
***
Shera tersenyum saat manik mata kecoklatannya melihat siluet pujaan hatinya yang sedang memasuki kantor dengan sang asisten.
"Kak Marvel selalu tampan." gumamnya pelan.
"Nona tidak ingin turun dan menemui Tuan Marvel?"
Shera memanyunkan bibirnya ketika Marvel hilang dari pandangannya.
"Kita ke kampus saja dulu pak. Supaya urusan cepat selesai."
"Baik, Nona.."
Riko segera melajukan mobilnya mengantar sang majikan ke tempat yang dinginkan.
.
Marvel masuk ke ruang kerjanya menyalakan komputer dan segera memeriksa emailnya.
"Lagi-lagi gadis itu mengirimiku e-mail." Gumam Marvel sambil membuka e-mail yang sama dengan e-mail sebelum-sebelumnya.
Marvel menghela napasnya. Bisa-bisanya gadis itu mengejarnya sampai seperti itu. Dirinya ingin mencoba membuka hatinya namun sangat sulit. Kegagalan hubungannya yang sebelumnya membuatnya sulit menerima perasaan orang lain.
Ya. Hubungannya 4 tahun lalu dengan kekasihnya gagal karena sang mantan kekasih menghianatinya. Sang mantan pergi meninggalkannya demi pria kaya yang ia kenal.
Koleganya.
Perusahaan koleganya itu bangkut dan mantan kekasihnya kembali meninggalkan pria itu demi pria lain yang lebih kaya. Dasar matre!
Sekali lagi, Marvel menghela napasnya.
Ia teringan Delima. Sang adik yang masih di luar negeri.
"Ck. Kapan anak itu pulang?"
Marvel kemudian mengambil ponselnya, menghubungi Devano. Namun nomornya tidak aktif.
"Dasar anak itu. Sedang apa dia?" Marvel menggerutu pelam karena nomor yang di hubungi tidak aktif.
Marvel menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Memijit kepalanya pelan. Ia tidak sabar bertemu Delima dan mengatakan kenyataannya. Tapi gadis itu malah sedang berlibur dengan bule curut itu!
Ia ingin segera memeluknya! Sang adik yang sejak dulu dicarinya kini sudah didepan mata! Ck Devano itu.
***
Delima menggeliat. Matanya terbuka perlahan. Bangun dari tidur. Ia merasa pusing. Sepertinya ia mabuk lagi.
Dirinya keluar dari kamar dan mendekati Kursi penumpang. Ada Devano disana yang sedang tertidur. Dirinya menjadi merasa bersalah karena tidur di rajang, pria itu menjadi tidur di kursi.
Delima duduk di samping Devano yang sedang damai. Sepertinya nyaman karena punggung kursi diturunkan menjadi seperti tempat tidur.
Ia duduk menyamping menghadap pria tampan didepannya.
"Tampan hehe.." lirihnya.
Matanya tak sengaja menatap ke arah bibir tebal pria itu. Wajahnya seketika merah padam. Bibir itu kemarin menyentuh bibirnya. Sangat lembut.
Delima menggelengkan kepalanya pelan. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
'Bisa-bisanya aku membayangkannya..' batinnya.
"Kenapa kesini?"
Delima terkesiap dan langsung duduk dengan normal.
__ADS_1
"Tadi aku pusing. Jadi kesini saja, kak."
"Aku butuh minuman jeruk hangat." Devano menyuruh salah satu pramugari yang kebetulan lewat.
"Baik Tuan. Mohon ditunggu." Pramugai itu menjawab dengan sangat sopan.
"Memikirkan apa?"
"Eh? Anu.. memikirkan pekerjaan. Aku kemarin tidak ijin pada teman-teman."
"Santai saja. Dan katakan sejujurnya, kenapa harus repot-repot memikirkannya?"
Delima menganga. Pria ini! Astaga! Gampang sekali kata-kata itu meluncur. Apakah pria itu tidak tahu jika sampai dia memberitahu teman-temannya, pasti akan heboh. Mungkin akan ada yang membencinya karena dirinya dekat dengan CEO Wijaya.
Devano melirik gadis di sampingnya yang menganga. Imut sekali. Itulah yang ada di otak Devano saat melihat ekspresi Delima.
Devano bangkit. Mendekatkan wajahnya pads gadis itu. Kemudian menatapnya.
Membuat gadis itu semakin menganga. Blank!
