
****
Devano dan Delima tengah bersantai di bawah payung besar (penulis tidak tahu namanya).
Mereka berdua menikmati hembusan angin pantai yang menerpa keduanya. Saat ini waktu sudah lumayan siang jadi jika bermain di pantai, sinar matahsri akan terasa menyengat. Maka dari itu mereka berdua memilih bersantai.
Delima sudah mengganti bajunya yang basah dengan baju kering yang ia bawa dari hotel. Sedangkan Devano masih memakai celana yang sama hanya saja dia sekarang memakai kaosnya kembali.
Mereka berdua terjebak dalam keheningan. Devano masih sebal dengan kejadian di batu karang. Sedangkan Delima bingung ingin mengobrol apa. Rasanya sangat canggung berlibur berdua seperti ini.
"Emm..."
Baru saja Delima akan berbicara, ponsel Devano yang diletakkan di kursi berbunyi membuat Delima mengurungkan niatnya.
"Sebentar ya.."
Devano kemudian mengangkat telfon yang entah dari siapa.
"Halo.. Iya ibu.. iya..hmm.."
'Ternyata dari ibunya ya.' Batin Delima sambil menatap pria disampingnya yang sedang fokus dengan orang diseberang sana.
"Iya. Iya ibuku tercinta. Iya.. Tenang saja. Hemm.."
Entah apa yang sedang pria itu dan ibunya bicarakan di sambungan telepon. Delima sangat penasaran.
Sedetik kemudian Devano mematikan ponselnya dan menatap Delima yang juga sedari tadi menatap Devano.
"Kita kembali ke hotel. Kita harus siap-siap. Ibuku memintaku datang siang ini."
Delima tersenyum dan mengangguk.
"Tunggu aku di mobil saja. Aku ganti celana sebentar."
Delima kemudian merapikan barang yang ia bawa. Kemudian beranjak ke mobil Devano yang tidak jauh terparkir dari pantai.
Sesampainya disana, Delima disambut sopir.
"Silahkan Nona."
"Terimakasih, pak."
Setelah mengucapkan terimakasih, Delima masuk ke dalam mobil. Tak lama matanya mulai berat, dan akhirnya dirinya tertidur.
Devano berjalan ke mobilnya sambil memasukkan baju kotornya ke dalam tas. Sesampainya di mobil dirinya disambut oleh sopir.
"Tuan. Nona Delima di dalam. Nona sedang tidur."
Devano mengangguk, ia membuka pintu mobilnya dan masuk kedalamnya. Saat di dalam mobil dirinya melihat Delima sudah tertidur pulas. Devano membiarkan sepertinya gadis itu lelah bermain.
"Kembali ke hotel, Ram."
Sopir Devano yang bernama Ramos kemudian mulai menjalankan mobilnya kembali ke hotel milik Devano di Negara H itu.
***
"Ikut aku. Bantu aku bukakan pintu hotel nanti." Perintah Devano pada supirnya
"Baik. Tuan. Sialahkan."
Devano mengikuti Ramos menuju kamar hotel sambil mengendong Delima di punggungnya.
Gadis itu sepertinya lumayan lelah. Sejak diangkat dari mobil, gadis itu tidak terbangun.
Sesampainya di kamar hotel Devano menurunkan Delima ke ranjang.
Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
"Ibu.. sepertinya aku agak terlambat. Sesuatu terjadi disini." Devano mengatakan sambil menatap Delima yang masih damai.
"Ck. Bagaimana sih kamu. Pokoknya ibu ingin kau sudah disini sore ini."
"Iya. Ibu tenang saja."
Devano mematikan telponnya kemudian mencari kontak seseorang dan menelpon lagi.
__ADS_1
"Bawakan beberapa dress wanita ke hotel."
"..."
"Segera lakukan. Atau kalian kupecat."
Devano mematikan ponselnya dengan kesal. Astaga pengawalnya sangat menyebalkan.
"Eummmmm..."
Delima mengeliat pelan kemudian berganti posisi menjadi tengkurap.
Devano yang melihatnya tersenyum geli. Rambut panjang gadis itu berantakan dan menutupi seluruh wajahnya.
Devano duduk di sisi ranjang kemudian merapikan rambut yang menutupi wajah gadis manis itu. Perlahan sambil menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang berada didepannya. Ekhem.
15 menit Devano masih betah menatap Delima dengan wajah bantalnya.
TOK TOK TOK
Devano tersentak kemudian beranjak menuju pintu.
"Tuan. Ini bajunya. Saya pilihkan beberapa karena saya bingung. Silahkan Tuan."
Devano menerima kotak yang cukup besar dari pengawalnya. "Hm. Kalian boleh pergi."
Devano kemudian menyuruh pengawalnya pergi. Dirinya kembali masuk ke dalam kamar. Meletakkan kotak di atas meja sedangkan dirinya duduk di sofa. Devano mulai memilih baju yang setidaknya pantas dipakai Delima. Ada empat pilihan baju. Dua dress dan dua stelan.
Akhirnya dia memilih stelan dengan atasan putih dan bawahan rok berwarna biru.
Ia meletakkannnya di atas ranjang. Kemudian keluar dari kamar itu menggunakan pintu hubung.
***
Seorang pria berdiri di sebuah kamar hotel sambil memegang sebuah kertas berlabelkan rumah sakit.
"Tuan Marvel. Nona Delima sedang di negara H bersama Tuan Devano."
"Sedang apa mereka?"
"Baiklah berapa lama mereka di sana?"
"Kami kurang tahu,Tuan."
"Baiklah."
Pengawal tadi keluar dari kamar hotel Marvel setelah memberitahukan informasi terkait adiknya.
