
***
Delima saat ini sedang duduk di sofa sebuah kamar. Ya kamar Regina. Kamar itu lebih besar dari kamar tamu yang ia tempati. Warna cream yang lembut dan aroma terapi di kamar itu membuat pikiran Delima sedikit lebih tenang.
Disampingnya ada Regina yang saat ini sedang berbicara dengan seseorang yang.. Hem.. Bisa dibilang laki-laki. Tapi agak feminim. Mereka mengobrol dengan bahasa asing.
Delima yang tidak memahami percakapan mereka berdua hanya diam saja di samping Regina.
"Bajunya akan segera sampai. Nanti kamu pilih sendiri ya." Regina menepuk bahu Delima sambil memberitahu Delima akan baju-baju rancangan desainer kepercayaannya yang akan datang sebentar lagi.
"Tante. Tapi saya bawa baju sendiri. Anu.. Dulu pernah dibelikan Kak Devano." Delima menjawab pelan.
"No! Kami harus pakai baju baru malam ini. Ok! Tidak ada bantahan apapun!"
Telak.
Delima tidak bisa menolaknya lagi. Dirinya hanya bisa mengangguk. Membuat Regina begitu senang.
Tak lama kemudian masuklah beberapa orang membawa baju ke dalam kamar Regina.
Delima menganga tidak percaya.
'Astaga. Apa satu toko dibawa semua?' Delima membatin takjub.
"Ayo pilih salah satu nak."
"S-saya bingung, tante."
"Coba pilih satu."
Regina mengajak Delima mendekat pada baju-baju yang digantung di sebuah tiang(?) khusus untuk menggantung baju.
Ada sekitar 30 lebih baju yang dibawa oleh pelayan Regina.
"Ini khusus untukmu. Pilihlah salah satu yang kamu suka." Regina terus mengajak Delima memilih gaun yang menurut Delima semuanya cantik.
'Pasti ini semua mahal. Astaga. Bagaimana caraku membayar nanti.'
Seolah paham. Regina berkata "Ibu belikan untuk nak Delima. Tidak perlu memikirkannya. Delima tinggal pilih saja. Ibu yang membelikan. Toh ini dari butik langganan ibu."
Delima menatap Regina penuh haru. Astaga. Lagi-lagi ia diberikan kesempatan untuk memakai baju bagus dan mahal. Dulu saat di Desa ia bahkan sangat jarang membeli baju karena untuk makan saja pas-pasan.
Delima menganggukkan kepalanya dan mulai memilih baju-baju indah yang tergantung disana.
Matanya melihat sebuah gaun yang sangat cantik. Ia memegangnya pelan. Mengambilnya dan menempelkan di depan tubuhnya.
Pria asing disana berbicara pada Delima dengan bahasa asing. Delima kebingungan dan hanya tersenyum kaku.
Regina terkikik pelan.
"Kata Cloe, dress ini desain terbarunya. Cloe berkata jika kamu yang memakainya pasti akan sangat cantik."
Delima tersenyum kemudian mengangguk.
"Pakailah. Kamu harus di make up segera, nak!"
"Terimakasih, tante.."
__ADS_1
***
Delima mematut dirinya di cermin. Lagi-lagi dirinya merasa takjub. Dirinya sudah beberapa kali di make up tapi masih saja dirinya merasa takjub dengan perubahan dirinya jika sudah di make up.
Regina menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
"Astaga nak. Kamu sangat cantik."
Mata Regina berbinar melihat calon menantunya yang sangat cantik dan bersinar.
Calon menantu?
"Tante juga sangat cantik."
Delima menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda di depannya. Wanita itu memakai dress sederhana berwarna hitam. Sangat elegan. Rambutnya digelung kebelakang dan dihias dengan tiara-tiara yang sederhana pula.
"Tunggu dikamarmu ya. Turunlah nanti ketika pesta sudah mulai."
Delima mengangguk. Delima kembali menuju kamar. Dirinya berjalan ke arah jendela. Melihat persiapan pesta yang diselenggarakan di taman depan mansion keluarga Devano yang sangat luas. Dekorasi yang dipasang begitu cantik dengan warna putih dan sentuhan biru muda. Juga dilengkapi bunga-bunga asli disekitarnya.
Sebuah mobil berhenti didepan gerbang besar mansion. Keluarlah seorang pria dari dalam mobil. Memakai jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu melingkar di kerah leher pria itu. Rambutnya disisir rapi. Sangat tampan. Membuat mata Delima tidak bisa beralih dari pria itu.
