
***
"Halo, Papa..."
'Halo sayang. Hati-hati disana, Shera. Perpindahanmu akan papa uruskan nanti.'
"Baik papa. Terimakasih. Shera sayang papa."
'Papa juga, nak. Jangan lupa makan. Suruh pak Riko mencarikan asisten rumah tangga. Papa tidak mau kamu kelelahan.'
"Iya.."
KLIK
Shera mematikan sambungan telepon dari ayahnya yang ada di negara F.
Kemarin Shera mengutarakan keinginannya untuk pindah ke Kota J.
Awalnya sang ayah tidak menyetujui. Ibunyapun sama. Namun Shera meyakinkan ayah dan ibunya jika dirinya sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Akhirnya Shera diijinkan pindah sementara ke Kota J, dan kuliahnyapun ikut pindah.
Sang ayah yang khawatir mengutus Riko sebagai supir dan beberapa bodyguard untuk menjaga sang putri yang sendirian di negara orang.
"Nona, apakah nona ingin menyegarkan pikiran? Saya tahu tempat yang bagus." Ujar Riko.
"Boleh, pak. Kita kesana ya."
Shere menyandarkan punggung di kursi mobilnya. Berpikir. Apakah keputusannya untuk pindah adalah hal yang benar? Ia ingin mengejar pria pujaannya.
Sudah hampir dua tahun, Shera sangat sering mengirim email kepada Marvel namun tidak pernah dijawab. Membuat Shera bertekad pindah ke Kota J demi pria itu.
Cinta itu buta.
Memang benar.
Sejak awal pertemuan, Marvel hanya diam saat Shera mencoba berkenalan. Sampai beberapa hari Marvel dan Shera sering bertemu karena pria itu sering berdiskusi dengan ayahnya di rumah Shera. Namun Marvel juga tidsk terlalu menanggapinya.
Riko menghentikan mobilnya di sebuah lahan. Lahan pegunungan.
"Nona. Mari ikut saya. Tempat ini saya tahu dari teman saya. Disana aman. Ketika malam hari juga banyak disinari lampu. Teman saya yang merawat tempat ini namun sekarang sudah tidak lagi karena mereka pindah dua hari lalu. Disana juga ada rumah pohon."
"Benarkah? Waaah?"
Shera menatap sekeliling. Memang indah. Pohon pohon menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan setapak. Tidak terlihat menakutkan jika dilihat padahal daerah pegunungan.
Matanya semakin takjub sesampainya di bawah rumah pohon. Di sisi kirinya ia melihat pemandangan kota.
"Kalau malam pasti akan bagus sekali. Melihat lampu-lampu kota yang menyala." Gumam Shera.
"Pak Riko boleh pergi. Aku ingin bersantai dulu disini."
"Baik nona. Saya tunggu di Mobil."
Shera mengangguk. Kemudian ia mencoba naik ke rumah pohon. Menaiki tangga kayu satu per satu.
Sesampainya disana Shera tersenyum.
__ADS_1
Rumah pohon yang tidak terlalu besar. Didalamnya ada sebuah kasur lantai dan meja kecil.
Masih bersih.
Rumah pohon ini bersih.
Shera duduk di atas kasur lipat. Menoleh ke kiri dan menatap pemandangan luar dari jendela yang baru dibukanya.
"Bahkan ada lampu.. wah masih menyala." Ucapnya. "Aku akan nyaman disini.."
***
"Baik-baik sayang. Kalau mabuk, tidur saja. Hati-hati ya.."
"Ibu. Anakmu yang ini.."
"Diam dulu Dev."
Devano memutar bola matanya malas.
Saat ini mereka sudah di bandara. Setelah mengurus administrasi, mereka duduk di ruangan VIP. Menunggu jet pribadi milik keluarga yang terjadwal beberapa menit lagi.
"Tante Regina. Terimakasih sudah mengijinkan saya menginap dirumah tante." Ucap Delima. "Om Marthent terimakasih." Lanjutnya
"Sama-sama, nak. Jika anak kami macam-macam padamu. Maka segera beritahu asistennya. Dia akan segera menghubungi kami." Ucap Marthent.
"Ayah aku tidak akan melakukan apapun!" Devano berujar protes pada ayahnya.
"Jika, Dev.. Jika!"
"Kakak. Kapan-kapan aku akan bermain ke Kota J!" Ucap Eli.
Delima tersenyum dan mengangguk. Kemudian memeluk Eli.
"Kami pamit." Devano berpamitan pada keluarganya yang mengantar.
Kemudian mengajak Delima menuju pesawat.