Marvel tersenyum.
Devano. Sahabatnya benar-benar tertarik dengan adiknya yang cantik ya.
Devano tidak tahu jika Delima adalah adik kandung dari seorang Marvel.
Marvel baru saja mendapatkan hasil test DNA rambut Delima waktu itu. Dan hasilnya 99,99% bahwa Marvel dan Delima adalah saudara kandung.
"Ariana-ku kembali." Ucapnya sambil tersenyum.
***
Delima sudah ada di dalam mobil yang membawa dirinya ke rumah keluarga Devano. Katanya sih.
Dia bangun-bangun disuruh beres-beres barang kemudian mandi dan ganti baju. Bajunya juga sudah siap di atas ranjang. Setelan berwarna putih dan rok biru.
Sedangkan Devano disampingnya memakai kaos hitam dan jeans biru. Kakinya terpasang sepatu berwarna putih. Uh.. sangat tampan di mata Delima.
Delima menggelengkan kepalanya. Otaknya mulai berpikiran tidak benar.
"Masih lama, kak?
"Tidak. Sebentar lagi."
"Kapan pestanya?"
"Besok malam. Tapi ibuku ingin segera bertemu denganmu."
__ADS_1
"Ha?"
Delima melongo. Otaknya berpikir keras. Ibunya Devano ingin segera bertemu dengannya? Apa tidak salah?
'Aku kan hanya pacar pura-puranya." Gumamnya sambil meringis.
Mobil yang mereka tumpangi sampia di sebuah mansion mewah dan luas. Delima sejak masuk gerbang itu terkagum-kagum dengam besar, luas dan mewahnya mansion itu.
Mobil berhenti di pintu utama mansion. Devano dan Delima keluar dari mobil.
"Anakkuuuu... Akhirnya kau datang juga. Dasar nakal!"
Delima yang mendengar sapaan itu langsung menatap ke sumber suara. Disana seorang wanita cantik keluar dari dalam mansion.
'Ibunya kak Devano? Wah cantiknya..' batin Delima.
Wanita itu menyambut putranya dan memeluknya erat. Setelah beberapa saat wanita itu melepasnya dan menatap Delima.
"Wah. Wah. Siapa ini sayang?" Tanya sang ibu.
Devano hanya tersenyum.
Delima memperkenalkan diri kepada ibu Devano.
"Halo, tante. Saya Delima. Saya ...."
"Ohohoho~ Kau pacar anak nakal ini ya?"
Delima hanya tersenyum kaku.
Ibu Devano langsung memeluk Delima semangat namun lembut. Wanita itu mengusap kepala Delima pelan. Inikah pelukan seorang ibu? Begitu nyaman. Delima terbuai dengan pelukan wanita itu hingga memejamkan matanya dan tersenyum.
"Ayo masuk ayo, nak.." bukannya mengajak sang anak, justru sang ibu malah mengajak Delima masuk.
Devano hanya menghela napasnya pelan. Dasar. Ibunya pasti sangat senang.
"Kemarilah nak. Kamu pasti lapar kan? Ayo kita makan. Ibu sudah memasakkan makanan yang enak." Regina, ibu Devano masih menarik tangan Delima. Sesampainya di ruang makan, Regina mendudukkan Delima di salah satu kirsi. Dirinya juga duduk di samping Delima.
Delima terdiam. Devano ternyata sangat kaya. Dia tidak menyangka jika Devano punya tempat tinggal sebesar dan semewah ini. Bahkan mansion ini di luar negeri!
Devano hanya menggelengkan kepalanya. Sejak ia datang ibunya langsung fokus pada Delima. Bahkan dirinya yang anak kandungnya dicueki oleh sang ibu. Devano kemudian duduk di seberang Delima.
"Nah sebelum makan. Ibu mau tanya. Nak Delima tinggal dimana? Kerja apa?" Tanya Regina antusias.
Delima yang ditanya seperti itu hanya menunduk. Haruskah ia jujur?
"Kok diam, nak."
Delima tersenyum tipis. Devano yang melihatnya kemudian segera menjelaskan. Sepertinya Delima merasa malu.
"Delima bekerja di kantorku, Ibu. Sama seperti ibu dulu yang bekerja di kantor Ayah."
Mulut Regina membulat. Kemudian mengangguk. Delima melirik ibu dan anak didepannya bergantian.
"Hihihi~ tidak perlu malu nak. Tidak masalah bekerja apa. Yang penting halal. Ibu dulu sama sepertimu. Hihihi~" Regina mencoba mencairkan suasana supaya Delima merasa nyaman.
"Maksud tante?"
"Ibuku dulu sama sepertimu. Bekerja sebagai Office Girl." Devano menjelaskan singkat.
Mata Delima membulat membuat Regina gemas.
"Astaga kamu cantik sekali nak." Regina menangkupkan tangannya di pipi Delima dan mengunyel-unyelnya(?).
"Ayo makan." Regina mengajak Delima memakan makanan yang ada di atas meja.
Delima menelan salivanya. Makanan ini terlihat sangat mewah. "Jangan malu-malu. Ibu ambilkan ya?"
"Tidak usah tante. Saya bisa sendiri."
Kemudian Delima mengambil makanan dengan hati-hati.
"Yang banyak nak. Kamu pasti butuh energi untuk menuruti kemauan anak nakal itu!" Regina mengambilkan beberapa lauk sampai piring Delima penuh. Devano yang sedari tadi diam kembali menggelengkan kepalanya. Ibunya begitu bersemangat. Sepertinya ibunya menerima Delima dengan baik. Sepertinya semua akan berjalan mulus. Hehe.
***
__ADS_1