CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 35 (Shera.....)


__ADS_3

Delima begitu heran dengan sikap kakaknya yang seketika menjadi pendiam sejak pulang dari Kampus. Marvel terlihat kurang fokus dalam menyetir.


“Kak, kalau kakak banyak pikiran, berhenti dulu yuk. Kita makan.” ajak Delima.


“Eh. Kakak tidak apa-apa, kok. Kakak hanya memikirkan pekerjaan kakak yang menumpuk.”


Marvel menyangkal. Padahal sejak tadi ia merasakan keanehan karena melihat Shera. Gadis itu terlihat sangat


menarik hari ini, dengan memakai blouse putih dan rok jeans selutut membuat gadis itu terlihat sangat manis di mata Marvel. Apalagi rambut cokelatnya digerai dan diberi jepit rambut lucu.


“Kakak memikirkan Shera, ya?"


CIIITT


Tubuh keduanya tersentak ke depan.


“Ih, Kakak kok mengerem tiba-tiba sih?!” protes Delima karena ia merasa sangat terkejut.


“Maaf, tadi ada kucing lewat.” jawab Marvel gugup. Dirinya juga tidak tahu kenapa mengerem mendadak ketika adiknya menyebutkan nama Shera.


Delima yang melihat kegugupan kakaknya hanya tersenyum lucu. Ah, kakaknya ini sungguh tidak pintar menyimpan rahasia. Sikap yang ditimbulkan kakaknya hanya dengan mendengar nama Shera, sangat terbaca di mata Delima.


“Oh, begitu. Ya sudah, antarkan aku ke apartemen kak Devano dong.”


“Oke. Malam ini mau tidur di mana?”


“Kontrakan saja kak, tidak perlu dijemput.”


“Baiklah, kakak akan suruh bodyguard saja untuk mengawasimu.”


Marvel kemudian melanjutkan perjalanan ke apartemen sahabatnya.


Sesampainya di apartemen Devano, mereka berdua masuk ke dalam dengan mudah karena Delima sudah tahu kode apartemen Devano. Marvel duduk di sofa ruang tamu dan memejamkan matanya. Sedangakan Delima mulai membersihkan apartemen mewah tersebut.


Delima kembali ke ruang tamu dan melihat kakaknya tertidur. Ia menggelengkan kepalanya.


Lebih baik ia segera bebersih. Ia ingin mampir ke pusat kuliner nanti malam sebelum pulang ke kontrakan.


Delima menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul 2 siang. Ia memutuskan memasak makan siang untuknya, dan Marvel.


Delima membuka kulkas, disana ia menemukan banyak bahan makanan yang cukup segar. Ia mengambil daging sapi dan bahan lainnya. Ia memutuskan mmbuat sup daging.


Satu jam berkutat dengan alat masak, akhirnya Delima menyelesaikan kegiatan masaknya. Ia membawanya ke meja makan. Tidak lupa ia memisahkan masakan untuk makan malam Devano ke dalam wadah dan menyimpannya di kulkas.


Delima mendekati kakaknya yang masih tertidur.


“Kak!” Delima menggoyangkan tubuh sang kakak.


“Shera.....”


Delima mengeryit. Kemudian tertawa.


“Kak Marvel..”


“Shera. Kenapa akhir-akhir ini hmm.. kamu.. hmm membuatku berdebar..hmm nyam.”


Delima melongo. Tidak menyangka kakaknya yang terlihat cool setiap harinya, sekarang malah mengigau seperti


ini?


“Benarkah?” Delima menjawab semua celotehan kakaknya yang belum sadar.


“Hmmm Kenapa.. nyam. Hmmm kamu semakin lama hmm.. semakin manis hmm..”

__ADS_1


HAHAHAHA


Delima sudah tidak tahan. Ia tertawa terbahak-bahak.


“Kakak!”


“OH!” Marvel terperanjat. “Sudah jam berapa ini?” tanya Marvel.


“Jam 3 kak. Kakak tidurnya sangat nyenyak. Cepat bangun dan cuci muka. Aku sudah masak.”


Marvel beranjak dengan malas ke arah kamar mandi di dekat dapur. Delima terlihat sedang bermain ponsel sambil


tersenyum saat Marvel duduk di meja makan.


“Nah, makanlah kak. Maaf aku hanya masak Sup.” Ucap Delima.


“Tidak apa. Jika adikku yang memasak aku akan memakannya kok.”


Delima tersenyum. Kemudian mereka makan siang -yang terlambat- dengan tenang.


.


.


“Kakak pulang dulu. Ingat hati-hati. Kakak sudah menyuruh bodyguard untuk mengawasimu dari jauh.”


