
***
Delima terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak. Ia tidur di kamarnya. Di rumahnya bersama keluarganya.
Kamar yang ia tempati sangat luas. Bercatkan warna hijau pastel yang menenangkan. Sang kakak berkata jika kamar ini memang didesain untuknya.
Kakaknya bilang kamar ini selalu dibersihkan setiap hari.
Pantas saja sangat terawat. Batin Delima.
Dirinya bangkit ke arah jendela. Membuka jendelanya dan terpampang sebuah pemandangan taman di bawah.
Saat ini suasana masih sepi karena masih tergolong pagi namun sudah agak terang karena terbitnya matahari dari ufuk timur. Delima menolehkan kepalanya ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 05.30.
Ia harus segera bersiap untuk kembali bekerja.
Delima kembali menatap taman dibawah. Ia masih saja tidak percaya jika Tuhan memberikan jalan yang cukup mudah untuknya mencari keluarganya. Delima sangat bersyukur.
.
Delima sudah selesai mandi. Ia kebingungan sekarang. Kemarin dirinya tidak membawa pakaian, karena dirinya berpikir pendek. Heu.. Delima membuka lemari yang tersedia disana. Sangat besar.
Delima takjub.
Di dalam dalam lemari sangat banyak tersedia pakaian. Dress, casual, dalaman, bahkan sepatu dan tas tersedia seluruhnya di lemari besarnya yang berjejer di sebelah selatan. Semua terlihat mahal dan mewah.
Namun akhirnya Delima menjatuhkan pilihan pada hoodie kebesaran berwarna biru muda dan sebuah celana jeans yang juga tersedia disana. Ia mengambil sepatu kets di salah satu lemari dan memakainya. Dirinya mengambil tas kecilnya dan segera keluar dari kamarnya menuju lantai bawah. Ke ruang makan.
"Sayang. Lho mau kemana?" Sang ibu yang sedang menyiapkan makanan kaget melihat putrinya yang sudah rapi.
Delima mendekat kepada sang ibu dan memeluknya mesra.
Ia sangat nyaman dalam pelukan wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu.
"Manja sekali putri ibu ini. Mau langsung bekerja? Tidak disini dulu bersama ibu dan ayah?"
Delima mengangguk dalam dekapan Almira.
"Mau kerja ibu. Nanti Kak Devano marah kalau tidak dibuatkan kopi."
"Hahaha. Apa harus kamu yang membuatnya, sayang?"
Delima mengangguk.
"Baiklah. Nanti biar kamu diantar kakakmu ya."
"Selamat pagi." Dua suara pria dewasa bersahutan secara bersamaan(?).
Dirga dan Marvel langsung duduk di tempatnya.
Marvel menatao sang adik. "Manja sekali adikku ini haha."
"Kakak jangan mengejekku. Hampir 20 tahun aku tidak pernah merasakan dipeluk seorang ibu." Wajah Delima menjadi mendung.
"Marvel. Jangan menggoda adiku seperti itu. Lihatlah wajahnya menjadi mendung." Ucap Dirga sambil memakai celemek makannya.
"Maafkan aku, adikku sayang. Ja. Kita sebaiknya segera sarapan sebelum masakan Ratu kita mendingin." Ucap Marvel sambil menarik Delima duduk di sampingnya. Kemudian ia mengusap kepala sang adik dengan lembut.
"Jangan cemberut terus. Maafkan kakak ya."
Delima mengangguk kemudian tersenyum pada sang kakak. Almira hanya menggelengkan kepalanya melihat lelakuan adik kakak didepannya.
Keluarga yang baru saja kembali utuh tersebut kemudian memulai sarapan paginya dengan penuh canda dan tawa.
.
"Hati-hati. Nanti aku akan menjemputmu. Tunggu aku datang. Jangan pergi sendiri. Ok!" Marvel memberikan petuah pada sang adik sebelum keluar dari mobilnya.
"Iya kak. Aku akan menunggu kakak. Bye."
Delima langsung turun dari mobil Marvel. Marvel terus menatap sang adik sampai masuk kedalam gedung. Barulah dia pergi ke perusahaannya.
.
"Delimaa!! Kemana saja kau!" Nina berteriak saat melihat temannya terlihat di ruang OB/OG.
"Hehehe. Nina. Aku habis dari luar negeri mendampingi bos."
"APA??!! TERUS TERUS." Nina bertanya antusias. "Terus kok bisa kamu yang berangkat? Terus disana ngapain?" Lanjutnya.
"Hiks. Aku disiksa disana. Aku disuruh ini itu. Lelah sekali. Hiks." Delima beracting seolah-olah dirinya ditindas oleh bosnya.
