
***
Delima membuka matanya pelan. Ia merasa tidurnya nyaman dan hangat. Setelah matanya terbuka secara penuh, dirinya menatap sekeliling. Kepalanya behenti berputar-putar(?) saat mendapati Devano yang masih tidur didepannya. Matanya membulat kemudian baru sadar akan posisinya. Dirinya kaget dan reflek berjingkat, membuat tubuhnya terjungkal kebelakang.
Dukk
"Akh..." kepala Delima membentur sesuatu. Walaupun tidak keras tapi lumayan membuatnya pusing.
Devano yang mendengar suara pekikan, terbangun dan teegaket pelihat Delima berbaring di karpet sambil memegang kepalanya.
"Ima? Kau kenapa?"
"Sakit. Kepalaku terbentur sesuatu."
Devano melihat di belakang kepala Delima. Ada sebuah meja nakas kecil berisi pot bunga. Sepertinya terbetur itu.
"Mana? Mana yang sakit? Duduk dulu. Akan aku panggilkan dokter!" Ucap Devano panik.
"Tidak perlu kak. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing."
"Tidak menerima penolakan!"
.
.
"Bagaimana Lisa?"
"Tidak apa-apa, Dev. Benturannya juga tidak membuatnya terluka. Bagian kepala belakang yang terbentur hanya membiru sedikit membuatnya pusing. Ini aku berikan obat. Suruh nona ibu minum secara rutin tiga kali sehari."
Devano mengangguk, mengucapkan terimakasih. Lisa kemudian langsung pulang dari apartemen Devano.
"Aku tidak apa-apa kok kenapa begini?" Delima dilayani bak orang sakit parah. Padahal ia hanya pusing karena terbentur.
"Kau kenapa bisa terbentur seperti itu?" Tanya Devano
Seketika wajah Delima memerah. Ia mengingat pagi tadi. Bisa-bisanya dirinya tidur memeluk Devano.
"Ehheehe aku juga tidak tahu kak, em.. anu.. emm."
"Tidak usah masuk kerja. Kamu disini saja!"
"Tidak mau. Aku harus masuk kak. Aku baru masuk lagi kemarin masa sekarang sudah absen lagi?"
"Tapi kau sa..."
"Aku tetap berangkat. Aku tidak apa-apa!"
Dan Devano akhirnya mengalah.
***
"Berhenti di sini kak." Delima menyuruh Devano behenti di depan sebuah toko roti. Masih lumayan jauh dari kantor jika berjalan kaki.
"Ini masih jauh dari kantor."
"Iya aku taku kok. Aku tidak mau membuat orang-orang menjadi heboh karena aku berangkat dengan kakak." Ucap Delima santai. Membuat Devano agak kesal.
"Masalahnya dimana?"
"Apa kakak lupa? Aku seorang Office Girl. Sedangkan.-"
"Aku CEO begitu? Yasudah sana turun kalau itu yang kau inginkan."
Delima melihat sepertinya bosnya itu marah. Terbukti dengan wajahnya yang tidak secerah tadi yang digantikan wajah masam.
Namun Delima memang harus melakukannya. Ia tidak mau citra Devano menjadi jelek karena berdekatan dengannya.
Owalah. Wait! Apakah Delima lupa? Ya sepertinya Delima lupa. Bahkan dia adalah adik kandung dari seorang Marvel sang pewaris 정 Corporation.
Tapi ah yasudahlah. Namanya juga Delima.
.
Devano sedang mengoreksi berkas yang dikerjakan karyawannya. Begitu banyak sehingga membuatnya sedikit pusing. Kopi yang diantar Delima sudah habis ia minum sejak tadi. Ia ingin memintanya lagi tapi diapun sudah meminumnya tiga gelas. Dirinya masih sayang dengan lambungnya.
__ADS_1
"Dev, bulan depan adalah hari besar." Ucap Wira.
Devano melihat kalender sesaat setelah perkataan Wira selesai.
"Mau bagaimana? Mau tiga hari saja. Atau satu minggu? Cepat berikan keputusan supaya aku bisa mengatur seluruh jadwalmu."
