CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 13


__ADS_3

Maaf jika tulisannya berantakan dan banyak typo. Biasanya saya ngetik/edit fanfiction saya ini pakai laptop. Tapi karena sering malas membuka laptop malam-malam, akhirnya saya pindah file-nya ke hp saya dan saya remake fanfiction lama saya ini lewat hp. Mohon maklum apabila banyak kesalahan karena ketika jari saya menonjok layar tonjok sering keseleo. Hehehe..


Mohon dukungannya dari para pembaca supaya saya bisa setiap hari up ๐Ÿ™๐Ÿ™


HAPPY READING


***


Pagi hari di ์ • Corp


"Tuan. Mohon maaf besok ada pertemuan dengan Tuan Mike di Negara C. Anda harus berangkat besok pagi."


"Tunda pertemuannya, Jim. Aku ada keperluan besok."


"Tidak bisa, Tuan. Maafkan saya. Tuan Mike hanya punya waktu lusa. Tuan tahu sendiri. Tuan Mike sangat sulit ditemui."


Marvel menghela napasnya. Terpaksa ia harus menunda perjalanannya ke desa asal Delima. Dirinya memijat pelan pangkal hidungnya.


"Baiklah. Kita berangkat besok. Jim, siapkan keperluannya."


"Baik Tuan."


Jimmy, asisten Marvel keluar dari ruangan yang cukup besar itu. Marvel masih duduk di kursi kebesarannya sambil menopangkan dagunya pada kedua tangan yang ia tautkan. Dirinya harus pergi besok. Maka paling tidak dia akan melakukan perjalanan dinasnya sekitar 3-4 hari. Itupun jika tidak ada jadwal lain disana.


CKLEK


"Marvel..."


"...."


"Marvel!!"


"...."


"Astaga! Kau mengacuhkanku!


Marvel langsung kelabakan karena ancaman seseorang yang barusan masuk ke dalam ruangannya.


"Kau ini. Mau apa kemari, Wir?"


****


"Delima tolong bersihkan ruangan di dekat gudang ya. Kemarin saya lupa memberitahu." Perintah Viana kepada Delima yang baru saja mengambil peralatan kebersihan


"Oh? Baik bu. Saya akan bersihkan."


"Hati-hati. Disana banyak barang. Jika kamu lengah, bisa-bisa kamu kejatuhan barang-barang yang tersimpan di rak sana. Hati-hati ya. Cukup dibereskan bagian lantainya saja."


"Baik bu."


Delima kemudian berjalan menuju ruangan yang diberitahukan oleh Viana. Benar saja. Baru saja dirinya membuka ruangan itu, debu-debu langsung menyeruak masuk ke indera penciuman Delima.


"Hattchiuu.."


"Debunya uakeh tenan uy."


Setelah mengatakan itu Delima mulai membersihkan ruangan dengan hati-hati sesuai perintah Viana.


1 jam sudah Delima membersihkan ruangan itu. Perutnya berbunyi. Ia lapar. Namun masih ada satu bagian yang belum ia bersihkan. Daripada menundanya akhirnya Delima memutuskan membersihkannya. Supaya tuntas.


Krek..


BRAKK.


Delima terkejut dengan suara keras yang berasal dari pintu ruangan. Pintu yang tadinya terbuka, kini telah tertutup. Jantungnya berdebar. Ia langsung lari ke arah pintu. Sesampainya diepan pintu ia mencoba membukanya namun gagal. Ia menggedor pintu itu dengan sekuat tenaga berharap suaranya terdengar.


"Tolong! Apa ada orang di luar?!"


Delima terus berteriak dan menggedor pintu itu namun nihil. Tidak ada orang di luar. Tempat ini berada dipojokan dan jarang digunakan. Pintunya juga lumayan tebal sehingga kemungkinan suaranya tidak terdengar keluar.


Delima menatap keluar jendela ruangan itu. Terlihat sudah mulai petang. Pantas saja ruangan itu jadi sedikit gelap. Tadi ia mencoba membuka jendela itu dan ingin menyelamatkan diri melewatinya. Namun ketika melihat ke bawah ia sadar. Ia ada di lantai yang lumayan tinggi. Ia mengurungkan niatnya. Melihat ke bawah saja sudah menbuatnya begidik ngeri.


Delima meringkuk di sudut ruangan. Sudah sekitar 6 jam dirinya terkunci di ruangan ini. Dan entah siapa yang melakukannya yang jelas ia sekarang mulai ketakutan karena ruangan semakin gelap. Tubuhnya juga sudah mulai merasa lemas karena lapar, haus, dan ketakutan.


"Hiks.. Hiks.. tolong.."

__ADS_1


Lumayan lama Delima menangis disana namun seketika tangisannya berhenti. Ia mengambil ponselnya.


Kenapa ia baru ingat sekarang!?


Ia mencari beberapa kontak disana. Ia menemukan nama Nina. Dia akan memencet tombol call. Tapi seketika ia mengurungkannya. Tadi pagi Nina bilang jika sore ini ia akan kencan dengan kekasihnya. Ia tidak mungkin meminta Nina kesini hanya untuk menyelamatkannya.


Delima menghela napasnya. Ia mencari kontak teman-temannya yang lain. Teman-temannya yang ia telfon mengangkatnya. Sebelum menyampaikan tujuannya menelfon, Delima bertanya terlebih dahulu pada mereka apakah sibuk atau tidak. Dan ternyata semuanya punya kesibukan masing-masing sehingga Delima merasa tidak enak untuk meminta tolong.


"Kak Devano.."


Satu-satunya nomor ponsel yang belum ia hubungi seharian ini.


Delima merasa ragu. Namun pada akhirnya ia memencet tombol call.


Suara sambungan telfon berbunyi.


"Halo..."


"Kak. Tolong aku..."


***


Devano yang sudah berada di apartemen tengah berpikir. Biasanya jam segini Delima sudah ada di apartemennya. Namun sampai sekarang gadis itu tak terlihat di sana. Ia jadi kawatir. Ia mengambil ponselnya di atas nakas kamarnya. Baru saja ia mengambilnya. Ponsel mahal itu bergetar dan berbunyi. Delima yang memanggilnya. Sangat kebetulan. Ia segera memencet tombol hijau yang tertera disana.


"Halo.."


"Kak. Tolong aku.."


"Delima?" Devano mulai panik karena suara di seberang sana terdengar lirih.


"Kak. Apakah kakak sibuk?"


"Tidak! Katakan kau dimana sekarang?!" Devano bertanya panik. Gadis itu ada dimana? Mengapa suaranya terdengar lirih dan lelah?


"Kak. Aku terkunci di gudang lantai 16. Bisakah kakak membukakan pintunya. Uhuk. Disini debunya banyak. Dan gelap. Aku takut."


"APA? IYA IYA AKU KESANA SEKARANG!"


Devano langsung menyambar kunci mobilnya dan keluar apartemen. Panggilan juga masih berlangsung.


Dia mematikan telponnya dan meluncur menuju kantornya dengan mobil mewahnya. Ia mengemudikannya dengan panik. Dirinya akan merasa kesal ketika mobilnya terjebak lampu merah. Sekarang sudah jam 7. Pasti kantor sudah gelap. Apalagi gudang yang kebanyakan lampunya redup bahkan mati.


Bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Otak Devano benar-benar hanya terisi dengan Delima sekarang.


"Sialan lampu merah lagi!"


***


Devano terengah karena berlari. Seorang satpam yang mengikuti dibelakangnya merasa kewalahan mengimbagi pemilik perusahaan Wijaya itu.


"Tuan. Jangan cepat-cepat. Saya lelah."


"Cepatlah, Pak. Kita harus segera membuka gudang itu!"


Setelah beberapa lama berlari ke gudang lantai 16, sampailah Devano didepan pintu itu.


"Mana kuncinya?"


"Ini, Tuan"


Devano menatap lelaki yang berprofesi sebagai satpam perusahaan. "Apa kau yang mengunci gudang ini?"


"Tidak Tuan. Hhh. Saya tidak pernah mengunci gudang di perusahaan ini karena biasanya banyak pekerja yang membutuhkan gudang untuk menyimpan barang yang tak terpakai lagi. Apalagi jika banyak yang lembur.. maka.."


"Lalu siapa yang menguncinya? Kau yang memegang kunci ini!"


"Sa-saya tidak merasa menguncinya tuan. Sa-saya.."


"LUPAKAN!"


Devano segera memasukkan kunci ke dalam lubangnya(?) Memutarnya dan...


CKLEK


Pintu yang lumayan besar itu tebuka. Devano segera masuk kedalamnya dan menyorotkan senter yang ia pinjam dari satpam ke seluruh ruangan.

__ADS_1


"Kak Dev..."


Devano yang celingukan menemukan sesuatu di sudut ruangan. Ia segera mendekati sesuatu itu.


"Kak..."


"Astaga Delima. Bisa-bisanya kau terkurung disini?" Devano memeluk Delima yang masih meringkuk disana.


Delima menggeleng. "Tidak tahu kak. Aku hanya sedang membersihkan tempat ini tapi tiba-tiba pintunya tertutup dan tidak bisa dibuka." Ucapmya lirih.


"Kau baik-baik saja kan?"


"Aku takut kak.."


"Tidak perlu takut. Aku disini."


"Aku haus kak."


"Minum mbak."


Devano menatap satpam itu tajam.


"Ma-maaf tuan. Hehehe. Sebaiknya nona ini segera keluar dan berikan dia minum. Sepertinya nona ini dehidrasi."


Akhirnya Devano membawa Delima keluar dari ruangan berdebu dan gelap itu. Ia menuju dapur di lantai 16 itu dan memberikan Delima segelas air.


"Tuan. Kalau butuh saya. Saya ada dibawah."


Satpam mencoba pamit kepasa bosnya.


Devano hanya mengagguk.


Ia kembali fokus pada gadis yang tengah meminum air putih dari gelas yang ia berikan tadi.


Gadis itu terlihat pucat. Rambutnya acak-acakan.


"Bisa-bisanya kau ada di dalam sana? Sudah berapa lama?"


"Sejak siang kak. Aku tidak bisa berpikir. Aku lupa jika ada ponsel."


Devano menghela napas. Gadis didepannya ini sepertinya panik ketika terkunci di gudang sampai-sampai ia lupa segala sesuatunya.


"Jika ada yang jahil padamu. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan.."


"Tidak perlu membalasnya kak. Toh aku sudah keluar dari sana."


Devano menatap gadis didepannya dalam. Gadis itu tidak mempemasalahkan hal ini? Hei. Dia dikurung di gudang sampai lemas begini. Jika ini sebuah kesegajaan, maka oran


g iseng itu sungguh gila!


Devano mengambil ponsel dari saku celana trainingnya. Karena tadi dia terburu-buru ia pergi begitu saja menggunakan kaos hitam dan celana training. Dia juga hanya memakai sandal. Tapi tidak masalah. Ia masih tampan๐Ÿ˜


Devano mengetik sesuatu di ponselnya.


'Periksa CCTV di lantai 16. Laporkan apa yang terjadi dengan Delima.'


Setelah mengirimkan pesan teks, Devano mengantar Delima ke kontrakannya.


Devano menyarankan Delima untuk pulang saja karena pasti gadis itu ingin istirahat. Tadinya Delima menolak karena ia merasa harus bekerja di apartemen Devano, namun bosnya itu bersikukuh mengantarnya ke kontrakan.


Setelah memastikan Delima masuk ke dalam kontrakan, Devano langsung memanggil kedua pengawal yang baru datang.


"Mulai sekarang tugas kaliam menjaga gadis itu."


"Baik, Tuan."


"Jika ada hal-hal yang aneh dan membahayakan langsung laporkan padaku."


"Baik."


Devano berjalan ke mobilnya sambil tersenyum sinis.


"Kalian bertiga. Tunggu saja besok. Kalian akan mendapat kejutan dariku."


***

__ADS_1


__ADS_2