Delima mengangguk. “Hati-hati, kak. Jangan menyetir sambil melamun ya!”


Marvel mengusap lembut kepala adiknya kemudian berpamitan pergi.


Marvel menutup pintu mobilnya. Menyandarkan kepalanya. Kenapa ahir-akhir ini ia sering sekali memimpikan Shera?


Setelah beberapa menit terdiam, ia memutuskan untuk menjalankan mobilnya menuju mansion.


taman dan jalan raya lumayan dekat, dan ia mengenal orang tersebut.


Ia menepikan mobilnya kemudian keluar, berjalan pelan menuju seseorang yang sedang asyik memakan ice cream


sendirian. Entah kenapa semakin dekat jantung Marvel semakin cepat berdetak.


“Sendirian?” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. ‘Bodoh. Kenapa aku tidak bisa menyebut namanya?’ batin


Marvel.


Shera menoleh. “Kak Marvel? Se.. sedang apa disini?” tanya Shera gugup.


Kenapa akhr-akhir ini dirinya sering bertemu dengan Marvel? Dulu saat mengejar Marvel, ia kesulitan menemuinya. Namun ketika ia pasrah, justru semakin sering dirinya bertemu dengan Marvel.


Marvel duduk di samping Shera membuat gadis itu gugup.


“Hanya sedang jalan-jalan. Mana asistenmu yang sering bersamamu?” tanya Marvel.


“Ada urusan, kak. Karena aku bosan, jadi aku jalan-jalan sekitar sini.” Jawab Shera pelan. Kemudian menghabiskan


ice creamnya.


“Tinggal di sekitar sini?”


“Um.. Apartemenku di sekitar sini, kak.”


Hening


Keduanya hanya terdiam. Karena bingung harus mengobrol apa.

__ADS_1


“Ini sudah sore, belum ingin pulang?” tiba-tiba Marvel bertanya. sangat kaku.


“Um. Iya kak ini aku mau pulang. Terimakasih sudah menemani.” Shera menoleh pada Marvel dan tersenyum manis.


Marvel meatap Shera sebentar kemudian segera mengalihkan tatapannya. “Aku antar.”


“Ah? Hahaaha, tidak perlu kak. Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah besar. Termakasih atas tawarannya.” Shera kemudian berdiri. “Aku pulang dulu, kak. Selamat sore.”


Shera langsung membalikkan badan dan pergi menjauh. Marvel mengikutinya dari belakang. Entah apa yang di pikirannya. Bisa-bisaya kakinya memutuskan untuk mengikuti Shera? Dasar kaki sialan.


Kaki Marvel masih berjalan. Ia menjaga jarak agar gadis itu tidak curiga. Ia masuk ke sebuah kawasan apartemen yang cukup mewah. Marvel menatap Shera hingga masuk ke dalamnya. Kemudian baru pergi


dari sana.


.


.


Shera mebaringka tubuhnya di atas ranjang. Ia mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal tersebut.


“AAAAAAAAA!”


Shera menjerit.


“Kenapa tadi kak Marvel sangat perhatian padaku?”


Shera berguling kesana kemari saking senangnya.


Akhir-akhir ini dirinya sering bertemu dengan Marvel. Dan ia sangat senang. Sangat bahagia.


Apakah ini kebetulan? Jika iya, ini adalah kebetulan yang sangat indah jika dipikir-pikir. Dulu saat dirinya


mengejar Marvel, ia sangat sulit menemui pria itu. Sehingga membuatnya rajin mengirim e-mail. Namun semenjak dirinya berhenti dan menerima kenyataan bahwa Marvel tidak tertarik padanya dan menolaknya, justru ia semakin sering bertemu dengan Marvel.


“Tuhan, aku akan menjalaninya sesuai dengan jalan yang engkau berikan padaku.”


Shera tersenyum bahagia. Hanya diajak mengobrol santai oleh pujaannya saja sudah sebahagia ini.


Namun seketika senyum Shera pudar. “Waktuku tidak banyak.” Lirihnya. “Lebih baik aku menjaga jarak dengan Kak Marvel.” monolognya.


Matanya berkaca-kaca, “Aku tidak pantas untuk pria sempurna seperti Kak Marvel.”


Air mata jatuh dari mata indah gadis itu. “Hiks..”


.


.


.


“Anda memanggil saya, Tuan?”


“Cari informasi tentang putri keluarga Cho dari Dream Corp. Namanya Shera.”


“Baik, Tuan Marvel.”


Marvel menatap keluar jendela kamarnya. Melamun.


“Entah kenapa akhir-akhir ini, kau semakin menarik di mataku.” Ucapnya pelan.


“Shera..”


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2