
***
Hari sudah sore waktunya Delima kembali ke kontrakan.
Ia keluar dari kantor dan duduk di tempat duduk depan kantornya.
Tiba-tiba sebuah mobil behenti didepannya.
"Ayo masuk." Marvel menyuruh adiknya masuk kedalam mobil. Delima menurutinya. Setelah siap, Marvel melajukan mobilnya pulang.
"Kak. Antarkan aku ke apertemen kak Devano." Ucap Delima.
"Untuk apa kesana?"
"Ehehe.. aku kan juga bekerja di apartemennya."
"Astaga! Besok berhentilah. Sudah cukup lelah kau bekerja di kantor Curut itu. Kenapa menerima pekerjaan di apartemennya?" Marvel berkata sebal. Dasar bule curut. Enak saja dia menyuruh-nyuruh adiknya bekerja juga di apartemennya.
"Dulu kan aku membutuhkan uang kak. Kak Devano memberikan gaji sangat banyak jika bekerja di apartemen. Maka dari itu aku mau bekerja padanya."
Marvel menghela napasnya pelan. Walaupun berat, tapi Marvel menuruti apa kata adiknya.
Sesampainya di apartemen Devano, Delima turun disusul Marvel.
"Kenapa mengikutiku kak?"
"Memangnya kenapa? Aku ingin ikut." Jawab Marvel santai
"Nanti aku bisa pulang sendiri kak."
"No! Kau akan pulang bersamaku. Cepat masuk." Marvel menarik tangan Delima masuk ke apartemen Devano.
Sesampainya di depan pintu, Delima memasukkan kata sandi yang sudah pernah diberikan. Seketika pintu terbuka setelah Delima menekan tombol Open.
Marvel terus mengekori adiknya sampai sofa.
Dia duduk disana kemudian menyalakan televisi.
"HEI! Kau kenapa ada disini, Mar!" Devano yang baru keluar dari kamar mengomel saat melihat Marvel duduk santai di sofanya.
"Kenapa? Biasa sajalah. Aku juga sering kemari kan?" Jawab Marvel santai.
"Tadi Kak Marvel yang mengantarku." Delima muncul dari dapur membawa dua gelas Es Syrup.
"Apa? Kenapa kau diantar olehnya? Tadi kau menolak ajakanku, malah menerima ajakan si Mar ini?" Devano merasa kecewa.
Delima menolak ajakannya untuk pergi ke apartemen bersama-sama, malah pergi dengan Marvel.
Tangannya mengepal. Marvel melihatnya dan ia tersenyum.
"Iya. Aku mengantarnya kemari. Tadi pagi kami janjian pulang bersama." Ucap Marvel memanas manasi.
Devano menatap Marvel dengan tatapan sengit. Dibalas tatapan misterius dari Marvel.
Delima yang merasakan suasana tak enak kemudian langsung pergi ke dapur.
.
Ketiganya duduk dengan tenang. Karena Marvel juga disana, maka Delima juga sekalian memasak lebih banyak.
Delima makan dengan pelan. Sesekali Marvel mengambilkan lauk kepada sang Adik.
Membuat Devano panas.
Matanya tak pernah lepas dari dua orang yang duduk didepannya.
Delima yang baru saja menerima pelayanan(?) dari sang kakak, melirik ke arah Devano yang memasang wajah masam.
Pria itu belum menyentuk makanan sedikitpun. Sejak tadi hanya menatapnya dan menatapnya dengan ekspresi yang sangat sulit ditebak.
Kreet
Devano mendorong kursinya mundur kemudian pergi dari ruang makan dan keluar ke balkon.
"Biarkan saja. Makan dulu. Kalau sudah selesai baru susul Curut itu. Bawakan makanan."
Delima yang tadinya akan menyusul Devano, mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Pria itu kenapasih?
Sepertinya marah. Tapi kenapa harus marah? Adakah yang membuatnya marah?
'Dasar Curut. Lihat saja. Aku akan membuatmu cemburu haha.' Marvel membatin senang.
.
"Kak. Kenapa tadi tidak makan. Ini aku bawakan makanan." Delima datang mendekati Devano yang sedang duduk santai di balkon apartemennya.
Angin malam yang berembus membuat Delima begidik. Dingin. Tapi pria itu hanya memakai kaos dan celana pendek. Apa tidak kedinginan?
Devano menatap ke pintu balkon apartemennya.
"Kak Marvel sudah pulang. Aku akan menginap disini. Boleh kan?"
Devano menatap Delima sebentar kemudian mengangguk.
Akhirnya Marvel pergi. Batin Devano
Devano kemudian mengambil piring dari tangan Delima, meletakkan di meja dan mulai memakan makanan yang tersaji hingga tandas.
Ia mengambil gelas yang tadi dibawa serta oleh Delima, meminum isinya.
Devano melirik gadis yang duduk di depannya. Gadis itu menunduk sambil menyatukan tangannya di paha. Bibirnya terlihat sedikit bergetar.
Sepertinya kedinginan?
"Ayo masuk. Kau kedinginan." Ajak Devano
Delima mengangguk. Kemudian masuk ke apartemen. Devano menutuo pintu balkon dan mengekor di belakang Delima yang berjalan pelan ke ruang TV.
Sesampainya disana Delima duduk di karpet bersandar pada sofa.
Devano masuk ke dalam kamarnya mengambil selimut. Kemudian menyelimuti Delima yang fokus menonton TV.
"Terimakasih." Delima tersenyum.
Devano ikut duduk di samping gadis itu. Keduanya terdiam menikmati sebuah drama romantis.
Devano yang tidak pernah menonton drama hanya tersenyum tipis.
Mata Delima membulat sempurna saat layar TV menunjukkan sebuah adegan.
Wajahnya memerah.
Di layar terlihat pasangan itu sedang menikmati penyatuan bibir mereka. Sebenarnya sangat romatis. Tapi Delima malu karena saat ini sedang menonton dengan orang lain.
"Kenapa?" Tanya Devano
"Ahaha.. ahaha. Tidak apa-apa kak. Ayo menonton channel yang lain. Ahaha.." dengan kikuk Delima mengganti channel TV lain yang menampilkan video Hewan dalam hutan.
Hening..
Devano melirik gadis disampingnya yang terlihat terkantuk-kantuk. Mata gadis itu sudah terpejam. Kepalanya menunduk hampir jatuh 😂
Devano segera menangkapnya 😂
Kemudian meletakkan kepala cantik itu di bahunya. Tangannya menelusup ke dalam selimut 🤔
Mengambil tangan gadis itu dan menggenggam telapaknya. Sedangkan tangan satunya memeluk bahu gadis itu dari belakang. Membuat gadis itu menggeliat dan kepalanya berpindah dari bahu ke dada bidangnya.
"Hehe.." Devano tersenyum senang dengan posisi ini.
Dirinya bisa menghirup aroma rambut gadis itu.
Hingga lama-kelamaan dirinya juga ikut mengantuk.
***
Marvel berjalan di koridor rumah sakit. Ia akan bertemu Grey malam ini.
Grey, adalah temannya yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit itu. Grey adalah dokter muda yang jenius, wajahnya yang tampan membuat para wanita di rumah sakit tergila-gila padanya. Saat ini Grey sedang melanjutkan studinya untuk spesialis dalamnya, sembari bekerja di rumah sakit. Rumah sakit tempat Grey bekerja adalah milik ayahnya. Artinya dia adalah pewaris ayahnya di masa depan.
Malam ini Marvel datang untuk medical check up dan meminta vitamin yang biasa ia konsumsi untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya.
Marvel adalah seorang Pria yang termasuk rajin melakukan medical check up. Demi kesehatannya tentunya, bukan karena ada penyakit atau yang lain karena sebagai seorang CEO jadwalnya sangat padat dan menguras pikiran.
__ADS_1
Saat akan masuk ke ruangan Grey, Marvel melihat siluet seorang gadis yang ia kenal sedang memakai pakaian umah sakit di ujung koridor.
Gadis itu sedang mengobrol dengan pria paruh baya yang juga ia tahu. Pria yang waktu itu menggendong gadis itu.
