
***
Marvel berjalan ke dalam kantor bersama asistennya, Ben. Hari ini ia akan sibuk. Ia akan melakukan beberapa meeting dengan client dari Luar Negeri untuk melakukan kerjasama.
Sesampainya di ruangan ia duduk di kursi kebesarannya. Ben membuka tabletnya.
"Hari ini anda akan ada meeting dengan Green Corp pada pukul sembilan, kemudian dilanjutkan meeting dengan Elvis Corp pada pukul satu siang di Restoran KS, dan terakhir meeting dengan I:O Corp pada pukul tiga sore," Ben membacakan jadwal meeting Marvel pada hari ini.
"Padat sekali, Ben. Jam berapa kira-kita jika kita selesai tepat waktu?" Tanya Marvel
"Tergantung, Tuan. Saran saya, anda harus fokus supaya cepat selesai dan..." ucapan Ben menggantung.
"Dan.. apa?"
Ben berdehem.
"Nanti sore, setelah semua meeting selesai, anak buah saya akan menyampaikan hasil penyelidikan Nona Shera."
Ben menahan senyum. Membuat Marvel salah tingkah. Sebenarnya Ben sedikit kaget karena ia tahu jika gadis bernama Shera adalah gadis yang dua tahun ini mengejar Bosnya. Biasanya Marvel akan mengabaikannya. Tapi perintah yang diberikan oelh Marvel pada Ben kemarin membuat Ben sedikit terheran-heran. Dari sanalah Ben menyimpulkan jika Bosnya sebenarnya sudah mulai tertarik pada gadis bernama Shera.
"Ekhem. Baiklah kita siapkan semua berkas meetingnya." Ucap Marvel dengan bahasa tubuh yang sangat jelas terlihan oleh Ben. Salah tingkah. Ben tertawa dalam hati.
Marvel melaksanakan meeting dengan semangat hari ini. Ia tidak sabar untuk mengatahui segala hal tentang Putri dari CEO QQ Corp. Siapa lagi jika bukan Shera.
Setelah selesai melaksanakan meeting terakhir, Marvel kembali ke ruangannya. Ia meminum teh hangat yang baru saja disiapkan oleh sekretarisnya.
"Bagaimana? Mana anak buahmu?" Tanya Marvel kepada asistennya, tak sabar.
"Sebentar, saya panggilkan." Ben keluar dari ruangan. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan satu anak buahnya.
"Selamat sore, Tuan Marvel. Saya kemari membawa informasi Nona Shera dari QQ Corp." Anak buah Ben memberitahu Marvel bahwa ia membawakan informasi tentang Shera.
Anak buah Ben menyerahkan map kepada Marvel. Marvel membukanya. Membacanya satu per satu.
Usia Shera ternyata satu tahun lebih tua dari adiknya.
Marvel terlihat serius membaca deretan huruf yang ada di atas kertas.
BRAKK
"Apa ini?!" Marvel berdiri dan menggebrak meja.
Ben dan anak buahnya menatap Bosnya bingung.
"Apakah informasi ini valid?!" Marvel menatap tajam pada Ben dan anak buahnya.
"Sayan jamin informasi ini Valid, Tuan. Anak buah saya menyelidikinya langsung pada orang-orang yang ada di dalam Mansion keluarga Tuan Cho." Jawab Ben. "Kami juga sudah menjamin jika keluarga Cho tidak tahu jika anda mencari tahu tentang putri kesayangannya." Lanjut Ben.
Marvel menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia memijat kepalanya pelan sambil memejamkan mata.
"Baik. Kalian boleh pulang." Ucap Marvel pelan.
Ben dan anak buahnya langsung berpamitan meninggalkan Marvel sendirian di ruangan.
"Tidak mungkin.. "
.
.
.
Marvel mengemudikan mobilnya dengan perasaan kacau. Ia tidak menyangka jika Shera..
Marvel memejamkan matanya sejenak. Entah mengapa hatinya sakit mengetahui kenyataan tentang Shera.
CIITTT
Lagi-lagi Marvel melihat Shera di taman yang sama seperti kemarin. Marvel memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di parkiran Taman dan menghampiri Shera yang sedang memegang satu cup entah teh atau kopi, Marvel tidak tahu.
Namun ada sesuatu yang berbeda. Wajah gadis itu pucat, dan gadis itu terlihat mengenakan jaket tebal padahal cuaca sore ini cukup panas.
__ADS_1
Sekitar sepuluh meter lagi, Marvel sampai di kursi yang diduduki oleh Shera.
PRAKK
"Shera!!"
Marvel berteriak kala dirinya melihat gadis itu menjatuhkan cup.
Tubuh Shera akan menghantam tanah jika Marvel tidak segera menangkapnya.
"Shera! Shera!" Marvel menepuk pipi Shera yang terasa dingin. Marvel melihat, bibirnya pucat.
Marvel panik. Ia segera menggendong Shera ke mobilnya dan membawanya ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, pihak medis langsung melakukan tindakan. Mereka membawa Shera ke IGD.
"Marvel! Kau tidak boleh masuk!" Teriak Grey.
"Tapi Grey..."
