
***
"Waaaah!!" Mata Delima berbinar melihat pemandangan didepannya. Dirinya melepas sepatu dan langsung berlari senang menuju bibir pantai. Menghindari air ketika air laut hampir mengenai kakinya.
Devano terpana dengan perilaku alami gadis yang ia ajak ke pantai ini. Pilihannya sangat tepat membawa gadis itu kemari. Devano tersenyum melihat gadis itu sedang bermain di bibir pantai.
Devano duduk di sebuah tempat duduk malas di pinggir pantai yang tetutup payung besar. Memejamkan matanya dan merilekskan pikirannya. Dirinya sangat jarang berlibur seperti ini. Dan ini adalah kesempatan bagus. Biarlah Wira yang menangani urusan kantornya hahaha.
Pantai yang sedang dikunjungi Devano dan Delima hanya ada mereka berdua. Tentu saja ini ulah Devano. Ia menyewa pantai pribadi negara H ini. Hanya karena ingin berduaan dengan gadis bernama Delima.
"Kakak ayo maiiin!!" Delima berlari mendekat ke arah Devano.
"Hemm.." Devano langsung membuka kaus hitamnya. Bertelanjang dada. Devano menarik Delima membawanya kembali ke bibir pantai.
Sssampainya disana Devano membopong Delima membuat gadis itu berteriak.
"Turunkan akuuu!!"
Sebenarnya bukan karena Delima takut. Tapi karena dia malu. Pria didepannya tidak memakai baju atasan dan mengendongnya. Tangannya bisa merasakan betapa halusnya kulit kecoklatan milik pria itu. Huff. Penulis saja sampai meleyot 🤣
Pegangan tangan Delima di bahu Devano semakin erat ketika air sudah sampai sepinggang Devano.
"Kak. Aku tidak bisa berenang. Kembali kesana dong." Delima menatap pria didepannya dengan tatapan memohon.
Devano hanya tersenyum geli. "No. Kita akan berenang."
"Nanti kita tenggelam!!"
"Makannya pegangan yang erat."
Devano mengeratkan tangannya yang bertengger di pinggang gadis itu. Membuat tubuh keduanya saling menempel dan jarak kepala mereka semakin dekat.
Astaga. Devano menjadi panas dingin. Sebagai pria yang dewasa dam normal, bersentuhan dengan perempuan seintim ini membuat pikirannya kemana-mana. Kenapa dirinya jadi mesum begini sih? Haha.
Devano membawa Delima semakin jauh dari bibir pantai kaki Delima yang tadinya menapak pasir kini sudah mengambang. Refleks melingkar di pinggang Devano. Semakin membuat pria itu panas dingin.
__ADS_1
'Seharusnya aku tidak melakukan ini.' Sesal Devano dalam hati.
'Tubuhku payah sekali. Tahan, Dev. Dia belum menjadi istrimu.'
Hah? Istri?
***
"Kak. Kembali kak, aku takut." Delime menatap Devano dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa. Tidak berbahaya kok. Jangan bergerak terus." Devano meringis.
"Kembali kak." Delima merengek.
"Jangan bergerak terus! Iya kita kembali!"
Devano menghela napas. Saat ini dirinya dan Delima duduk di bibir pantai. Delima masih duduk meringkuk. Wajahnya ia sembunyikan di lipatan tangannya yang diatas lutut.
Sedangkan Devano sedang mengontrol sesuatu yang tiba-tiba hidup(?). Haha
"Iya, kak. Tidak apa-apa kok." Delima menolehkan kepalanya ke samping kanan. Menghadap Devano, namun kepalanya masih di atas lutut.
"Kita jalan-jalan ke karang itu, mau tidak?"
Delima mengangguk. Devano menarik tangan Delima pelan dan berjalan menuju baru karang besar yang ada di pantai itu.
Tangan keduanya tertaut. Namun tidak ada percakapan. Keduanya sama-sama diam. Bingung ingin mengobrol apa.
SRASHHH
Ombak besar menyiprat ke arah mereka berdua. Devano yang peka dengan sekitar langsung berdiri dan mendorong Delima ke batuan disana. Tangan dan tubuhnya melindungi tubuh Delima dari cipratan ombak yang lumayan besar.
Sapuan ombak yang mengenai punggung Devano membuat tubuh pria itu sedikit terdorong ke depan. Menghimpit gadis di depannya.
Delima mengepalkan tangannya gugup. Lagi-lagi dia terperangkap dalam posisi seperti ini. Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya memerah. Matanya melirik kesana dan kemari. Tidak fokus. Delima tidak berani menatap dada bidang pria didepannya.
__ADS_1
'Aduh bagaimana ini. Aku deg-degan. Kak Devano kok ganteng sih.'
Itulah kira-kita kata hati Delima. Hahaha.
Delima mendongakkan kepalanya dan mendapati wajah Devano yang sudah sangat dekat. Manik mata kebiruannya menatap Delima dalam.. dan ... teduh..
Wajah pria itu makin dekat. Dekat.. dekat.. dekat...
Delima menutup matanya erat.
Devano yang melihatnya tersenyum dalam hati. Matanya tertuju pada bibir pink alami milik Delima. Sedikit lagi. Ia akan merasakannya.. sedikit lagi.. sedikit lagi.
Sedikit la.....
SRASHH
"Aaargh!!" Devano berseru kesal. Ombak yang menghantam punggungnya membuat dirinya limbung dan gagal mengecup bibir yang ia dambakan 🥺
'Ombak sialaaan!!'
"Jangan disini. Lebih baik kita kembali ke saung. Ombaknya sudah mulai besar. Ayo."
Devano menarik tangan Delima kembali ke saung.
'Huh. Apa yang barusan.' Batin Delima. Jantungnya masih berdebar-debar tidak karuan.
'Ombak sialan. Lain kali akan kubalas kau.' Ujar Devano yang tidak masuk akal.
****
****
Maaf jika penulis mulai berulah ke hal-hal itu 😂
__ADS_1
Penulis udah tua jadinya ya gitu deh hahahaha 🙏🤣