CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 34 (Mendaftar Ke Universitas)


__ADS_3

***


Delima termenung di dalam kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, biasanya ia sudah tidur. Tapi malam ini justru ia sulit untuk tidur.


"Bagaimana ini? Aku mau dijodohkan."


Itulah kata yang berulang-ulang ia ucapkan.


"Aku harus bagaimana? Aku.."


Delima membenamkan wajahnya ke bantal. Hatinya kacau.


.


.


.


Keadaan Devano tak ada bedanya dengan Delima. Saat ini ia sedang berbaring di ranjang kamarnya sendiri sambil menatap langit-langit.


"Dijodohkan. Dengan Ariana. Adik Marvel. Lalu Delima bagaimana?"


Devano mengusap wajahnya kasar.


"Haruskah aku menerima perjodohan ini?"


Devano berpikir. "Aku akan menolaknya saat mengunjungi rumah uncle."


Ia terdiam. "AAARGGH!!!"


.


.


.


Delima sudah siap dengan kemeja dan rok pendek selututnya. Ia memakai flatshoes, rambutnya ia biarkan tergerai.


Delima turun ke meja makan dengan wajah lesu. Hari ini dirinya terlihat kurang bersemangat.


Ia duduk di meja makan yang sudah ada orang tua dan kakaknya.


"Sayang. Kok lemas banget sih?", tanya Almira, sang ibu


"Tidak apa-apa, Ibu. Aku cuma susah tidur.", jawab Delima lemas.


Marvel yang melihatnya sungguh tidak tega. Pasti adiknya terkejut atas rencana perjodohan ini.


"Sayang, makan yang banyak. Hari ini kamu mau mendaftar ke Universitas kan?", tanya sang Ayah.


Delima mengangguk. "Mau ke kantor dulu menyerahkan surat pengunduran diri, Ayah."


Dirga mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet. Sebuah kartu berwarna hitam dan memberikannya pada Delima.


"Ini untuk kebutuhanmu selama kuliah."


"Apa ini, Ayah?"


Dirga tersenyum, "Untuk kebutuhan kamu. Kamu bisa membeli apa saja dengan kartu itu. Bahkan membeli mobilpun bisa jika kamu mau."


Delima membulatkan matanya. Sebanyak itukah isinya?


"Benarkah?", tanya Delima. "Tapi aku tidak bisa menyetir. Hmm. Beli sepeda saja ya. Ah.. Tapi kampusku jauh. Kalau beli motor boleh kan, Ayah?", lanjutnya polos.


Marvel menahan tawa. Adiknya memang sedikit polos walaupun cerewet. Marvel yakin jika adiknya tidak pernah memegang Black Card. Sedangkan sang ibu hanya tersenyum.


"Pakai kartunya kalau mau beli, nak. Minta bantuan kakakmu dalam menggunakannya. Tidak usah takut habis. Pakai sepuasmu juga boleh. 20 tahun kamu hidup dalam kesusahan. Sekarang apapun yang kamu inginkan akan Ayah dan Ibu kabulkan."


Delima tersenyum dan mengangguk senang. Membayangkan akan memakai motor baru yang sejak dulu ia inginkan.


"Sudah-sudah, kita makan dulu.", karena semua makanan sudah siap, Marvel akhirnya menginterupsi obrolan dan memulai makan.


Keluarga itu makan dalam diam. Setelah selesai dan berpamitan, Marvel mengantarkan Delima ke kantor.


"Kamu tidak perlu kawatir soal perjodohan. Kakak jamin kamu tidak akan menyesal. Percayalah.", ucap Marvel sesaat setelah keduanya keluar dari mobil. Suasana Perusahaan Wijaya masih sepi karena masih tebilang pagi.


"Iya, Kak." Delima tersenyum.


"Masuklah, kakak akan menunggu di taman."


Delima masuk ke dalam kantor. Sedangkan Marvel berjalan menuju taman. Hari ini dirinya akan menemani sang adik pergi ke Universitas. Mendaftarkan adiknya supaya bisa mengenyam pendidikan tinggi sesuai masukan dari orang tuanya.


.


.


.


Delima berjalan menuju ruangan Viana. Sesampainya disana dirinya duduk di kursi tunggu karena Viana belum datang.


Setelah 30 menit menunggu. Viana terlihat berjalan mendekati ruangannya.


"Lho. Kamu ngapain? Kok belum ganti baju? Sana ganti. Bersihkan ruangan Pak Devano.", Viana kebingungan karena Delima justru masih mengenakan pakaiannya.


"Saya ingin bicara dengan Bu Viana.", jawab Delima.


"Kalau begitu ayo masuk."


Delima mengikuti Viana masuk ke dalam ruangan.


"Duduk."


Delima menuruti.


"Ada perlu apa dengan saya?"


