
***
Delima terbangun dari tidurnya dengan kepala berat. Ia merasa pusing. Ini selalu terjadi setiap ia selesai menangis.
Ia ingat, kemarin ia dihina oleh wanita cantik bernama Luna sampai menangis. Ia benar-benar sedih karena Luna menganggapnya rendah. Namun ia ingat sesuatu. Itu nyata bukan ya? Tapi sepertinya hanya mimpi. Delima menggelengkan kepalanya.
“Kau baik-baik saja?” Delima tersentak kaget mendengar suara di samping kirinya. Ia langsung melupakan pikiran anehnya tadi.
Devano berdiri di samping tempat tidur memakai kaos dan celana pendek. Masih tetap tampan. Dirinya memegang sebuah gelas berisi air putih yang kemudian disodorkan kepada Delima.
“Pak Devano? Eng.. Saya dimana pak?” Delima tidak menerima gelas itu, malah melihat sekeliling. Ia dimana? Tempat ini sangat besar dan mewah. Kasurnya empuk dan selimutnya juga lembut.
“Kau sedang aku culik.”
“APA?” Delima menyibakkan selimut kemudian melihat seluruh tubuhnya. Masih pakaian yang sama. Delima juga memegang bagian intimnya. Untuk memastikan apakah sakit atau tidak.
Devano menatap Delima aneh. Ia mengalihkan tatapannya ke jendela ketika Delima mulai meraba bagian intimnya. Memangnya ia melakukan apa sampai-sampai gadis didepannya meraba-raba bagian terlarang itu? Dirinya hanya mencium bibirnya saja kok. Eh…?
“Bapak tidak melakukan apa-apa kepada saya kan, Pak?” Delima bertanya panik.
“Apa kau lupa?” Devano berkata sambil tersenyum aneh.
“Ma-maksud bapak apa?”
“Semalam. Apa kau lupa? Kita berdua…” ucapan Devano terpotong.
“Tidak. Tidak. Tolong katakan bahwa bapak tidak melakukan apapun!”
“Hahahahaha.. Tidak melakukan apapun? Lihat rambutmu saja berantakan seperti singa.” Devano terus menggoda Delima dengan pertanyaan ambigunya.
Delima kembali menyelimuti dirinya dengan selimut yang tadi disibakkannya. “Tidak mungkin! Tapi aku tidak merasakan sakit. Tapi…” Delima panik. “Tidaak mungkin! Tidak mungkin! Huaaaaaa…” Delima berteriak membuat Devano gelagapan. Sepertinya ia terlalu jauh menggoda Delima.
“Aku tidak melakukan apapun! Jangan berteriak seperti itu! Tadi aku hanya sedang menggodamu saja!”
“Hiks. Apakah benar? Lalu aku dimana sekarang, Pak?”
“Benar! Aku tidak melakukan apapun. Mana mungkin aku tertarik pada gadis krempeng sepertimu.”
Tangan Devano bersedekap depan dada. “Kau di apartemenku. Tidak mungkin kau kubawa ke hotel. Akan hancur reputasiku ketika orang tahu seorang CEO Perusahaan Wijaya membawa gadis ke dalam hotel! Dan tidak mungkin juga aku membawamu ke rumahku, bisa habis diriku ditangan ibuku!”
“Kenapa bapak tidak mengantar saya ke kontrakan?”
“Kau menyalahkanku? Kau itu tidur seperti kerbau. Lagipula aku tidak tahu kontrakanmu!” Devano menghela napas. “Sudahlah. Minum air ini. Semalam kau menangis. Kau pasti haus.”
“Bapak tidak memasukka n racun kan?”
“Delimaaaaa…” Devano berdesis hingga bibirnya menipis. Delima meringis ia menyambar gelas dari tangan bosnya kemudian meminumnya.
***
“Kau mau kemana?” Devano bertanya ketika matanya melihat siluet Delima berjalan di ruang tamu. Mencari sesuatu.
“Mau pulang, Pak. Tapi pintunya dimana sih?” Delima berjalan kesana kemari mencari pintu.
“Nanti saja. Aku sedang memesan sarapan.”
“Tapi saya harus bekerja, Pak.”
“Wira sudah meminta ijin pada pengurus OG/OB atas namamu.” Ujarnya sambil menyeruput tehnya.
“Tapi, Pak. Kalau gaji saya dipotong bagaimana?”
Devano memutar bola matanya. “Duduk.”
“Tidak mau!”
“Duduk kubilang! Aku mau membicarakan sesuatu!”
Delima hanya bisa menurut. Ia merutuki kebodohannya karena sudah berani kepada bos perusahaanya. Delima menjatuhkan bokongnya di sofa empuk apartemen Devano.
“Aku ingin menawarimu suatu hal.” Devano berbicara serius sambil menatap Delima. Yang ditatap hanya mendunduk gugup.
“Me-menawarkan apa ya, Pak?”
Devano menghembuskan napasnya pelan.
“Aku ingin kau bekerja di apartemenku juga.”
“Ha-ah? Disini, pak? Jadi ART gitu?”
__ADS_1
“Hem.. Gajimu akan lebih besar daripada menjadi Office Girl di kantor.”
“Benarkah?” Delima antusias.
“Yaaaa… begitulah. Aku ingin kau bekerja disini setelah kau menyelesaikan pekerjaan di kantor.”
“Apa-apaan, Pak? Jadi jam kerja saya bertambah dong!” Delima mulai sebal dengan penawaran bosnya. Ia bekerja di kantor, kemudian dia disuruh kesini untuk bekerja lagi?
‘Dasar bos gila. Dia pikir aku ini ultramen?’
“Kau hanya harus membersihkan apartemenku dan memasakkan makan malam untukku. Setelah itu kau boleh pergi.”
Delima mengerucutkan bibirnya.
“Mau tidak?”
“Gajinya banyak kan, Pak? Hehe.”
“Tentu saja. Tapi kenapa kau sangat tertarik dengan penawaran gaji yang ku berikan?”
“Aku memerlukan biaya untuk mencari orang, Pak.”
Devano mengeryit bingung. Mencari orang? Apakah orang itu sangat penting sampai ia harus mencari uang banyak?
***
Devano duduk di kursi kebesarannya sambil melamun. Tangannya mengusap bibirnya pelan. Otaknya berpikir sejak tadi pagi, siapa yang gadis kecil itu cari? Sampai-sampai gadis itu harus mencari uang sendirian di kota besar ini?
Devano menghembuskan napasnya pelan. Ia harus mencari tahu siapa yang dicari oleh gadis itu. Tapi.. Jika dipikir-pikir, kenapa ia harus repot-repot mencari tahu? Memangnya gadis itu siapa?
“Bos. Kau melamun? Kenapa pekerjaanmu tidak kau kerjakan?” Wira bertanya pada Devano.
“Tidak apa-apa, Wir.”
“Apa karena gadis kecil yang kau culik semalam?” Wira tersenyum kecil.
“Tidak. Untuk apa memikirkannya? Memangnya dia siapa?”
‘Ah, dasar curut ini. Gengsinya benar-benar setinggi langit.’
“Hem.. Jadi begitu ya. Aku kira kau menyukainya.” Wira manggut-manggut. “Aku jadi tidak punya rival untuk mendekatinya dong! Ah! Aku lupa. Sial sekali. Marvel juga terlihat menyukai gadis itu.” Wira berujar dengan suara keras. Ia sengaja!
‘Apa-apaan dia? Berani-beraninya dia mau mendekati Delima-ku!’
‘Eh?’ Devano terkesiap dengan pikirannya. Delima-ku? Ia menggelengkan kepalanya gusar. Bisa-bisanya dia menyebut gadis itu sebagai miliknya? Apa dia sudah gila?
“Ah sudah siang ternyata. Aku mau makan. Kau mau ikut atau tidak, Dev?”
Devano yang masih kesal tidak menghiraukan ajakan Wira. Wira ingin tertawa keras saat itu juga. ‘Asyik sekali mengerjai si curut ini.’
“Aku mau coba ke kantin. Aku tidak pernah ke kantin. Katanya makanannya enak sih. Ah! Gadis kecil itu juga selalu makan siang disana. Aku mau mentraktirnya makan, ah!” Wira beranjak dari duduknya. Siap menuju ke kantin perusahaan Wijaya.
Devano mencoba menulikan telinganya. Mencoba tidak peduli. Tapi tidak bisa. ‘Si kampret ini benar-benar menyebalkan. Apa maksudnya?’
“Aku pergi dulu ya, Dev. Kalau tidak kuat, menyusul saja. Haahahaha.” Wira keluar dari ruangan bosnya dengan tawa yang menggelegar.
‘Tidak kuat apanya? Aku ini pria kuat! Badanku saja besar dan tinggi! Enak saja dia bilang aku tidak kuat!’
***
Kantin perusahaan Wijaya yang tadinya sudah ramai, semakin ramai ketika asisten dari CEOnya datang ke sana untuk pertama kalinya.
“Astagaa.. Pak Wira ganteng banget.”
“Aduuh. Mimpi apa aku semalam bisa melihat pak Wira disini!”
“Cakep banget!!!”
“Iya!”
“Waaa!!”
“Waaa!!!”
“Semua yang makan di kantin hari ini saya traktir! Kalian bebas mengambil makanan disini. Semuanya akan kubayar!” Wira berteriak keras di kantin itu.
Suasana semakin ramai. Para pegawai bersorak kegirangan mendapatkan traktiran dari Wira. Tak terkecuali Delima dan teman-temannya.
“Wah! Pak Wira kesambet apa nih, kok mentraktir kita semua!” Nina berseru senang.
__ADS_1
“Kesempatan kita, Nin. Ambil makanan yang banyak!” Delima juga sangat bersemangat.
“Benar ayo ambil yang banyak. Kita juga butuh gizi lebih!” Raka melanjutkan.
“Ayo!”
“Cepaat sebelum kehabisan!” Bima berlari ke arah kerumunan yang dimana semua makanan ada disana.
Setelah berdesakan, Delima dan teman-temannya menikmati makanan di meja mereka. Delima terlihat sangat bahagia bisa makan enak hari ini. Biasanya hanya nasi rames saja ditambah ayam goreng atau tempe goreng. Namun sekarang, daging sapi tersedia banyak di depan Delima dan teman-temannya.
“Aaaahh~ Aku sangat jarang makan rendang daging sapi. Em enakkkkk!”
“Aku juga, Del! Aku juga jarang. Makanan seperti ini kan harganya lumayan. Jadi puas-puaskan saja selagi gratis!” Via menimpali.
“Makanlah yang banyak! Haha.” Tiba-tiba Wira datang dan duduk di kursi kosong samping Delima. Wira juga membawa piring berisi makanan.
“Terimakasih, Pak! Bapak bisa lihat piring saya sangat penuh. Hehehe.” Delima berkata sambil tersenyum senang.
Wira melirik ke arah pintu kantin. Ada seseorang yang ia kenal disana. Sedang mengintip. Badannya hanya terlihat setengah, namun Wira sangat mengenali tubuh bos sekaligus sahabatnya itu. ‘Sudah kubilang kau tidak akan kuat! Hahaha.’
“Terimakasih ya Pak Wira.”
“Terimakasih, Pak.”
“Iya. Terimakasih ya, Pak!”
“Iya.. Iya.. Sama-sama. Jika kurang ambil saja lagi ya. Tidak perlu sungkan!” Wira berkata sambil tersenyum bangga.
Ternyata berkumpul dengan karyawan lain sangat menyenangkan seperti ini. Makan bersama dalam suasana yang ramai dan santai. Wira sampai tidak sadar ikut mengobrol dengan karyawan disana. Besok-besok ia akan sesekali makan lagi disini. Daripada makan di restoran atau di cafe yang sepi.
***
Devano masuk kedalam ruangannya dengan tangan terkepal. Dirinya berpikir, apakah asistennya itu benar-benar akan mendekati Delima? Ia kira Marvel saja yang terlihat mengejar Delima. Tapi sekarang asistennya juga mencoba mengejar gadis kecil itu.
Devano berjalan menuju mejanya dan duduk di kursi kebesarannya. Ia menyangga kepalnya dengan kedua tangannya. Gadis kecil itu benar-benar memberikan pengaruh besar pada dirinya. Tangannya menyambar gelas berisi air dingin. Ia meneguk isinya rakus. Dirinya bingung. Laki-laki yang mengejar gadis itu semuanya adalah sahabatnya. Ia harus bagaimana? Ia tidak mau persahabatannya dengan Marvel dan Wira menjadi hancur karena seorang gadis yang diinginkannya.
“Argh!”
***
Sore itu Delima sudah selesai melaksanakan pekerjaan di kantor. Ia harus pergi ke apartemen Bosnya. Tadi pagi ia menerima sebuah pesan singkat dari bosnya yang berisi alamat dan password apartemen. Delima berjalan menuju halte bus. Saat berjalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di sampingnya. Seorang pria tampan berwajah seperti oppa-oppa keluar dari mobil mewahnya.
“Delima? Mau kemana?” Tanya Marvel ramah.
“Kak Marvel? Eng.. Aku mau ke.. itu. Apertemen Pak Devano.”
Marvel mengeryit. Apertemen Devan?
“Kau mau apa kesana?”
“Itu... Aku juga bekerja disana, Kak. Untuk tambahan uang tabungan. Hehehe.” Delima berujar malu.
Marvel tersenyum. Sangat tampan. Namun juga terlihat misterius.
“Ayo aku antar.”
“Tidak perlu, Kak. Terimakasih. Aku mau naik bus saja.” Tolak Delima halus.
“Tidak apa-apa. Ayo.”
Marvel menarik tangan Delima menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Delima hanya menurut saja karena ia tidak mau berdebat juga. Ini sudah sore. Selama perjalanan menuju apartemen tujuan, Marvel dan Delima saling mengobrol ringan. Delima merasa nyaman mengobrol dengan Marvel, karena ia adalah orang yang ramah.
Sesampainya di depan komplek apartemen Devano, Delima langsung membuka pintu mobil dan turun terlebih dahulu. Kemudian baru disusul Marvel.
“Terimakasih atas tumpangannya, Kak. Maaf merepotkan.” Delima berterimakasih dengan tulus. Ia merasa sangat merepotkan Marvel.
“Tidak perlu berterimakasih, Delima. Aku senang bisa mengantarmu. Lain kali mau ya ku ajak jalan-jalan?”
Delima hanya tersenyum menanggapi tawaran Marvel.
“Masuklah.”
“Baik, Kak. Sekali lagi terimakasih. Sampai jumpa.” Delima membalikkan badan meninggalkan Marvel.
Marvel masih berada di tempatnya memandang Delima masuk ke dalam apartemen sahabatnya. Ia mengeluarkan sebuah benda berwarna keemasan dari saku celananya. Sebelum turun menyusul Delima, dirinya menemukan benda itu di bawah jok yang diduduki Delima. Marvel menatap benda tersebut dangan tatapan yang tak terbaca.
Dirinya memasukkan benda tersebut ke dalam saku celananya, berjalan masuk ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1