CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 7


__ADS_3

***


Devano keluar dari mobilnya sambil menenteng jas di tangan kirinya dan tas di tangan kanannya. Hari ini dirinya menyetir sendiri karena dia masih sebal dengan asistennya, Wira. Sesampainya di depan pintu apartemennya, dirinya memencet password perlahan. Bunyi beep terdengar kemudian pintu apartemen mewah itu terbuka.


Dirinya masuk dan langsung melemparkan tas laptopnya. Tidak peduli dengan isinya yang mungkin terguncang kaget. Haha.


Ia melepas dasi yang sedari pagi mencekiknya. Kemudian kancing kemejanya ia buka satu per satu. Setelah semua terlepas, ia melepas kemeja itu dan melemparnya ke atas sofa. Ia memijat tengkuknya dengan tangan kanannya. Pegal. Seharian ini ia mencoba menghiraukan perasaan sebal dan kacau dengan cara fokus pada pekerjaan. Dirinya ingin segera mandi. Tetapi dirinya merasa haus! Devano berjalan pelan menuju ke dapur. Ia terkaget ketika matanya menangkap seorang gadis sedang berdiri didepan kompor sambil mengaduk sesuatu. Namun kekagetannya langsung tergantikan dengan senyum. Ia berjalan pelan ke arah gadis itu. Bersandar di meja sambil menatap punggung gadis didepannya yang belum menyadari kehadirannya. Seketika dirinya melupakan rasa hausnya!


Rambut gadis itu yang hitam dan lurus rasa-rasanya mengundang dirinya untuk mengusapnya. Pasti sangat lembut kan? Devano tersenyum kecil membayangkannya. Gadis itu terlihat mematikan kompor kemudian mencicipi masakannya untuk yang terakhir kali. Devano yang melihat itu berjalan mendekat ke arah gadis itu dan memposisikan dirinya tepat di belakangnya.


“Sepertinya enak?”


“Astaga siapa!!!”


Prakk


“Auh!!”


Sebatang spatula mendarat indah di kepala Devano. Ia mengusap kepalanya. Sakit!


“Ba-bapak. Bapak tidak apa-apa kan? Kenapa bapak mengagetkan saya!” Delima berseru protes. Ia sangat kaget tadi. Ia kira ada maling. Jantungnya berdebar kencang karena kaget. Tangannya refleks mengusap kepala Devano yang ada didepannya.


“Sakit tahu!”


“Maaf, Pak. Saya kira tadi ada maling. Maaf.”


Delima baru sadar kemudian melepaskan tangannya dari kepala bosnya. Ia melotot melihat pemandangan didepan matanya. Dada telanjang Devano terlihat jelas oleh matanya! Kebawah sedikit, dan dirinya melihat beberapa roti sobek disana.


“Aaaaaa~” Delima menutup wajahnya dengan kedua tanga. Matanya sudah ternoda!


“Kenapa bapak tidak memakai baju!” teriak Delima sebal.


Devano berhenti mengusap kepalanya. Menatap gadis didepannya yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Memangnya kenapa? Cepat selesaikan masakanmu! Aku sudah lapar!” Devano diam sebentar. “Aku mau mandi dahulu.” Devano pergi menjauh, menuju kamarnya.


Delima membuka tangannya yang tadi menutupi wajahnya. “Sudah pergi?” gumamnya. “Mataku ternoda.” Ucapnya dengan suara melas. Wajahnya memerah karena malu.


***


Delima meletakkan makanan di atas meja. Hanya makanan rumahan. Di kulkas bosnya terdapat banyak bahan makanan dan ia memasaknya sebisanya. Dirinya tidak bisa memasak makanan barat atau lainnya. Tapi jika makanan rumahan, ia bisa.


Delima menatap pintu kamar Devano. “Sepertinya lama ya.” Gumamnya.


Delima berjalan menuju ke sofa, memungut baju Devano yang kotor kemudian membaanya ke tempat mesin cuci. Masih wangi. Ia mengisi mesin cuci dengan air dan detergen. Menekan tombol dan menunggunya selesai berputar.


Sebenarnya tadi dirinya bingung cara menggunakannya. Untung saja dia sudah membeli ponsel. Sehingga dirinya bisa belajar dari aplikasi bernama youtube.