Gadis itu terlihat berbicara sebentar kemudian kembali masuk ke dalam ruangan. Sedangkan pria tadi pergi dan berbelok ke kanan.
Dengan rasa penasaran yang masih tinggi, Marvel membuka ruangan praktek Grey. Dirinya sudah memiliki janji dengan dokter muda itu di luar jam praktek sehingga sangat mudah saja untuk masuk sesuka hati.
"Hai broo. Kau datang juga. Jam berapa ini?" Grey melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam.
"Maaf tadi aku ada urusan. Cepat lakukan saja." Ucap Marvel
"Baiklah baiklah. Lepaskan pakaianmu dan berbaring disana."
Marvel mengikuti arahan dokter muda itu. Sedangkan Grey mempersiapkan segala sesuatunya.
.
"Baiklah seperti biasa kau sehat-sehat saja. Tidak ada masalah. Vitaminnya bisa kau ambil di tempat biasa." Grey menuliskan sebuah resep yang harus Marvel tebus.
"Grey, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" Grey menjawab sambil menulis.
"Apa kau tahu pasien yang ada di ujung koridor? Aku tadi melihatnya diluar ruang rawat."
Grey mengeryitkan keningnya. Ia kemudian teringat akan gadis yang baru saja masuk tadi siang.
"Oh. Itu. Tau dong. Memangnya kenapa?"
"Dia sakit apa?"
"Oh waaaw seorang Marvel menanyakan seorang gadis. Waw ada apa ini? Hahaha." Grey tertawa terpingkal-pingkal.
Marvel memutar bola matanya malas.
"Dia itu putri salah satu kolegaku. Aku pernah bertemu dengannya. Dia sakit apa? Jawab saja apa susahnya?"
Grey membuka mulutnya namun tidak jadi. Ia teringat permintaan gadis itu untuk tidak mengatakan penyakit yang sebenarnya.
"Em. Dia tadi hanya kelelahan saja. Katanya sedang menstruasi, perutnya sakit sampai pingsan." Ucap Grey berbohong.
Sebagai dokter, ia selalu menghormati keinginan sang pasien. Karena orang di depannya ini bukan keluarga dari gadis itu, maka tidak mengapa jika Grey berbohong akan kondisi pasiennya.
"Benarkah. Aku melihatya pingsan ditaman tadi."
"Kenapa sih? Kamu tertarik padanya? Jangan dong. Aku jadi punya rival kan." Goda Grey.
Marvel mendelik menatap Grey. "Tertarik apanya! Aku hanya penasaran saja!"
"Ooh. Benarkah. Bagus dong. Artinya aku tidak jadi punya rival."
"Mana cepat resepnya.
"Ck. Dasar. Ini ambil. Pulanglah."
Tanpa pamit Marvel keluar dari ruangan Grey membuat Grey menggelengkan kepalanya.
Marvel menutup pintu ruangan itu. Kembali menoleh ke ujung koridor. Di sana terlihat Shera duduk di kursi tunggu. Tak lama kemudian pria paruh baya datang dan memberikan sebuah kantong. Shere terlihat sangat senang saat pria psruh baya itu memberikan kantong pada gsdis itu.
Marvel menyandarkan tubuhnya di dinding sambil bersedakap di dada. Matanya tak lepas dari gadis bidikannya yang sedang makan es krim sambil tersenyum. Pria paruh baya itu juga terlihat sedang ikut makan es krim sambil berbicara.
Sesekali gadis itu tertawa menanggapi pria paruh baya itu.
Tak sadar, Marvel ikut tersenyum melihatnya. Hatinya menghangat melihat senyum gadis itu. Senyum manis yang menenangkan.
Seperti orang bodoh, sudah 15 menit dirinya masih berdiri di tempat yang sama sambil menatap orang yang sama.
Marvel menegakkan tubuhnya saat melihat gadis itu berdiri dari duduk dan masuk ke dalam ruang rawat.
"Apa yang aku lakukan." Tersadar akan kelakuannya yang di luar nalar, Marvel akhirnya pergi dari sana. Menebus vitamin yang diresepkan Grey untuknya.
***
To Be Continued
***
__ADS_1