Delima mengambil sebuah amplop di dalam tasnya. Memberikan kepada Viana. Viana menerimanya kemudian membukan dan membaca isinya.

__ADS_1


"Kamu mau mengundurkan diri? Kenapa?"


Delima meringis. "Saya mendaftar ke Universitas, Bu."


"Hmm. Begitu ya. Baiklah. Saya sampaikan dulu pada atasan. Kamu tunggu disini sebentar ya." Viana kemudian keluar dari ruangan meninggalkan Delima sendirian di sana.


.


.


.


Devano masuk ke dalam ruangan bersama Wira dan langsung duduk di kursinya. Keningnya mengeryit.


"Wir. Apa gadis kecil itu belum membersihkan ruangan ini? Mejaku berdebu!"


"Wah. Aku tidak tahu. Sebentar aku akan menemui Viana."


Setelah beberapa menit, Wira kembali ke ruangan.


"Gadis kecil itu mengundurkan diri pekerjaannya."


"APA?"


Wira memutar bola matanya. "Iya mengundurkan diri. Baru saja. Katanya sih mau mendaftar ke Universitas."


Devano teringat. Ketika di Desa gadis itu berkata jika ia mendapatkan beasiswa.


"Suruh Office Boy untuk membersihkan ruangan ini sekarang. Sungguh kotor sekali ruanganku!", keluhnya.


Wira akhirnya keluar lagi untuk memanggil karyawan bersih-bersih.


Devano mengambil ponselnya dan menelpon Delima.


'Halo, Kak.'


"Kamu jadi mendaftar ke Universitas?", tanya Devano tanpa basa-basi.


'Iya, Kak. Kan aku sudah bilang aku mendapat beasiswa. Ini mau kesana mengurus berkas.'


"Aku akan mengantarmu."


'Tidak perlu, Kak. Aku diantar Kak Marvel.'


Ekspresi Devano berubah dingin. "Kenapa Marvel?"


'Karena dia Ka... em.. maksudku.. tadi pagi kami bertemu dan dia menawarkan diri mengantarku, Kak.'


"Baik. Selamat bersenang-senang dengan Marvel!"


KLIK


Devano memutuskan panggilan secara sepihak. Astaga ini masih pagi kenapa dirinya sudah badmood begini?


.


.


"Kenapa?", tanya Marvel.


"Kak Devano tiba-tiba mematikan telepon. Aku kesal, kenapa nada bicaranya seperti orang marah begitu? Memang aku salah apa? Padahal kan aku perginya sama Kakak.", jawab Delima kemudian mengerucutkan bibirnya.


"Ha? Hahahah hahaha."


"Kenapa Kakak malah tertawa?!"


"Tidak apa. Ayo masuk ke mobil."


Selama perjalanan, Marvel terus menahan senyum. Sahabatnya sepertinya sudah sangat bucin kepada adiknya.


"Kakak aneh daritadi, muka kakak seperti sedang menahan eeq."


"Tidak apa. Hanya merasa lucu saja denga bule curut itu."


"Bule curut?"


"Iya. Si Devano itu."


"Em... Kakak bersahabat dengannya ya?", tanya Delima.


"Iya. Kami bersahabat sejak SD. Dengan Wira juga. Kami bersekolah ditempat yang sama hingga S2.", Marvel menjelaskan.


"Um.. begitu ya."


"Nah sudah sampai."


Marvel mematikan mesin mobil dan keluar diikuti Delima. Mereka berjalan menuju ke Rektorat Universitas. Selama menuju ke Rektorat, banyak pasang mata yang melihat ke arah Marvel dan Delima.


Tidak sih. Sepertinya mereka hanya menatap kakaknya saja. Bahkan Delima bisa mendengar gadis-gadis yang melewatinya terang-terangan memuji ketampanan kakaknya.


"Kakakku memang setampan itu.", Delima berkata lirih sambil menatap punggung lebar kakaknya yang berjalan didepannya.


Delima memperhatikan, Kakaknya memang tampan. Tubuhnya tinggi dan lumayan berotot, kulitnya putih, wajahnya mulus tanpa ada jerawat sedikitpun. Apalagi dia seorang CEO di 정 Corp kan? Paket lengkap. Kaya dan tampan. Impian semua gadis.


Ugh. Seandainya Marvel bukan kakaknya mungkin dia akan seperti gadis lain yang menginginkan kakaknya menjadi kekasihnya. Eh..


Tapi, dirinya menjadi adiknya saja rasanya sudah sangat bangga. Lahir dari rahim yang sama hehehe..


Delima terbuai dalam pikirannya sendiri tanpa menyadari jika dirinya juga menjadi pusat perhatian para pria yang melewatinya.


DUG


Delima menabrak punggung Marvel.


"Auw.."


"Sedang memikirkan apa sampai tidak fokus seperti itu?", tanya Marvel sambil tertawa.

