
***
Delima menatap mobil Devano yang pergi meninggalkan gang kontrakannya.
"Fiuh.. sampai juga. Aku harus tidur setelah ini." Gumam Delima
Ia kemudian berjalan ke kontrakannya. Setelah sampai ia meletakka tasnya di atas meja. Dirinya kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
Selesai mandi dirinya duduk di sisi ranjang. Ia mengambil ponselnya yang selama di luar negeri menganggur karena tidak ada sinyal.
Saat jaringan internet tersambung, sangat banyak pesan yang masuk terutama dari teman-temannya.
Ada nama Marvel juga di sana.
'Astaga pasti mereka kebingungan karena aku menghilang.' Pikir Delima
Delima kemudian merebahkan tubuhnya di sibgle bed dan mulai membalas pesan satu persatu.
Tak lama kemudian Delima mendengar pintu kamarnya diketuk.
Ia segera berjalan menuju pintu.
GREP
"Astaga!"
"Delima..."
"Kak Marvel?"
Delima sangat kaget karena tiba-tiba pria didepannya memeluknya. Lebih terkejut lagi ketika pria tampan itu mengecup keningnya lembut.
"A..."
"Delima. Sayang. Adikku aku merindukanmu." Marvel masih memeluk Delima dengan sangat erat membuat gadis itu sesak napas.
"K.. kak Marvel. To..tolong jangan begini. Maksud Kak Marvel itu apa?"
Delima masih sangat bingung dengan serangan pelukan Marvel yang tiba-tiba. Sangat aneh. Apalagi Marvel menciun keningnya dan juga memanggilnya sayang.
Marvel yang tahu akan kebingungan Delima, melepas pelukannya kemudian menarik gadis itu untuk duduk di kursi panjang di depan kontrakannya.
Setelah duduk, Marvel terus menatap sang adik dengan intens.
'Adikku benar-benar tumbuh secantik ini. Terimakasih Tuhan.'
Delima yang ditatap intens oleh Marvel menjadi salah tingkah. Apa-apaan pria ini? Kenapa Marvel mentapnya seperti itu? Heu..
Marvel tersenyum lebar membuat Delima semakin berpikiran aneh. Apakah pria di depannya ini gila?
Marvel kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menunjukkannya didepan Delima.
Delima yang melihat barang itu langsung melotot.
"Kalungku!" Delima berseru.
"Benar ini kalungmu?"
"Iya! Kakak menemukannya dimana?"
"Dimobilku. Apakah ada cerita di balik kalung inisial ini?"
Delima mengangguk. Ia mengambil kalung itu dari tangan Marvel. Delima sangat bahagia. Kalungnya kembali dan artinya ia bisa mencari keberadaan keluarganya.
"Kalung ini satu-satunya barang yang terpasang di leherku saat nenek menemukanku di pos ronda kak. Aku menyimpannya sampai sekarang untuk mencari ayah dan ibuku. Ketika kalung ini hilang aku putus asa. Artinya aku sudah tidak punya petunjuk lagi. Tapi saat itu aku berpikir.. aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau.." Delima menunduk.
"Mereka masih hidup. Dan kau punya seorang kakak."
Delima menatap Marvel dengan mata berbinar penuh harap.
"Benarkah? Bagaimana Kak Marvel bisa tahu?" Tanya Delima penasaran.
Keningnya berkerut.
"Tahu.. Karena Kakakmu ada di depanmu saat ini."
Delima memiringkan kepalanya. Berpikir keras. Apasih maksud Marvel? Kenapa perkataannya sangat membingungkan?
"Eung..."
Senyum Marvel semakin lebar melihat kepolosan adiknya.
"Aku kakakmu."
"Uh?"
__ADS_1
Marvel semakin gemas dengan gadis didepannya itu. Rasanya ingin mengunyel-unyel pipinya saat itu juga!
"Aku kakakmu."
"Kak Marvel adalah kakakku?" Tanya Delima "KAK MARVEL TOLONG JELASKAN APA MAKSUD KAKAK. AKU BINGUNG. JANGAN MEMBUATKU BINGUNG KAK!" Delima berseru frustasi. Bibirnya mengerucut sebal.
