CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 14


__ADS_3

Keesokan harinya di Wijaya Crp.


Devano berjalan cepat menuju ke ruangannya. Ia harus segera memerintahkan Wira untuk membawa tiga gadis yang menjadi pelaku penguncian gudang yang melibatkan Delima sebagai korban kemarin sore.


Setelah sampai di ruangannya, dirinya sudah ditunggu oleh asistennya.


"Wir, tolong tanyakan nama ketiga gadis ini pada pimpinan karyawan." Devano mempertontonkan video CCTV yang ia putar di ponsel mahalnya.


"Memangnya ada apa dengan ketiga gadis ini?" Wira bertanya bingung karena tiba-tiba bosnya itu menanyakan karyawannya selain Delima tentunya.


"Tanyakan saja. Nanti kau akan tahu. Aku akan mengirimkan videonya padamu."


"Oke."


"Jika sudah ketemu, suruh mereka bertiga datang ke ruanganku."


"Baiklah."


***


Ketiga gadis bernama Lala, Jeni, dan Kimmy memekik histeris karena ini pertama kalinya mereka dipanggil ke ruangan pimpinan tertinggi di perusahaan itu. Wira yang berada didepan ketiga gadis itu hanya menatap mereka aneh.


Tentu saja. Setelah diberitahu untuk datang ke ruangan Devano, ketiga gadis itu langsung mengeluarkan alat make up-nya dan berdandan didepan Wira.


Wira menepuk keningnya pelan. Astaga ketiga gadis ini apa-apaan. Seperti mau kondangan saja berdandan menor seperti itu hanya untuk bertemu Devano.


"Cepatlah! Kenapa harus dandan?" Tanya Wira kesal.


"Biar cantik, pak. Saya kan akan bertemu Tuan Devano. Baru kali ini pak." Jawab salah satu dari ketiga gadis itu yang bernama Jeni.


"Cepat atau kalian akan mendapatkan hukumannya karena tidak segera menemui beliau!" Ancam Wira


Ketiga gadis itu sontak memasukkan alat make up-nya ke dalam tas mereka. Kemudian berjalan mengikuti Wira menuju ke ruangan pimpinan.


Sesampainya disana Devano sudah menunggu di kursi kebesarannya. Jasnya sudah ia lepas. Kini ia hanya memakai kemeja putihnya saja. Badannya yang tinggi dan gagah membuat pria itu mengeluarkan aura yang begitu menawan bagi ketiga gadis yang baru datang.


"Kalian..."


"Saya Jeni."


"Saya Kimmy."


"Saya Lala."


Devano memutar bola matanya malas. Ketiga gadis didepannya ini sangat genit padanya. Lihat saja bagaimana ketiga gadis itu tersenyum malu-malu dan mencuri pandang pada Devano. Membuat Devano muak.


"Hm.. Apa kalian tahu kenapa kalian dipanggil kesini?"


Ketiganya menggeleng.


"Hahah.. Benarkah?"


Ketiganya mengangguk.


Devano berdiri dari kursi kebesarannya. Wira yang sedari tadi disana sangat penasaran kenapa bisa Devano memanggil tiga gadis alay ini keruangannya.


"Kalian dipecat."


Ketiga gadis itu membelalakkan matanya. Begitu juga Wira.


'Waw. Ada apa ini. Sampai-sampai Devano memecat karyawannya secara tiba-tiba? WAAWW sepertinya ada sesuatu yang terjadi.' Batin Wira


"Kenapa, Pak? Apa salah saya? Kok tiba-tiba saya dipecat?" Tanya Lala.

__ADS_1


Devano tersenyum miring. Ia bersadar di depan mejanya sambil bersedakap tangan di dada.


"Kemarin sore. Lantai 16. Gudang." Devano memberikan clue pada ketiga gadis itu.


Wajah ketiga gadis itu memucat.


"Aku yakin kalian paham."


"Ma-maafkan kami pak! Tolong jangan pecat kami!!" Kimmy memohon kepada Devano sambil menangkupkan kedua tangan di dada.


"Hahahaha.. beraninya kalian."


"Maaf pak! Maafkan kami!" Jerit Jeni. Bagaimana mungkin. Menjebak seorang Office Girl malah berujung pemecatan seperti ini.


"Aku tidak ingin menerima penjelasan apapun dari kalian. Sudah jelas kan. Silahkan keluar dari ruangan ini." Ucap Devano tenang namun tajam. Membuat ketiga gadis itu ketakutan.  Mau bagaimana lagi. Terlihat sangat sulit jika memohon ampun pada bosnya itu. Ketiga gadis yang beu saja kehilangan pekerjaannya keluar dari ruangam Devano dengan berlinang air mata.


"Loh. Kau memecat mereka tanpa alasan?"


"Aku punya alasan memecat mereka, Wir."


"Apa?"


"Mereka bermain-main dengan Delima-ku."


"WAAAAW Delima-ku. Mantap sekali kau, Dev. Bahkan kalian belum menikah. Pacaran saja belum. WAAW." ucap Wira dengan nada terdengar menyebalkan di telinga Devano.


"DIAMLAH KAU KAMPR3T!"


***


Devano yang baru akan keluar makan siang dikagetkan dengan dering ponselnya.


KLIK


"Dev, Anakku." Panggil suara diseberang sana.


"Iya, ibu. Ada apa?"


"Hey, Nak! Kapan kau akan mengunjungi ibu dan ayahmu disini?"


"Kapan-kapan." Jawab Devano santai.