Sambil menunggu selesai, Delima menuju ke ruang makan. Ia melihat bosnya sudah duduk disana sambil menikmati makanannya. Dan.. Dia masih bertelenjang dada! Gila!


“Maaf, Pak. Saya hanya bisa memasak makanan seperti ini. Jika bapak tidak suka tidak usah dimakan.”


Awalnya Delima mengira jika bosnya itu tidak menyukai masakan rumahan. Tapi melihat pemandangan didepannya ia berubah pikiran. Lihat! Bosnya makan dengan lahap!


“Hmm..”


Delima mengakui jika badan bosnya sangat bagus. Ia kini bisa melihatnya secara langsung. Dulu ia hanya bisa melihat pria-pria berbadan kekar di televisi saja.


“Kenapa melamun? Sini, kau juga harus makan!” Devano mengajak Delima untuk ikut menikmati makanan di meja makan.


“Terimakasih, Pak. Itu untuk bapak saja. Saya sudah makan sebelum anda datang.” Delima menjawab.


Matanya berputar gugup. Ia tidak boleh melihat Devano terus-terusan!


“Benarkah? Hm. Masakanmu enak juga walaupun hanya makanan rumahan.” Devano memuji masakan Delima. Ini pertama kalinya dirinya menyantap makanan rumahan seperti ini. Biasanya ia menyantap makanan western di restoran terkenal.


“Terimakasih, Pak. Selamat menikmati. Saya mau melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Ini sudah malam saya harus cepat pulang.”


“Tidak apa-apa. Nanti ku antar.”


“Ya?”


“Nanti ku antar!”


***


Disinilah mereka sekarang. Didepan pintu kontrakan Delima. Suasana kikuk sangat terasa. Baru kali ini Delima diantar oleh seorang pria sampai ke kontrakannya.


“Terimakasih, Pak. Maaf jika saya merepotkan anda. Sebenarnya tidak per…”


“Panggil aku Kakak.”


“Eh?”


“Panggil aku seperti kau memanggil Marvel. Kami seumuran. Dan tidak perlu terlalu formal padaku.”


“Anu, tapi anda kan bos saya.”


“Panggil aku seperti kau memanggil pria itu! Kau paham tidak?!” Devano menyemprot Delima hingga Delima memejamkan matanya.


“Iya, baiklah! Anda sangat menyebalkan!” setelah mengatakan itu, Delima berbalik ke pintu membuka kuncinya dan masuk ke dalam kamarnya. Dirinya tak menghiraukan Devano yang masih mematung disana. Ia kesal!


Devano mengambil ponsel di dalam saku celana pendeknya. Men-dial seseorang.


“Pasangkan CCTV di seluruh ruang apartemenku. Kecuali kamarku dan kamar mandi.”


Setelah mengatakan itu, ia berbalik kembali menuju apartemen.


Sedangkan Delima masih berguling kesana-kemari di single bed kamarnya.


“Dulu cuma bisa lihat di TV! Tapi tadi aku melihatnya secara langsung!” Delima berseru sambil menggigit bantal gulingnya gemas. “Badannya bagus banget, pengen pegang!”


Delima menatap langit-langit kamar.


“Pak Devano itu ganteng banget sih. Wajahnya kayak bule. Pasti ayah ibunya tampan dan cantik! Dia juga sudah punya perusahaan. Beruntungnya..”


Mata Delima berkaca-kaca.

__ADS_1


“Ayah dan ibu.. Apakah kalian masih hidup? Apakah kalian juga mencariku? Hiks..” Delima menangis untuk kesekian kalinya. Sudah hampir dua bulan lamanya ia merantau di kota J. Tetapi dirinya belum bisa menyewa orang untuk mencari keluarganya. Biayanya pasti sangat mahal. Dirinya berpikir jika hanya sendiri mencari, pasti akan sulit. Maka dari itu dirinya mencoba menabung untuk menyewa orang. Tabungannya baru terkumpul  sedikit. Delima menangis hingga tak terasa dirinya tertidur.


***


Seorang pria termenung di balkon kamarnya. Ia mengeluarkan sebuah benda keemasan dari dalam sana. Dirinya menatap benda tersebut lama.


“Apakah itu mungkin?” tanyanya lirih. Matanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian air mata lolos dari mata tajamnya.