"Aku kakakmu. Ayo kita pulang ke rumah bertemu ayah dan ibu. Mereka sudah menunggumu."
"Kak. Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda!"
"Tapi kak Marvel seperti bercanda."
"Astaga Delimaku sayang adikku sayang, ku ini benar-benar kakakmu! Kakak kandungmu!"
"Bagaimana mungkin?! Kakak pasti ngarang kan hahaha."
"Tidak Delima. Aku tidak mengarang cerita."
Delima terdiam dari tawanya. Menatap Marvel kembali meminta penjelasan.
"Kau adikku. Adik kandungku. Kalung yang kau pegang itu adalah kalung yang Ayah dan Ibu pasangkan padamu saat bayi. Kau diculik oleh orang bernama Eric. Eric adalah musuh bebuyutan Ayah. Eric ingin menghancurkan perusahaan Ayah. Kau ingat? Kau pernah memberitahuku soal kartu nama bertuliskan nama Eric kan?"
Delima mengangguk.
"Nah. Dialah yang menculikmu. Dan membuang bayimu di sebuah desa yang sudah kamu tempati dari kecil sampai sebesar ini."
"Kakak mengatakan aku adikmu hanya karena kalung ini?"
"Tidak. Aku pernah mengambil sampel rambutmu kemudian aku melakukan tes DNA. Maafkan aku Delima. Aku hsrus melakukannya karena aku sangat penasaran sejak aku menemukan kalung itu."
Marvel tersenyum. Ia mengusap kepala Delima penuh kasih sayang.
"Hasilnya 99,98% cocok. Artinya kau benar-benar adik kandungku. Aku juga merasakan sesuatu sejak pertama bertemu denganmu. Perasaan ingin melindungi."
Mata Delima berkaca-kaca.
"Benarkah semua ini? Semudah inikah aku kembali menemukan keluargaku?" Ucap Delima dengan bibir bergetar.
"Berterimakasihlah pada Tuhan. Karena Tuhan yang sudah memudahkan semuanya."
Delima mengangguk. "Kakak. Kau kakakku..."
"Aku sangat bahagia ketika tahu kenyataanya. Sudah jangan menangis lagi. Ayo bertemu Ayah dan Ibu."
Delima mengangguk.
"Tapi.. apa adikku ini tidak lelah? Bukankah baru saja pulang dari luar negeri?"
Delima menggeleng.
"Tidak lelah! Aku ingin segera bertemu Ayah dan Ibu, kak! Bawa aku kesana! Hiks.."
Marvel mengangguk. Kemudian Marvel bangkit menuju pintu, menguncinya kemudian menyimpan kunci itu di saku jasnya.
"Ayo.."
Marvel menggenggam tangan Delima dan membawanya menuju mobil.
Delima diam. Di dalam mobilpun Delima masih terdiam.
Semudah inikah ia menemukan keluarganya?
Delima mengalihkan pandangannya pada Marvel yang duduk di sampingnya. Tangannya sedari tadi bertaut.
Ia menatap wajah Marvel yang disinari kebahagiaan.
Delima kembali berkaca-kaca.
Dirinya tidak menyangka jika Marvel adalah Kakaknya. Marvel adalah pria yang sangat baik padanya selama ini. Kenyataan bahwa Marvel adalah kakaknya membuatnya sangat bahagia.
Almira adalah Ibunya. Wanita lembut yang sangat baik padanya saat pesta waktu itu.
Dirga adalah Ayahnya. Pria paruh baya yang tampan dan gagah. Seperti kakaknya.
"Kenapa menangis lagi?"
"Aku terlalu bahagia, kak."
"Jangan menangis lagi. Adikku cengeng sekali."
"Hueeee kak Marvel!!"
.
__ADS_1
.
.
Almira dan Delima saling bertatapan. Kedua pasang mata mereka berkaca-kaca.
"Anakku.... anakku..." Almira berlari mendekati Delima dan memeluknya erat seolah-olah tidak rela melepaskannya.
"Ibu... ibu..."
