
***
Marvel menghentikan mobilnya di depan gang kontrakan Delima. Tangannya menenteng dua porsi nasi goreng kesukaan adiknya yang tadi ia beli di pusat kuliner. Ia juga membawa banyak jajanan seperti bakso bakar, sosis bakar dan teh pocai.
Sesampainya Marvel di depan kontrakan ia mengetuk pintu.
CKLEK
“Maaf lama, sayang.” Ucap Marvel dengan nada menyesal.
“Tidak apa, Kak. Aku juga baru selesai mandi dan bersih-bersih. Ayo masuk!”
Delima mengajak Marvel masuk ke dalam kontrakan mungilnya. Gadis itu menyiapkan peralatan makannya sedangkan Marvel merebahkan diri di ranjang adiknya.
“Ergh..”
“Kenapa, Kak?”, Delima bertanya kawatir saat Marvel mengerang.
“Keras sekali sih kasurnya. Kamu kok betah disini?”, ucap Marvel mengeluh sambil mengusap bokongnya.
Delima hanya terkekeh. “Aku sudah biasa, Kak.”, jawabnya.
“Dulu di rumah nenek, aku bahkan tidur di atas dipan tanpa kasur. Alas dipannya hanya anyaman bambu kemudian
ditutup kain. Tapi sejak aku masuk SMP, nenek membeli kasur kapuk .”, lanjut Delima sambil tersenyum karena mengingat perjuangan neneknya menyisihkan hasil dagangannya untuk membeli kasur. Meskipun bekas, tapi kasur itu sudah sangat nyaman bagi Delima dan neneknya.
‘Adikku hidup seperti itu. Sedangkan aku hidup enak bersama Ayah dan Ibu.’ Marvel membatin sedih sambil menatap adiknya yang sedang menyiapkan makanan ke atas piring.
“Setelah sewa kontrakan ini habis, kamu harus tinggal di mansion!”
Delima mengangguk, “Iya. Tentu saja kak. Aku hanya ingin menghabiskan sewa saja kok. Sayang kan uangnya. Apalagi itu uang tabungan nenek.”
Marvel tersenyum. Adiknya tumbuh menjadi gadis yang baik dan sopan berkat didikan nenek Ida. Padahal nenek Ida bukan nenek kandungnya. Kapan-kapan dirinya akan mengajak Delima pulang ke Desa dan mengunjungi makam nenek Ida untuk berterimakasih.
“Kak, sudah siap. Ayo makan!”
“Kakak ingin disuapi.” Marvel membuka mulutnya.
Delima menatapnya malas. “Kakak sudah tua, masih mau disuapi?”
“Iya. Nanti kalau kakak menikah, istri kakakmu ini yang akan menyuapi. Sekarang kakak ingin disuapi oleh adik kesayanganku. Aaa…”
“Ish.”
Meskipun jengkel, tapi Delima melakukannya.
“Bagaimana dengan Shera, Kak?”
UHUKK
Marvel mengambil es teh dan meminumnya rakus. Tenggorokannya mendadak perih karena tersedak oleh nasi goreng yang lumayan pedas.
“Uhuk. Bagaimana apanya?” tanya Marvel setelah lebih lega. Walaupun tenggorokannya masih perih karena kepedasan nasi goreng.
Delima hanya menggelengkan kepalanya. Hanya dengan menyebut nama Shera, kenapa kakaknya begitu terkejut?
__ADS_1
“Ya, bagaimana? Kakak menyukainya, kan? Mengaku saja.” Ucap Delima dengan nada menggoda.
“Menyukai apa? Dia yang mengejar-ngejar kakakmu ini.”
Delima menatap Marvel yang mendadak childish. Ia berniat menggoda kakaknya itu.
“Tapi aku melihatnya tidak kok. Shera tidak mengejar-ngejar kakak.”
“Kakak ceritakan ya. Gadis itu.. M-maksudku Shera sudah mengejar kakakmu ini selama dua tahun. Dia mengirimiku e-mail setiap hari. Kakak sangat risih. Kakakmu ini pernah memiliki trauma masa lalu karena dikhianati. Dia kemudian datang dan mengejar kakak. Kamu tahu kan rasanya jika kamu dikejar-kejar
seseorang dan orang itu selalu membuntutimu kemanapun kamu pergi. Dan bahkan dia pindah sekolah hanya untuk mengejar.”, Marvel menjelaskan dengan panjang lebar.
“Ekhem.. Em.. seperti itu.”
Setelah itu Marvel mengambil piring berisi nasi goreng dan memakannya cepat.
“Tapi aku yakin. Kalau Shera berhenti mengejar kakak, pasti kakak akan merasa kehilangan.”
UHUK UHUK
Kedua kalinya Marvel tersedak.
Kenapa adiknya bisa tahu jika Shera sudah tidak lagi mengejarnya? Bukan berhenti sih, hanya saja Shera sudah
tidak pernah mengirimanya e-mail seperti biasa. Dan memang membuat Marvel sedikit…. Kehilangan… Mungkin.
