CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 16


__ADS_3

CKLEK


Delima yang sedang tiduran di ranjang sambil menonton televisi terperanjat mendengar suara pintu terbuka.


Ia menoleh cepat ke arah sumber suara. Dan mendapati seorang pria berpakaian santai dan bercelana pendek masuk membawa sesuatu yang didorong.


"Lho! LHO! Kok bisa masuk?!" Seru Delima


"Tentu saja! Kamar kita terhubung dengan pintu itu.Jadi mudah jika aku ingin masuk ke kamarmu." Devano behenti di sampinh ranjang.


"Makan."


"Apakah ini pelayanan dari hotel?" Tanya Delima dengan mata berbinar.


"Hmmm..."


"Kakak sudah makan belum?"


"Belum. Ini untuk porsi dua orang. Kita makan bersama."


Delima langsung menyantap makanan yang ada di depannya sedangkan Devano terus menatap gadis didepannya yang sedang makan dengan lahap sambil pelan-pelan meyantap makanan di piringnya.


Delima dalam hati merasa senang dan bahagia. Akhir-akhir ini dirinya sering makan makanan enak. Biasanya hanya nasi rames atau masi goreng. Jika kepepet ia hanya makan mie instan. Huhuhu. Derita anak kost.


"Kenyang. Hehehe." Delima mengelus perutnya yang terasa penuh. Devano memesankan banyak makanan jadi dia juga menghabiskan banyak makanannya.


Devano hanya menggelengkan kepalanya. Gadis ini banyak makan juga. Devano beranjak dari kamar Delima. Bersiap keluar untuk meletakkan dorongan berisi piring kotor.


"Mau kemana kak?"


"Kembali ke kamar."


"Anu.. aku ingin keluar boleh tidak?"


"Tidak boleh. Nanti kau tersesat. Ini negara orang."


Delima menerucutkan bibirnya. Benar juga. Ini negara orang. Bahaya jika dia keluar dan tersesat. Lebih parahnya bisa-bisa dia diculik.


"Besok saja. Aku akan mengajakmu ke pantai dekat sini. Kau bisa main sepuasnya disana."


Delima tersenyum senang. Ia membayangkan akan berenang di pantai dan bermain pasir. Kemudian meminum air kelapa muda yang manis dan berfoto disana.


"Iya iyaaa." Delima mengangguk.


Devano kemudian masuk ke kamarnya menggunakan pintu yang sama saat dia masuk. Pintu kamar penghubung. Karena dia juga kelelahan akhirnya Devano tertidur. Delima pun menyusul tidur di kamarnya dengan televisi yang menyala.


***


Delima terbangun tengah malam. Entah kenapa dirinya sangat ingin keluar berjalan-jalan. Akhirnya dia menggani bajunya dengan kaos kebesaran dan celana jeans. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Setelah siap, dirinya mengambil dompet dan keluar dari hotel.


Delima turun menggunakan lift. Sesampainya di lobby bawah, dirinya segere berjalan keluar.


Delima berjalan-jalan di sekitar hotel yang sudah sepi. Delima mengeryit. Ini masih jam 10 tapi sudah sangat sepi padahal jika dia ada di Kota J jam 10 malam masih banya orang-orang yang sekedar nongkrong atau makan malam di kedai pinggir jalan.


Saat sampai di sebuah jalan yang gelap, Delima merasa ia diikuti dari belakang. Delima membulatkan matanya saat tiba-tiba kepalanya ditodong sebuah pistol.


Wajah orang itu tidak terlihat karena tempat itu sangat gelap.


Keringat dingin bercucuran dari kening gadis itu.

__ADS_1


"Ja-jangan. Tolong."


Seseorang dalam gelap masih menodongkan pistolnya.


"Tolong. Tolong aku. Siapapun tolong." Delima berucap lirih.


"TOLONG!"


BUKKK


DORRR


Sesaat setelah Delima menjerit. Sesuatu terjadi.


Delima yang mendengar suara pistol langsung lemas. Dirinya masih hidup. Matanya menangkap seorang pria yang sedang menghajar orang jahat tadi.


Pria yang baru datang itu mendekati Delima yang masih shock.


"Sudah kubilang jangan keluar!" Ucap pria itu tajam.


"Kak.. Aku takut.." Delima berujar lirih.