Sesampainya di dalam pesawat, pramugari membantu membawakan barang mereka.
"Lebih baik kau minum obat sekarang. Setelah lepas landas kau bisa tidur di ranjang."
"Lalu kakak tidur dimana?"
Devano berlagak berpikir. Menaruh jari telunjuk di dagunya.
"Tentu saja di kursi. Atau... kau mau kita tidur di ranjang yang sama?"
Delima melotot.
"Mesum!"
Devano hanya tertawa kemudian bersiap karena pesawat akan segera lepas landas.
***
__ADS_1
Shera masuk ke dalam aparteman barunya. Cukup mewah dan dekat dengan universitas yang nantinya ia masuki.
Dirinya berjalan menuju dapur. Membuka lemari es dan meletakkan belanjaan yang baru saja dirinya beli di supermarket.
Setelah selesai ia pergi ke kamarnya. Barang-barangnya sudah tertata rapi disana. Ayahnya sungguh berlebihan.
Dirinya menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Mengambil ponsel. Kemudian membuka galeri. Disana ada satu folder khusus.
"Kak Marvel. Jika kesempatan terus ada, aku akan berjuang. Tapi..." ucapan Shera terhenti.
'Jika suati saat Kak Marvel sudah benar-benar tidak menginginkanku. Mungkin aku akan menyerah.' Lanjutnya dalam hati sambil menatap foto Marvel di ponselnya.
"Akh.." Shera memegang dada sebelah kirinya. Kemudian dengan cepat merogoh tas kecilnya. Mengambil sebuah botol berisi puluhan pil. Ia mengambil satu dan segera menelannya. Padahal dirinya belum makan. Tapi rasa sakit itu harus segera diselesaikan.
Napas Shera mamburu. Inilah yang membuat orang tuanya melarang Shera jauh dari mereka. Karena dirinya.. Sakit.
Shera bangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.
Ia bangkit perlahan. Obat yang ia telan semalam membuatnya mengantuk berat.
Hari ini dirinya berencana untuk kembali ke kantor Marvel. Ia ingin melihat pria itu!
Sekedar melihatnya juga tidak apa-apa.
Setelah mandi, dirinya pergi ke dapur. Mengambil sereal dan susu untuk sarapan. Memakan sarapan dengan pelan sambil melihat pemandangan pagi di kota J.
Gadis berambut pirang itu kemudian keluar dari apartemen setelah menyelesaikan kegiatan makannya. Menyuruh sang sopir mengantarnya ke 정 corp. Perusahaan milik Marvel.
"Bagaimana perasaan nona hari ini?" Taya Riko
"Aku sudak sabar melihat Kak Marvel, pak."
Sang sopir tersenyum miris. Ia tahu jika nonanya sangat menyukai pemilik perusahaan 정 itu sejak lama. Namun nonanya ini tidak pernah sekalipun mendapatkan balasan atas rasa sukanya itu. Nonanya memendamnya sendiri. Ia sangat khawatir dengan nonanya.
Tuan Cho, sang majikan menyuruhnya untuk menjaga putrinya. Ia akan menjaganya seperti ia menjaga anaknya sendiri. Tuan Cho sangat baik kepada keluarganya. Maka dirinya juga tidak boleh mengecewakan Tuan Cho.
Satu yang ia khawatirkan. Tentang penyakit nona Shera. Sampai saat ini keluarga Cho masih menunggu donor organ yang cocok dengan Shera. Mereka belum menemukannya.
Shera juga dengan sabar menanti donor tersebut. Nonanya pernah berkata jika ia ingin tetap hidup dan bahagian dengan orang yang dikasihinya.
Mata sang sopir berkabut. Ia mengusap matanya cepat. Jangan sampai nona Shere tahu jika dirinya menangis.
'Keinginan nona untuk bahagia pasti akan terwujud.' Batin Riko sambil melihat kaca spion depan. Nonanya sedang menatap jalanan yang dilewati.
***
To Be Continued
**
Alohaa. Ada Cast baru nih. Penulis masih memikirkan visualnya yang cocok dengam rambut pirang kecoklatan.
Shera ini adalah gadis yang sangat menyukai Marvel. Tapi Marvelnya cuek ke Shera. Huhuhu. Ceritanya akan bolak-balik. Delima dan Devano kemudian disisipi Shera dan Marvel juga. Akan ada kalanya semua cast berkumpul.
Jadi mohon maaf jika alurnya kesana kemari. Penulis sudah bilang dari awal. Penulis suka oleng. Jadi mohon koreksi jika ada yang aneh dengan alur. Terimakasih.
__ADS_1