Sekarang justru dirinyalah yang sangat penasaran dengan kehidupan Shera. Tapi ia tidak akan menceritakannya pada Delima. Marvel menatap adiknya yang sedang tertawa terbahak-bahak.
“Aku cuma ingin memberi saran. Kakak sebaiknya tidak terlalu cuek pada Shera. Dia terlihat baik.”, Delima memberi saran setelah menghentikan tawanya.
Mama ingin bicara sesuatu padamu.” Ucap Marvel
Delima mengambil piring dan memakan nasi gorengnya sambil sesekali menggoda kakaknya.
.
.
.
Mobil mewah Marvel masuk ke halaman mansion Jung. Ia dan Delima keluar dari mobil setelah sampai di depan pintu mansion. Secara otomatis, pelayan masuk ke mobil dan memarkirkan kendaraan mewah itu ke garasi.
Marvel dan Delima memasuki rumah dan menuju ke ruang keluarga dimana Ayah dan Ibunya sudah menunggu. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Dirga dan Almira bersikukuh menunggu putra dan putrinya pulang untuk membicarakan sesuatu.
“Ibu. Aku pulang!” seru Delima sambil berlari kemudian duduk di sambing ibunya dan bergelayut manja.
Marvel duduk di samping Ayahnya.
“Ibu kaget ternyata kamu sudah pulang.” Kata Almira
“Iya. Kak Devano ada urusan mendadak. Lagipula aku mau mengundurkan diri dari pekerjaan.” Almira dan Dirga
mengangguk.
“Delima, pertama-tama Ayah ingin bertanya soal namamu. Apakah kamu bersedia menggunakan nama dari kami?” Dirga yang tidak ingin basa-basi langsung bertanya kepada Putrinya.
__ADS_1
“Ayah, Ibu. Bolehkah aku tetap memakai namaku sekarang? Nama ini adalah nama yang diberikan nenek. Aku.. Aku..”
Dirga tersenyum. “Tidak apa-apa,sayang. Jika kamu ingin tetap memakai nama itu. Maka Ayah dan Ibumu tidak akan memaksa. Kami akan urus semua dokumennya. Tapi Ayah akan tetap menambahkan marga keluarga kita. tidak apa kan nama akhirmu diubah sedikit?”
Delima mengangguk dan tersenyum bahagia. Marvel juga tersenyum melihat adiknya tersenyum.
“Lagipula Ibu juga suka nama kamu yang sekarang, sayang.” Perkataan Mamanya membuat Delima semakin bahagia.
“Sekarang Ayah akan menjelaskan sesuatu.” Seketika suasana berubah menjadi serius. Membuat Delima tegang. Marvel yang sudah tahu permasalahannya hanya diam dan santai.
“Sejak kamu lahir, Ayah memiliki janji dengan sahabat Ayah.”
Perasaan Delima mendadak tidak enak.
“Janji itu adalah menjodohkan kamu dengan putra sahabat Ayah ketika kalian sudah dewasa.”
Deg
Dijodohkan? Tubuh Delima seketika lemas.
“Me-menjodohkan?” tanya Delima terbata.
Dirga mengangguk.
Delima menunduk. Ia akan dijodohkan? Delima teringat Devano dan hari-harinya bersama pria itu. Jujur, Delima sudah memiliki perasaan spesial pada Devano. Kalau dirinya dijodohkan, haruskah ia menjauh dan melupakan perasaan suka pada Bosnya itu?
“Aku.. Aku..”
“Kamu tidak akan menyesal, sayang. Dia pria yang baik, dia juga tampan. Dia dan keluarganya selama ini membantu dalam pencarianmu.”, Almira menjelaskan.
Sebenarnya Marvel tidak tega melihat wajah sedih adiknya. Tapi ia harus merahasiakan kebenarannya untuk
sementara. Ayah dan Ibunya ingin memberikan kejutan untuk Putrinya.
“Minggu depan, pria itu akan datang kemari bersama keluarganya. Keputusan bisa kamu ambil saat mereka datang
kemari.” Ucap Marvel menenangkan adiknya.
“Jadi.. aku boleh menolak?” Tanya Delima. Secercah harapan muncul.
“Iya, tapi kamu harus bertemu dulu dengannya.” Jawab Marvel
“Kamu tidak akan kecewa dengan pilihan kami, nak.” Ucap Dirga. Setelah mengatakan itu, pria paruh baya itu beranjak dan pergi dari ruang keluarga. Almira mengusap kepala putrinya lembut.
“Percayalah pada kami.” Almira kemudian mengikuti suaminya.
“Kakak.”
Marvel duduk disamping adiknya. Memeluknya dengan sayang.
“Sst, jangan sedih. Percayalah kamu tidak akan menyesal seperti apa yang dikatakan oleh Ibu.”
Delima mengangguk dalam pelukan kakaknya.
***
__ADS_1