Pria itu memeluk Delima dengan posesif. Melepasnya kemudian menatap lembut gadis didepannya.


"Maka dari itu. Menurutlah padaku.."


Delima mengangguk pelan.


Pria didepannya menggeram pelan. Dan sesaat kemudian Delima merasakan benda kenyal mendarat di bibirnya.


Mata Delima membulat. Pria ini menciumnya?


DORRR


Mata Delima terbuka lebar. Ciuman pria itu terlepas. Pria itu terjatuh  dipelukan Delima dengan napas memburu dan rintihan terdengar di telinga gadis itu.


"Kak! Kak Dev!!!"


"Kak Dev!!"


"TIDAAAAAAKK"


****


"TIDAAAAAAKK"


Delima tersentak. Ia terduduk di ranjang. Ia mengerdarkan pandangannya ke sekeliling. Dirinya ada di kamar?


Kemudian ia menatap pintu penghubung di ujung. Ia segera beranjak menuju pintu. Membukanya. Tidak dikunci ternyata. Setelah terbuka dirinya masuk ke kamar itu. Matanya mengedar ke seluruh ruangan dan menemukan seorang pria yang sedang tertidur pulas sambil bertelanjang dada di atas ranjang. Pria itu baik baik saja.


Pipi Delima merona merah karena melihat keadaan pria itu yang tidur dengan bertelanjang dada.


Dirinya segera kembali ke kamarnya. Duduk di sisi ranjang.


Jadi hanya mimpi ya. Devano baik-baik saja dan sedang tertidur di ranjangnya. Tadinya dirinya sangat takut karena melihat pria itu tertembak di punggungnnya. Tapi bukan itu yang diingat.


Delima memegang bibirnya pelan. Wajahnya semakin merona. Dalam mimpi, Devano menciumnya dengan sangat lembut. Delima mengulum bibirnya sendiri. Kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Ia malu. Padahal hanya mimpi.

__ADS_1


Bagaimana dia nanti ketika bertemu Devano besok pagi? Bagaimana harus bersikap?


Iya! Dirinya harus bersikap biasa saja. Itu kan hanya mimpi. Iya mimpi.


Delima mencoba memejamkan matanya namun sangat sulit.


Ia mengigit bibir bawahnya. Bayangan itu terus berputar di otaknya. Setelah beberapa lama akhirnya gadis itu tertidur lagi.


***


Pagi hari Delima terbangun agak kesiangan. Saat ini dirinya sudah siap akan pergi ke pantai sesuai yang dijanjikan Devano.


Kaos hitam dan celana pendek. Dirinya memakai sepatu yang sama dengan sepatu yang ia pakai saat perjalanan. Karena dirinya hanya membawa satu pasang sepatu dan satu pasang sandal swallow(?).


TOK TOK.


Pintu yang terhubung antara dua kamar diketuk dari kamar sebelah. Delima berdebar. Teringat kejadian mimpi semalam. Wajahnya kembali merona merah. Dengan perlahan Delima berjalan ke pintu dan membukanya. Terlihat Devano berdiri sambil bertelanjang dada.


Sejenak kedua pasang mata saling menatap. Namun Delima memutuskan tatapan tersebut. Kemudian menunduk.


"Eum... jadi ke pantai kak?"


"Jadi. Sini masuk ke kamarku." Devano menarik tangan Delima. Pria itu mendudukkan Delima di sisi ranjang. Menarik sebuah dorongan yang berisi makanan.


"Makan dulu."


"Kak. Pakai baju dulu."


"Kenapa?"


Delima menggeleng. Wajahnya merona.


"Wajahmu merah. Kau sakit?"


Delima menggeleng.


"Kau malu?" Devano menahan senyumnya.


Duarrr


Benar. Delima malu.


Gadis itu mengangguk. Masih dalam keadaan menunduk. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya.


Devano menyingkirkan rambut Delima ke belakang telinga hingga wajah gadis itu terlihat dari samping.


"Makanlah. Aku mau berpakaian dulu." Devano kemudian beranjak dari samping Delima. Pria itu mengambil setelan baju yang sudah siap di atas ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Fiuhhh


Delima menetralkan napasnya yang sedari tadi tertahan.


Astaga. Devano sudah membuatnya seperti ini.


***


***


(Saya menyukai cerita yang ringan. Jadi saya buat ringan saja 😂)

__ADS_1


__ADS_2