"Anak kurangajar kau ya. Ayah dan ibumu ini akan mengadakan pesta Anniversary pernikahan yang ke 30 tahun. Apa kau tidak mau datang kemari bocah nakal!"


Devano mengeryitkan keningnya. Dirinya melihat ke kalender duduk yang ada dimejanya. Ah iya. Lusa adalah hari pernikahan ayah dan ibunya kenapa dia lupa? Pantas saja ibunya menelpon.


"Ck. Kenapa ibu sangat cerewet. Baiklah aku akan kesana sore ini!"


"Ahahah. Jangan lupa, nak. Ibu harap kamu membawa seseorang kesini. Kau tau. Ibu dan ayahmu sudah menua, nak. Kami juga ingin segera menimang cucu. Hahaha."


Devano mengusap wajahnya kasar. Apa-apaan ibunya ini. Bukannya menanyakam kabar anaknya malah menanyakan kapan dia mengenalkan seseorang.


"Belum memikirkannya."


"HEY! Umurmu sudah 28 tahun apa kau mau jadi perjaka tua?! Kau tidak kasihan pada Ayah dan ibumu? Kau harus bertindak cepat, Dev. Ibu sudah membebaskannya padamu malah kau tidak lekas menemukan pendamping. Dasar payah."


"Aku masih muda." Jawab Devano singkat membuat ibunya yang diseberang sana makin sebal saja.


"Atau kau mau ayah dan ibumu menjodohkanmu, hah?!"


"Tidak perlu. Aku bisa mencari sendiri ibu!"


"Makannya cepat cari pacar, bodoh!"

__ADS_1


"Iyaaaaaa..."


"Iya iya. Tapi tidak dilaksanakan. Ibu........"


Klik


Devano mematikan panggilannya secara sepihak. Ia yakin ibunya pasti mengomel di seberang sana. Devano terkikik pelan jika mengingat ibunya yang sangat cerewet ketika mengomelinya. Apalagi jika sudah berhubungan dengan keiginannya yaitu keiginan memiliki cucu.


Devano merasa lapar. Ia keluar ruangannya. Saat perjalanan keluar Devano melihat Delima yang sedang meletakkan alat kebersihan di sebuah ruangan. Devano segere mandatangi Delima. Dan menarik tangannya tanpa seizin pemilik tangan.


"Lho. Lho. Apa-apaan ini, Pak?!"


Delima protes tapi Devano tidak menggubrisnya. Delima berusaha melepaskan tautan tangannya namun tidak bisa. Banyak karyawan disekelilingnya yang melihat mereka berdua.


"Pak. Kita dilihatin!"


"Apa peduliku!" Devano cuek dengan keadaan disekitarnya. Ia ingin segera mengutarakan maksudnya di cafe depan kantornya.


Sesampainya di cafe, Devano menyuruh Delima duduk sedangkan dirinya berjalan ke kasir untuk memesan makanan dan minuman untuk makan siang.


"Ada apa sih, Pak. Kenapa menarik saya tiba-tiba seperti itu!" Protes Delima pada Devano yang baru saja duduk didepannya. Beberapa pengunjung berbisik-bisik dan menggosip karena melihat CEO Wijaya Crp yang sangat tampan dan terkenal sedang bersama seorang gadis berseragam Office Girl. Delima merasa risih dan tidak nyaman.


Devano menyadarinya dan mengajak Delima pindah ke ruangan yang memiliki sekat.


"Jangan panggil aku seperti itu Delima. Kita tidak sedang di kantor!"


Delima hanya mendengus. Makanan dan minuman yang dipesan Devano datang. Delima yang memang haus menyeruput es sirup yang tersedia didepannya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu."


"APA?!"


"Ck. Kau berani sekali berteriak padaku."


"Cepat katakan kak!" Delima makin sebal.


"Ibu dan Ayahku akan mengadakan pesta pernikahan yang ke 30 di Negara H."


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Diamlah aku belum selesai berbicara kau menyela terus!" Seru Devano yang merasa gemas.


"Hmmm..."


"Ibuku memintaku membawa pacar. Tapi aku tidak punya. Diperusahaan hanya kau gadis yang kukenal. Maka aku ingin jika kau nanti berangkat bersamaku ke negara H sebagai pacarku."


"APA? Ma-maksud kakak aku berpura-pura jadi pacar kakak begitu?"


"Tentu saja!"


"Tidak mau!"


Devano mendelik. "Kenapa tidak mau? Hey. Kau itu karyawanku. Dan karyawanku harus menurut padaku."


"Sama bu Luna saja!"


Devano mendelik sekali lagi. Luna? Perempuan ular itu? Hahah tidak akan pernah!


"Tidak. Harus kau yang pergi bersamaku. Titik." Devano menyeruput es kopi kesukaannya lalu melanjutkan perkataannya. "Persiapkan diri. Jam 5 sore aku akan. menjemputmu di kontrakan. Aku harap kau sudah siap ketika aku menjemputmu."


Delima hanya pasrah saja. Percuma melawan. Bosnya benar-benar menyebalkan.


Sedangkan Devano mulai makan makanan yang dipesan dengan hati berbunga-bunga. Ia akan membawa Delima ikut serta dan mengenalkannya kepada orang tuanya dan sekaligus berlibur selama beberapa hari disana. Soal pekerjaan biarlah Wira yang pusing menangani segala tingkah dan polah bos sekaligus sahabatnya itu. Hahaha.

__ADS_1


***


__ADS_2