“Aku akan menjagamu mulai sekarang.” Gumamnya sambil menggenggam erat benda tersebut. “Aku harus memastikannya sendiri sebelum memberitahu semuanya.”


Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya. Men-dial seseorang.


“Hentikan semuanya sekarang..”


***


Delima terbangun ketika ketukan pintu mengusik tidurnya.


“Iya sebentar.”


Delima turun dari ranjang dengan malas. Kemudian membuka pintu.


CKLEK


Seorang pria menatap gadis yang baru saja membuka pintu. Ia tersenyum lucu. Dirinya melihat gadis kecil didepannya yang memakai daster dengan motif beruang, rambutnya yang hitam dan lurus terlihat tak tertata, khas manusia yang baru bangun tidur!


“Delima?”


“Uh eung?” Delima memicingkan mata. Tak lama kemudian memelototkan matanya. “Kak Devano?! Ngapain disini?!” senyum Devano semakin merekah mendengar panggilan dari gadis kecil di depannya.


“Menjemputmu, tapi sepertinya kau belum siap ya?”


“Kakak duluan saja! Kenapa menjemput?!”


“Sudah. Aku tunggu di mobil sebelah sana! Tidak ada bantahan atau kau dipecat!”


What?


Delima mau tidak mau menuruti perintah bosnya. Bibirnya mengerucut.


Setelah mandi dan bersiap, Delima berjalan menuju mobil bosnya. Masih dengan bibir maju ke depan.


“Wanita memang selalu lama ya jika berdandan?” Devano yang sedang bersandar di pintu mobilnya sambil bersedakap di dada.


Jas yang biasanya melekat di tubuhnya belum ia pakai.


“Tadi kan sudah dibilang untuk duluan saja!” Delima mendelik.


Devano tersenyum geli. Dirinya menatap gadis kecil didepannya. Memakai celana jeans dan baju atasan berwarna cream. Sangat cocok. Matanya tidak bisa beralih dari gadis didepannya.


Dirinya kemudian masuk ke kursi pengemudi. Membuka jendela mobil mewah tersebut.


“Cepat masuk!”


“Kakak duluan saja ya. Nanti jika ketahuan orang lain pasti akan aneh.” Delima berujar kawatir. “Masa sih bosnya berangkat bareng Office Girl?”


Delima mendelik tidak suka opada Devano.


“Apa-apaan sih! Tidak mungkin! Untuk apa memodusi anda?” Delima mendengus. Kemudian berjalan menjauh. Menuju Halte bus.


“Hei!” Devano keluar dari mobilnya dan menyusul Delima.


“Kenapa Kakak mengikutiku!”


“Berangkat bersama denganmu?!”


Langkah Delima terhenti. Devano juga mengikutinya.


“Dengar ya, Kak! Kakak itu pasti tidak pernah kan naik bus. Nanti pasti bla.. blaa.. bla….”


“Sudah?”


“Sudah apanya?”


“Mengomel. Kau seperti ibuku. Sangat cerewet!”


Delima mendelik sebal. Ini masih pagi, dan pria didepannya ini sungguh menyebalkan. Mengekorinya seperti anak bebek yang mengikuti induknya!


“Terserah!”


Delima melanjutkan perjalanannya ke halte bus. Sesampainya di halte bus, yang ditunggunya langsung datang. Sangat beruntung sehingga tidak perlu menunggu lama. Ia segera masuk kedalamnya. Karena busnya lumayan penuh, Delima memilih berdiri.


“Panas ya.”


Delima menatap pria disampingnya.


“Kan sudah kubilang, tidak perlu mengikutiku!”


“Tak masalah. Aku senang.” Pria disampingnya –Devano- tersenyum senang.


“Lihat! Pria itu sangat tampan!”


“Iya benar!”


“Seperti bule…”


“Waaaa..”


“Waaaa..”


“Seandainya aku menjadi pacarnya… bla..bla.. bla..”


Telinga Delima terasa panas karena selama perjalanan banyak sekali perempuan yang memuji pria disampingnya.


“Bisa-bisanya mereka membicarakan pria menyebalkan seperti dia!” Delima mendesis lirih.


“Kenapa? Kau cemburu?”

__ADS_1


DUARR


Ternyata Devano mendengarnya.


“Cemburu apanya! Siapa yang cemburu!”