Tentu saja bohong. Dirinya memang harus berbohong. Tidak mungkin kan dirinya memberitahu Nina jika disana dia berlibur ke pantai, bermalam di hotel, dan ikut berpartisipasi dalam pesta sang bos? Yang ada pasti nanti teman-temannya akan curiga.
"Astaga pak Devano itu beneran kejam ya. Untung yang diajak kamu bukan aku. Hahaha."
Delima hanya tersenyum sambil menatap Nina yang sedang tertawa.
Maaf ya Nina. Batin Delima.
"Ah ya! Kau disuruh bosa membawa kopi. Seperti biasa. Bersama asistennya yang aneh itu."
"Pak Wira maksudmu?"
"Benar. Segera laksanakan sebelum bos murka."
Delima mengangguk kemudian menuang dua cangkir kopi dari sebuah alat canggih disana.
__ADS_1
.
"Selamat pagi, bu. Says mau antar kopi."
"Masuk saja."
Delima kemudian berjalan ke arah pintu otomatis yang jika dirinya berdiri di depan pintu itu, maka pintunya langsung terbuka.
"Waaaah. Halo Delima. Sudah lama tidak melihatmu di kantor." Ucap Wira.
Devano yang sedang duduk di kursi kebanggaannya tanpa kata mendekati sofa dimana Delima meletakkan dua cangkir kopi. Ia duduk di salah satu sisi sofa.
"Silahkan dinikmati kopinya, pak." Delima mempersilahkan.
"Wir, kau keluralah. Tinjau pemotretan model di lantai tiga." Devano memberikan perintah bahkan sedetik sebelum Wira menyeruput kopinya.
'Dasar curut si*lan.' Batin Wira
"Aku kan baru mau minum, Dev."
"CEPATLAH. Dan kau.." Devano menujuk Delima. "Disini saja. Bantuk aku membereskan perpustakaan kecilku."
"Haaah. Bilang saja ingin berduaan."
"Kau mau mati!" Ancam Devano kepada Wira.
"No no no. Aku belum menikah, sayang. Aku belum mau mati, sayang."
"Kalau begitu segeralah keluar!"
Wira langsung ngibrit keluar dari ruangan Devano sebelum pria itu mengamuk.
Delima yang melihat pertengkaran dua pria didepannya tadi hanya menggeleng. Kekanakan.
"Kau mau kemana?"
"Membereskan buku sesuai perintah, pak."
"Duduk!"
Delima diam.
"Duduk!"
Delima masih diam.
Devano gemas dengan diamnya gadis didepanya kemudian langsung menarik gadis itu.
Delima yang tidak siap, kakinya tergelincir dan membuatnya terjatuh tak sengaja di atas tubuh sang bos.
Devano seketika menegang. Rambut halus gadis itu menyapu wajahnya. Wajah cantiknya terpampang indah didepan matanya.
Delima menggigit bibir bawahnya. Kemudian bangkit, namun ditahan oleh sesuatu.
"Diam dulu." Ucap Devano pelan.
Devano menyingkrikan rambut Delima yang menjuntai ke belakang telinga gadis itu.
Tangan satunya bertengger di pinggang gadis itu. Memeluknya erat. Menahannya supaya gadis itu tidak mengubah posisi yang menindihnya. Huh! Cari kesempatan!
Wajah Delima sudah seperti kepiting rebus, bahkan sampai ke telinga.
Jantungnya semakin berdebar kencang saat jemari besar Devano mengusap lembur bibir pinknya.
"Aku menginginkannya. Boleh?"
Delima kebingungan. Pria didepannya ini menginginkan apa?
Tanpa aba-aba tangan pria itu yang tadinya di pinggang, naik ke tengkuknya dan mendorong kepala gadis itu.
Cup.
Mata Delima melotot.
Delima dengan sekuat tenaga memberontak. Ia berhasil melepaskan diri. Wajahnya sudah sangat sangat merah. Jantungnya berdemo. Tangannya begetar.
"S-saya permisi pak!" Delima dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan itu.
Devano tersenyum kecil dengan tindakan gadis itu. Ia tau jika gadis itu sedang malu padanya.
Hahaha.
Devano tertawa seperti orang gila. Ia kembali berhasil mencium gadis itu.
Astaga kenapa rasanya sesenang ini?
Sedangkan Delima berjalan sambil menunduk. Diruang OG/OB dirinya duduk di kursi yang ada disana.
Memegang bibirnya. Ini sudah dua kali. Dia malu sekali. Kenapa sih bosnya suka main cium-cium seperti itu? Apa Bosnya tidak tahu jika dirinya serasa ingin meledak saat itu juga!
Delima menutup wajahnya yang berantakan dengan kedua tangannya.
.
"Kak Marvel!"
"Ayo makan!"
