CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 32 (Rencana Perjodohan)


__ADS_3

"Dia sudah keluar dari rumah sakit?"


Marvel memperhatikan Shera dari ujung ruangan sambil menyesap Cappuchino-nya.


Selama beberapa ini dirinya menyadari perubahan gadis itu. Shera sudah tidak pernah mengiriminya e-mail seperti kebiasaannya. Shera juga terlihat tidak terlalu mengejarnya.


Justru yang Marvel perhatikan, Shera selalu menunduk saat Marvel ada disekitarnya. Dan menatapnya dengan tatapan sedih.


Shera telah selesai memesan kue dan minuman. Gadis itu segera mencari tempat duduk. Gadis itu memilih duduk di meja yang memiliki sekat.


Marvel yang melihatnya berdiri dan mengambil kopinya kemudian pelan-pelan duduk di balik sekat.


"Hm. Pak Riko. Kuenya enak sekali. Pak Riko harus menghabiskannya ya!" Suara Shera terdengar jelas di telinga Marvel.


Beberapa lama hanya obrolan biasa yang Shera dan Riko bicarakan. Sampai akhirnya ponsel Shera berbunyi.


"Halo, Papa."


"...."


"Sama Pak Riko. Shera baik-baik saja. Kegiatanku kuliah saja, Pa."


"...."


"Ti.. tidak. Tidak ada masalah kok, Pa. Shera tidak masuk rumah sakit!"


Riko hanya diam. Shera menatap Riko dengan raut muka sedikit takut.


"..."


"Pa.. ", Suara Shere melirih.


"..."


"Shera tidak apa-apa kok, Pa. Jangan Ka...."


"..."


Mata Shera berkaca-kaca. "Mungkin memang Shera tidak akan...."


Marvel mencoba fokus mendengarkan, lebih tepatnya menguping di balik sekat.


"Iya, Pa. Shera janji akan pulang kalau sudah selesai satu semester."


Klik.


"Nona.." Riko menatap Nona Mudanya yang menunduk sambil menatap ponselnya. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Papa masih belum mendapatkan donor jantung, Pak Riko." Setelah mengatakan itu, air mata Shera mengalir deras.


Marvel terdiam. Jantung. Donor jantung? Shera. Apakah gadis itu memiliki masalah dengan organ tersebut? Atau Papa-nya yang menderita penyakit jantung? Berbagai pertanyaan masih berputar di otaknya.


Siapa yang sakit? Shera atau Papa-nya? Tapi kemarin gadis itu masuk rumah sakit? Tapi Grey mengatakan jika Shera hanya sakit biasa! Tapi..


Marvel menyentuh kepalanya. Kenapa perasaannya jadi tidak karuan seperti ini?


.


.


.

__ADS_1


"Delima, aku harus pulang hari ini." Devano masuk ke dalam rumah sederhana itu setelah menerima telepon di teras.


"Ada apa, kak? Katanya pekerjaan sudah dipegang Pak Wira." Tanya Delima


"Ada sesuatu yang tidak bisa ditunda besok pagi di kantor. Aku harus pulang hari ini."


"Em. Aku ikut." Ucap Delima pelan sambil menunduk. Ia masih malu dengan kejadian di air terjun.


Devano menatap Delima sebentar. "Bukannya kau mau disini selama seminggu? Setelah seminggu nanti aku akan menjemputmu."


Delima menggeleng. "Aku mau ikut pulang. Sekalian aku mau mengundurkan diri dari kantor."


"Apa?" Devano berseru kaget membuat Delima sedikit terlonjak.


"Iya, Kak! Aku mau mengundurkan diri! Aku sudah banyak mengambil libur, libur tanpa ijin. Pergi seperti hantu. Datang seperti jailangkung! Bu Viana pasti marah. Daripada dipecat lebih baik mengundurkan diri kan?" Ucap Delima mengalihkan rasa malunya sambil memakan emping yang baru selesai ia goreng.


Masih hangat.


"Terus kau mau kerja di mana kalau mengundurkan diri? Pulang kesini?"


Delima menatap Devano, "Tidak."


"Terus?"


"Kerja di apartemen, Kakak. Aku akan tetap bekerja di apartemen kakak. Kemarin aku mendaftar kuliah. Ada beasiswa jadi aku akan kuliah. Sorenya di apartemen kakak!"


Devano menghela napas lega. Ia kira Delima akan pulang ke rumah ini. Jika iya, maka ia akan sulit bertemu dengan Delima. Hehe.


"Yasudah. Kita harus bersiap." Devano keluar untuk memanaskan mobil dan Delima bersiap karena mereka akan pergi satu jam lagi.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, Devano dan Delima sampai di depan kontrakan.