CKIIIT


Bus berhenti di halte perusahaan Wijaya. Delima segera turun dari bus. Dirinya sudah sangat sebal.


“Hei! Delima! Berani-beraninya kau meninggalkanku!”


Delima berjalan sangat cepat ke tempat kerjanya. Ia ingin segera kabur dari bosnya itu. Titik!


“Hei! Nanti selesai bekerja kita ke apartemen bersama!” Devano berteriak keras.


“Saya tidak bisa!” Delima menjawabnya acuh.


“Berani-beraninya kau membantah! Kau harus menurut. TITIK!”


Delima akhirnya menghilang dari pandangan Devano. “Astaga gadis ini. Makin lama makin menyebalkan saja.”


Devano memperbaiki dasinya sebelum masuk melewati pintu depan perusahaannya.


“Sial. Demi apa sampai aku harus mengekori gadis kecil itu? Bahkan ini pertama kalinya aku naik bus dan berdesakan disana.”


Namun setelah mengatakan hal tersebut, senyum tersungging di bibirnya.


“Bos? Kenapa kau senyum-senyum? Kau gila? Sudah minum obat?”


DUARRR


“Sialan kaaaau kampret!!”


Wira langsung menggunakan jurus kaki seribu untuk masuk ke


dalam kantor.


***


“Delima!”


“Kak Marvel! Sedang apa kakak disini?” Delima menjawab sapaan Marvel yang akan menuju ruangan bosnya.


“Aku mau bertemu, Devan.”


“Oh begitu..”


“Ini untukmu!” sambil tersenyum, Marvel menyerahkan sebuah bingkisan yang di kemasannya terpampang nama sebuah restoran.


“Eh? Apa ini, Kak?” Delima menerima bingkisan dari Marvel.


“Tolong dimakan sampai habis ya?” Marvel mengusap sebentar kepala Delima kemudian berlalu mneuju ruangan Devano.


“Ya ampun, kak!” Delima berbalik dan berteriak hendak protes, namun Marvel sudah tidak terlihat dibelakangnya.


“Astaga. Kak Marvel. Bisa-bisanya memberiku makanan mewah seperti ini.” Delima menggelengkan kepalanya.


Namun senyum tersungging di bibirnya. “Hehehe. Makan enak. Lumayan.”


***


Didalam ruangan itu terdapat tiga orang yang sedang mendiskusikan sebuah proyek kerjasama. Suasana serius sangat terasa. Berbagai pertanyaan dan jawaban diajukan oleh masing-masing orang disana.


“Baiklah. Akan aku usahakan untuk selesai 3 bulan kedepan.” Marvel menandatangi sesuatu. Setelah selesai mereka merapikan dokumen dan menyingkirkannya dari meja. Kemudian saling mengobrol santai.


“Devan.”


Suasana berubah menjadi kembali serius,


“Ada apa?” Devano menjawab kemudian menyeruput kopinya.


“Kau menyukai Delima?”


UHUKKK


Dia tersedak!


“Sepertinya begitu, Mar.” Wira menyeletuk santai.


“Jangan panggil aku seperti itu, Wir!” seru Marvel


“Kau juga jangan memanggilku seperti itu, Mar!”


“Diam kalian! Astaga, aku tersedak seperti ini dan hampir meregang nyawa. Sedangkan kalian malah berdebat!”


“Kau lebay sekali, Dev.” Wira menanggapi Devano


“Sekali lagi aku bertanya padamu, Dev. Kau menyukai Delima?”


“Aku juga!”


“Wira Sentana! Bisakah kau diam! Aku sedang serius!” Marvel terlihat kesal karena Wira terus menyela. Sedangkan yang dibentak hanya meringis kemudian meminum kopinya santai.


“Tidak. Tentu saja aku tidak menyukai gadis krempeng sepertinya!” Devano menjawab –tidak yakin-


Marvel dan Wira memicingkan matanya ke arah Devano.


“Benarkah?” Tanya Wira dan Marvel bersamaan.


“Aku harap kau memang tidak menyukainya.” Marvel tersenyum misterius.


Devano menatap tajam lelaki di depannya.


“Aku akan menjaganya mulai sekarang.”


'Apa? Menjaganya? Apa-apan dia ini?'

__ADS_1


****


__ADS_2