"Bagaimana dengan perusahaan lain?" Tanya Devano
"Tadi sih perusahaan sebelah satu minggu. Ada juga yang cuma tiga hari. Tergantung." Jawab Wira. "Tapi kalau perusahaan kita hanya meliburkan karyawan selama tiga hari kasihan juga, Dev. Mereka bekerja sepanjang tahun." Lanjut Wira.
Devano berpikir. Benar juga. Selama ini karyawannya selalu bekerja sepanjang tahun. Bisa dibilang tanpa henti. Hanya libur saat weekend. Perusahaannya yang termasuk besar dan maju ini membuat karyawannya terlampau sibuk sehingga mereka lebih memilih bekerja daripada mengambil cuti yang justru akan merepotkan mereka dengan pekerjaan menumpuk ketika cuti itu habis.
"Baiklah. Liburkan selama seminggu. Kau juga tidak perlu bekerja saat libur, berkencanlah."
"OKE! Akhirnya Kencan juga diriku." Ucap Wira dengan mata berbinar. "Aku akan mengajaknya liburan ke Hawaii. Disana menyewa hotel yang dekat dengan pantai, bermain di pantai.... blaaa.. blaaa.. blaaa...." Bayangan-bayangan indah berlibur bersama calon tunangannya membuatnya senang dan bahagia.
"Dasar.." gumam Devano. Menggeleng dengan kelakuan sahabatnya yang sedang dimabuk cinta itu.
"Oh ya. Libur seminggu kau mau kemana? Masa sih dirumah saja? Hahaha. Jombloooo jombloooo."
Devano mengusap kepalanya kasar.
Sialan juga kampret ini. Batin Devano.
Kira-kira dia mau kemana ya?
Berdiam diri di apartemen juga pasti sangat membosankan.
Dirinya juga butuh liburan untuk merelaksaki pikirannya dsri segala pekerjaan melelahkan.
.
Delima saat ini tengah membeli Boba di pusat kuliner dekat kantornya. Karena Nina dan kawan lainnya masih menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai, maka Delima pergi sendirian.
Setelah membayar, dirinya berjalan melewati taman. Delima berhenti ketika dirinya melihat seseorang yang ia kenal duduk di sebuah kursi taman sambil bermain ponsel.
Delima mendekatinya. Sesampainya di sana Delima lansung duduk disana.
"Halo Shera.." sapanya pada gadis yang sedang duduk itu.
"Hehehe. Sedang apa kamu disini? Menunggu kak Marvel lewat ya?" Tanya Delima menggoda.
Wajah Shera memerah.
"Ti-tidak kok. Aku hanya ingin duduk disini saja."
"Aku akan menyuruh kak Marvel kesini membawa makan siang. Kamu sudah makan, Sher?"
"Belum." Jawabnya singkat.
Delima mengambil ponselnya dan menghubungi Marvel. Menyuruhnya membawakan tiga porsi makan siang dan menyuruhnya membawa ke taman.
Sembari menunggu Marvel, Delima dan Shera mengobrol hangat. Saling memberi pertanyaan masing-masing. Shera sangat senang karena Delima adalah gadis yang menurutnya baik. Selama di Kota J ini, dia belum memiliki teman.
"Jadi kamu pindahan dari luar negeri? Waah. Kenapa kesini? Bukannya kuliah disana itu bagus-bagus?" Tanya Delima.
"Ada alasan aku pindah."
Shera menatap Delima ragu-ragu.
Delima yang peka akhirnya menjelaskan sesuatu.
"Aku dan Kak Marvel itu tidak ada hubungan apapun. Tenang saja Shera. Kak Marvel itu tidak mungkin menjadikanku pacarnya."
Shera semakin penasaran dengan gadis didepannya. Gadis ini hampir setiap hari bertemu Marvel tapi gadis itu bilang jika tidak mungkin berpacaran?
"Hehe. Aku tau kok kamu suka sama Kak Marvel." Ucap Delima kemudian menyeruput boba-nya.
"Kamu.. Tidak marah?"
"Marah untuk apa? Siapapun yang mendekati Kak Marvel, asalkan gadis itu baik. Aku sih setuju-setuju saja. Terserah Kak Marvel. Dia sudah tua. Pasti tahu mana yang baik dan mana yang tidak."
Shera tersenyum. Siapa benarnya gadis di depannya ini?
"Oi Kak!" Delima yang melihat Marvel langsung menyuuh kakaknya untuk mendekat.