Tangisan bahagia memenuhi ruang tamu mansion keluarga Jung.
"Ayah.."
Dirga mengusap kepala putrinya yang masih ada dalam pelukan sang istri yang enggan melepaskan.
Matanya memanas. Putrinya yang ia cari sudah kembali. Keluarganya utuh kembali.
"Putriku. Syukurlah kamu sehat, nak. Ayah begitu takut. Ayah takut jika ternyata kau telah dibunuh oleh penculik itu."
"Ayaaaah.. hiks.. hikss.."
Marvel tersenyum haru melihatnya. Para pelayan disana juga ikut berbahagia melihat sang majikan kembali berkumpul.
.
Setelah drama berpelukan tadi. Kini mereka sedang di ruang keluarga. Dirga dan Almira mengapit Delima di sofa. Sang ayah mengusap lembut kepala sang putri. Sedangkan Almira masih betah menggenggam kedua tangan putrinya. Delima tersenyum terus-menerus sambil menatap wajah sang Ibu.
"Ayah. Ibu. Kak Marvel. Aku punya permintaan."
"Katakan nak. Ayah dan Ibu akan mengabulkannya." Jawab Amira.
Delima terseyum.
"Anu.. bolehkan aku tinggal di kontrakan? Bolehkan jika aku tetap bekerja di perusahaan kak Devano?"
Almira menatap Delima sedih.
"Kenapa nak? Apakah kamu tidak mau tinggal bersama ayah dan ibu?"
"Bu-bukan seperti itu. Aku hanya ingin hidup mandiri. Aku barjanji setiap hari akan pulang. Tapi aku ingin tetap tinggal di kontrakan. Ayah.. Ibu.. "
"Marvel..." Dirga menatap putranya.
"Delima. Kamu adalah adikku. Kamu harus disini. Ini adalah rumahmu."
"Tapi kakak. Kontrakan itu sudah aku perpanjang sewa selama 3 bulan. Sayang sekali jika tidak dihuni."
Almira tersenyum dengan kepolosan sang putri.
"Tidak masalah sayang. Tinggalkan saja. Tidak perlu dipikirkan soal sewa kontrakan."
"Tapi ibu.. Uang sewa yang kupakai adalah uang tabungan almarhum nenek yang selama ini merawatku di desa. Aku tidak enak pada almahum. Lagipulan jika aku keluar, uang itu tidak akan dikembalikan."
Dirga menghela napasnya. Ia melirik sang istri kemudian mengangguk.
"Baiklah. Tapi kau akan dijaga pengawal 24 jam. Jangan membantah nak. Ibu tidak ingin jika kau mengalami hal-hal buruk. Sudah cukup ayah da ibu kehilanganmu selama 20 tahun."
Delima tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih.
"Kak. Jangan beritahu Kak Devano jika aku adik Kak Marvel."
Delima menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada. Memohon pada sang kakak.
"Kenapa?"
"Aku.... mmmm..."
Marvel tersenyum geli. "Kau masih ingin bekerja disana kan? Masih ingin melihatnya setiap hari? Padahal tadinya aku mau melarangmu bekerja. Tapi.. mau bagaimana lagi?"
Wajah Delima seketika memerah.
Dirga, Almira, dan Marvel tertawa dengan tingkah laku Delima yang malu-malu.
Delima sangat bahagia karena keluarganya masih mengijinkan dirinya bekerja disana. Hanya saja sang ibu memberikan nasehat agar tidak terlalu lelah. Marvel juga akan mengunjungi Wijaya Corp setiap hari demi mengawasi sang adik.
Dengan ditemukannya Delima, Dirga semakin memperketat penjagaan kepada sang putri. Ia menyuruh seluruh pelayan dan pengawal dirumahnya untuk tidak memberitahu tentang ditemukannya Delima kepada siapapun. Dirga juga tidak mengumumkan jika sang putri yang diculik sudah ditemukan. Belum saatnya. Dirinya trauma. Dirga tidak ingin kehilangan keluarganya lagi.
***
To be continued
***
Terimakasih author ucapkan 😂🙏
__ADS_1