"Langsung istirahat." Perintah Devano.


Devano berpamitan dan pergi. Delima masuk ke kamarnya dan menelpon kakaknya.


"Kak Marvel." Serunya saat panggilannya tersambung.


'Selamat malam adikku sayang. Sedang apa disana?'


"Aku sudah pulang, kak. Aku sudah di kontrakan."


'Lho? Kok bisa? Bukannya adikku ini ingin disana selama seminggu?' Tanya Marvel bingung.


"Kak Devano ada acara besok pagi. Katanya tidak bisa ditinggal. Jadi kami pulang."


'Kakak jemput kamu sekarang ya? Belum makan kan? Tidur di rumah ya?'


Delima tertawa kecil mendengar kakaknya meminta. "Iya. Aku lapar."


'Kakak bersiap dulu. Tunggu ya!'


Kemudian suara "TUT" terdengar. Panggilan dimatikan dari seberang.


"Ish! Main matikan saja."


.


.


"DEV! Lho kok sudah pulang? Katanya mau seminggu?"

__ADS_1


"Aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, Ibu."


Regina bersedakap. "Lalu Delima bagaimana?"


"Dia ikut pulang. Katanya sekalian mau keluar dari kantor karena mendaftar beasiswa kuliah."


Regina mengangguk. "Setelah kamu bebersih, turun ya. Ibu mau ngobrol sesuatu."


Devano mengangguk.


Devano turun dengan pakaian santai. Di ruang keluarga sudah ada Ayah dan Ibunya yang sedang meminum teh hangat.


"Apa yang akan Ibu dan Ayah bicarakan?" Tanya Devano sesaat setelah duduk di sofa.


Sang Ayah, Marthent membetulkan posisi duduknya dan menatap Putranya.


"Ariana, kau tau Ariana kan?" Tanya Marthent.


Regina hanya diam.


"Iya. Aku tahu. Putri keluarga Jung. Anak dari Uncle Dirga yang hilang. Memang ada apa?" Tanya Devani balik. Ia mengeryitkan kening.


"Keluarganya sudah menghentikan pencarian. Mereka meminta kita semua menghentikan pencarian. Mereka mengatakan pada Papa kemarin malam."


"Apa?!" Devano terkejut. Apakah Keluarga Jung sudah menyerah akan Putrinya yang 20 tahun ini mereka cari?


"Ariana sudah ditemukan."


Devano terdiam. Ariana sudah ditemukan. Ia senang karena Keluarga Jung sudah menemukan Putrinya yang mereka cari. Tapi.. Artinya, dia akan dijodohkan dengan Ariana itu? Lalu Delima. Apa yang harus ia lakukan pada gadis itu?


"Syukurlah, Ayah. Uncle pasti sangat bahagia dengan ditemukannya Ariana." Ucap Devano tanpa semangat.


Regina masih diam memperhatikan Putranya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa denganmu, Dev?" Tanya Regina sambil tersenyum aneh.


"Tidak apa-apa kok, Ibu. Cuma kelelahan saja." Jawabnya terbata.


"Hem. Karena Ariana sudah ditemukan. Otomatis janji keluarga kita dan keluarga Jung akan terlaksana." Ucap Marthent membuat Devano mengepalkan tangannya.


Benar dugaannya. Mereka akan menjodohkannya dengan Ariana.


"Bolehkah aku menolak? Aku belum ingin menikah!" Ucap Devano sedikit tertahan.


"Tidak bisa!" Jawab Regina.


"Ibu! Aku.. aku tidak bisa!"


"Kenapa, Dev. Ini adalah janji kami sejak dulu! Percayalah kau tidak akan menyesal, Putraku."


"Ayah. Aku tidak bisa. Ibu, jangan seperti ini. Aku.."


"Delima?"


Devano terdiam mendengar Ayahnya menyebut nama gadis yang disukainya.


"Menurutlah pada Ayah sekali ini saja! Ayah jamin kau tidak akan menyesal!" Seru Marthent kemudian beranjak dari sofa. Pergi meninggalkan ruang keluarga.


Regina mendekati putranya yang terlihat emosi. Regina duduk disamping Devano. Regina melihat Putranya bernapas kasar dan dadanya terlihat naik turun.


Regina mencoba mengurai tangan Putranya yang mengepal.

__ADS_1


"Percayalah pada Ibu. Kau takkan menyesal. Minggu depan kita akan mengunjungi mansion keluarga Jung. Menurutlah pada kami. Jangan melakukan hal yang merugikan dirimu." Ucap Regina sebelum meninggalkan Devano yang melamun sendirian di sana.


To Be Continued


__ADS_2