Seketika dirinya menunduk.
Sejak kemarin sikap pria itu berubah. Pria itu juga tidak mau berbicara dengannya. Membuat hatinya tidak tenang dan uring-uringan.
Delima mengepalkan tangannya mencoba menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Ia tidak boleh menangis. Riasan akan rusak jika ia menangis.
***
Di sisi timur Marthent dan Regina masih sibuk menyalami dan mengobrol dengan tamu. Pasangan yang sangat serasi.
Sedari tadi Delima berjalan tak tentu arah. Akhirnya menjatuhkan bokongnya di sebuah kursi kosong. Ia mengambil segelas orange squash yang ditawarkan oleh pelayan. Meminumnya pelan sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Dimana sih pria itu?
Kenapa tidak kelihatan lagi?
Delima ingin melihatnya.
Sungguh.
Ia.. rindu...
Setelah beberapa lama. Pria itu terlihat oleh pandangan Delima. Pria itu mendatangi beberapa orang yang sedang berkumpul di sudut lain. Delima yang melihatnya itu ingin mendekatinya. Ia meletakkan gelasnya dan berdiri. Baru satu langkah, ia berhenti.
Menatap pria itu sedih.
Seorang gadis datang dan memeluk pria itu. Pria itu juga mencium kening gadis itu. Gadis itu juga bergelayut manja di lengan pria itu.
Seketika Delima berpikir.
Sebenarnya untuk apa dia dibawa kesini?
Bukankah awalnya dia diperintahkan untuk menjadi kekasih pura-pura?
__ADS_1
Tapi kenyataanya pria itu memiliki kekasih.
Apakah pria itu hanya ingin pamer padanya?
Tujuannya untuk apa?
Salah apa dirinya pada pria itu, sampai pria itu memperlakukan dirinya seperti ini?
Hatinya terasa diremas-remas. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga.
***
"Kakak! I miss you!"
Seorang gadis memeluk Devano. Devano kemudian membalas pelukannya dan mencium kening gadis itu. Adik kesayangannya yang masih kuliah di salah satu universitas di negara H.
"I miss you too, my Sister. Kapan kau pulang?"
"Barusan kak. Aku langsung ke butik dan pulang kemari. Banyak tugas yang harus kuselesaikan jadi tidak sempat pulang dari kemarin."
Devano mengusap kepala adik kesayangannya yang sudah cukup lama tidak bertemu.
"Maaf, saya permisi." Devano berpamitan pada tamu untuk berpindah ke sudut lain dan mengajak adiknya.
"Kakak mencari siapa sih daritadi?" Tanya Eliana, Adik Devano
"Manusia."
"Ish! Aku pikir mencari alien. Haha." Candaan Eli begitu garing membuat Devano menatap adiknya aneh.
Matanya mengedar mencari seseorang.
Tak lama matanya menangkap seorang gadis di sudut barat taman. Gadis itu juga sedang menatapnya..tapi..
Devano menegapkan tubuhnya.
Jantungnya berdetak kencang.
Gadis itu menatapnya dari sana dengan mata yang berkaca-kaca. Sesaat kemudian gadis itu menunduk dan berjalan cepat masuk ke dalam mansion.
"Delima.."
Eli yang sedari tadi memperhatikan sang kakak akhirnya bersuara.
"Siapa Delima,kak? Kekasih kakak ya? Kenapa daritadi kakak tidak menemaninya! Malah kesana kemari sendirian! Bodoh sekali kakaku ini!" Eli menyrocos tanpa henti, kesal karena sang kakak mengabaikan seorang gadis yang sepertinya kekasih kakaknya.
Eli juga melihat gadis yang ditatap sang kakak. Wajahnya sedih. Tentu saja sedih. Pasti sedih karena kakaknya yang bodoh itu bukannya menemaninya malah berjalan kesana kemari sendirian sejak tadi.
"Ck!" Devano kemudian berjalan cepat. Menyusul Delima ke dalam mansion.
Apa yang harus ia lakukan?
Gadis itu telihat sedih saat menatapnya. Dirinya juga sangat bodoh karena sejak kemarin ia mengabaikan gadis itu. Pasti Delima marah padanya.
Tapi bagaimana lagi? Ia hanya takut kelepasan. Bahkan setelah kejadian mati listrik, ia langsung berlari ke kamarnya dan masuk ke kamar mandi kemudian mengguyur badannya dibawah shower, masih dalam keadaan memakai pakaian. Mendinginkan otak dan geleyar panas yang mucul di tubuhnya.
****
__ADS_1