"A... a... "
"Sungguh! Jika kau terus memasang wajah itu. Maka kau akan habis ditanganku."
Delima langsung mengalihkan tubuhnya ke arah jendela pesawat.
Wajahnya memerah.
'Apa yang dia lakukan!'
Delima sudah lupa dengan rasa pusingnya.
"Ini jeruk hangat. Minumlah supaya tidak mabuk."
"Untuk kakak saja aku sudah sembuh."
"Kau tidur?"
Devano diam karena pertanyaannya tidak dijawab. Membiarkan gadis itu tidur nyenyak karena perjalanan masih lumayan jauh.
.
"Tuan Marvel. Tuan Devano telah kembali dari luar negeri."
"Baik. Siapkan mobil. Aku akan langsung menjemputnya di kontrakannya."
"Baik Tuan."
Marvel merapikan dokumen yang sedang dikoreksi. Kemudian memasukkan segala sesuatu yang penting ke dalam tas kerjanya. Setelah rapi ia langsung keluar ruangan dan menuju tempat parkir mobil dimana sang sopir sudah menunggunya.
"Kak Marvel!"
Marvel yang hampir masuk ke dalam mobil seketika menghentikan gerakannya. Membalikkan badan.
"Kak Marvel mau kemana?"
Shera. Gadis itu sedang apa berkeliaran di perusahaannya?
"Tentu saja pergi. Ada urusan."
Shera mengerucutkan bibirnya. "Padahal aku sengaja kesini!"
"Kamu pulang saja. Aku harus pergi sekarang."
Marvel langsung masuk ke dalam mobil. Kemudian menurunkan kacanya.
__ADS_1
"Pulang ya. Sudah hampir malam. Jangan bepergian. Tidak baik seorang gadis pergi sendirian malam-malam."
Seteleh berkata seperti itu Marvel kemudian menutup jendela mobilnya. Mobil itupun pergi perlahan meninggalkan Shera.
"Apa.. apa .. apa tadi kak Marvel sedang khawatir padaku?"
Shera memegang kedua pipinya yang sedikit memerah. Ia sangat senang karena perkataan Marvel barusan.
Shera berjalan cepat ke arah mobilnya dan masuk ke dalamnya.
"Pak Riko. Ikuti mobil Kak Marvel!"
"Baik Nona."
.
Shera kebingugan. Didepan sana terlihat Marvel masuk ke dalam gang kecil yang bahkan mobil saja tidak bisa masuk.
Dirinya diam-diam turun dan mengikuti Marvel yang berjalan di gang. Didepan sana terlihat Marvel berbelok ke arah kiri. Shera megikutinya sambil mengendap-endap.
Dirinya mengintip dari balik tembok, melihat Marvel di depan sebuah kontrakan kecil. Tak lama kemudian keluar seorang gadis dari sana. Shera dengan mata kepalanya melihat Marvel memeluk gadis itu dan mencium keningnya.
Shera seketika merasakan hatinya dipukul palu besar.
Tangannha reflek meremas dada sebelah kirinya. Dan air mata jatuh dari kedua matanya. Bibirnya bergetar.
"Pantas.... pantas saja." Ucapnya lirih dengan bibir bergetar.
Ia berbalik.
Berjalan menjauh sambil tehuyung-huyung sampai Riko akhirnya datang dengan wajah kawatir.
"Pak.."
"Nona.. anda baik-baik saja?" Riko bertanya kawatir karena merasa keadaan Nonanya tidak baik-baik saja.
"Aku ingin ke rumah pohon.."
"BAIK! Saya Antar!" Riko memapah tubuh lunglai menuju mobil di seberang jalan. Tak terlalu jauh dari mobil Marvel yang terparkir di sebelah gang tadi.
.
Di dalam mobil Shera hanya diam.
Siapa gadis yang tadi dipeluk Marvel?
Apakah ini alasan Marvel?
Alasan pria itu tidak mau menerima dirinya selama ini?
Shera memejamkan matanya. Lelah...
***
To be continued
***
Sorry slow update 🙏
Penulis sangat sulit membagi waktu antara pekerjaan dan hobi 😂
Kemarin saya mondar-mandir bolak-balik ke Yogya antar adik ujian masuk Kedinasan.
Kemudian Penulis kembali sakit 🙏
__ADS_1
Mohon maklum 🙏
Semoga pembaca masih bersedia membaca karya saya yang sangat luar biasa ini. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih.