
***
Devano dan Delima kembali ke pesta.
Tangan mereka berdua tertaut sejak tadi.
Delima hanya menurut ketika pria itu menariknya kembali ke pesta.
"Kakak!"
Devano kemudian menarik kembali tangan Delima dan mengajaknya mendekati sang adik yang memanggilnya.
"Wah. Pacar kakak ya."
Delima menatap gadis cantik didepannya. Cantik. Sangat cantik.
Membuat dirinya minder setengah mati.
'Pantas saja kak Dev menyukai gadis ini.' Delima membatin.
"Kenalkan ini adikku."
Suara Devano membuyarkan pikiran-pikiran negatif yang sejak tadi berputar di kepala cantiknya.
"A-adik?"
"Halo kakak ipar. Aku Eli. Adiknya kak Devano. Hehehe. Jangan salah paham ya." Eli begitu paham situasi yang sedang terjadi.
Eli menyodorkan tangannya. Kemudian disambut jabatan tangan dari Delima.
"Saya.. Saya Delima. Saya..."
"Hahahah. Iya aku paham calon kakak ipar."
'Kakak ipar apanya?'
"Baru kali ini loh aku melihat kakakku membawa seorang gadis."
Devano mendelik sebal pada adiknya. Matanya melotot dan seolah menyuruh adiknya untuk tidak membongkar aib-nya.
Eli mendekat ke arah Delima. Berbisik.
"Aku kira kakakku itu gay. Karena aku tidak pernah melihatnya berkencan dengan seseorang."
Namun bisikan itu cukup keras sehingga terdengar oleh Devano.
"Diam kau bocah." Devano menoyor kepala sang adik cukup keras dan bertenaga.
"Kakak ipar lihatlah kakakku, dia menyebalkan."
Delima hanya tersenyum dengan interaksi kakak adik didepannya.
Ia melihat sisi lain Devano saat ini. Sangat berbeda ketika di kantor dan ketika bersama keluarganya.
Tadi hampir saja ia marah karena cemburu pada gadis didepannya ini karena berani memeluk Devano.
Hah?
Cemburu?
Delima menggelengkan kepalanya pelan. Haha cemburu.
'Mana mungkin?'
"Kakak ipar. Ayo kita makan camilan saja." Eli menarik tangan Delima yang tidak digenggam oleh Devano.
"Apa-apaan!"
"Kakak. Bisakah kau melepaskan tanganmu? Aku ingin mengobrol dengan kakak ipar. Urusan perempuan."
Eli mencoba melepaskan tangan Devano yang masih melekat erat di tangan Delima.
"Kau.."
"Ayo kakak ipar!"
Setelah tautan terlepas, Eli segera membawa Delima menjauh.
__ADS_1
Eli mengambil dua gelas es syrup dan memberikan salah satunya kepada Delima.
"Kak Delima sudah lama pacaran dengan kakakku?"
Delima hanya nyengir.
"Aku.. Sebenarnya... Aku.. "
"Kakakku itu sudah tidak pernah pacaran lagi sejak SMA."
Delima hanya diam mendengarkan.
"Sejak diputuskan oleh seseorang yang dia sukai. Kakakku sejak itu tidak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun." Eli menerawang. "Dia hanya fokus bekerja. Membantu Ayah di perusahaan Wijaya. Sampai akhirnya ayah mempercayakan perusahaan pusat pada kakak." Lanjutnya.
Delima mengangguk paham.
"Tapi aku senang. Dia ternyata bisa punya pacar juga sekarang hehe. Dia sudah tua. Mau sampai kapan menjomblo."
"Aku.. " belum selesai Delima berbicara, perkataannya kembali dipotong.
"Dia tadi sangat khawatir saat melihat kakak ipar berlari masuk ke mansion."
"Benarkah?"
"Hu um.. oh iya kakak tinggal dimana?"
"Aku tinggal di kota J. Dan aku bekerja di perusahaan kakakmu."
"Wah. Setiap hari bertemu pria menyebalkan itu ya?"
"Hehehe. Memang benar. Kakakmu itu menyebalkan dan pemaksa."
Kemudian keduanya tertawa. Delima merasa nyaman dengan gadis ini. Gadis ini sungguh pintar mencairkan suasana.
Kemudian merekapun melanjutkan obrolan mereka. Saling bertukar cerita tentang Devano.
'Apa yang mereka bicarakan sampai tertawa seperti itu?' Devano menatap curiga pada dua gadis yang sedang menikmati camilan di sisi timur.
***
"Gantian kak!!" teriakan protes dari Eli menggelegar di ruang kelurga Devano.
"Tidak bisa!" Devano juga menjawab.
Marthent dan Regina menggelengkan kepalanya. Jika Devano dan Eli sudah bertemu pasti rumah akan menjadi ramai.
Delima yang menjadi bahan perebutan hanya diam.
"Pokoknya hari ini aku mau bersama kakak ipar! Kakak kan sudah darii kemarin!"
"Kau mau membawanya kemana Eli! Kemana-mana dia harus bersamaku!"
"Apa-apaan kakak itu! Memangnya Kak Delima itu hanya milikmu saja? Pokoknya hari ini aku mau jalan-jalan dengan kakak ipar. TITIK!"
"Tidak boleh!"
"Boleh!"
"Diam kalian semua! Dev. Biarkan adikmu jalan-jalan dengan kekasihmu. Sejak kemarin kan kau sudah berjalan-jalan dengan Delima kan?" Akhirnya sang penguasa mansion, alias sang Ayah mengeluarkan kata-kata pamungkasnya.
"Ayah kenapa kau membela dia!"
"Astaga, kau sudah dewasa mengapa kau seperti ini?"
Devano menghela napasnya pelan. Ia merasa malu. Dirinya sudah dewasa tapi kenapa dia begini? Ia melirik Delima. Gadis itu sedang senyum-senyum sambil menunduk.
Devano mulai berpikiran yang tidak-tidak. Apakah dirinya kekanakan?
"Terserahlah!"
"Horeeee! Kakak ipar ayo kita siap-siap. Kita belanja ke mall! Kita makan makanan enak nanti disana! Akhirnya aku bisa berjalan-jalan dengan calon istri kakakku yang..."
"Yang apa?!" Devano berteriak sewot.
"Yang.. Yang aku kira gay!" Setelah itu Eli berlari ke kamar sambil menarik tangan Delima. Tawa keras terdengar di ruangan itu.
"Ayah dan ibu kenapa melihatku seperti itu?!"
__ADS_1
"Ayah juga mengira kau gay. Ayah sangat khawatir. Kau selalu bersama Wira kemana-mana seperti perangko saja."
Regina tertawa keras mendengar perkataan suaminya. Sedangkan Devano hanya mengacak rambutnya pelan.
Keluarga yang harmonis bukan?
***
Marvel duduk di kursi kebesarannya sambil berpikir.
'Kapan Devano dan Delima kembali?' pikirnya.
CKLEK
"Kak Marvel!"
Seorang gadis cantik masuk ke dalam ruangan Marvel.
Marvel menghela napasnya pelan.
"Ada apa?"
"Kak! Aku datang karena merindukanmu tahu! Apa kakak tidak merindukanku?" Gadis itu berkata sambil tersenyum dan menatap Marvel bahagia.
Marvel menatap gadis didepannya dengan malas.
"Bisakah kau tidak mengganguku, Shera."
Senyum Shera memudar.
"Kak Marvel. Aku jauh-jauh dari negara F kenapa kakak seperti ini?"
Marvel diam.
Shera adalah seorang gadis berumur 21 tahun. Ia adalah putri sahabat ayah Marvel. Sudah lama Shera menyukai Marvel dan mengejarnya. Tapi Marvel sampai saat ini belum bisa melihat ketulusannya.
Shera bertemu Marvel saat sang ayah mengadakan pertemuan dengan koleganya di rumah. Sejak saat itu Shera merasakan debaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sejak bertemu dengan Marvel, secara terang-terangan ia mendekati pria tampan itu.
"Aku tidak pernah menyuruhmu datang kemari, Shera."
"Kapan kakak melihatku?" Lirih Shera.
Marvel melanjutkan pekerjaannya.
"Aku akan berjuang kak! Aku.. akan berjuang mendapatkan kak Marvel!"
"Berjuanglah."
Shera tersenyum. Apakah Marvel sedang memberinya lampu hijau?
"Baik! Kita lihat saja nanti!" Shera keluar dari ruangan Marvel.
Marvel menghela napasnya. Gadis itu begitu semangat mengejarnya. Tapi dirinya tidak menyukai gadis kekanak-kanakan seperti itu!
Shera menutup pintu ruang kerja pria yang disukainya. Ia menyandarkan punggungnya di sana. Menatap kosong pada tembok di depannya.
Air matanya jatuh.
Kapan pria itu bisa menerima kehadiran dirinya? Sudah hampir dua tahun dirinya mengejar Marvel. Tapi pria itu kenapa belum bisa melihatnya?
***
To be continued
***
Halo para readers.
Maaf jika slow update.
Selain sibuk. Penulis juga sedang sakit.
Hari ini mencoba update. Dan saya bersyukur karena bisa mengedit satu episode ini.
Terimakasih kepada pembaca yang sudah mendukung karya ini. Saya tidak akan meminta apapun. Tapi jika ada yang sukarela memberi vote dan dukungan, saya sangat berterimakasih. Hehehe.
__ADS_1
Tujuan saya menulis hanya untuk menyalurkan ide saya. Daripada disimpan saja kan mending direalisasikan. Sekali lagi mohon maaf. Selanjutnya mohon doanya supaya lebih rajin update. Terimakasih.