__ADS_1
"Delima. Maaf lama. Ini kamu harus makan siang sekarang." Marvel menyerahkan kantong plastik berisi makanan. Kemudian ia duduk di samping Shera membuat Shera mematung.
"Shera? Sedang apa disini?"
"Aku bertemu dengannya kak. Duduk disini sendirian. Makannya aku menemaninya." Delima memberika masing-masing kotak makan pada Marvel dan Shera. Setelah itu dirinya fokus dengan makanannya sendiri.
"Shera makanlah." Marvel menawarkan pada Shere.
"Uh? I-iya. Iya terimakasih, kak." Shera menerima kotak itu dan memakannya pelan.
"Aku selesai. Aku harus ke kantor lagi. Kak Marvel dan Shera aku pergi dulu ya. Dadah!!"
"Delima!" Marvel ingin protes tapi Delima semakin jauh. Sepertinya adiknya itu sengaja. Ah sudahlah.
Keduanya hanya diam menikmati makanan yang menurut keduanya malah menjadi tidak nikmat.
"Ini minumnya." Marvel membukakan air mineral dan menyodorkannya pada Shera.
Shera yang tadinya makan sambil menunduk, mendongakkan kepalanya menatap air mineral itu.
"Habiskan makanannya."
Shera mengangguk. Marvel meneruskan makan siangnya hingga tandas.
"Makanmu sedikit sekali, Shera."
"Anu.. mm.. "
"Habiskan."
Shera mengangguk. Bukannya makan Shera sedikit, bahkan jika itu dirumah ia bisa menghabiskan dua piring nasi goreng. Tapi karen ada Marvel, ia malu jika memakannya dengan cepat.
Akhirnya Shera menyelesaikan makannya. Ia membuang bungkusnya di tong sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk. Marvel masih disana. Suasananya sungguh kikuk.
"Kamu ada acara lain?" Tanya Marvel.
Shera mengangguk. "Ada kuliah kak."
Marvel berdiri dari duduknya. Merapikan stelan jasnya.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu kak. Aku bawa sopir kok. Itu disana. Terimakasih kak."
"Yasudah. Aku pergi." Marvel kemudian langsung pergi meninggalkan Shera. Shera menatap kepergian Marvel dengan tidak rela. Baru kali ini dia bisa berdekatan dengan Marvel agak lama.
Biasanya Marvel akan selalu menghindarinya karena dirinya yang bersikap em.. sedikit berani?
Sebenarnya ia ingin berhenti mengejar Marvel karena gadis bernama Delima. Dirinya juga sudah mencoba untuk tidak bertindak berani seperti sebelum-sebelumnya. Anggap saja bahwa Shera sedang sadar.
Ia sudah tidak pernah lagi mengirim e-mail kepada Marvel beberapa hari ini.
Tapi Delima, gadis itu bilang tidak mungkin berpacaran dengan Marvel.
Shera tersenyum kecil. Ia memutuskan untuk tidak lagi terang-terangan mengejar Marvel. Ia pasrah. Bukannya menyerah hanya saja ia mengikuti alur yang Tuhan berikan pada dirinya.
Ia juga merasa insecure karena penyakitnya. Sudah dua tahun ia menanti donor jantung. Namun hingga sekarang sang ayah belum menemukan donor yang cocok untuknya.
Apakah. Apakah dirinya bisa hidup lebih lama?
Semalam di rumah sakit, Shera merenungkan semuanya. Ambisinya mendapatkan Marvel, ia lepaskan. Ia sadar akan dirinya sendiri. Mungkin Marvel akan mendapatkan gadis yang lebih sehat daripada dirinya yang penyakitan.
Marvel berhak mendapatkan kebahagiaannya. Sikapnya yang keterlaluan selama dua tahun ini kepada Marvel, pasti membuat pria itu risih. Marvel pasti menganggap Shera adalah gadis menyebalkan yang terang-terangan mengejarnya.
Kemungkinan besar, Marvel tidak akan pernah membalas perasaannya. Karena setelah dua tahun inipun Marvel belum bisa melihatnya.
Shera Pasrah!
***
To Be Continued
***
Mampir di IG yuks @evellyn.sh 🙈🙈
__ADS_1