__ADS_1
Marvel mengangkat sebuah kantong ke udara. Pria itu kemudian mendekati sang adik.
"Ayo makan ditaman saja."
Keduanya kemudian duduk di sebuah taman. Dibawah pohin yang rindang, kakak adik itu makan dengan lahapnya sambil bercengkrama.
"Sebenarnya siapa sih gadis itu."
Shera yang baru saja pulang dari kampusnya melihat Marvel turun dari mobilnya di depan sebuah perusahaan. Ia kemudian mengikuti sang pujaan hati sampai ke taman samping gedung pencakar langit itu.
Shera menatap segelas kopi ditangannya. Tadinya ia ingin mengantarkannya ke kantor Marvel.
Apakah ia harus menyerahkannya atau tidak usah.
Shera berjalan pelan mendekat menuju dua orang yang sedang makan itu.
Setelah sampai di depan keduanya. Marvel yang sadar dan peka langsung menoleh. Disusul Delima.
"Em.. Halo Kak Marvel. Ini untuk kakak. Tolonh diterima ya!" Shera meletakkan cup kopi itu tepat di meja di depan Marvel.
Setelah itu Shera segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Uh. Rasanya jantung ini ingin meledak saja." Ucap Shera pelan sambil berjalan menjauh.
"Dia siapa kak? Kakak mengenalnya? Tanya Delima.
Marvel diam sebentar. "Iya. Dia Shera."
"Dia menyukai kakak ya?"
Uhuk uhukkk
Marvel tersedak.
"Pelan-pelan kak." Delima memberikan air putih kemasan dan langsung diminum oleh Marvel.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku perempuan kak. Aku tahu. Gadis itu pasti suka dengan kakak. Kenapa kok kakak cuek sekali?"
"Entahlah."
Delima kemudian tidak bertanya lagi. Ia menatap gadis cantik yang berjalan menjauh dari mereka berdua. Kemudian melirik kakaknya yang melanjutkan makannya dalam diam.
Kakaknya berubah. Barusan sangat cerewet, namun setelah kedatangan gadis itu kenapa kakaknya mendadak diam seperti ini?
Pasti ada sesuatu!
.
Ukh..
Shera memegang dada bagian kiri yang sedikit nyeri. Keringat mulai bermunculan di kening gadis itu. Ia sedari tadi sedang duduk di sebuah kursi di taman yang sama hanya saja di bagian lain.
"Kamu tidak apa?" Shera menatap seorang gadis yang berdiri di depannya. Gadis itu adalah gadis yang bersama Marvel tadi!
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing." Jawab Shera.
"Kopimu tadi diminum habis oleh kak Marvel." Ucapnya.
"Benarkah?" Shera tersenyum. Melupakan rasa sakit di dadanya. Hanya dengan mendengar bahwa kopi yang ia berikan diminum oleh Marvel, hatinya sudah sangat senang.
"Kamu suka dengan kak Marvel?"
Shera menatap gadis itu.
"Namaku Delima."
"Namaku Shera."
"Baiklah. Salam kenal ya. Aku senang bertemu denganmu. Jika kau suka dengan Kak Marvel, maka jangan menyerah ya. Lebih baik kamu pergi dari sini. Di sini sangat panas. Aku pergi dulu. Dah."
Shera diam sambil menatap punggung gadis itu yang menjauh.
Shera kembali merasakan nyeri di dada kirinya.
Keningnya mengerut. Keringatnya semakin banyak. Pandangannya menjadi kabur.
"Nona!!"
Riko datang tepat saat Shera hampir terjatuh dari kursi taman. Ia sungguh khawatir. Kenapa akhir-akhir ini nonanya sangat sering kambuh.
Pria paruh baya itu kemudian menggendong nonanya di punggung dan membawanya pergi dari taman itu.
Tak jauh, Marvel yang sedari tadi melihat kejadian itu merasa khawatir. Gadis itu pingsan. Kenapa?
Ia berniat ingin menolongnya tadi karena melihat gadis itu seperti kesakitan tapi ternyata pengawalnya datang membuat Marvel mengurungkan niatnya.
.
Selama perjalanan ke kantornya, pikiran Marvel terus tertuju pada gadis itu. Marvel melirik cup kopi yang isinya telah habis. Apa-apaan dia? Cup itu sudah kosong bukannya dibuang tapi malah dirinya membawanya kemana-mana?
Marvel menghela napasnya pelan. Ia pikir ada yang salah dengan dirinya saat ini. Tidak! Sejak bertemu dengan gadis bernama Shera.
***
To Be Continued
__ADS_1
***
Penulis memohon maaf setulus-tulusnya jika ada typo. Penulis ngedit sambil ngantuk 😂