"Tunggulah di luar. Jika sudah selesai nanti kau bisa menjenguknya. Aku juga sudah menelpon asisten Shera." Ucap Grey menenangkan, kemudian dokter muda itu masuk ke IGD untuk menangani Shera.
Marvel duduk di kursi tunggu sambil mengusap wajahnya kasar. Entahlah sejak mengetahui kenyataan tentang Shera, kenapa ia jadi uring-uringan seperti ini?
Marvel mengambil ponselnya dan melepon Delima.
"...."
"Sayang, maaf kakak tidak bisa menemanimu ke pusat kuliner hari ini."
"...."
"Hati-hati ya."
Setelah itu Marvel menutup panggilannya. Sebenarnya Marvel akan mengajak Delima ke pusat kuliner sore ini. Namun ia juga tidak bisa meninggalkan Shera.
Tak lama kemudian asisten Shera sampai di depan Gawat Darurat.
"Benar. Saya Riko. Selama di sini saya yang bertugas menjaga Nona Shera."
"Shera sedang diperiksa di dalam. Tadi saya menemukannya pingsan di taman."
Riko mengusap wajahnya kasar. Ia duduk di samping Marvel.
"Terimakasih, Tuan sudah menolong Nona. Saya tidak tahu jika Nona Shera sedang tidak enak badan."
Marvel tersenyum tipis. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Riko namun Marvel berpikir jika belum saatnya.
Setelah Shera dibawa ke ruang perawatan, Marvel baru bisa menjenguknya.
Hatinya terasa sedikit berdenyut. Apakah ini hanya rasa kasihan? Atau yang lain?
Riko membelai kepala Shera yang masih betah dalam ketidaksadarannya.
"Maafkan saya, Nona. Saya lalai." Ucap Riko
Marvel hanya berdiri diam di seberang Riko.
Menatap Shera dengan tatapan sulit dijelaskan.
"Pak Riko. Saya permisi dulu." Ucap Marvel. Ia berpamitan karena hari sudah malam dan menunjukkan pukul sembilan.
"Terimakasih, Tuan. Oh ya, boleh saya tahu nama anda?" Tanya Riko
Marvel tersenyum, "Saya Marvel. Panggil saja seperti itu."
"Baiklah, Nak Marvel. Terimakasih sudah menolong Nona Shera."
Marvel mengangguk. Ia menatap Shera yang masih saja tertidur di atas brankar.
"Saya permisi."
__ADS_1
Marvel keluar dari ruang perawatan Shera.
Ia segera mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
"Bantu keluarga Cho untuk mencari donor jantung."
Setelah mengatakan itu, Marvel mematikan panggilan dan memutuskan untuk pulang.
.
.
.
"Kakak habis darimana?" Tanya Delima saat sang kakak melewati ruang keluarga. Delima sedang menonton Televisi saat Marvel melewatinya.
"Delima, bolehkah kakak meminta tolong?"
"Ya kak?" Delima menatap Kakaknya bingung. Kakaknya terlihat murung.
"Tolong buatkan Cokelat panas. Kakak mau mandi dulu."
Marvel langsung naik ke kamarnya. Delima menatap kakaknya yang tidak seperti biasanya.
Ia akan bertanya nanti.
Marvel menuruni tangga kemudian menuju dapur. Ia melihat adiknya yang sedang membuat sesuatu.
Setelah selesai, Delima meletakkan mangkuk di depan Marvel.
"Kakak belum makan, kan? Makanlah dulu. Aku buatkan mie. Maaf hanya ini. Akan lama jika memasak yang lain." Delima menawarkan semangkuk mie buatannya.
"Kakak tidak lapar. Kamu saja yang makan. Kakak minum cokelat saja."
Delima menatap kakaknya aneh. Dia kenapa sih? Kenapa kakaknya jadi sedih begini?
"Kakak kenapa sih?" Tanya Delima.
Marvel tersenyum, "Tidak apa. Kakak hanya sedang memikirkan pekerjaan."
"Jangan bohong!"
Marvel menghela napas.
Akhirnya ia menceritakan.
"Tadi kakak menemukam Shera pingsan di taman dekat apartemennya."
Delima membulatkan matanya. "Lalu?"
"Kakak membawanya ke rumah sakit. Dia dirawat disana. Saat kakak pulang, dia belum sadar. Ia ditemani Pak Riko, asistennya."
Delima menatap kakaknya lembut. Delima tahu, kakaknya sudah menaruh rasa pada Shera. Namun kakaknya hanya kurang peka saja terhadap perasaannya.
"Aku ingin menjenguknya." Ucap Delima.
"Besok kamu bisa ikut dengan Kakak menjenguknya."
Delima tersenyum. Terus menatap kakaknya yang menyesap cokelat panas sambil melamun.
"Kakak menyukainya kan?"
Pertanyaan itu membuat Marvel menatap sang adik.
Delima tersenyum. "Jika kakak tidak menyukainya, tidak mungkin kakak sekacau ini."
Marvel menunduk. Benarkah ia menyukai Shera?
Jadi apakah ini bukan sekedar perasaan iba?
To Be Continued
__ADS_1