak."
Marvel masih diam. Kenapa gadis itu meminta maaf?
"Kami akan keluar. Kalian bicaralah.", ucap Andrew yang peka dengan situasi.
Andrew, Liana dan Delima keluar dari ruang perawatan. Menyisakan Marvel dan Shera disana.
"Maaf, Kak."
"Untuk apa meminta maaf, Shera?", tanya Marvel pelan.
"Aku menyerah. Aku tidak akan mengganggu kakak lagi. Aku akan pulang kembali ke negara asalku."
"Aku tidak akan mengganggu kak Marvel lagi. Aku janji.", ucap Shera. "Carilah kebahagianmu, Kak. Aku bahagia jika kak Marvel juga bahagia.", lanjutnya.
Marvel bingung harus berkata apa. Tenggorokannya tercekat.
Marvel tidak rela jika Shera kembali ke negara asalnya. Ia tidak rela. Entah apa alasannya.
"Jangan.....", suara Marvel tercekat.
"Waktuku tidak banyak."
Berhenti!
Marvel tidak ingin mendengar kata-kata aneh yang Shera sampaikan.
"Kakak pantas mendapatkan yang terbaik. Maaf. Aku pernah berambisi mendekati Kak Marvel. Kini aku sadar bahwa aku sungguh tidak pantas."
Diam Shera!
Batin Marvel bergejolak.
"Kak Marvel, carilah kebahagiaanmu."
Cukup!
"Cukup, Shera. Jangan mengatakan apapun lagi.", ucap Marvel pelan namun penuh penekanan.
"Aku ngantuk. Aku ingin tidur.", ucap Shera pelan. Kemudian mata itu terpejam.
.
.
.
.
Selama perjalanan ke apartemen Devano, Delima menatap kakaknya yang semakin kacau.
"Kakak baik-baik saja kan?", tanya Delima.
__ADS_1
Marvel mengangguk. Delima menghela napas.
Marvel menghentikan mobilnya di sisi jalan.
"Kakak itu menyukai Shera. Aku sadar sejak awal. Kenapa kakak gengsinya tinggi sekali?", tanya Delima lagi dengan nada kesal.
"Aku tidak tahu.", jawab Marvel. "Aku tidak tahu. Awalnya aku kesal karena dia menggangguku. Namun aku memikirkan perkataanmu. Aku kehilangan saat dia behenti mengirimiku e-mail. Aku kehilangan saat ia tidak lagi megejarku. Aku..."
"Kakak.."
"Kamu mendengarnya tadi kan? Dia akan kembali ke negara asalnya. Dan dia tidak akan menggangguku lagi. Seharusnya aku senang. Tapi kenapa justru sebaliknya? Delima. Apa yang terjadi padaku?"
"Tentu saja karena kakak menyukainya!", teriak Delima keras karena gemas.
"Tidak mungkin."
"Tidak mungkin bagaimana?! Ish! Ya sudah jika kakak tidak percaya padaku. Jangan menyesal nanti jika Shera benar-benar telah kembali ke negaranya dan melupakan kakak!", Delima berkata kesal. "Cepat jalankan mobilnya kak!"
Akhirnya Marvel menjalankan mobilnya menuju apartemen Devano. Setelah mengantar sang adik, ia pergi menuju kantor.
.
.
.
Delima sampai di apartemen Devano setelah menjenguk Shera. Ini masih siang. Dan dia berencana untuk bersih-bersih supaya sore harinya ia hanya tinggal memasak.
Setelah selesai bersih-bersih, Delima duduk di sofa. Ini masih jam tiga sore. Dan Devano baru akan pulang satu jam kedepan. Ia terdiam.
Lusa. Ya, lusa ia akan dipertemukan dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. Hati kecilnya sangat menolak perjodohan ini. Ia sudah jatuh hati pada pemilik apartemen ini.
Delima memejamkan matanya hingga tak sadar dirinya pun tertidur.
Devano masuk ke apartementnya. Ia memijat lehernya pelan. Pekerjaan hari ini begitu menguras energinya. Sejak kemarin dirinya bekerja lebih rajin untuk mengalihkan pikiran soal perjodohan yang akan terjadi lusa nanti.
Ia mengerang pelan karena merasakan kepalanya berdenyut. Sesampainya di ruang tamu, ia berhenti ketika melihat seseorang tertidur di sofa. Devano tersenyum kemudian mendekati orang tersebut. Ia duduk di samping gadis yang tengah tertidur pulas. Posisinya terlihat tidak nyaman namun tidurnya sangat pulas.
Ia mengangkat tubuh kecil itu dan memposisikan untuk berbaring. Setelahnya ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Devano sudah segar setelah mandi. Ia memakai kaos hitam dan celana pendek berwarna senada. Delima masih tertidur pulas saat Devano duduk di sofa. Devano memutuskan untuk menyalakan televisi.
.
.
.
"Hm....", Delima mengerjapkan matanya pelan.
Ia mengubah posisi menjadi miring kemudian menguap lebar. Pria yang sejak sejak tadi disana hanya menggelengkan kepala dengan kelakuan bangun tidur Delima.
"Sudah bangun?", tanya Devano.
"Iya. Ugh. Sakit semua badanku.", jawab Delima pelan. "Jam berapa ini?", lanjutnya.
"Jam 5. Sana masak. Aku lapar."
Delima beranjak dan duduk. Masih lemas karena nyawa masih belum sepenuhnya berkumpul. Devano tertawa pelan saat melihat penampilan gadis itu. Rambut panjangnya berantakan, bajunya juga acak-acakan. Devano bergeser dari duduknya. Merapikan penampilan Delima. Tubuh mereka sangat dekat. Delima melebarkan matanya. Wajah Devano sangat dekat. Dan mata pria itu tengah menatap dirinya.
"Diam dulu. Aku mau mengatakan sesuatu.", ucap Devano. Wajahnya masih tetap ditempat sangat dekat dengan wajah Delima. Membuat gadia itu berdebar.
"Aku.. aku mau masak.", Delima tergagap karena posisi sangat dekat.
"Nanti saja."
Delima hendak sedikit menjauh. Namun tangan besar Devano menahan pinggangnya. Jantungnya samakin berdebar.
"Aku akan dijodohkan.", ucap Devano tiba-tiba.
Deg.
"A-apa?", hanya itu yang keluar dari mulut Delima.
"Aku dijodohkan dengan putri dari teman ayahku. Lusa kami akan berkunjung ke kediamannya."
Devano memperhatikan sekecil apapun respon gadis didepannya. Ia merasakan tubuh Delima yang menegang saat dia mengatakan akan dijodohkan.
"La.. lalu?", lagi. Delima bingung.
"Hm. Sudahlah. Sana masak. Aku sudah lapar.", Devano melepas lengannya dari pinggang Delima. Ia kembali menonton televisi. Sedangkan Delima masih menatapnya dari samping. Entah kenapa rasanya sangat sedih. Devano dijodohkan oleh orang tuanya. Dia juga dijodohkan oleh orang tuanya. Apakah takdirnya seperti ini? Ia menyukai pria menyebalkan yang tengan duduk menonton televisi di depannya. Tapi kenapa semua ini kebetulan? Mereka sama-sama dijodohkan oleh orang tua mereka.
Delima bangkit dan berjalan ke dapur dengan perasaan campur aduk. Ia memasak dengan tidak semangat hari itu.
__ADS_1
To Be Continued