CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 12


__ADS_3

Pagi itu Delima sangat bahagia. Pasalnya ia sudah bisa kembali bekerja. Tangan kanannya menenteng sebuah rantang berisi makanan. Ia ingin memberikannya pada Devano. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantunya selama dirinya sakit.


Delima berjalan ke dalam kantor dengan senyum mengembang.


"Delima!"


"Kak Marvel?"


"Kamu sudah sembuh? Apa yang kamu bawa?" Marvel melirik rantang yang dipegang oleh Delima.


"Aa.. Ini makanan kak. Em.. bekalku makan siang. Hehehe." Delima terpaksa berbohong karena malu.


"Tumben. Biasanya membeli di kantin." Mereka bedua berjalan sambil mengobrol ringan.


"Sedang irit kak. Eum kok kakak disini?" Delima berhenti.


"Aku mau bertemu Devano. Membahas proyek yang sebentar lagi rampung."


"Kakak punya perusahaan?"


"Hem. Perusahaan ayah. Aku yang menjalankannya. Ayah sudah saatnya istirahat saja."


"Bagaimana kabar tante Almira, Kak?"


"Baik-baik saja. Dia bilang dia ingin melihatmu lagi."


"Hah?"


Marvel berhenti berjalan. Begitupun dengan Delima. Marvel mengusap kepala Delima dengan lembut. Tatapannya kepada Delima juga sangat lembut.


"Dia ingin melihatmu lagi. Entahlah katanya kamu cantik. Sudah lama ibuku ingin punya anak perempuan." Ucap Mavel sambil terkekeh.


Delima tersenyum. Tak lama ia mendengar suara bisik-bisik disekitarnya. Delima mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Para karyawan berbisik-bisik ke arah mereka berdua karena Marvel, pengusaha terkenal di Kota J sedang mengobrol dengan pegawai rendah seperti Delima. Bahkan tangan Marvel masih bertengger indah di kepala gadis itu.


"Kak.... Jangan seperti ini." Ucap Delima lirih.


"Kenapa?" Marvel mengeryitkan keningnya kemudian melepaskan tangannya dari kepala Delima. Gadis itu hanya menunduk sedih.


"Tidak pantas kakak bergaul denganku.." Delima berkata lirih sambil tersenyum kecut. "Aku masuk duluan ya kak." Delima langsung membalikkan badannya dan berlari ke dalam kantor melewati pintu belakang khusus OG/OB.


Marvel yang melihatnya mengepalkan tangannya kuat. Ia menatap tangannya yang dimana disana ada beberapa helai rambut. Rambut Delima yang rontok. Ia segera mengambil plastik dari kantong celananya. Memasukkan rambut itu kedalamnya dan menyimpannya rapi di tas kerjanya. Ia harus segera membawanya ke dokter kepercayaannya.


"Ariana... kau sangat pantas bergaul denganku. Kau adikku.. Adik yang aku sayangi. Aku yakin itu. Pasti tidak salah." Marvel menghela napasnya pelan. "Aku akan segera membawamu pulang. Adikku tidak boleh hidup susah lagi."


Marvel mengambil ponsel di saku celananya. Setelah mencari sebuah kontak. Ia menempelkan ponsel pada telinga.


"Bantu aku menyelidiki gadis bernama Delima yang bekerja sebagai Office Girl di perusahaan Wijaya. Cari tahu semua tentangnya. Darimana dia berasal dan kenapa dia bisa sampai ada di kota ini."


"Baik tuan. Saya akan segera mencari tahu."


***


Delima duduk di ruangannya. Lesu. Ia begitu bodoh. Dia seharusnya memang tidak bergaul dengan Marvel. Apalagi dengan bosnya. Mereka orang terpandang dan sangat dihormati. Tidak pantas jika dirinya bergaul dengan mereka.


Dirinya mengingat kejadian tadi. Dimana para karyawan menatapnya dengan tatapan mencemooh. Bahkan ada beberapa bisik-bisik yang ia dengar.


Delima menatap rantang di atas meja. Lebih baik tidak jadi memberikannya pada Devano. Itu tidak pantas. Ia kemudian menghela napas. Berdiri kemudian memulai pekerjaannya karena teman-temannya sudah melaksanakan tugasnya masing-masing.


Delima sedang mengepel di lantai 14. Disana ada banyak lalu lalang kayawan yang sedang sibuk-sibuknya bekerja.

__ADS_1


BRAKK


Delima terjerembab kebelakang. Bokongnya mencium lantai dengam keras. Tubuhnya terbanting lumayan keras. "Aw..."


"Kau.. kau kan gadis yang sering bersama pak Devano dan pak Marvel kan?!"


Delima menatap 3 perempuan yang berdiri menjulang didepannya. Delima menunduk takut.


"Seharusnya kau itu sadar diri kau itu siapa. Berani-beraninya gadis sepertimu menggoda pak Devano!" Ucap salah satu perempuan yang berdiri paling kanan.


"Kau juga sangat berani menggoda pak Marvel!" Ucap permepuan yang berdiri paling kiri.


"Beri pelajaran." Perempuan yang berdiri di tengah memberikan perintah pada dua temannya yang ada disampingnya.


Perempuan yang berdiri paling kanan mengambil ember berisi air bekas pel dan menyiram Delima.


"Hahahahah. Rasakan. Kau akan terus merasakan sesuatu yang menyenangkan apabila kau terus menggoda pak Devano dan pak Marvel!"


"Kalian kenapa melakukannya pada saya?! Salah saya apa?! Saya tidak mendekati pak Devano maupun pak Marvel!" Delima mulai melawan. Ia jengah dengan hinaan 3 perempuan di hadapannya.