__ADS_1


"Tidak memikirkan apa-apa!"


"Yasudah. Ayo masuk. Siapkan berkasnya."


Delima mengangguk kemudian menyiapkan berkasnya untuk diberikan ke pihak Universitas.


.


.


.


"Kau kenapa sih, Dev? Dari tadi tidak fokus.", tanya Wira heran.


"Wir. Cari tahu. Dimana si gadis kecil itu mendaftarkan kuliahnya."


PROK PROK PROK


"Jadi itulah yang membuatmu sedari tadi tidak fokus."


"Jangan banyak protes, dasar kampret."


"Hahahah. Baiklah-baiklah."


Wira kemudian mengambil tab-nya dan kembali ke ruangannya.


Devano nenyandarkan kepalanya di kursi. Marvel masih saja mengejar Delima.


Ia kembali memikirkan perjodohannya dengan Ariana. Ia masih bimbang. Ia menaruh rasa pada Delima, tapi Marvel juga mengejar gadis itu. Sedangkan dirinya justru malah dijodohkan dengan Ariana. Yang bahkan dirinya juga belum tahu wajahnya seperti apa.


Sejak semalam ia memutuskan untuk tetap berjuang mengejar Delima. Tapi.. "Aargghh!" Devano kembali berteriak frustasi.


KLEK


"Gadis itu akan berkuliah di Universitas A.", ucap Wira.


"Cepat sekali kau mengetahui informasi itu.", Devano menatap Wira dengan penuh selidik.


"Iya. Tadi aku menelpon Marvel.", Ups.. Wira keceplosan.


"Hah? Apa maksudmu dengan menelpon Marvel? Apa hubungannya? Darimana kau tahu jika gadis itu sedang bersama Si Mar?"


"Ti.. tidak. Bukan. Bukan itu. Ma.. maksudku tadi saat aku mencari informasi, aku menelpon Marvel karena aku mau mengajaknya minum kopi nanti sore. Ya. Seperti itu.", jawab Wira gugup.


"Kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku!"


"Mana mungkin, hahaha. Aku tadi menanyakannya pada Viana.", -Padahal semua itu bohong-


"Hm.. Baiklah. Terimakasih."


Wira menghembuskan napasnya lega karena Devano tidak meneruskan kecurigaannya. "Hah. Bodohnya. Bisa-bisanya aku keceplosan.", bisik Wira pada dirinya sendiri.


Devano memutuskan menyelesaikan pekerjaannya walaupun pikirannya masih kesana-kemari alias tidak fokus.


.


.


.


Shera baru saja keluar dari ruang kuliahnya siang itu. Saat sampai di luar gedung, ia melihat seseorang yang dikenalnya sedang berdiri sendirian di bawah pohon.


Shera menghampiri orang tersebut. "Delima?", Shera menyapa dengan senyuman.


"Lho? Shera? Kamu berkuliah disini?"


Shera mengangguk. "Kamu juga?"


"Iya. Aku kesini untuk mendaftar. Bulan depan baru masuk semester awal, hehe."


"Kamu kok sendirian?", tanya Shera lagi.


"Tidak, kok. Aku bersama kakak. Sebentar lagi keluar. Tadi ada sesuatu yang tertinggal di dalam."


Shera mengangguk. Delima dan Shera hanyut dalam obrolan mereka. Marvel melihatnya dari kejauhan.


Shera? Marvel tersenyum tanpa sadar. Namun saat sadar, ia langsung melenyapkan senyumnya barusan. Ada apa sih? Bisa-bisanya ia tersenyum.


Marvel mendekati keduanya dan berhenti tepat di depan Shera.


"Kak.. Kak Marvel? Se.. sedang apa disini?", tanya Shera gugup.


"Menemani adikku.", jawab Marvel singkat dan datar.


Delima tersenyum geli dengan interaksi keduanya.


PLAK


Delima menabok lengan Marvel keras.


"Kakak jutek sekali sih!", protes Delima pada kakaknya.


"Kenalkan ini kakakku."


Shera membulatkan matanya kaget. Kakak? Benarkah Marvel adalah kakaknya Delima?


Shera mengira, Delima itu adalah gadis yang disukai Marvel.


"Hehe. Jangan kaget. Dia memang kakakku."


"O.. oh. Begitu ya." Shera tersenyum kikuk.


"Kami pulang dulu.", Marvel berpamitan. Dan pergi. Namun sebelum pergi, Marvel sempat menyentuh kepala Shera dan mengacak rambutnya pelan membuat Shera terkejut dan wajahnya memerah bak kepiting rebus.


***


To Be Continued

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk novel baru saya dibawah ya. Baru saya tuangkan saja . Saya akan menamatkan Novel Ceo dan Office Girl terlebih dahulu hehe. Terimakasih.



__ADS_2