Gadis yang berdiri di tengah berjongkok di depan Delima. Ia mencengkeram dagu gadis itu kuat.


"Salahmu?! Salahmu adalah mendekati tuan tampan kami. Sebaiknya kau tidak berlagak gatal! Atau kami akan terus mengganggumu. Ayo pergi!". Ketiga perempuan itu pergi dari hadapan Delima sambil tertawa senang.


Nina baru saja naik ke lantai 14 dimana Delima membersihkan tempat itu. Pekerjaannya selesai dan berencana membantu Delima. Namun matanya menangkap gadis itu yang sedang berjongkok dan bersandar di tembok dengan keadaan basah kuyup.


"DELIMA?! ASTAGA KAMU KENAPA?!"


"Nina.. apa kamu bawa baju?"


***


"Nina..."


"Aku tahu, Del. Kamu dekat dengan Pak Devano dan Pak Marvel kan? Makannya banyak karyawan disini yang tidak suka padamu."


"Ni-nina.... ka-kamu tahu?"


Nina menghela napasnya. "Aku tahu, Del. Akhir-akhir ini kamu dekat dengan dua pria cakep itu. Eheheh~" tatapan mata Nina menjadi serius membuat Delima gugup. "Dan banyak yang terlihat tidak suka dengan kedekatanmu dan pria-pria tampan itu."


Delima menunduk semakin dalam. "Tidak seharusnya aku bergaul dengan mereka kan? Aku hanya gadis miskin dan yatim piatu." Delima berkata lirih.


Nina menatap gadis didepannya sedih. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi memang benar. Mereka hanyalah pegawai bersih-bersih. Tidak pantas jika bergaul dengan orang kaya. Mereka pasti akan mendapat masalah jika berani dekat dengan orang berpengaruh di kantor ini. Nina kemudian merangkul Delima. Ia menenangkan gadis itu.


***


Delima berjalan gontai menuju halte bus. Ia cukup lelah hari ini karena setelah bekerja ia mencoba mencari kalungnya yang hilang. Tadinya dirinya sangat berharap kalung itu ada di kantor. Tapi ternyata tidak. Entah dimana kalung itu.


Semangatnya untuk mencari orang tuanya mulai luntur. Tidak ada peunjuk lagi untuk mencari orang tuanya.


Sesampainya di apartemen Devano, Delima mulai melakukan tugasnya. Membersihkan apartemen itu yang sebenarnya selalu rapi. Mencuci baju-baju kotor snag pemilik apartemen. Dan memasak makan malam untuknya.


Devano sampai di apartemen tepat ketika Delima menyelesaikan pekerjaan memasaknya.


"Kakak sudah pulang?"


"Iya. Sejak kapan kau disini?"


"Sudah agak lama kak."

__ADS_1


Devano menatap Delima bingung. Dirinya merasa ada yang aneh dengan gadis didepannya. Gadis itu terlihat murung. Padahal kemarin mereka masih bercanda di kontrakan gadis itu. Apakah gadis itu sakit lagi?


Devano buru-buru melatakkan tangannya di kening Delima. Namun gadis itu langsung melepaskan tangan sang bos dsri keningnya.


"Ada apa denganmu?"


Delima menggeleng. Ia menatap Devano dan tersenyum tipis. "Makan malam sudah siap, Kak. Aku mau pulang dulu ya."


"Tidak. Kau pasti belum makan. Ayo makan bersama."


"Tidak bisa kak!" Delima menghempaskan tangan Devano yang baru saja akan menyeretnya ke meja makan.


"Kau itu kenapa Delima? Hari ini kau sangat aneh! Bahkan seharian ini kau itu seperti menghindariku?!"


Delima diam.


"Apakah ada sikapku yang menyinggugmu sejak kemarin?"


Delima menggeleng.


"Lalu apa?"


Delima ragu. Apakah dirinya harus memberitahu pria didepannya?


"Aku..."


"Katakan Delima.."


"Sebaiknya kita tidak terlalu akrab, Kak." Delima menunduk. "Aku tidak mau membuat kakak jelek dimata orang karena mau berdekatan dengan office girl yang miskin dan yatim piatu sepertiku."


Mata Delima berkaca-kaca. "Aku sadar diri.. aku... tidak pantas bergaul dengan kakak."


Devano menatap gadis didepannya dengan tatapan tidak percaya.


'Hal ini lagi?!'


***


"Tuan Marvel."


"Cepat beritahu aku apa yang kau dan teman-temanmu dapatkan!"


"Baik tuan. Namanya Delima Chalondra Ayu. Dia berasan dari Desa Xxx. Sebelum datang ke kota ini, dia tinggal bersama Nenek bernama Ida. Namun Ida akhirnya meninggal karena penyakitnya. Delima yang sebatang kara akhirnya mencoba merantau kemari. Saya mencari informasi dari beberapa tetangganya jika sebenarnya Delima bukan cucu kandung neneknya. Kata mereka, dulu neneknya menemukan Nona Delima di sebuah pos ronda saat masih bayi."


Dada Marvel begemuruh. "Kau tahu dimana Desa itu kan?" Tanyanya kepada anak buahnya.


"Tentu saja, Tuan."


"Besok. Antar aku kesana."


"Baik Tuan. Tuan harus bersiap-siap. Karena jaraknya lumayan jauh. Teman-teman saya masih disana untuk menginap."


"Baiklah. Kau juga bersiaplah."


"Baik. Tuan." Anak buah Marvel undur diri.


Marvel berjalan menuju jendela kamarnya.


"Delima.. Kau .. Ariana kan?"

__ADS_1


***


__ADS_2